Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Menghadapi Bersama


__ADS_3

🌹Vote sebelum membaca ya ghais biar makin makjoss jleb jleb ajahahahaha🌹


🌹Nanti kalau bulan madunya mau spesifik kagak nih? Takut banyak bocah asli.🌹


🌹Malu emak tuh, ini kan bacaannya emak emak, duh takut dosa.🌹


Oma Asih dan Tante Metry sudah sampai Indonesia, tapi mereka tidak bilang pada Judi karena akan membuat kejutan.


Karenanya, mereka pergi ke hotel dahulu untuk beristirahat.


“Asataga, Ibu sudah merindukan rumah di Belanda.”


“Ibu, ayolah jangan buat aku khawatir. Kalau begitu ayo kembali ke sana, aku akan mengunjungi Ibu setiap bulan.”


“Berhenti membuat Ibu terlihat seperti anak kecil,” ucap Oma Asih yang membaringkan tubuhnya di atas ranjang. “Kita lihat dulu nanti bagaimana calon tempat tinggal Ibu bersama Bibimu. Jika dia masih jorok, Ibu akan kembali ke Belanda.”


Tante Metry mengangguk paham. “Apa Ibu ingin the hangat?”


“Berikan Ibu air hangat saja.”


Tannte Metry menyajikannya. “Ini, Bu.”


“Sudah telpon Mile? Mereka tidak pergi kemana pun ‘kan?”


“Tidak, ke Raja Ampat pun belum pasti. Mile belum disuruh melakukan persiapan.”


“Sudah tau lokasi mereka dimana?”


“Sudah.”


“Besok kita ke sana.”


“Besok pagi, Bu? Kita harus membeli sesuatu untuk mereka dulu.”


“Jika malam akan mengganggu pengantin batu, Met.”


“Benar juga.”

__ADS_1


“Sudah tidur saja, Ibu sudah tidak tahan memarahi Vanessa.”


“Bu,” ucap Tante Metry, dia khawatir semua petuah Ibunya hanya akan membuat hati Vanessa hancur. “Mereka sedang bahagia, jangan merusak moment.”


“Met, kau seperti nyamuk. Diam dulu ibu mau tidur, jangan jadi anak durhaka.”


“Ya allah, resiko punya manula.”


“Bilang apa kamu?”


“Hah? Enggak, Ibu istirahat ayo.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Van, sini deh,” panggil Judi yang baru saja keluar dari kamar mandi dan duduk di samping ranjang.


Dia mengangkat tangannya supaya Vanessa yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV itu mendatanginya.


“Bentar masih makan,” ucap Vanessa sambil memakan ceker yang ada di tanganya yang dilapisi sarung tangan plastic.


“Udahan sih makan yang pedes pedesnya, gak sehat tau buat perut, Van.”


Seketika raut wajah Judi berubah, dia masih sedikit canggung jika membicarakan hal hal seperti itu. “Bukan mau bahas itu, sini deh aku mau ngomong.”


“Iya.”


“Simpen dulu itunya.”


“Mubadzir kalau dibuang.”


“Gak usah dibuang.”


“Kan katanya aku gak boleh makan lagi,” ucap Vanessa sedikit ketus.


“Nanti aku yang makan, jadi gak mubadzir, kamu juga gak sakit perut.”


Seketika Vanessa menghentikan kegiatan makannya, dia tersipu malu dan juga bahagia. Tapi perasaan itu dia keluarkan dengan keagresifan. Karenanya Vanessa membuka sarung tangan, mencuci tangan kemudian melompat ke arah Judi dengan agresif.

__ADS_1


HAP.


Beruntung Judi menangkapnya dengan pas.


“Duh! Jangan lompat lompat, Van.”


CUP.


CUP.


CUP.


Vanessa tanpa henti menciumi pipi suaminya yang dia tindih. “Sayang deh aku sama kamu. Kalau nanti aku sakit perut kamu juga mau gimana? Dasar aneh.”


“Berat, Van.”


“Aku juga sering ditindih kamu gak berat tuh.”


“Aku mau ngomong serius.”


Saat itulah Vanessa berpindah ke sisi suaminya, dia menarik tangan Judi agar terbangun dan menghadapnya. “Gimana?”


“Aku ngomong sama Tante Metry sebelumnya, dia izinin aku tinggal di Indo.”


“Hah?” tanya Vanessa yang tidak paham. “Terus?”


“Kita tinggal di Indo, Van. Aku udah beli tanah sama bangunan di daerah Bandung, masih dalam renovasi tapi. Nanti buat interiornya bisa kamu desain sesuka kamu, kan katanya kamu mau desain sendiri rumah kamu.”


Vanessa masih terdiam, pasalnya dia ingat tentang Inanti, tentang Alan. Dan sekarang mereka tinggal di sini?


Vanessa takut masa lalunya akan mempengaruhi hubungan mereka. Vanessa yakin aka nada saatnya untuk dia bertemu Alan, meminta pengampunan pada Inanti. Vanessa takut menghadapi itu, dia takut Judi akan melihat bagaimana bencinya Alan dan Inanti pada dirinya yang mana akan mengingatkan keburukannya.


Maka dari itu, Vanessa lebih banyak diam.


Dan Judi paham apa yang ada dalam pikiran istrinya. Maka dari itu, dia menariknya untuk memeluk istrinya. Kemudian berbisik di telinga sang istri dengan lembut, “Kita hadapi bersama sama, kamu nggak akan sendirian. Aku akan genggam tangan kamu, dan gak akan ada yang berubah diantara kita. Aku janji.”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2