Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Persetujuan


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Inanti terdiam menatap banyaknya peralatan kecantikan yang dibawakan mertuanya.


"Nan… ngapain sih?"


"Ih, mau apa emang?"


"Enggak, dari tadi di kamar mandi terus kenapa?"


Inanti diam memandang kembali alat kecantikan itu.


"Lagi mandi?" Tanya Alan lagi di luar sana.


"Iya, baru mau ini."


"Lah… dari tadi apa apaan di sana? Semedi?"


"Tau ah," ucap Inanti masih dengan keraguan dan rasa jengkel, dia membiarkan Alan tetap berada di sana.


"Nan…?" Tanya Alan lagi yang enggan beranjak dari luar pintu kamar mandi. "Kamu gak pingsan 'kan? Katanya mau mandi, kok gak ada suara air?"


"Mandinya pake air ghaib."


"Cie…., air ghaib biar aura nya keluar ya? Biar Mas Alan ini makin cinta ya sama kamu."


Inanti berdecak, dia sedang gugup dan bisa bisa nya Alan malah mempermainkannya. 


Supaya suaminya pergi, Inanti berucap, "Mas, pesenin ayam geprek ya."


"Siap, apa sih yang enggak buat kamu. Sama toko nya aja bisa aku beli, biar bibir kamu tambah seksi, kepedesan gituh… aduh nikmat banget kalau liat kamu gitu, Nan. Cantik pedas pedas gurih gimana gitu."


"Gak waras," gumam Inanti saat mendengar Alan berjalan menjauh.


Inanti kembali menarik napas dalam, dia meyakinkan dirinya agar berani melakukannya. Dia akan memberikan apa yang Alan butuhkan dan inginkan, karena itu memang hak nya.


Ada sedikit rasa takut, tentang rasa sakit yang pernah Alan lakukan saat merenggut paksa, juga rasa percaya pada suaminya yang kini benar benar berubah.


Sebelum maghrib datang, Inanti segera mandi. Dia melakukan apa yang diperintahkan mertuanya. Bahkan ada lima sabun yang digunakan Inanti agar menyegarkan tubuh, dia keramas dan berendam di air mawar.


"Nan….?" Kembali terdengar panggilan dari suaminya. "Udah mau maghrib."

__ADS_1


"Iya, ini mau keluar," ucap Inanti memakai handuk.


Dia terkejut saat mendapatkan Alan di depannya saat membuka pintu.


"Mas!"


"Kaget ya liat wajah aku yang makin ganteng?"


"Awas ih, jauhan sana! Aku mau pake baju!"


"Silahkan, Tuan Putri," ucap Alan bergeser.


Membuat Inanti melangkah menuju walk in closet. "Mas? Baju aku ke mana?"


"Itu baju kamu."


"Itu lingerie!"


Alan malah tertawa. "Aku sembunyiin, Nan. Pake dong baju itu, kan aku beli juga buat kamu. Lagian hari ini Mama telpon, katanya Nadia mau dibawa nginep di sana. Masa malam ini gak ada yang special gitu?"


Wajah Inanti memerah, dia segera memalingkan wajahnya. "Special apaan ih, mana baju aku."


Inanti menatap malu pakaian di depannya, dia harus memakai pakaian tipis itu. Meskipun memiliki jubah, tapi itu transparan sekali.


Dan satu satunya cara menangkal rasa malunya, dia menjadi jutek pada suaminya.


🌹🌹🌹


Alan menatap Inanti yang makan di depannya, belahan dada istrinya terlihat jelas. Dan Inanti menyadari tatapan itu.


Pada jam delapan malam, mereka baru makan.


"Nan?"


"Apa?"


"Enen kamu keliatan."


"Kamu liatin kan dari tadi."


"Pemandangan indah," ucap Alan yang membuat Inanti melempar sendok ke arahnya. Pria itu malah tertawa. "Seksi seksi gimana gitu."

__ADS_1


"Dasar mesum," ucap Inanti meyudahi makannya, dia membereskan piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring.


Alan yang masih duduk di sana menatap istrinya. Sampai Inanti sedang mencuci tangan, Alan mendekat dan memeluknya dari belakang. "Nan…."


"Apa?"


"Enggak, kangen aja," ucap Alan.


Inanti menelan ludahnya kasar. Haruskah dirinya meminta duluan? Itu akan membuatnya malu, tapi Inanti tergiur dengan janji Tuhannya, membuatnya sadar kalau ini adalah kewajibannya.


Maka darinya, dia berbalik, "Mas--- hmmppphhh!"


Tanpa diduga Alan meraup bibirnya, mengunyah benda kenyal itu dengan bibir dan lidah. Alan mengangkat Inanti dan mendudukannya di dekat westafel, dada keduanya kembali bersentuhan begitu dekat.


Tangan Alan masuk ke pakaian istrinya, menyentuh kulit punggungnya secara langsung.


Alan tidak dapat penolakan, membuatnya melancarkan aksinya.


"Euhhh……," lenguh Inanti saat bibir Alan turun ke lehernya, dengan tangan lain mengusap dadanya.


"Mas… hmmppphh." Bibirnya kembali naik menuju bibir.


Dan sensasi panas kembali Inanti rasakan saat Alan membuka kaosnya, lalu kembali mencium bibirnya dengan dada telanjang mereka yang beradu.


Inanti merasakan ujung dada nya menegang, dia mencengkram kuat bahu dan rambut Alan.


"Mas…." Rasanya geli saat bibir tipis itu turun ke leher dan hampir menyentuh dada, benda kenyal itu benar benar membuat Inanti kewalahan.


Sampai Alan mensejajarkan wajah mereka, dan berucap tepat di depan bibir istrinya. "Kamu mau 'kan?"


Inanti mengigit bibir bawahnya, membuat Alan tidak tahan untuk kembali menciumnya.


"Nan….," ucap Alan dengan suara parau sudah dikendalikan, tatapannya dipenuhi rasa keinginan yang tertahan.


Dan sebagai jawaban, Inanti merangkup pipi Alan lalu mencium bibirnya, membuat dada mereka kembali beradu.


Mendapat persetujuan, Alan langsung menggendong Inanti di depannya dan membawa perempuan bertelanjang punggung itu ke kamar dan menindihnya di atas kasur.


🌹🌹🌹


TBC.

__ADS_1


__ADS_2