
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE, BINTANG LIMA, KOMETAR BAGUS DAN MEMBANGUN🌹
🌹FOLLOW IGEH EMAK DI : @REDLILY123🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹
Judi turun untuk menanyakan sesuatu pada Oma Asih.
"Oma….," Ucap Judi mendekat.
"Kok kamu pake kimono doang sih? Mau pamer abis mandi?"
"Enggak, bukan gitu," ucap Judi menggeleng.
Oma Asih yang sedang menyiapkan sarapan bersama si Bibi.
"Vanessa belum buka pintu. Itu kan Judi mau kerja, gimana dong?"
"Ya terus gimana?" Tanya Oma Asih. "Kamu mau dobrak?"
"Marah enggak ya?"
"Jangan coba coba, Judi!"
"Enggak ih," ucap Judi dengan segera. "Lagian selain mau kerja, Judi juga khawati kenapa Vanessa belum buka pintu."
"Dia biasanya langsung sholat duha, jadi agak siangan buka nya."
"Sarapannya telat dong."
"Jam delapan mah gak telat, Judi. Jangan parnoan gitu, lagian Vanessa ga mungkin acuh sama bayinya. Oma kan bilang dia butuh waktu."
Judi mengerucutkan bibirnya.
"Mau makan dulu?"
"Enggak deh, mau ke sana lagi," ucap Judi kembali menaiki tangga.
Oma Asih menggelengkan kepalanya berulang, melihat Judi yang terlihat kosong. "Kasian banget sih, tapi ya gimana lagi."
__ADS_1
Judi mengetuk pintu kamarnya selama tiga kali.
"Sa--" ucapannya terputus saat pintu tiba tiba terbuka dan Vanessa membiarka Judi masuk.
Judi menatap punggung istrinya yang membelakangi itu. "Sayang?"
Tidak ada jawaban, tapi Judi melihat pakaiannya sudah disiapkan di atas kasur.
Sesuai keinginan Oma Asih, dirinya memberi Vanessa ruang.
Judi mengambil pakaiannya dan bersiap di walk in closet. Tidak lagi berbicara dengan Vanessa yang sedang melipat mukena.
Ketika Judi keluar saat selesai berpakaian, dia tidak mendapatkan Vanessa di sana.
"Kemana dia?" Gumam Judi.
Memeriksa ke lantai bawah, ternyata Vanessa sedang makan di sana bersama Oma Asih.
Judi terdiam menatap istrinya. Bukan karena marah, tapi karena lega kalau istrinya makan dengan baik dan lahap.
Judi mendekat. "Oma, Judi berangkat ya."
"Gak sarapan dulu?"
Karena Vanessa sedang makan, Judi hanya mencium puncak kepalanya.
"Aku berangkat ya," ucap Judi kemudian mengusap kepala istrinya sebelum pergi.
🌹🌹🌹
Oma Asih dan Vanessa sedang membungkus makanan yang akan menjadi bingkisan saat empat puluh harian.
"Van, kamu masih marah sama Judi?"
Vanessa mengangguk.
"Gak papa, keluarin aja semua. Biar enak, biar gak eneg lagi kamunya. Dan yang penting selesai sampai di sini. Marah aja gak papa, asal untuk saat ini. Jangan dibawa bawa buat ke depannya. Makannya puas puasin sekarang."
Vanessa tersenyum. "Tapi aku takut Mas Judi lama lama ikutan kesel sama aku, terus cari wanita lain."
__ADS_1
"Eh, kok ngomongnya gitu sih? Gak boleh," ucap Oma Asih memberi peringatan. "Jangan soudzon, Judi itu gak bakalan main wanita, Van. Apalagi kamu hamil anaknya."
Ketika keduanya sedang berbincang, Bibi pembantu datang dan berkata, "Nyonya, ada kiriman untuk buku yasin."
"Oh biar Oma yang cek," ucap Oma Asih berdiri dan melangkah keluar.
Dia menandatanganinya dan menyuruh supir membawanya ke dalam.
"Pesanan saya pribadi ada?"
"Ini, Nyonya," ucap kurir memberikan kotak kecil.
"Makasih ya."
Bersamaan dengan itu, Judi baru saja pulang dari kantor.
"Pengiriman apa ini, Oma?"
"Itu buku yasin."
"Oh."
"Sini dulu, Jud."
"Kenapa?" Tanya Judi.
"Ini buat kamu."
Judi menerima kotak kecil itu dan membukanya.
"Itu hadiah ulang tahun ya buat kamu."
"Apaan ini, Om--- Surat yasin?" Tanya Judi kaget. "Kok?"
"Kenapa kaget? Kan di sininya juga ditulisnya barakallah."
Judi menatap horro buku yasin dengan foto dirinya. "Tapikan, Oma…."
"Nah ini juga buat pengingat kamu kalau dunia ini sesaat, jadi jangan sia siakan orang yang mencintai kamu. Udah ya, Oma masuk dulu."
__ADS_1
🌹🌹🌹
To be Continue