
🌹Jangan lupa kasih emak vote sebelum membaca ya anak anak kesayangan emak.🌹
🌹Terus juga jangan lupa follow igeh emak di : @REDLILY123.🌹
🌹Jangan lupa jaga kesehatan, kalau keluar pakai masker. Banyakin minum air putih, jangan kecapean. Emak sayang, selamat membaca anak anak.🌹
Judi sudah sampai di Belanda, dia kembali ke rumah Oma Asih untuk bermalam di sana. Karena janji dengan Tante Metry akan bertemu, maka Judi tidak lupa untuk mengabarinya kalau dirinya sudah sampai dan akan bermalam di rumah Oma.
“Hallo Assalamualaikum, Tan?”
“Waalaikum salam, Jud kamu udah nyampe?”
“Udah, Tan. Ini baru nyampe, mau istirahat dulu.”
“Oh yaudah, nanti Tante ke sana kalau makan malam ya. Kamu mau dimasakin apa?”
“Terserah Tante aja gimana, ngomong ngomong anak anak Tante nanti ikut gak?” tanya Judi sambol membaringkan dirinya di atas ranjang.
Kamar yang mengingatkannya pada sang istri, di mana ini adalah awal mula dirinya bersama dengan Vanessa. Kamar yang meninggalkan kesan menyebalkan untuk Judi, apalagi mengingat Vanessa yang kabur begitu saja.
“Gak tau, Jud. Gimana mereka aja, soalnya tau kan lagi sibuk belajar, katanya mau jadi pianis.”
“Bilangin aku kangen, Tan. Mau ketemu.”
“Iya nanti dibilangin, Tante sih gimana suami Tante.”
“Iya juga sih, jangan membantah suami, Tan.”
“Enggak lah. Yaudah kamu istirahat dulu, nanti Tante ke sana malaman lah ya, pokoknya jam makan malam.”
“Iya, Tan. Assalamualaiku,” ucap Judi kemudian menyimpan ponselnya di sampingnya.
Dia memejamkan mata ingin terlelap dan melupakan sejenak kekhawatiran tentang bisnisnya. Sampai sebuah ketukan menyadarkannya.
__ADS_1
“Koper anda, Tuan.”
“Terima kasih, Mile.” Judi mengubah posisi tidur menjadi membelakangi pintu dengan tengkurap.
“Tuan?”
“Tidak, aku tidak butuh apapun lagi.”
“Nyonya Vanessa mengirim pesan menanyakan anda.”
Saat itulah mata Judi terbuka lagi, dia lupa mengabari sang istri. Apalagi Vanessa pandai dalam menghitung jam perjalanan sehingga tidak mungkin berbohong. Terlepas dari itu, Mile selalu memberikan informasi akurat.
Satu lagi yang membuat Judi ingat. “Mile? Kau tidak memberitahukan tentang kematian ayahnya Vanessa bukan?”
Mile menggeleng.
“Bagus, aku akan memberitahukannya saat pulang.”
Judi diam sejenak sebelum akhirnya dia menggeleng. “Tidak, aku mengkhawatirkan calon bayiku yang mungkin tidak siap menerimanya. Tenang saja. semuanya akan baik baik saja.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Vanessa menatap ke arah pintu saat dia mendengar suara ketukan.
“Maaf, Nyonya. Bolu yang anda minta apakah ingin dimakan di kamar?”
“Enggak, Bi. Nanti saya turun.”
“Baik, Nyonya.”
Vanessa dengan senyum cerianya menyimpan ponselnya, dia baru saja menghubungi sang suami yang sudah sampai di Belanda. Dia turun ke lantai bawah dan mendapati Oma Asih yang sedang membuka paket..
“Oma pesen apa?” tanya Vanessa penasaran.
__ADS_1
“Bibit.”
“Bibit apa?”
“Itu tomat, biar kita gak usah beli.”
“Beli pakcoy gak, Oma?”
“Tenang, Oma beli kok. Nanti bantuin Oma nanamnya, jangan mau panennya doang.”
Vanessa terkekeh mendengar penuturan sang Oma, memang dia agak malas jika disuruh menanam, Vanessa lebih suka memanennya.
“Udah nelpon Judi?”
“Udah, lagi istirahat. Tante Metry katanya juga mau ke sana tengok Mas Judi.”
“Baguslah, udah kangen dia. Disuruh ke sini gak mau.”
“Yakali ninggalin suaminya,” gumam Vanessa menatap Oma Asih yang kembali sibuk dengan paket yang dibukanya.
“Oh ya, Van. Baju kamu udah siap? Buat dikirim ke panti?”
Vanessa yang memang sudah menyiapkan semuanya itu mengangguk. “Mau nanti sore Oma dikirimnya?”
“Terserah kamu, asal inget aja sama sopir. Oma gak mau ambil resiko.”
“Iya boleh, sekalian ke lapas ayah Vanessa ya, Vanessa mau liatin hasil USG.”
Oma asih mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1