Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Harus Pergi


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Vanesa menatap Judi yang memandang layar ponselnya. Vanesa tidak bodoh, tapi dia pura pura tidak tahu bahwa Judi tengah menatap foto Inanti di sana.


Vanesa berdehem saat keluar dari kamar mandi.


"Mandi lagi lu? Mau ke mana?"


Pasalnya setelah belajar sholat, Vanesa kembali tertidur.


"Lu inget kan kita berangkatnya nanti siang? Diundir."


"Tau, gue mau keluar bentar. Minta duit dong, Mass…"


"Geli gue dengernya, Ijah."


"Atau mesti ya gue panggil dede?"


"Diem gak?"


"Enggak, soalnya gue mau OTW."


"Mau ke mana lu? Mau kabur ya?"


"Yeeeeee geer banget mau kabur, kagak lah, lu kan gudangnya duit, kenapa gue kabur."


Judi masih mengerutkan keningnya saat Vanesa menampahkan tangannya. "Minta duit."


"Mau ke mana? Bilang dulu kalau mau apa apa sama gue."


"Mau ngomong bentar sama si Delisa, lu posesive banget sih."


"Gue kagak posesive!" Judi tidak terima, dia memberikan kartu kredit pada Vanesa. "Noh!"


"Gue butuh tunai, bambang!"


"Tunai cuma ada lima puluh ribu, awas aja kalau gak ada kembalian."


Vanesa berdecak, dia menggerutu sambil mengambil pakaian dalam papper bag. Dan tanpa malu, Vanesa membuka handuk di sana.


"Ijah! Lu gila!" Teriak Judi menutup tirai. "Aurat lu ke mana mana, Manorek!"


"Ya kan lu doang yang liat," ucap Vanesa memakai celana dalam dan sebagainya di sana tanpa malu. "Kenapa malu? Lagian nanti juga lu nyoba."


"Gak mau kalau lu masih Ijah."


"Alaaaaahh jangan bohong lu, lu suka kan liat body gue."


Judi berdecih. "Suka apanya, kerempeng kayak peyek garing."


"Apa lu bilang?! Ini tuh bentuk tubuh ideal buat model!"


"Serah."


Vanesa mengangkat dadanya dengan tangan. "Liat, dada gue pas di tangan. Ini yang namanya seimbang."


"Pake baju," ucap Judi penuh penekanan.


Hal itu membuat Vanesa salah sangka hingga dia menyeringai. "Lu mau wik wik kan sama gue?"


"Kagak, amit amit lu masih Ijah."


"Jangan bohong lu, lu gak mau pantat gue goyang di atas lu?"


Judi menggeleng, dia mendekat pelan. Vanesa yang masih memakai pakaian dalam berpikir Judi tertarik, nyatanya Judi malah meremas remas rambutnya dengan menggunakan handuk.


"Insaf lu insaf, Ijah! Kepala lu mesum semua, wik wik semua."

__ADS_1


"Aaaaaa! Lepas siaalaaann! Judi!" 


Dan Judi tertawa saat melepaskannya.


"Siallan banget sih lu!"


"Otaklu wik wik semua."


"Lu mau tau nggak lagunya?"


"Kagak."


"Wik wik wik wik wik…. Aah aah aah aah aah…"


"Diem gak? Gue ambil lagi nih duitnya."


"Iya ih iya!" Vanesa memakai bajunya dengan cepat, dia bahkan tidak berdandan.


"Pake supir gue, dia di bawah. Udah gue bilangin istri gue yang nebeng, dengan ciri orangnya sedeng, mesum, kerempeng sama gak tahanan sama wik wik."


"Kurang asem lu! Lu bilang gue gitu ke supir lu?! Judi!"


"Sana pergi."


Vanesa menarik napasnya dalam. "Gue pergi."


"Salim dulu sama suami, lu mau setan ngikutin kalau gak diridhoi suami."


"Ih!" Vanesa berbalik dan melakukan apa yang Judi perintahkan. "Gak salah gue mesti nempelin tangan lu di kening gue?"


"Pergi sana, Ijah."


"Iya iya."


Vanesa pergi ke basement mendekati mobilnya Judi, di mana di sana ada supir yang sudah menunggu.


"Mau ke mana, Nyonya?"


Supir itu melakukan apa yang diperintahkan Vanesa sampai mengantarkannya ke pemakaman yang dimaksud.


