Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Kehilangan fokus


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Alan menatap lekat wanita dalam pelukannya yang terlelap kelelahan. Empat ronde di malam hari, harus berakhir karena Inanti yang merasa mual dan lelah.


Dilanjut setelah subuh, Alan kembali melakukannya sebanyak tiga kali dengan Inanti yang pelepasan lebih dari sepuluh kali.


Dan kembali terhenti oleh keluhan istrinya yang merasa mual dan pusing, membuat Alan memilih berhenti dan memeluknya dalam selimut.


Dan itu memberikan Alan kesempatan untuk melihat wajah istrinya yang begitu cantik, yang baru dia sadari setelah semua nya terjadi.


Inanti memiliki alis yang tebal, mata bulat dengan hidung mancung yang mungil. Bibir bawahnya agak tebal, yang membuat Alan gemas dan selalu ingin mengulumnya.


Melihat jam di dinding yang sudah menunjukam pukul setengah delapan pagi, membuat Alan berinisiatif ingin membuat sarapan untuk istrinya.


Namun, dia bergerak sedikit saja, mata istrinya terbuka.


"Mau ke mana?" Tanya Inanti dengan suara parau.


"Gak ke mana mana, Sayang."


"Jangan pergi," ucap Inanti dengan suaranya yang serak.


"Enggak, Sayang."


"Jangan duduk di sofa," gumam Inanti tanpa sadar dengan memeluk Alan.


Dan Alan tahu maksud pikiran bawah sadar istrinya. Dulu, saat pertama kali melakukannya, Alan pertama kali bangun dan duduk di sofa menunggu Inanti sadar, setelahnya dia melemparkan berbagai aturan dengan lembaran uang.


"Enggak, aku gak ke mana mana kok. Cuma mau buat sarapan buat kamu."


"Nanti aja, orang ini masih pagi."


"Udah mau jam delapan, Nan."


"Emang?" Kening Inanti yang berkerut menatap ke arah jam di belakangnya sebelum kembali tertidur.


Alan memeluk punggung istrinya. "Tidur lagi aja, aku buat sarapan ya."


"Aku mau mandi, Mas," ucap Inanti beranjak duduk, dia menahan selimut di dadanya, matanya masih belum bisa fokus.


Rasa mual akibat kelelahan masih ada. Ternyata benar, orang bilang pria bule kuat dalam hal ranjang. Dan  Alan menuruni darah Amerika Latin.


"Masih pusing?"


Inanti mengangguk.


"Sini." Alan menarik istrinya untuk duduk di pangkuannya. 


Kulit mereka beradu dengan kulit, membuat Inanti agak was was. Keduanya hanya terhalang pakaian dalam saja. "Mas…."


"Enggak kok. Tenang aja, cuma mau cium kamu doang," ucap Alan kemudian meraup bibir istrinya. Selama beberapa detik mereka saling memangut. Sebelum Alan melepaskannya dan berucap tepat di depan bibir istrinya. "Makasih untuk semalam, Sayang."


Yang Inanti lakukan adalah menyandarkan kepalanya di dada Alan merasakan perasaan bahagia dan juga merasa dicintai.

__ADS_1


"Mau aku anterin lagi ke kamar mandi gak?" Tanya Alan.


Karena sebelumnya, Inanti juga digendong ke kamar mandi akibat bagian paha atas nya yang terasa sakit.


Dalam pelukan, Inanti mengangguk.


Membuat Alan beranjak dari sana dengan menggendong Inanti di depannya. 


Menyalakan shower, lalu menurunkannya di dalam bathub berisi air hangat.


"Mau aku mandiin?"


"Gak mau ih, kamu nya keluar sana."


"Dasar ratu gengsi, merah tuh pipi."


"Mas nya keluar, katanya mau bikin sarapan," ucap Inanti masih dengan wajah malu nya, dia ketus untuk terlihat tidak jelas malu. "Sana, Mas."


"Kiss dulu dong."


"Nanti kalau udah dapet sarapan."


"Janji ya?"


"Iya ih, sana, Mas."


"Iya iya, btw enen kamu bengkak, Nan."


🌹🌹🌹


Alan memilih mandi di kamar mandi yang ada di luar kamar, khususnya untuk tamu yang datang. Dia lebih dulu selesai karena akan menyiapkan sarapan untuk istrinya.


Dan saat memasak, Alan mendapat telpon dari Madelle.


"Hallo, Mah? Alan lagi sibuk."


"Assalamualaikum ya ahli kubur."


"Mah!"


"Makannya kalau apa apa itu salam dulu, langsung gercep lagi sibuk. Durhaka kamu sama orangtua, barusan bentak kan? Abang, jangan jadi jahanam."


Alan memutar bola mata, dia memilih menggunakan earpiece sehingga bisa menelpon sambil memasak.


"Assalamualaikum Mamah Cantik."


"Waalaikum salam, nah gitu dong. Mamah ke sana nya sore ya, Nadia nya mau dibawa Mbah nya."


"Mbah?" Alan heran. "Mbah Surip?"


"Tuman kamu! Kalau dikata Eyang kayak tua, apalagi Nenek, udah Mbah aja."


"Terserah Mamah deh, tapi kalau bisa agak maleman ya, Mah."

__ADS_1


"Dasar modus. Awas aja kalau Mamah ke sana terus Inanti lecek sama kamu. Mamah santet online kamu, Bang."


"Santet aja, nanti Abang bilang ke Papa kalau Mamah masih maen game cacing."


Seketika Madelle terdiam. "Dasar anak kurang baik! Yaudah, Mama mau bangunin Nadia dulu."


"Fotoin, Mah. Kirim ke Abang, kangen sama bocil."


"Iya siap, assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Setelah telpon terhenti, ponsel Alan kembali berbunyi oleh pesan. Yang diyakininya itu adalah foto Nadia.


Mama : Nih anaknya gak mau bangun.



Me : Tidur di sofa, Mah?


Mama : Iya sama Papa kamu, itu sofa bongkar pasang kok.


"Mas….?!"


"Iya, Sayang," jawab Alan segera ke kamar, dia melihat Inanti yang berada di walk in closet. "Kok keluar sendiri? Kenapa gak panggil aku?"


"Takut digabrug lagi sama kamu, aku lapar, Mas."


"Baju aku mana? Ini lingerie doang, masa pake begitu?"


"Seksi, Nan. Aku suka, kan pahala bikin suami bahagia."


"Ini pada carang kaya jaring ikan, di sini AC semua, nanti aku demam. Mau?"


"Enggak dong, Sayang. Masa Mas Alan mau istri tercintanya sakit. Kiss dulu dong." Alan mendekat dan memegang pinggang Inanti yang memakai handuk. "Kiss, Yank…"


"Ambilin dulu baju nya, jangan diumpetin lagi."


"Tapi nanti aku garbruk lagi ya?"


"Nanti siang?"


"Iya, buat tidur siang."


Alan mengulum bibir menahan senyuman melihat istrinya yang masih labil dan remaja sedang berpikir. Membuatnya tidak tahan dan mengangkat Inanti ke atas meja.


"Akh… Mas --- hmpphh!"


Inanti kembali mendapatkan ciuman. Namun singkat, karena….. "Mas, aku cium bau gosong."


🌹🌹🌹


TBC

__ADS_1


__ADS_2