
🌹Votee yeee gaisshhh🌹
Inanti ingat sesuatu. "Mas! Tunggu!"
Alan yang hendak keluar untuk membelu bubur yang Inanti inginkan itu berhenti sebentar. Dia berbalik. "Kenapa, Yank?"
Inanti beranjak dari ranjang. "Dulu aku pernah cuci kemeja kamu, ada parfume Vanessa. Kamu pelukan sama dia?"
"Enggak, Yank."
"Itu parfume nempel," ucap Inanti dengan nada tinggi. "Kamu janji mau jujur sama aku."
"Aku gak peluk dia, demi Allah. Waktu itu Delisa gak sengaja dorong Vanesa sampe dia jatuh ke pelukan aku."
"Itu sama pelukan."
"Tapi bukan sengaja, Yank."
"Pernah juga ciuma gak disengaja? Atau bobo bareng?"
"Enggak, Yank." Alan kembali mendekat saat wajah istrinya kembali memerah. Dia menggenggam tangan Inanti. "Aku enggak gitu, Yank. Kok marahan lagi sih?"
Inanti menarik napas dalam, dia sadar dirinya terlalu cemburu dengan masa lalu. Membuatnya menerima saat Alan menariknya ke dalam pelukan. "Maaf."
"Enggak, aku yang salah."
Alan menarik napas dalam. "Masih marah?"
"Udah enggak."
Alan sendiri bingung harus bagaimana, masa lalunya tidak bisa dihapus dan dihilangkan. Itu akan selalu ada untuk membayangi.
"Aku ke bawah ya, beli bubur buat kamu."
Inanti mengangguk setelah menerima kecupan dari suaminya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Alan keluar dari apartemen menuju ke taman belakang, di mana di sana biasanya ada tukang bubur.Â
Saat sedang membeli, sebuah mobil berhenti di dekatnya.
"Al?"
Alan menengok, di sana ada Andria.
__ADS_1
"Bisa ngomong bentar?"
Sembari menunggu pesanan, Alan mendekat pada Andria yang keluar dari dalam mobil. "Kenapa?"
"Lu nerima paket dari Vanesa?"
Alan menegang, kenapa Andria bisa tau?
"Itu bukan Van, tapi Delisa. Dia yang handle semua barang Vanessa di sini."
Alan diam. "Dia masih tetanggaan sama lu?"
"Iya. Kenapa?"
"Pastiin dia gak bunuh diri."
Andria heran. "Apa?"
"Gue mau mundurin dia dari kerjaannya."
"What? Al lu gak bisa gitu, dia temen kita."
"Kalau dia ngerasa temen gue, dia gak bakalan nyakitin istri gue, pilihan gue."
Dan percakapan mereka hanya sampai di sana. Alan berjalan kembali ke apartemennya.
"Selamat pagi, Tuan. Apa anda butuh sesuatu?"
"Siapkan untuk pengunduran diri Delisa. Kau yang memegangnya."
"Baik, Tuan."
"Dan temui aku sekarang di caffe apartemen."
"Baik, Tuan."
Alan tidak akan main main pada seseorang yang menyakiti istrinya. Cukup dirinya yang pernah melakukannya di masa lalu, Alan tidak akan membiarkan siapapun untuk menyentuh istrinya bahkan menorehkan goresan kecil.Â
Tidak selama dirinya masih hidup.
🌹🌹🌹
Sambil menunggu Alan yang katanya akan bertemu dulu dengan Karl, Inanti memutuskan untuk mandi dengan membuka pintu supaya bisa tetap mengawasi putrinya yang masih terlelap di bawah sinar matahari.
Namun, saat dia hendak ke kamar mandi, telponnya berdering. Itu dari nomor yang berbeda.
Membuat dia mengerutkan kening. Inanti mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo, Assalamualaikum?"
Tidak ada suara di sana melainkan isakan.
"Hallo, ini siapa ya?"
"Gue Vanessa."
Seketika Inanti menegang, air matanya keluar dari pelupuk matanya.
Di sana Vanessa terdengar menangis terisak. "Lu gak perlu jawab gue, lu gak perlu maafin gue. Tapi plis dengerin gue, Nan."
Inanti diam mendengar isakan Vanessa.Â
"Alan udah lama suka sama lu, sejak dia jadi pemateri waktu lu ospek." Vanessa diam sebentar karena tangisannya. "Terus gue denger Alan perk*sa lu, dan gue denger dari Delisa kalau Alan mau tanggung jawab dan jalani hidup baru. Di sana gue mulai kacau karena bokap gue keseret kasus, nama gue tercoreng. Dan satu satunya yang bisa nutupin itu cuma Alan. Kekayaannya, kedudukannya."
Inanti menelan ludah kasar, dengan air mata menetes dalam diam.
"Gue mulai goda Alan, maksa dia buat nurutin keinginan gue. Dan di sanalah gue nyiptain Alan yang kejam dan dingin buat lu."
Inanti diam.
"Dia sayang sama lu, tapi gue berusaha nutupin perasaan Alan sama mata hatinya. Alan emang salah, tapi penyebabnya gue. Lu kutuk gue, marah sama gue, gue pantes dapet itu semua."
Inanti masih bungkam.
"Alan gak pernah sentuh gue. Yang ada gue yang berusaha deket deket sama dia. Marahnya Alan, jahatnya Alan sama lu, gue yang minta. Jadi…., Kutuk gue, jangan laki lu."
Vanessa menarik napas dalam.
"Gue gak akan ganggu lu lagi."
Setelah itu telpon terputus, yang mana membuat Inanti seolah kehilangan tenaga. Ponselnya jatuh ke atas karpet. Dia bahkan tidak sadar suaminya sudah datang dan mengucap salam.
Bersamaan dengan itu, Alan masuk.
"Yank? Kenapa nangis?"
Inanti mendekat dan memeluk suaminya. Merasa sangat bersalah karena menyalahkan satu sisi. Inanti mencoba memahami.
"Yank, kenapa lagi ini? Kamu sakit? Yank?"
"Kangen, Mas."
🌹🌹🌹
TBC.
__ADS_1