
🌹VOTE🌹
"Nan…." Alan menggoncang tubuh Inanti yang tertidur kembali setelah sholat subuh. "Sayang…."
"Hmmm?" Inanti hanya bergerak, tidak membuka matanya.
"Aku keluar sebentar ya, mau ketemu Andria. Sarapan mau beli atau bikin?"
"Nanti aku bikin."
"Aku berangkat ya?"
"Heem."
Dan ketika Alan hendak mencium kening Inanti, perempuan itu berguman, "Jangan noel noel, jangan ambil kesempatan."
"Etdah ketauan," guman Alan segera memakai jaket. "Berangkat ya, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Alan turun ke basement, dia mengendarai mobilnya seorang diri menuju ke sebuah tempat.
Hanya butuh waktu lima belas menit, dirinya sudah sampai di sana. Waktu menunjukan pukul enam pas. Masih banyak kabut di pemakaman.
"Ingin berkunjung, Tuan?" Tanya penjaga makam Praja Diwangsa.
Alan tidak basa basi, dia mengatakan, "Saya bawa al-Quran sendiri."
"Baik, Tuan." Orang itu kembali ke pos penjagaannya.
Sementara Alan masuk ke area pemakaman, dia berhenti tepat di pinggir makan Adam. Alan berjongkok di sana, dia mengusap nisan putranya kemudian membaca surat yasin sebanyak empat puluh lima balikan.
Penjaga makan menatap Alan yang masih di sana meski pun matahari mulai tinggi. Setiap hari Alan datang ke sini, tepatnya setiap pagi. Penjaga itu ingat, biasanya Alan datang selama setengah jam, kemudian pergi lagi.
Ini lebih lama dari biasanya, membuat penjaga itu berinisiatif membawakan aqua botol untuk Alan.
"Ini untuk anda, Tuan."
"Bawa itu kembali," ucap Alan tidak berhenti menatap al-Quran.
"Maaf, Tuan?"
Alan tidak menjawab, bibirnya bergumam membacakan surat yasin itu.
Segera penjaga itu kembali dengan botol aqua di tangannya. Alan sangat dingin pada siapa pun, dia tidak segan memperlihatkan ketidaksukaannya.
Setelah selesai, Alan menutup al-Quran, kemudian mengusap nisan Adam. "Papa pulang dulu ya, besok insya allah Papa datang lagi."
Inilah kegiatan Alan di pagi hari.
"Tuan, maaf. Kemarin sewaktu Tuan tidak datang, ada pengunjung yang mengunjungi makan Tuan Adam."
"Siapa?"
Penjaga makam itu memperlihatkan nama yang tertera di buku. Membuat Alan mengetatkan rahangnya.
"Halangi jika dia datang lagi."
"Baik, Tuan."
Alan kembali menaiki mobil, dia segera menghubungi Karl.
"Tuan Muda?"
"Karl, beri tahu tentang Vanesa."
"Dia dikeluarkan oleh pria bernama Judi. Di hari yang sama, mereka menikah. Kini mereka sudah berada di Belanda, tepatnya di tempat kelahiran ibu suami dari Nona Vanesa. Mereka mengajukan untuk mengubah kewarganegaraan, kemungkinan mereka akan tinggal di Belanda selamanya."
Alan diam, ada rasa marah tapi juga lega.
"Tuan?"
"Lanjutkan pekerjaanmu."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Alan mencopot earpiece dari telinganya, dia fokus pada jalanan di depan.
Alan membeli banyak mainan pada Nadia, tapi dia tidak memberi satu pun pada Adam. Hanya bacaan al-Quran yang bisa Alan berikan pada putranya, memohon agar Adam mengampuninya di alam sana.
Dan dalam perjalanan di dalam mobil, air mata Alan menetes begitu saja mewarnai wajahnya yang datar. Alan depresi, dia merasa tertekan jika mengingat apa yang diperbuatnya di masa lalu.
Satu yang pasti, Alan membenci dirinya sendiri. Dalamnya lautan tidak sebanding dengan kebenciannya pada dirinya sendiri.Â
Tangan Alan bergetar, efek tekanan pada bathinnya kembali terasa. Membuat Alan segera menepi, dia menangis untuk sesaat di sana.
🌹🌹🌹
"Al, gila gue nungguin lu dari tadi," ucap Andria yang ada di caffe. "Lu dari makam Adam?"
"Iya."
"Biasanya kagak lama."
"Gue abis beliin Nadia mainan."
"Hubungannya?"
Alan tidak menjawab, dia menyalakan korek api untuk rokok. Membuat Andria mengerti.
"Ah… gue ngerti sekarang, lu juga mesti beliin mainan buat Adam."
