Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Karma


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹INI JUGA AKAN TAMAT SEBENTAR LAGI, TINGGAL RINTANGANNYA AJA BUAT MENUJU END. NANTI ADA KELANJUTANNYA BUAT SERIAL BARU YA.🌹


🌹FOLLOW IGEH EMAK DI : @REDLILY123.🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA.🌹


Setelah pulang dari rumah sakit, Vanessa lebih murung. Dia lebih banyak diam di dalam kamar sendirian. Yang Vanessa lakukan hanya diam, dia hanya bergerak untuk bertahan hidup.


Bicara pun hanya seperlunya.


Melihat itu, Oma Asih merasa sangat bersalah. Namun jika dia menemui Vanessa sekarang dan mengungkapkan rasa penyesalannya, dia takut Vanessa akan drop dan kembali menangis.


Jadi, Oma mendekat dan duduk di samping Vanessa yang sedang menatap keluar jendela. Tangan Oma menggenggam tangan Vanessa dengan erat.


“Van.”


Vanessa menarik napasnya dalam.


“Oma tahu ini tidak bisa dibenarkan, bukan pembenaran. Judi sama Oma Cuma mau mencoba membuat kamu tetap stabil, apalagi kamu lagi hamil.”


“Tapi kalau terus disembunyiin kayak gini makin repot, Oma. Hatiku jauh lebih sakit. Kenapa Oma tega melakukannya? Nyembunyiin fakta itu dari aku?”


Keterdiaman Oma membuat Vanessa mengatakan. “Mas Judi yang nyuruh? Vanessa kesel sama dia, benci sama dia.”


“Eh, Van. Jangan gitu, dia suami kamu.”


“Tapia pa yang dia lakukan itu salah, Oma,” ucap Vanessa dengan suara paraunya menahan tangisan. “Mas Judi juga akhir akhir ini gak peduli sama Vanessa, dia lebih mentingin pekerjaannya. Dan kematian ayah Vanessa? Kenapa dia tega? Dia hanya memikirkan tentang anaknya, tidak dengan ibu dari anaknya, Oma.”

__ADS_1


“Van…”


“Vanessa mau sendiri dulu, Oma,” ucap Vanessa berdiri dan melangkah pergi ke kamar mandi.


Dari luar, Oma Asih mendengar suara Vanessa yang sedang berwudhu. Itulah yang Oma sukai dari Vanessa, dia membenci manusia, tapi tidak dengan Tuhan. Maka Oma juga akan membiarkan jika Vanessa meluapkan kekesalannya pada Judi, cucunya memang pantas mendapatkannya.


Apalagi akhir akhir ini dia jarang berkomunikasi.


Oma Asih keluar dari kamar Vanessa dan memberikan ruang untuk cucu menantunya. Oma turun ke bawah dan melihat Bibi Pembantu yang sedang bicara dengan seseorang di telpon.


“Pesen apa, Bi?”


“Nyonya Vanessa mau mengadakan 40 harian untuk ayahnya, Nyonya.”


“Oh iya, laksanakan saja keinginannya.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Judi akhirnya selesain bermain bersama temannya sampai pagi hari. Dia baru mengaktifkan ponselnya agar Mile menjemputnya.


Saat ponsel diaktifkan, ada banyak sekali panggilan masuk. Dan karena banyaknya panggilan tidak terjawab beserta dengan pesan yang menumpuk yang malas Judi baca, jadi dia melewatkannya dan memilih menelpon Mile.


“Hallo, Mile? Kau dimana?”


“Tuan, anda dimana?”


“Apa?”


“Saya akan menjemput anda.”

__ADS_1


“Itu yang aku inginkan. Datanglah, akan aku kirim lokasinya.”


“Baik, Tuan.”


Judi mengirimkan lokasi dirinya. Dia menunggu sambil menatap langit, memang benar keberadaan temannya membuatnya mengingat akan masa remaja yang mengasyikan hingga lupa akan keluarga dan mengabari istrinya.


Dan baru juga Judi hendak mengabari Vanessa, mobil yang dibawa Mile datang.


“Hallo, Mile.”


“Tuan, anda sudah membaca pesan?”


Judi menggeleng. “Terlalu banyak pesan yang masuk, aku tidak membaca satu pun. Ada apa?”


“Nyonya Vanessa tahu kematian ayahnya.”


Seketika senyuman Judi luntur. “Apa?”


“Dia mengetahuinya kemarin, Nyonya pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Kini keadaannya membaik, dia sudah pulang ke rumah.”


“Kenapa kau tidak mengabariku sejak tadi?” tanya Judi yang mulai panic. “Cepat masuk, bawa aku pergi dari sini.”


Dalam perjalanan, Judi terus mencoba menghubungi Vanessa, Oma Asih dan Tante Metry.


Tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengangkatnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2