
🌹VOTE🌹
Hari ini Inanti pergi ke Depok, tepatnya ke tempat keluarga besar Alan. Inanti merasa takut, dia gelisah sepanjang jalan.
"Bukan cuma anggota keluarga, tetangga, kerabat jauh juga datang. Soalnya ini acara gede gedean, buat Nadia juga kan. Bentar kok, cuma nyampe sore."
"Nanti pulang lagi? Ke apartemen?"
"Nginep aja, Nan. Kasian Nadia. Cape mobil mobilan terus."
Inanti mendesah, dia tidak ingin lama lama berada di sana.Â
"Tenang aja, kan ada aku, Nan."
"Iya," ucap Inanti pelan.
Dia diam sambil menggendong Nadia. Dan Inanti mengingat kembali ayahnya yang entah berada di mana, ayahnya menyuruhnya jangan mencari. Tapi sampai kapan? Inanti begitu merindukan beliau.
"Mas?"
"Hmm?"
Inanti malah kembali diam.
"Kenapa, Nan? Adem tau kamu panggil aku gitu, seneng gitu. Rasanya dada ini berbunga bunga, terbang melayang sampai ke angkasa."
"Dasar manusia hiperbola."
Satu minggu Inanti tinggal bersama Alan, dan masih dalam lingkup yang sama. Inanti belum menyerahkan seluruh hidupnya, dia tetap memberikan sifat jutek dan judes nya pada Alan. Bertujuan agar dirinya tidak goyah dengn semua sikap tengil Alan.
Tidur pun dengan Nadia masih di tengah, Inanti belum mengizinkan Nadia tidur di dalam box bayi sehingga Alan bisa mendempet pada dirinya.
"Nan?"
"Hem?"
"Tadi mau ngomong apa?"
"Gak jadi."
"Kok gitu sih? Ngomong dong."
Inanti diam seribu bahasa.
Alan gemas, dia mencolek dagu istrinya.
"Ih apaan sih! Jangan noel noel kayak gitu, jangan sentuh selain aku yang sun tangan atau lagi mandiin Nadia."
"Sama sun kening juga kan."
Inanti berdehem, dia melupakan hal itu. Memang akhir akhir ibi dirinya mulai terbiasa dengan kecupan kening dari Alan sehabis sholat.
"Cieee… malu ya? Gak usah lah malu malu, orang udah suami istri juga. Ngapain malu malu meow kayak gitu."
"Siapa yang malu malu?!"
__ADS_1
"Itu, pipinya merah bangeedd itu. Masa dikecup kening aja malu, nanti gimana dong nasibnya kalau dicium bibir. Muka kamu nanti merah, Nan."
"Ngomongnya jangan ke mana mana ya!"
"Gak kemana mana kok, orang jalan di tempat."
"Dasar mesum."
Alan terkekeh gemas. "Ya gak papa kali mesum sama istri, biar makin lengket gitu. Biar batangannya Mas Alan ini sering ketemu sama peti."
"Peti?!" Inanti tidak percaya Alan menyamakan barangnya dengan benda itu.
"He he, emang tau aku ngomongin apa, Nan?"
Jelas Inanti tau apa yang dibicarakan Alan.
"Jangan kamu pikir aku gak ngerti ya sama otak ngeres kamu."
"Ya ampun, aku terharu. Kamu pengertian banget sih, Nan, sama pemikiran aku."
"Hihhhh."
"Mau ngomong apa? Bilang sama Mas Alan."
"Gak jadi, gak mau."
🌹🌹🌹
Sampai di Depok saat jam 6 pagi, Inanti merasa lelah.Â
Apalagi tingkat kekhawatirannya bertambah saat melihat banyaknya orang di rumah besar milik Eyang nya Alan. Eyang Sekar namanya.Â
"Nan? Cape?"
"Iya," ucap Inanti pelan.
"Sini, aku yang bawa Nadia."
"Acaranya emang kapan dimulainya?"
"Nanti lah agak siangan. Kan sengaja berangkat subuh biar kamu bisa istirahat dulu di sini. Yuk."
"Gak nyapa dulu kerabat lain, Mas?"
"Nanti aja, lagian mereka juga ngerti kok. Orang lagi menyusui mudah cape," ucap Alan dengan pengertiannya menggenggam tangan Inanti saat masuk.
Sementara tangannya yang lain menahan Nadia yang ada dalam gendongan.
"Lepasin tangan aku, diliatin orang."
"Bodo amat," ucap Alan menirukan suara Inanti.
"Ish! Nyebelin."
Dan mereka menaiki tangga, menuju kamar yang ada di lantai dua.
__ADS_1
"Kamar siapa ini?"
"Kamar aku dulu waktu sering maen ke rumah Eyang Sekar. Kamu istirahat dulu ya, mau makan gak?"
"Aku turun aja ke bawah."
"Gak usah, di sini aja. Di bawah banyak orang, takutnya kamu kesenggol. Kan sayang istri cantik Mas Alan kesenggol, nanti lecet. Kan kalau kamu nangis, siapa yang peluk? Siapa yang repot? Mas Alan juga lah."
"Serah dah terserah."
Alan terkekeh, dia segera menidurkan Nadia. "Tunggu di sini ya, Sayang."
"Jangan panggil begitu ih, geli!"
"Orang ngomong sama Nadia. Bener deh, Nan. Kayaknya kamu mau dipanggil gitu biar gak iri sama dede."
"Lapar nih lapar," ucap Inanti mengalihkan pembicaraan.
Alan terkekeh. "He he, iya. Tunggu sebentar ya bini nya Mas Alan yang cantik jelita nan indah permai, harum semerbak menambah sari."
"Kamu lagi nyanyi gugur bunga?"
"He he, pinter kamu, Nan. Aku mau ngetes jiwa nasionalisme kamu nyame mana."
"Laper ini ih."
"Iya, iya. Tunggu ya, Sayang."
Inanti tidak dapat menyahut karena Alan lebih dulu pergi.
Alan turun ke lantai satu, dia mendekat ke arah dapur. "Mbok, tolong bawain sarapan ya ke kamar atas."
"Baik, Tuan Muda."
"Gak disuruh turun aja Inanti nya, Al?"
"Tante?" Alan mendekat dan melalukan salam pada adik Papa Riganta.Â
"Inanti nya mana?"
"Di atas lagi istirahat."
"Kok gak turun? Dia nyuruh kamu bawain sarapan?"
Alan yang sedari tadi memasang wajah datar itu menajamkan tatapannya. "Enggak, Alan sendiri yang mau bawain sarapan buat Inanti."
"Kok kamu mau sih? Biasanya ya, istri yang manja itu gak baik loh. Nanti dia segala minta sama kamu."
Alan terkekeh hambar dengan tatapan tajam. "Ya emang Alan sengaja manjain Inanti, soalnya Alan gak mau Inanti tergores fisik maupun bathin. Tante tau Vanesa? Itu yang Alan lakukan jika ada orang yang meggores istri dan anak Alan."
Kemudian Alan meninggalkan tante nya yang sedang memegang anggur.Â
Membuat tante nya meneguk anggur itu penuh dengan ketakutan. Alan semakin dingin, membuat tantenya ingat apa yang dilakukan Alan pada keluarganya dua tahun yang lalu, Alan pernah membuat perekonomian keluarganya hancur dengan cara menghentikan suami dan anak anaknya bekerja.
Dalam keluarga besar Praja Diwangsa, Riganta dan Alan adalah yang paling berbahaya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.