"Mau ngomong apa? Gue mesti balik."
"Bini lu di rumah?"
"Heem." Alan mengeluarkan asap dari bibirnya. "Mau ngomong apa?"
"Gue butuh dana, Al."
"Buat?"
"Buka usaha."
"Judi narik semuanya lagi, dia pindah ke Belanda."
"Sama Vanesa?"
"Lu tau?"
Alan diam sebagai jawaban.
"Dia nikahin Vanesa buat Inanti bisa sama lu, biar kalian gak ada yang ganggu."
"Gue ngerti."
Andria masih melihat tekanan Alan, dia semakin dingin pada orang di luar sana. Alan seperti pisau tajam yang dibiarkan membara oleh api, dia lebih berbahaya.Â
"Al, gue mau buka kedai kopi. Tapi gede gedean, gue mau buka di tiap hotel punya lu."
"Tar gur transfer," ucap Alan tidak berpikir panjang.
"Al, lu suka sama Inanti pas lagi jadi tamu di seminar fakultasnya kan? Waktu itu Inanti yang ngasih pertanyaan buat lu."
Alan diam, dia masih ingat jelas pertemuan awal dengan Inanti. Bukan di hotel, melainkan acara seminar kampus.
"Gue liat lu senyum pas dia ngomongnya belepotan."
Alan menelan ludahnya kasar, di sana lah permulaannya.
"Al, lu suka kan sama dia? Tapi lu gak bisa lanjutin perasaan lu pas lu nidurin dia?"
Alan menggeleng. "Gue gak bisa lanjutin perasaan gue pas Vanesa bilang dia mau bales perasaan gue. Di sana gue pikir kalau gue gak nidurin Inanti, Vanesa bakalan tetep ngungkapin perasaannya lalu kita bahagia."
"Tapi dia cuma gak mau lu sama orang lain kan?"
Alan mengangguk, kembali menyedot rokoknya.
__ADS_1
"Kenapa lu gak lepasin Inanti pas dia mau pisah sama lu?"
"Gue gak bisa, gue pernah nyakitin dia, seenggaknya sisa hidup gue, gue bakalan jadi tamengnya."
"Gue yakin ada alasan lain."
Alan terkekeh sinis. "Terlepas dari itu? Inanti cewek pertama yang gue tidurin, yang pertama gue cium. Dia manis."
"Kalau begitu…. Vanesa?"
Alan menggeleng. "Gue gak tau."
"Lu belum pernah nyentuh dia?"
"Belum," ucap Alan pelan. "Vanesa sengaja bikin gue penasaran, nyampe gue lampiasin sama Inanti dulu."
🌹🌹🌹
Inanti terkejut saat dia bangun terlambat. Ini sudah siang, dan dia belum membuat sarapan.Â
Bertepatan saat dirinya keluar kamar, Alan masuk ke apartemen.
"Eh…. Sayang udah bangun? Belum mandi bau jigong kok masih cantik ya?"
Alan yang hendak menjahili Inanti melihat kegelisahan di mata istrinya. "Kenapa, Nan? Kangen ya sama Mas Alan?"
"Eum… aku belum bikin sarapan," ucapnya menatap ke sana ke mari.
Alan melihatnya, Inanti masih takut oleh bayang bayang masa lalunya.
"Etdah, belum masak sarapan sedihnya minta ampun. Jangan bilang kamu kira Mas Alan yang ganteng ini udah bangkrut. Tenang, Nan, aku borong sekalian sama restorannya di bawah."
Inanti memberanikan menatap Alan yang memasang wajah tengil.
"Pesen di bawah, Nan. Aku mau liat Nadia mulu."
"Pesennya gimana?"
"Eh, lupa. Si sayang masih katro."
"Bilang apa kamu?!"
"Dada kamu gede, Nan. Gak kecil lagi kaya enen kucing."
"Gesrek dasar!"
"Ha ha ha!" Alan tertawa sambil menuju telpon rumah. "Sini."
"Ngapain?!"
"Sini dulu."Â
Inanti mendekat.
"Nih, di laci ada telpon. Telpon aja restoran mana yang mau ditelpon. Ini uangnya pake ini, bilang sama mas telponnya pake kredit bayarnya," ucap Alan mengeluarkan kartu.
"Ngerti?"
"Heem."
"Good. Pinter banget kamu, Sayang."
"Jangan panggil aku begitu!"
Alan yang menjauh tertawa. "Oke, My Baby."
"Jangan panggil aku begitu!"
"Ih, apaan sih, Nan? Orang ke dede juga, geer banget. Cieeeee…. Pengen dipanggil baby ya? Ciee…. Yang mau… cieeee….."
🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1
Ha ha ha ha ha ha