Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Lengket pada suami


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Inanti tidak ingin melepaskan pelukannya pada Alan. Bahkan saat tidur, istrinya terus memeluk merasakan ketakutan yang mendalam.


Alan tidak bisa membayangkan bagaiman hancurnya Inanti ketika dirinya menyakitinya dulu. Mengacuhkannya, menolak keberadaannya.


Alan mengusap kepalanya, memeluknya dan mencium puncak kepalanya berulang kali.


Saat Alan hendak ke kamar mandi, Inanti menahannya.


"Mau ke mana?"


"Ke kamar mandi dulu, Sayang. Nanti tidur lagi kok. Deket kamu, ya?"


Alan pergi ke kamar mandi. Dia kembali membasuh mukanya di sana. Jujur saja, dia tidak bisa tidur meninggalkan Inanti.


Saat keluar, dia melihat Nadia yang terbangun sedang disusui oleh Inanti.


"Bangun, Nan?"


"Iya," jawab Inanti melepaskan dada nya dari Nadia, bayinya tidak tidur. "Gak tidur lagi, Mas."


"Gak papa, biar aku yang jaga," ucap Alan menggendong Nadia ke pangkuannya. "Kamu tidur aja lagi."


"Di sini, jangan ke mana mana."


"Iya, di sini. Aku duduk di sofa tuh di sana, takutnya kalau di sini kamu nggak bisa tidur aku nya ngoceh terus."


"Tapi jangan keluar."


"Enggak, Sayang."


Sebuah usapan di kepala membuat Inanti kembali berbaring. Dia merebah, tapi tidak tidur. Matanya melihat Alan yang sedang menggendong Nadia di sofa sambil memberikan beberapa lelucon.


Jelas Inanti ketakutan. Di tengah malam dia keluar seorang diri, bayi dalam pangkuannya menangis saat itu. Tidak ada manusia yang ditemuinya. Yang Inanti harapkan saat itu adalah kedatangan Alan.


"Mas?"


"Iya, Sayang? Kenapa?"


"Gak bisa tidur. Duduknya di sini."


Dan Alan mengalah, dia menuruti apa yang diinginkan istrinya selama dia mampu.


Duduk di samping Inanti yang terbaring, tangan lain milik Alan mengusap kepala istrinya.


"Tidur ya, biar besok gak kesiangan."


"Besok kita pulang kan?"


"Iya, Sayang. Kita pulang."


🌹🌹🌹


Mereka sampai di Jakarta pada siang hari. Alan sengaja tidak berangkat pagi mengingat istrinya terlelap setelah sholat subuh. 


Alan memblokir semua panggilan dan pesan dari siapa pun kecuali Karl dan Alden, hanya dua orang itu yang Alan percayai saat ini. 


Alan juga memanggil Mang Asep untuk membawa mobil. Sehingga dirinya bisa duduk bersebelahan dengan istrinya. Alan menggendong Nadia, dengan Inanti yang bersandar padanya sepanjang perjalanan.

__ADS_1


"Mau jajan dulu gak?"


Inanti menggeleng. 


"Beli nasi padang yuk? Kamu kan suka."


"Gak mau," ucap Inanti dengan nada suara yang masih malas.


"Maunya apa dong? Mumpung di luar?"


"Mau pulang, Mas."


"Yaudah kita pulang," ucap Alan pada akhirnya.


Namun, dia tidak bisa membawa Inanti ke apartemen dengan kondisi mood yang masih seperti ini. Hingga akhirnya tercetus pikiran. "Mau ke makam Adam dulu gak, Nan?"


Inanti diam sebentar sampai akhirnya mengangguk. "Mau, Mas."


"Sep, kita ke makan Adam dulu."


"Baik, Tuan."


"Tapi mau aku aja. Kamu jaga Nadia ya, Mas."


Alan mengangguk, dia mencium puncak kepala Inanti saat perempuan itu kembali bersandar padanya.


Saat sampai di makan, Inanti keluar sendiri.


"Sep, awasi Inan."


"Baik, Tuan." Mang Asep turun dan mengawasi Inanti dari jarak jauh.


