
🌹VOTE YA GAIS🌹
"Mas… pintunya buka."
Alan cemberut, dia terpaksa berdiri dan membuka pintu agar Madelle masuk. "Kenapa Mamah datang sekarang?"
"Assslamualaikum ya ahli kubur."
"Waalaikum salam ya calon kubur."
"Alan! Tuman kamu."
"Lagian Mamah kenapa datang sekarang? Sendirian?"
Madelle membuka sepatunya. "Bapak kamu ada urusan. Minggir."
Alan membiarkan ibunya masuk dan mendekati Inanti. "Nan… Nadia mau mimi kayaknya nih."
"Sini, Mah. Aku kangen banget sama Nadia."
Inanti menggendongnya, dia menimang dan menciumnya berulang kali. "Kangenn banget Mama sama dede. Dede Nadia betah dirumah Eyang?"
"Mbah Putri."
"Oh iya lupa." Inanti tersenyum. "Betah ya di rumah Mbah Putri yang gedong itu? Sama Mbah Sepuh, Mah?"
"Iya, itu aja lebih bagus."
Alan menatap interaksi mereka sambil berdiri di sana. Dia merasa diabaikan. Sampai Madelle menatap perlahan. "Bang, Mamah lapar."
"Kok bilang sama Abang? Ya makan lah, masa harus Abang suruh mandi."
Madelle tertawa hambar. "Durhaka kamu, Bang. Durjanah jahanam tau nganggurin orangtua yang lapar. Kan itu lagi masak, Mamah mau dong."
"Ini buat Inan."
"Gak papa, Mas, kan itu banyak."
"Tuh, kata Inanti juga gak papa, Mas Kumambang!"
"Mamah rusak suasana tau."
"Anak kamu ciwekkkkk wae mau ketemu sama Mama nya, Abang. Insyaf kamu, anak masih bayi jangan dulu melendung lagi."
"Kan kalau melendung juga nanti Abang yang letusin."
Dan Inanti diam di sana, mendengar percakapan absurd seorang anak dan ibu di sana.
"Sana, bikinin Mbah Putri makanan," ucap Madelle mengangungkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Alan melangkah menuju dapur.
"Masak apa si Abang, Nan?"
"Masak spaghetti katanya, Mah."
"Sok bule banget kamu, Bang."
"Emang abang bule!" Teriak Alan tidak terima. "Kulit abang putih."
Madelle menggeleng. "Dekil ah, putihan juga Mamah."
Alan menggeleng tidak kuasa kembali berdebat.Â
"Nan… Mamah bawa sesuatu buat kamu, ke kamar yuk."
"Eum… di sini aja, Mah."
"Ayo ah ke kamar, biar Abang gak denger. Sini Nadia nya Mamah gendong," ucap Madelle mengambil alih Nadia ke dalam gendongannya. Dia berdiri lebih dulu. "Ayo."
Inanti ingin berdiri, tapi dia merasakan sakit di pangkal paha. Dan tatapan Inanti menjelaskan semuanya.
"Astaga," gumam Madelle. "Abang!!!!"
"Apa, Mah?"
"Mau diapain Inanti?"
"Biar dia gak sakit lagi lah!"
Alan menyeringai, membuat Madelle paham. "Meski udah gak sakit awas aja kalau deket deket sama mantu Mamah."
"Yeee.. apa sih, emang Abang ngomong apa?" Tanya Alan menggendong Inanti. Dia berbisik di telinga istrinya. "Kalau udah gak sakit bilang yah, Yank."
🌹🌹🌹
"Nan… berapa kali?" Tanya Madelle untuk yang kesekian kalinya.
Yang mana membuat Inanti malu dan enggan menjawab, dia menyusui Nadia di sana.
"Nan…"
"Malu, Mah."
"Apaan malu, ini Mamah loh."
Dan dia diam sebentar sebelum menjawab, "Lebih dari sepuluh kali, Mah."
"Ya Allah, udah Mamah duga," ucap Madelle mengambil papper bag di sampingnya.Â
__ADS_1
"Itu apa, Mah?"
"Kantung air panas, cuma ini diisinya pake sama batu alam juga. Bentar yah, Mamah ambilin dulu air panasnya."
Inanti menatap kepergian Madelle dengan penuh haru, dia sangat disayangi mertuanya.
Di sana, Madelle menuju dapur di mana Alan sedang memasak. "Minggir, Bang. Ngalangin Mamah kamu, tar durhaka."
"Permisi… gitu bilangnya, jangan asal awas aja."
"Ambulance juga kalau lagi darurat gak bilang permisi."
Alan menggeleng, ibunya terlalu tinggi untuk dijangkau dalam perdebatan.
"Mah…"
"Apaan, Bang? Udah bikin makanan yang enak, biar Inanti sehat. Mamah juga mau deh."
"Inanti…. Udah gak sakit lagi?"
Seketika Madelle menatap Alan. "Awas kamu, Bang. Inanti gak bisa apa apa, biarin dulu tiga hari. Gak kasihan kamu. Dasar anak kurang baik."
Madelle meninggalkan Alan dan melangkah masuk ke kamar. "Nih, Nan. Tempelin ke perut bagian bawah, biar anget. Si Abang udah Mamah omongin kok, nanti kalau minta gergaji aja dia."
"Mamah tau gak? Mas Alan beli pengaman… yang ada geriginya."
Dan Madelle tampak tidak terkejut. "Gak kaget Mamah."
"Hah? Mas Alan pernah beli sebelumnya, Mah?"
"Bukan Alan, tapi bapaknya. Turunan pasti lah."
Inanti menarik napas lega, dia pikir Alan pernah membelinya bersama wanita lain. "Dulu Papah juga gitu, Mah?"
"Sekarang juga masih. Tapi Mamah yakin semua sifat bapaknya nurun sama Alan. Jangan khawati, Mamah juga awalnya gitu kok kayak kamu, Nan." Madelle mengusap punggung Inanti.
Inanti penasaran. "Kayak aku gimana, Mah?"
"Dulu bapaknya Alan dingin banget, kejam juga. Mamah kan kerja di Indonesia di perusahaannya, Mamah sering di dimarahi. Eh, tau nya dia gitu supaya gak suka sama Mamah."
Inanti tersenyum. "Terus, Mah?"
"Dia awalnya gak mau ngaku suka sama Mamah, tapi bapaknya Alan minta ke Mamah nikah di depan keluarganya doang. Eh, taunya kita mabok bareng terus tekdung. Makannya Mama kasih nama Alan. Dari si alan, he he he."
Inanti menatap tidak percaya Madelle yang tengil, ternyata ini asal usul nama suaminya.
🌹🌹🌹
Tbc.
__ADS_1