
🌹VOTE YEE GAIS🌹
"Hati hati, Mas," ucap Inanti saat membantu Alan duduk di ranjang.
"Gak sakit kok, Yank. Sini peluk."
"Rusuk kamu masih belum pulih, tar dipeluk malah sakit."
"Enggak lah, sini peluk," ucap Alan lagi merentangkan tangannya.Â
Inanti menggeleng. "Gak mau."
"Kok gak mau? Muka aku jelek ya?"
"Bukan gitu ih, Mas….," Rengek Inanti yang akhirnya bergabung di atas ranjang dan berbaring di sisi lain suaminya.
Mereka berdua diantarkan oleh Alden, sementara Nadia bersama Mamah di perjalanan. Yang mengurus Om Guntur sekarang adalah Riganta. Dia akan memperkarakan semuanya sehingga tidak ada lagi yang berani menyentuh anak anaknya.
"Alden kemana?"
"Katanya mau ke bawah," jawab Inanti. "Kamu mau makan gak?"
"Enggak, mau peluk kamu aja," ucap Alan dengan tatapan kosongnya. Rasanya sangat berat untuk menuju ke arah yang lebih baik dengan istrinya, mencintai anak dan istrinya.
"Mas?"
"Iya, Sayang?"
"Kamu bener bener pecat mereka?"
Alan menggeleng. "Aku kasih mereka modal kok buat usaha sendiri. Kerja sama kerabat itu enak gak enak, Yank. Dari dulu aku emang mau berhentiin mereka. Istilahnya kagok, mending sama orang gak dikenal sekalian."
"Nasibnya Tante Poppy sama Tante Rini?"
"Mereka itu berkecukupan, punya butik dan toko masing masing, cuma ya karena serakah jadi pengennnya lebih terus."
Inanti diam mendengarkan.
"Jangan nyalahin diri sendiri loh, Yank. Aku pecat mereka karena emang udah gak nyaman sama mereka. Uang kompensasi aku kasih, lebih malah."
Inanti tidak bisa membayangkan jika harus kembali berkumpul bersama keluarga besar Praja Diwangsa, dirinya akan menjadi sasaran.
"Gak ada yang harus kamu khawatirin lagi," ucap Alan memberi ciuman di kepala istrinya.
Membuat Inanti mengadah dan menatap wajah tampan Alan yang kini tertutup lebam. Inanti ingin menangis melihatnya, apalagi saat Alan meringis ketika dirinya menyentuhnya pelan.
"Sakit ya, Mas?"
Lebam lebam itu terlihat sangat jelas. "Nanti juga sembuh, udah jangan nangis."
__ADS_1
"Aku gak suka."
"Apa?" Tanya Alan kebingungan.
"Aku gak suka kamu lindungi aku dengan cara terluka sendiri kayak gini, Mas. Aku tahan kok, mau mereka buat apa atau ngomong apa. Tapi jangan kayak gini lagi, Mas."
"Enggak, Sayang. Iya, nanti kalau ada yang bogem aku lagi nanti aku basoka balik rumah mereka."
"Aku serius, Mas," rengek Inanti kesal.
Alan terkekeh dan membawa istrinya ke dalam pelukan.Â
"Wajah kamu jadi jelek tau."
"Tapi tetep ganteng kan?"
"Gak ganteng, jadi jelek."
🌹🌹🌹
Madelle mamasak banyak stok di apartemen putranya sampai sore hari.
"Mah, udah nanti Mamah cape. Biar Inan yang terusin ya. Kayak kata Cheff Tuti 'kan?"
"Beda, Nan. Ini Mamah yang buat biar kamu gak cape. Nadia kan lagi rewel, si Abang harus diurus lagi. Masalah masak biar Mamah bikin stok. Mamah udah bilang kok sama Chef Tuti kita libur dulu belajar masaknya."
Inanti tersenyum melihat kepedulian ibu mertuanya. Di sisi lain, sang ayah mertua sedang menggendong cucunya sambil bermain dengannya.
Madelle mengangguk setuju. "Iya, Nan. Nadia sama Mamah aja gak papa, lagian si Abang katanya mau lagi kan punya anak."
"Nunggu Nadia gedean dikir deh, kasian soalnya kalau harus terbagi."
"Yankkkk!" Teriak Alan dari dalam.
Itu adalah panggilan yang kesekian kalinya. Baru juga sepuluh menit keluar, Alan kembali memanggil.
"Tuh anak kalau manggil ngapain sih, Nan? Meluk doang kan?" Tanya Madelle kesal.
Inanti diam sebagai jawaban.
"Ya gak papa kali, orang sama istrinya," bela Riganta karena dia juga sering begitu.
"Gak bisa dong, istri lagi sibuk terus aja harus nempel. Gak papa, biar Mamah aja yang ke sana."
Madelle mengakhiri memasaknya dan masuk ke kamar putranya.
"Say-- Mamah? Ih kok Mamah sih?"
"Mamah mau pulang, salim dulu napa."
__ADS_1
"Oh iya."
"Jangan repotin Inanti mulu, kasian dia masih anak anak. Bikin anaknya nanti, biar mesin abang yang kerja."
"Iya, tau aja Mamah."
"Mamah pulang, jangan durhaka sama istri ya."
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Dan… PLETAK!
"Aw! Ngapain sih Mamah mukul pake batu giok?"
"Sakit, Bang?"
"Sakit lah."
"Nah, mau Mamah kasih sama Inanti. Biar kalau kamu aneh aneh bisa dipentok pake ini."
Alan menatap kepergian ibunya dengan terheran heran. Di sana Madelle pamit pada Inanti.
"Nih, Nan. Buat jaga jaga pentok kepala si Abang. Takut kayak bapaknya, kalau lagi sakit segala mau terus manja."
"Ehem!" Riganta berdeham.
"Ehehehe, yaudah Mamah pulang ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Inanti salam pada kedua orangtuanya dan melihat kepergian mereka. Inanti membawa Nadia masuk untuk ditidurkan di dalam.
"Udah pada pulang, Yank?"
"Udah, Mas."
TENG TONG!
"Siapa lagi ya, Mas?"
"Mamah kali ada yang ketinggalan."
Dan Inanti mengeceknya, tapi dia terkejut ada Tante Rini di sana.Â
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC.