
🌹VOTE🌹
Vanesa menggesekan wajahnya merasa nyaman dan nyenyak tidur di kasur yang empuk, guling yang wangi dan mimpi yang indah.
Dalam mimpinya, dia tengah terbang tinggi di atas angkasa. Sampai kakinya ditarik oleh sebuah tambang dan teriakan, "Ijah! Ijah ayo!"
"Gue bukan Ijah! Gue bukan Ijah!" Teriak Vanesa dalam mimpinya yang mencoba terbang.
Sayangnya dia dirarik hingga kesadarannya datang, Vanesa tergelonjak kaget dan membuka matanya seketika.
"Enak banget ya lu, Jah, meluk gue semalaman."
Vanesa mengadah menatap Judi yang sudah membuka matanya. "Lu gak tidur?"
"Awas, lepasin gue."
"Atau lu gak bisa tidur karena **** gue nempel di dada lu, geli ya?"
"Ijaaaahhhh." Judi meremas kepala Vanesa gemas. "Otak lu mesum terus."
"Anjiiiiiir sakit! Lu mau kemana?!"
"Mandi, mau sholat subuh."
"Lu gak mau wik wik?"
"Kagak, lu masih Ijah."
"Maksud lu? Gue haru berubah jadi Enok gitu? Judi?!" Vanesa berdecak kesal saat Judi masuk ke kamar mandi menutup pintu. "Judi! Lu gak mau wik wik?!"
Vanesa turun dari ranjang, dia mendengarkan dari luar bagaimana air shower itu jatuh. "Anjiiirr seksi banget sih itu bocah."
"Ijah, awas ya kalau lu ngintip gue."
"Geer banget lu, wleeee." Vanessa menjulurkan lidahnya kesal.
Dia melangkah menjauh dari sana, melihat jam di dinding yang masih menunjukan pukul empat dini hari. Vanesa berdecak, dia menyalakan televisi karena merasa tidak ngantuk.
Ingin mengetes kekayaan Judi, Vanesa menelpon layanan kamar dan meminta banyak makanan untuk dihidangkan dalam sepuluh menit.
Setelah menelpon, Vanesa terkekeh. Dia tidak sabar menghabiskan uang bocah kecil itu. Terpaut usia lima tahun, Vanesa ingin mengendalikan Judi.
Dan tidak lama kemudian, makanan pesanannya datang. Memenuhi semua meja yang ada di sana.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, Nyonya?"
"Tidak."
Dan saat pelayan itu pergi, Vanesa bertepuk tangan. Bersamaan dengan itu, Judi keluar dari kamar mandi.
"Ijah, jangan bilang lu pesen semua ini."
"Gue mau ngetes kekayaan lu," ucap Vanesa belum menatap Judi.
__ADS_1
"Sebanyak ini? Nanti mubazir, Ijah. Emang bakal abis?"
"Abis lah, lu gak tau napsu makan gue."
"Tar gendut baru lu tau rasa."
"Ya enggak, elu yang tau rasa, soalnya gue mau abisin duit lu pake sedot lemak."
Judi berdecak, dia memilih melangkah menuju kopernya. Dan saat itulah Vanesa menatap Judi, dia yang hendak memakan paha ayam langsung menjatuhkannya. Tubuh Judi begitu bagus, dia berbadan kekar, apalagi ada kalung hitam yang melingkar di lehernya. Dia tampak maskulin.
"Judi?"
"Apaan?"
"Wik wik yuk."
"Hah?"
"Wik wik."
Judi menengok dia melemparkan handuk. "Mandi, terus wudhu."
"Wik wik dulu, Jud. Masa gak mau sama gue."
"'Gak mau, lu masih Ijah."
"Judiiii sialan luu!"
Judi mendekat dengan pelan sambil melipat tangannya di dada. Masih bertelanjang dada, untuk membuat Vanesa menelan ludahnya kasar.
Vanesa terkekeh, dia berdiri dan mengabaikan banyaknya makanan di sana. Dia mengambil handuk. "Gue mau mandi, mau sholat terus mau wudhu."
"Wudhu dulu, Ijah, baru sholat."
"Iya itu, gue bakal buat lu terkesima sampe lu yang minta wik wik," ucap Vanesa berjalan ke kamar mandi dengan ambisinya yang besar.
Judi terkekeh di sana. "Dasar Mak Lampir."
🌹🌹🌹
Inaati melihat Alan yang tidur terlentang persis seperti bayi di sampingnya. Inanti menarik napasnya dalam.
"Al, bangun. Sholat subuh."
"Apaan yang rubuh?" Tanya Alan masih mengira itu mimpi.
"Ih, bangun sholat subuh!" Inanti yang kesal mencubit lengan Alan.
"Awwwwww," ucap Alan dengan suara pelan. "Sakit, Nan. Itu tangan apa kepiting sih, udah kecil diputer lagi kayak komidi."
"Sholat, ini udah subuh."
"Kamu udah?"
__ADS_1
"Udah," ucap Inanti enggan menatap mata Alan.
"Kok?"
"Apaan?! Sana sholat, atau kamu mau saya sholatin? Sekalian saya bikin kamu kayak lemper."
"Subhanallah, punya bini pengertian bener," ucap Alan yang segera dibalas delikan mata Inanti.
Alan berdiri dan meregangkan ototnya, dia merasa pegal tidur di kasur yang merempet dengan lantai. Apalagi tidak seempuk miliknya.
"Kan liat, pegel jadinya. Makannya jangan so soan nginep di sini, kamu kan gak biasa sama fasilitas orang miskin. Beda sama saya, nikah sama orang kaya fasilitas mah tetep gitu gitu aja."
"Iya, Nan. Pegel, nanti malem pijitin ya," ucap Alan mematikan ponselnya yang menyala semalaman.
"Enak aja minta dipijitin, gak ada yang gratis!"
"Nan, laper. Itu kok banyak sembako? Itu juga fasilitas orang miskin?"
Inanti kesal, dia melemparkan bantal yang membuat Alan tertawa kembali.
"Dikasih orang itu!"
"Iya iya gak usah ngegas. Tapi sayang banget itu telur ada banyak, mnding kamu pecahin di katel, pake minyak tapi, terus dicampur nasi."
Inanti menatap kesal, wajah juteknya tetap dia pasang.
"Hehe, lapar, Nan. Bikinin ya, saya mandi dulu, terus abis sholat makan."
Dan entah kenapa, perkataan Alan masih membayangi Inanti sebagai perintah. Tubuhnya refleks berdiri dan melakukan apa yang Alan inginkan.Â
Meskipun begitu, Inanti tetap mendumal sepanjang dia melakukan itu.
Apalagi saat selesai sholat, Alan kembali menggoda istrinya.
"Subhanallah, bini kok keliatan cantik ya kalau lagi masak?"
"Ya iyalah cantik, soalnya malaikat berdoa buat bini yang tersakiti, yang sering nangis, yang sering dihina supaya cepat bahagia."
Alan hanya mangut mangut menatap Inanti yang memasak.
"Ngapain di sana?!"
"Liatin kamu lah, cantik banget kamu, mirip artis kore gitu ya. Pantes Nadia cantik."
"Ya iyalah, situ baru nyadar? Saya cantik, hatinya juga. Emangnya kamu, mukanya ganteng, hatinya enggak. Gak malu? Itu wajah gantengnya nempel di depan, tapi kelakuannya kaya setan ya. Gemeess banget nyampe saya pengen nampol kamu pake wajan yang isinya nasi goreng."
Alan diam, tapi wajahnya tidak sedikitpun memperlihatkan dirinya goyah oleh perkataan Inanti.
"Ngapain di situ? Sana pergi! Jangan gangguin saya masak, atau kamu mau saya dibikin jadi nasi goreng? Biar wajah kamu gosong."
"De…. Mama galak, De," ucap Alan memilih kembali berbaring di samping bayinya, dia berbisik pada Nadia yang masih terlelap. "Mama galak, De. Papa dimarahin Mama terus, De..."
🌹🌹🌹
__ADS_1
Tbc.