
🌹VOTE YA GAISSS🌹
Inanti belum bisa terlelap meskipun suaminya memeluknya erat. Dia bergerak gelisah tidak bisa memejamkan mata.Â
"Tidur, Yank…., Udah malem ini," ucap Alan dengan manik yang terpejam.
"Mas belum tidur?"
"Gimana mau tidur kalau jantung hatinya belum."
"Dasar lebay," gumam Inanti menyandarkan kepalanya di dada sang suami dan memeluknya erat.
Beruntungnya, Baby Nadia terlelap sangat pulas. Dia seolah tahu orangtuanya sedang ingin berduaan.
"Yank…."
"Gak ngantuk, Mas."
"Tidur, Sayang. Atau aku ngaji lagi ya? Biar kamu ngantuk."
"Gak usah lah, suara kamu udah serak."
"Lha, serak juga kan dapet pahala."
Sampai Inanti ingat sesuatu. Alan belum lagi mendapat jatah tidur setelah yang pertama itu. Inanti ragu menanyakannya, pikirnya mungkin saja Alan menginginkannnya sebelum pergi sebagai penangkal rindu.
"Mau, Yank?"
"Mas mau?"
"Ya iya biar tidur kamu makin nyenyak."
"Ih, bukan itu. Buka dulu matanya kenapa," ucap Inanti mengadahkan kepalanya.
Alan membuka matanya perlahan dan membalas tatapan Inanti. "Apa dong?"
"Mas mau?....." Inanti ragu ragu. "Tidur bareng?"
Alan diam sesaat, dia menatap manik Inanti dalam sebelum menarik napas lalu mengeratkan pelukannya. "Enggak."
"Kok enggak? Kalau mau boleh ko."
"Gak usah lah, aku gak papa."
"Aku gak bakal nolak," ucap Inanti mengerucutkan bibirnya.
Yang mana membuat Alan mencium puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. "Iya aku tau. Tapi nanti aja, biar aku pulang kan rindunya tambah banyak."
Inanti cemberut saat Alan kembali memejamkan mata dengan tangannya terus bergerak mengusap rambutnya.Â
Pikir Inanti, Alan marah karena dirinya terlalu sering menolak. Lalu pemikiran itu bercabang menjadi sesuatu yang membuat Inanti gelisah. Dia takut suaminya macam macam di sana.
"Mas…."
"Iya, Yank?"
__ADS_1
"Di sana jangan macam macam ya."
Alan kembali membuka matanya. "Macam macam gimana?"
"Jangan selingkuh."
Alih alih marah ditodong praduga itu, Alan malah mengusap kepala istrinya dan berucap lembut. "Enggak, Sayang. Aku udah punya bidadari di rumah."
"Jangan deket deket cewe di sana."
"Enggak. Aku cuma punya kamu."
Inanti membuang napasnya dalam, terdengar oleh Alan yang terpejam. "Setelah selesai, dapet lokasi pas pasti aku langsung pulang, Sayang. Tadinya aku emang mau ajak kamu sama Nadia, tapi Papah bilang jangan soalnya lokasi bisa pindah pindah. Seharu bisa pindah empat lokasi."
"Asal pulang lagi."
"Ya iya lah pulang, masa bidadari cantik dianggurin."
Tangan Inanti membuat pola tidak karuan di dada suaminya. Dia berpikir dan terus berpikir. Aroma Alan beraroma mint yang lembut, ditambah dengan aroma embun halus yang membuat Inanti tidak mau berjauhan.
"Kamu laper? Mau makan? Aku masakin mau?"
Inanti menggeleng. "Mas? Nanti kita pindah lagi ke rumah itu?"Â
Inanti bertanya sambil fokus pada telunjuknya yang membuat pola pola berputar di dada suaminya.
"Rumah mana, Yank?"
"Rumah kamu yang dulu aku tinggal di sana."
"Enggak lah, itumah dijual aja."
"Di tanah becek becekan?"
"Iya, yang halamannya luas biar kamu bisa main bola sama anak kita."
Alan tersenyum. "Kamu mau bikin rumah sama aku?"
"Ke syurga bareng kamu aja aku mau, masa bikin rumah gak mau. Rumah kan syurga kita di dunia."
"Aku ngaji ya buat kamu."
🌹🌹🌹
"Mas, temen kamu sarapan di sini juga?"
"Apaan sarapan di sini? Gak usah lah, yang makan makanan kamu cuma aku doang. Titik," ucap Alan sambil memakan nasi goreng kesukaannya.
"Yank, bawa pie buatan kamu ya. Buat di bawa di jalan."
"Di masukin ke koper."
"Gak usah, nanti suruh Rizki atau Andria tenteng aja."
"Kasian dong, Mas," ucap Inanti yang juga makan sambil menyusui Baby Nadia.
__ADS_1
"Enggak lah, kan mereka nanti juga makan."
Tatapan Alan menengok pada Baby Nadia yang berada di sampingnya. "Ehhh… anak Papa tidur lagi. Sering banget tidur dia Yank."
"Kayak siapa?"
Alan tertawa. "Mirip aku lah. Orang aku bapaknya."
Alan menyudahi lebih dulu sarapan.
"Udah, Mas?"
"Udah, itu nasinya udah ludes. Mau bawa box Nadia, biar mereka nggak masuk kamar kita," ucapnya melangkah mengambil box bayi untuk dipindahkan ke ruangan tamu. "Udah nyenyak, Yank?"
"Udah lepas kok, gak nyedot lagi."
"Sini aku pindahin, kamu makan aja."
Hal lain yang disukai Inanti pada Alan, suaminya selalu menghabiskan makanan buatannya. Dia sangat menghargai makanan.Â
Meskipun Alan membeli banyak makanan, dia selalu mencoba menghabiskan semuanya.
"Anak Papa cantik…. Utukkk utukkkk…. I Love uuuuuu…."
Dan setelah selesai sarapan, Inanti membereskannya.
"Mas, ada yang mau dibawa lagi nggak?" Tanya istrinya memasukan pie kentang ke dalam box.
"Udah semua."
"Ini awas loh box nya bawa pulang lagi, jangan ilang."
Alan menoleh. "Tupperware?"
"Iya, pokoknya gak boleh ilang. Bawa lagi. Di bagian bawahnya udah aku kasih nama pake spidol kecil. Nanti suruh sama Kak Andria atau Kak Rizki kalau udah abis jangan dibuang."
Alan menggeleng tidak percaya. "Bener bener mirip Mamah," gumamnya. "Bawanya jangan yang tupperware deh."
"Ini yang kedap udara. Bawa aja, asal bawa pulang. Emang kenapa gak mau?"
Alan bergidik. "Ngeri inget sama Papah pernah ilangin tutup botol tupperware, bikin dia dimarahi Mamah tujuh hari tujuh malem."
"Satu tutup mah gak masalah sih," ucap Inanti menimang apa yang dikatakannya.
"Papah mah semua tutup botol tupperware yang ada di rumah."
"Hah? Papah apain itu botol?"
"Itu kan waktu aku kecil. Sama Papah tengahnya dilubangin, terus di susun pake tali. Soalnya dulu aku pengen petasan China yang panjang itu loh, tapi kata Papah bahaya. Jadi dia bikin alternatif bikin petasan kayak gitu."
"Ya pantes lah. Ampun."
Dan saat sedang bicara, ada bel berbunyi dimana layar monitor memperlihatkan wajah Andria dan Rizki.
Inanti menelan ludahnya kasar. Akankah mereka mencacinya seperti dulu?
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC