Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Penangkal Rindu


__ADS_3

🌹VOTE YAAA GAISS🌹


🌹IG MAMAH ADALAH : @RedLily123🌹


"Lu yang nyewa semua?"


Fotographer yang menyadari kedatangan orang asing segera mendekat. "Maaf, Mbak. Tempat ini su--"


"Sudah di sewa?! Saya tau!"


"Mohon maaf, mari saya antar ke bawah."


"Jangan pegang saya!"


"Gak papa, Mas," ucap Inanti pada photographer ini, Inanti sedikit kesal pada Delisa. Dia berharap Delisa melakukan apa yang disukainya, lalu Alan datang dan memberi efek jera padanya.


Saat photographer itu meninggalkan, Delisa tertawa sinis. "Udah berlagak jadi boss ya lu."


Inanti diam memeluk putrinya. 


"Jangan cuma karena Alan balikan sama lu, lu pikir dia suka sama lu. Dia cuma merasa bersalah sama lu."


Inanti diam, dia menghitung dalam hati berharap Alan datang dan segera membuat Delisa tidak melakukan hal seperti ini lagi. Karena cepat atau lambat, satu per satu atau semua teman Alan akan melakukan hal ini, dan Alan harus membalikan keadaan seperti sebelumnya.


"Lu tuli, hah?"


"Kalau kakak mau pemotretan di sini silahlan, Mas Alan juga sewa cuma dua jam kok."


"Anjjiiiirrr, lu mau gue nunggu? Duduk manis kayak elu gitu? Sok kaya lu!"


Inanti tahu seharusnya dia diam saja.


"Gara gara lu, Vanessa temen gue dibawa ke Belanda."


Inanti mengerutkan kening dalam diamnya.


"Temen lu yang bawa Vanessa kabur!"


"Siapa?" Inanti berguman bingung.


"Judi temen lu, dia bawa Vanessa dari penjara yang padahal cuma beberapa tahun lagi. Dia dibawa ke Belanda dan sekarang gak ada yang tahu kabarnya! Atau dimana dia! Bisa aja temen lu bunuh temen gue!"


"Judi bukan orang kayak gitu, Kak."


"Gak kayak gitu matamu! Vanessa ilang! Gak ada yang tau dia di mana!"


Dan saat itulah, pada moment Delisa sedang marah, Alan datang. 


"Delisa," ucap Alan dengan suara beratnya. 

__ADS_1


Delisa bertepuk tangan. "Oh….. ini dia si suami yang sayang istri."


"Lu bisa di sini kalau lu mau. Ayo, Yank."


"Yank?" Tanya Delisa tidak percaya. "Lu panggil dia Ayank? Lu dijampe jampe tau gak sama ini cewek jadi jadian, Alan! Inget, lu benci dia!"


"Itu dulu, gue gak mau bahas lagi. Ayo," ucap Alan hendak menggenggam tangan istrinya, tapi Delisa menepuknya hingga tautan tangan mereka terputus.


"Del," ucap Alan dingin.


"Inget, Alan. Lu dulu jijik sama dia, lu bilang dia kumal, dia dekil, dia bau sama banyak kumannya. Dia kampungan, lu nyesel pernah nikah sama dia, lu bahkan nyesel sama keberadaan bayi dalam kandungannya."


Dan saat itu terucap, Inanti memeluk Nadia. Dia belum bisa membuang semua rasa sakit itu, masih ada sisa sisa ingatan menyedihkan yang kembali diingat. Dan rasa sakit itu membuatnya lupa tentang Vanessa dan Judi.


"Denger ya, gue sayang sama istri gue, sama anak gue," ucap Alan kembali menggenggam tangan istrinya lalu membawanya turun.


Meninggalkan studio itu dengan perasaan campur aduk. Inanti dengan perasaan sedihnya, dan Alan dengan amarahnya.


Saat dalam mobil, Alan menyadari perubahan raut wajah sang istri. 


"Yank…. Photographernya kita panggil ke rumah aja lah, duit aku kan belum abis. Masih ada sisa 400 juta buat hari ini," ucap Alan tengil.


Inanti berdecak. "Lain kali kalau mau sewa orang yang belum beragenda. Liat kan, malah kena sembur. Ini masih mending yang sembur itu si Delusi, gimana kalau Presiden."


"Cieeeee…., Secara tidak langsung kamu bilang aku lebih kaya dari Presiden loh."


"Apaan, presiden ayam juga."


"Gak mau, lagian kamu kan gak mau sama cewek dekil, berkuman, jelek, bau lagi."


"Yank…..," ucap Alan sedih. "Jangan marah, mau maaf maaf-an lagi?"


Inanti memutar bola mata kesal. "Males ah, kamu kalau maaf maaf-an ujungnya suka minta belah duren."


"Ya kan kata orang belah duren abis adu mulut itu bagus. Kan awalnya adu mulut, terus nanti adu tenaga."


"Ogah, gak mau," ucap Inanti memalingkan wajah masih ingat dengan kalimat Delisa.


"Jangan marah dong, Yank…."


"Gak marah, kesel doang."


"Keselnya jangan lama lama, jangan sering sering jutekin aku."


"Bukannya kamu suka cewek yang jutek?"


"Alamak," gumam Alan, selalu saja ada jawaban dari mulut istrinya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Setelah kepulangan ke apartemen pun, Inanti masih menaruh kesal pada Alan. Terlihat dengan sikapnya yang jutek dan dingin.


Saat Inanti mengganti popok Nadia, menimangnya sebentar sambil menyusui lalu menidurkannya dalam box, Alan melihatnya di ambang pintu.


Ketika istrinya berbalik, Alan tersenyum, "Mau jajan gak?"


"Aku mau nyuci."


"Nyuci kan udah sama bi Idah pas kita pergi."


Inanti melewati Alan dan memeriksa di ruangan cuci. Memang benar di sana sudah rapi.


"Kan kata aku juga apa. Mending quality time, kan lusa aku harus ke Jambi."


"Jadi ke Jambi?" Tanya Inanti semakin kesal.


"Jadi, Yank…., Soalnya project gede, tar kalau pulang aku sawer kamu kok pake duit."


Inanti tidak menjawab, dengan wajah kesalnya dia memeriksa ruang setrika di belakang.


"Tuh, setrikaan juga udah, Yank. Ayoooo, nonton sambil ngemil yuk."


"Mau bersihin kulkas."


Alan yang terus saja ditinggalkan mendesah, membuat Alan memikirkan sebuah ide.


Dia pergi ke kamar mereka. "Dede Nadia bobo dulu ya, Papa mau pemotretan," ucap Alan mengambil ponsel Inanti.


"Papa mau selfie di hape Mama, kasian nanti Mama kangen sama Papa. Nanti kalau dede kangen sama Papa, datang aja ke alam mimpi Papa ya, De."


Dan di sana lah Alan melakukannya, dia selfie memperlihatkan wajahnya yang tampan dibawah cahaya matahari terik.


"Nah kan bagus, lumayan buat pereda rindu nya Mama."


Setelah kira kira mendapatkan 100 foto selfie dengan berbagai gaya dan senyuman, Alan berbaring membawa Nadia tidur di ranjang. "Bobo nya sama Papa ya, De. Kangen Papa tau."


Dan di sisi lain, Inanti yang merasa layar monitor tidak lagi memperlihatkan Nadia membuatnya segera masuk ke kamar. Dia lega melihat bayinya masih ada di sana.


"Kangen sama aku, Yank?"


"Dasar penculik, kalau Nadia mau dipindahin, monitornya juga pindahin dong, Mas."


"Ya kalau dipindahin nanti di layar keliatan wajah aku kan, nanti kamu gak fokus, Sayangku."


"Mana ada begituan," ucap Inanti mengecek ponselnya. Dia terkejut saat melihat galeri. "Apaan ini, Mas? Kok banyak foto kamu?"


"Selamat, Sayang. Hape kamu jadi hape paripurna karena banyak wajah aku. Oh ya, itu foto buat peredam rindu kalau aku lagi rapat di Jambi, takutnya di sana sibuk. Cium cium aja fotonya, aku ridho kok."


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2