Di dalam mobil, Alan bersama Nadia yang membuka matanya.


Bukannya senang, Nadia malah nangis kencang. "Uhh… sayang jangan nangis, mau keluar iya?"


Alan keluar dari sisi yang berlainan dari arah pemakaman. Mata Nadia silau melihat sinar matahari. 


"Udah, Sayang… jangan nangis. Dede mau apa?"


Sampai akhirnya tangisan Nadia tidak bisa dihentikan, Alan membacakan surat surat pendek al-Quran. Yang ajaibnya membuat Nadia mulai terdiam seketika.


"Dede nanti kalau udah gede pinter ngajinya ya, jadi tahfiz al-Quran. Jadi anak sholeh, pinter, sayang sama Mama. Ya?"


Nadia tersenyum seolah mengerti, bayi mungil itu mengucek matanya saat Alan memberinya dot susu.


Mang Asep masuk lebih dulu. "Mana Inan?"


"Menuju ke sini, Tuan."


"Kita berhenti dulu di toko emas, Sep. Cari tempat yang bagus, jangan di tempat ramai."


"Di area perbutikan, Tuan?"


"Terserah."


Dan saat itulah Inanti kembali masuk, cahaya di matanya sedikit terlihat kembali.


"Mau gendong Nadia, Mas."

__ADS_1


"Baru aja minum susu kok, Nan."


"Tapi yang itu bukan asi."


Seketika Alan membengkokan spion dalam mobil supaya Mang Asep tidak bisa melihat lagi. 


Inanti yang juga mulai terbiasa dengan Alan tidak membelakangi lagi. Meski pun tetap di tutup.


"Mau beli nasi padang, Mas."


"Nah kan… kata aku juga apa, makannya kalau sama suami itu nurut. Suami itu paling tau loh apa yang diinginkan istrinya. Apalagi kalau suaminya cinta banget sama istrinya, bisa kebaca apa yang ada di pikirannya."


"Ih, Mas, kamu berisik," ucap Inanti pelan meski pun dengan nada jutek. 


Dia kembali memasang rasa kesalnya saat Alan kembali narsis dan tengil.


"Makan nasi padangnya di apartemen tapi ya? Biar bisa suap suapan lagi sama kamu."


"Terserah."


"Dasar betina, bisa nya terserah terserah aja sih. Kalau aku aj--"


"Mang, kok berhenti?" Tanya Inanti pada Mang Asep tanpa menghiraukan Alan.


"Tuan meminta berhenti di sini dulu, Bu."


"Kamu mau beli baju dulu? Baju kamu banyak banget, Mas."


"Enggak, ayo keluar."


Inanti terpaksa ikut setelah melepaskan Nadia yang menyusu, dia menggendong bayinya menuju ke dalam butik di lantai dua.


"Mau beli emas?"


"Iya, buat kamu dong, Sayang. Katanya sih ya, emas itu mood booster nya istri. Apalagi kalau diajak sama suami."


"Perhiasan aku banyak, kamu kan yang beliin."


"Ya kan buat ganti ganti, aksesoris juga gak harus satu."


"Ini emas loh, Mas. Bukan aksesoris."


"Apa pun buat kamu, Sayang."


Inanti menatap etalase yang dipenuhi banyak emas permata. Tidak dipungkiri dia suka ini, tapi Inanti kini lebih suka dipeluk Alan. Pria itu ada untuknya cukup, daripada bergelimang harta tapi hati menderita. 


"Aku nggak butuh emas, Mas."


"Butuhnya apa dong? Jangan gini dong, Sayang. Kan aku beli jug buat kamu."


Tanpa sadar, Inanti bergumam, "Butuh kamu doang."


Dan hal itu membuat Alan besar kepala. Dia berkata dengan sangat keras, "Cieeee… yang mau sama Misua terus… Ciee… ciee… sini peyuk Mas Alan sini."


"Mas ih malu! Diliatin karyawan ih! Awas ih!"


"Katanya mau di peluk, kok plin plan. Istriku sayang, katanya mu cium. sini."


"Apa kamu bilang?!"

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2