Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Menyerah


__ADS_3

🌹VOTEEE YAAA GAISSS🌹


Tante Metry tidak bisa menyimpan rahasia antara dirinya dan Ibunya. Beruntung Oma Asih bisa menyimpan rahasia itu dengan baik dan akan menunggu Vanessa menceritakannya sendiri.


"Dia bilang begitu, Bu," ucap Tante Metry dengan wajah sedih.


Oma Asih berdecak. "Kenapa kau sedih? Kau membencinya?"


Tante Metry menggeleng sektika. "Aku tidak membencinya, Ibu. Aku mengasihinya, kasihku padanya sudah seperti pada keponakan sendiri, terlepas dari masa lalunya bagaimana."


"Jika mengingat masa lalu, dia memang jahat. Tapi setidaknya sekarang dia lebih baik. Jangan lihat orang dari masa lalunya."


"Itu yang aku katakan padanya, Ibu," ucap Tante Metry kesal. "Tapi dia tidak mendengarkan."


"Sudahlah, besok ajak dia pergi ke dokter kandungan dan mulai dengan program kehamilan. Ibu tau dokter yang bagus."


Tante Metry berdehem. "Tapi, Bu…., Jangan bilang Judi, biar Vanessa bilang sendiri."


"Iya, Ibu akan membiarkan dia berkata sendiri. Sudah, sekarang panggil dia untuk makan malam."


Tante Metry mengangguk, dia keluar kamar ibunya. Oma Asih menarik napas dalam, dia segera keluar dan menunggu di meja makan.


Keberadaan Vanessa membuat tempat ini menjadi ramai kembali, dia juga merasa memiliki ada teman. Apalagi melihat secara langsung perubahan Vanessa dari hari ke hari yang semakin memperdalam agama dan membenahi diri. Oma Asih merasa masa lalunya tidak akan mempengaruhi penilaiannya saat ini pada Vanessa, tapi akan dijadikan bahan perbandingan.


Menunggu cukup lama, akhirnya Tante Metry membawa Vanessa turun.


Dan karena pintar menyembunyikan perasaan sesungguhnya, Vanessa tertawa tawa dari atas.


"Omaaa…..," ucapnya melangkah mendekat. "Oma menunggu lama bukan?"


"Ck!" Oma Asih berdecak. "Cepatlah, dasar lambat."


"Oma, ingin aku buatkan gado gado tidak?"


"Makan saja apa yang ada."


"Oma…." Vanessa duduk di samping Oma Asih. 


"Apa?"


Vanessa tersenyum manis. "Aku menyayangimu, Oma."

__ADS_1


"Oma juga, sekarang makan cepat."


🌹🌹🌹


Vanessa mempersiapkan kepergiannya dari Amsterdam. Dia sudah bertekad bulat akan pergi meninggalkan Judi. 


Dan janjinya, dia tidak akan mengganggu rumah tangga Inanti. Dengan begitu, Judi akan bisa bersama wanita lain yang bisa memberinya keturunan dan juga yang benar benar dia sayangi.


Sambil menangis, Vanessa mengepak pakaiannya ke dalam tas kecil.


Untuk bekal, Vanessa memiliki uang yang diberikan Judi saat dia menjadi istrinya.


Menghapus air matanya yang turun, Vanessa menarik napas dalam menunggu malam tiba.


Setidaknya pernah keluar dari rumah ini, jadi dia ingat rute yang akan dia lewati nanti.


Dan ketika sedang berkemas, Vanessa dikejutkan oleh suara telpon dari Judi. Yang mana membuatnya malah menangis semakin kencang.


Satu panggilan terlewatkan, sampai akhirnya panggilan kedua terdengar.


Vanessa baru mengangkatnya di panggilan ketiga.


"Hallo assalamualaikum," ucap Vanessa memberi salam lebih dulu.


"Apaan, siapa yang nangis?" Tanya Vanessa kesal. "Lagi pilek tau."


"Dari tadi aku telpon sama chat gak dibales bales, kemana?"


"Kangen yak?" Tanya Vanessa mencoba mengubur rasa sedihnya. Dia juga tidak ingin Judi tahu sekarang bagaimana perasaannya.


"Iya kangen, makannya ditelpon. Tapi seperempat sih."


"Ngaku aja napa, siapa juga yang gak mau sama orang cantik kayak aku."


"Terserah deh. Kata dokter gimana? Sakit apa?"


"Sakit perut biasa?"


"Bisa nyampe pingsan?"


"Bisa lah, yang enggak emang apa?"

__ADS_1


"Kok sewot gitu?"


"Gak kuat wik wik."


Judi berdecak di sana. "Sholat belum Ijah?"


"Ya udah lah, kan udah aku kirim video nya."


"Di sana malem kan?"


"Iya nih, pas banget buat wik wik tau gak, Mas."


"Otakmu wik wik mulu," ucap Judi. "Kata dokter karena apa bisa sakit?"


"Ngapain sih tanya dokter mulu?"


"Ya kan aku mau tau kondisi kamu."


"Aku sehat kalau kamu pulang terooooossss…  kita wik wik."


Tanpa diduga Vanessa, Judi malah tertawa di sana. Tidak ada lagi kalimat kesal, menjauhkan bahkan mendorong. Judi malah berkata, "Yang sholeh dulu biar gelar Ijah nya ilang."


Vanessa diam, air matanya menetes begitu saja. Dia membungkam mulutnya sendiri supaya tidak menimbulkan suara.


"Jah?" Tanya Judi saat tidak mendapatkan jawaban dari istrinya. "Ijah?"


"Mau tidur."


"Oh yaudah. Jangan lupa baca doa, besok jangan kesiangan. Lusa aku pulang ya."


Vanessa diam.


Membuat Judi menutup telpon. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Setelah menutup telpon, Vanessa menarik napas dalam. Dia meletakan tiga buah surat yang sudah dia tulis untuk Oma Asih, Tante Metry dan suaminya.


Sebelum keluar kamar, Vanessa menatap ruangan itu lama. Dia tersenyum manis. "Semoga pemilikmu selanjutnya lebih baik dariku dan lebih baik untuk tuanmu."


🌹🌹🌹

__ADS_1


To Be Continue


__ADS_2