
🌹VOTEEE YHEEE GAISSS🌹
Saat Oma Asih melihat cucunya turun dari lantai dua, Oma Asih berteriak seketika, "Iuuuuhh, Judi! Kok kamu gendeng dia yang belum mandi sih?"
Vanessa yang bermanja manja pada Judi itu mengbaikan dan tetap menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Dia sengaja bermanja manja karena Judi sedang baik dan tidak menolak semua sentuhannya sejak tadi. Vanessa hebat dalam memanfaatkan moment.
"Judi!"
"Ibu, jangan begitu."
"Vanessa sedang sakit perut, Oma," ucap Judi sebagai pembelaan.
Membuat Vanessa lebih manja. Dia berbisik pada telinga Judi. "Ingin wik wik?"
"Ijah," ucap Judi memperingatkan.
Mereka sarapan bersama dengan tatapan Vanessa yang tidak kunjung beranjak dari manik suaminya. Dia tidak bisa berhenti mengagumi ketampanan suaminya. "Anak anak kita akan secantik dan setampan orangtua nya. Aku bahkan tahu kemana akan mengirim mereka," ucap Vanessa.
Yang mana membuat Oma Asih dan Tante Metry mengerutkan keningnya. Mereka menatap satu sama lain. Melihat raut wajah ibunya, Tante Metry segera menggenggam tangan ibunya. "Jangan, Bu."
Oma Asih berdehem, merasa risih dengan tingkah Vanessa. "Judi, garuk saja istrimu."
"Apa, Oma?"
"Sudahlah. Kalian makan saja dengan tenang dan diam. Jangan bermesraan di depan orangtua."
Vanessa melepaskan tautan tangannya, dia menghela napas dalam dan mulai makan.Â
Judi sangat tampan, membuat Vanessa semakin terpesona. Apalagi bibirnya yang bergelombang ingin dia cium.
Vanessa ingin merasakan rasanya ciuman. Karena dia tidak pernah melakukannya. Setiap pria yang mendekat dan ingin menciumnya, Vanessa selalu punya alasan untuk mendorong dan memukulnya.
Jika tidak dengan masalah bau mulut, Vanessa takut menyesal beradu bibir. Tapi dengan Judi, ketakutan terkalahla oleh kesempurnaan ciptaan Tuhan. Mulai dari bentuk tubuhnya yang indah dan kekar, wajahnya yang tampan mempesona, dan aromanya yang selalu wangi walau pun berkeringat. Satu lagi, kulit kecokelatan Judi membuat Vanessa ingin memakannya.
"Vanessa! Makan yang benar," ucap Oma saat melihat sendok yang dipakai cucu menantunya menumpahkan sayur.
"Oma tau Judi sangat tampan, kau bisa memakannya hidup hidup nanti malam."
"Akan aku lakulan, Oma," ucap Vanessa malu malu
__ADS_1
Teringat sesuatu, Oma Asih berkata, "Oh ya, Oma akan membawa istrimu keluar untuk program kehamilan."
Judi tersedak. "Program kehamilan?"
Oma Asih mengangguk. "Tenang saja, semua dalam kendali Oma. Kau terus saja melakukan yang terbaik."
Judi menggeleng. "Vanessa tidak boleh keluar rumah ini tanpa diriku, Oma."
"Ini Oma yang membawa."
"Aku belum bisa mengizinkannya keluar."
Oma Asih marah. "Kenapa tidak? Kau tidak percaya pada Oma?"
"Bukan begitu, hanya waktunya belum tepat."
"Katakan alasannya."
Perdebatan Oma Asih dan Judi membuat Vanessa sedih, tapi dia menutupinya dengan sangat baik, dia segera berkata, "Tidak apa, Oma. Aku ingin membuat sambal dengan Oma supaya bisa keluar dengan percaya diri."
🌹🌹🌹
Vanessa menarik napas dalam, dia menggeleng. "Tetap tersenyum," gumamnya pada diri sendiri.
Vanessa merubah raut wajah sedihnya. Dia mencoba fokus kembali pada sambal yang dia buat.
"Vanessa!" Teriak Oma Asih memanggil.
"Iya, Oma?"
"Sini!"
Vanessa mematikan kompor, dia melangkah menuju ke arah Oma yang ada di belakang. "Ada apa, Oma?"
"Kau lulusan arsitektur bukan?"
"Iya."
"Nah, kursi Oma sudah tua. Kau bereskan lagi supaya Oma tidak berkeluh kesah."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Oma Asih masuk tanpa berbuat apa apa lagi.
Membuat Vanessa bingung, dia tidak tahu apa pun tentang bidang yang dia tekuni. "Lahhh…., Gue bayar kuliah sama tugasnya dulu. Mana paham, jadi arsitek? Emang impian gue. Tapi ini?"
Vanessa berdecak. Karena dia bodoh telah menyalahartikan dan kurang paham, Vanessa memilih untuk melakukan hal lain.
"Hey!" Panggil Vanessa pada pelayan
"Ya, Nyonya?"
"Buang kursi ini."
"Ba… baik, Nyonya," ucap pelayan itu ragu.
Membuat Vanessa berkata, "Tidak apa, ini perintah Oma Asih."
"Baiklah, Nyonya."
Karena merasa lelah dan malas melanjutkan masak, Vanessa menyuruh pelayan. Sebelumnya dia ingin bilang pada Oma Asih, tapi beliau malah terlelap di kursi.
Membuat Vanessa masuk ke kamarnya di lantai dua.
"Alaaamaaak, lelah," gumamnya melangkah menuju ranjang.
Saat hendak mendekati ranjang dan tidur di sana, jepitnya jatuh, membuat Vanessa menunduk untuk mengambilnya.
"Huh? Apa itu?" Gumam Vanessa melihat ada sebuah buku album di bawah ranjang.
Vanessa mengambilnya dan membukanya. Alangkah terkejutnya Vanessa saat melihat foto foto Inanti di sana.
Air matanya mengenang di pelupuk mata. Vanessa memegang liontin kalung peninggalan ibunya yang dia pakai.
Rasanya sangat sesak, membuatnya memukul mukul dadanya sendiri.
"Ibu…. Hiks…. Rasanya sesak…. Hiks…"
🌹🌹🌹
tbc
__ADS_1