"Nama lu siapa?"


"Panggil saja saya Mang, Nyonya."


"Oke, jangan bilang ke Judi gue ke sini ya."


"Baik, Nyonya."


Dengan menggenggam buket bunga, Vanesa turun dari mobil dan melangkah menuju pemakaman keluarga Praja Diwangsa.


🌹🌹🌹


"Eh, si cantik udah bangun. Mau mam, De?"


"Bayi satu bulan mana boleh makan!"


"Cuma ngisengin dede doang kok."


"Awas kalau kamu masukin nasi goreng ke mulutnya," ancam Inanti sambil melipat pakaian.


Alan yang makan sesekali menghibur bayinya dengan mengeluarkan suara suara aneh, dan itu membuat Inanti merasa heran.


Pertama kalinya melihat Alan sekonyol itu, sebodoh itu di hadapan bayi. Dan kebodohan Alan membuat Nadia tertawa.


"Assalamualaikum?!"


"Waalaikumsalam," jawab Inanti memakai kerudung dengan cepat, dia keluar untuk melihat. "Bu Nenti, ada apa, Bu?"

__ADS_1


"Neng, katanya lagi cari kerjaan ya?"


"Iya, Bu. Tapi kerjaan yang bisa dikerjain di rumah, soalnya saya punya bayi. Eh, masuk yu, Bu. Ke dalem dulu."


"Gausah, Neng. Di sini aja. Ini, ibu mau hajatan. Kata Bu Rasti masakan Neng enak, Neng bisa buatin ibu mustofa dua puluh kilo buat hari minggu?"


"Insyallah bisa, Bu," ucap Inanti dengan sumringah.


"Eh, tapi, Neng. Ini teh mobil siapa?" Tunjuk Bu Nenti pada Pajero putih yang ada di belakangnya.


"Em… suami saya, Bu."


"Haha ah masa," ucap Bu Nenti seolah tidak percaya dan meledek. "Bukan Om om, Neng? Hehe maaf nih ya, soalnya para tetangga geger, pas mati lampu ada mobil mewah masuk ke perkampungan."


"Sayang, kata Mama renovasi apartemennya udah jadi, kita bisa pindah sore ini," ucap Alan keluar sambil menggendong Nadia. Kemudian pura pura terkejut melihat keberadaan tetangganya. "Maaf, saya kira gak ads orang."


"Eh… pak, mau pindah ya?"


"Iya, Bu." Kemudian tatapannya terpaku pada Inanti, Alan memberikan Nadia. "Kayaknya dia mau mimi, Yang. Susuin dulu, nanti beres beres."


"I-iya," ucap Inanti. Sebelum masuk ke dalam Inanti menatap Bu Nenti. "Kayaknya saya gak bisa terima orderannya, Bu."


"Gak papa, Neng."


"Permisi ya, Bu. Mau ini dulu," ucap Inanti masuk lebih dulu.


"Saya permisi juga ya, Pak." Bu Nenti terburu buru menjauhi Alan yang memasang wajah dingin dan sinisnya.


Pria itu tersenyum miring sebelum kembali masuk ke dalam dan melihat Inanti yang sedang menyusui bayinya.


"Nan…"


"Apaan?"


"Saya serius sama ucapan saya, nanti sore kita pindah ya?"


"Kok gitu? Siapa yang mau tinggal sama kamu?"


"Nadia mau, di--"


"Jangan deket deket, jangan sentuh saya. Awas kalau kamu ngintip saya yang lagi ngasih mimi."


"Enggak enggak, kan kamu belakangin saya, Sayang."


"Bilang apa hah? Itu bibir mau saya jahit ya?"


Alan terkekeh. "Tadi aja gak marah disebut Sayang."


"Tadi karena terdesak, jangan macem macem. Awas kamu ya."


"Nan, saya serius mau ti--"


"Assalamualaikum."


Alan menatap malas keluar pintu. "Tetangga kamu banyak banget sih. Biar saya yang buka."


"Waalaikumsalam, nyari siapa, Bu?"


"Eum… yang tinggal di sini siapa ya?"


"Istri saya. Ada apa?"


"Saya anaknya pemilik rumah ini yang sudah meninggal. Saya kan sudah bilang gak dikontrakin, kok ada yang nempatin sih?"


Alan menatap barang bawaan wanita itu yang banyak dengan anggota keluarga yang banyak pula.


"Saya sudah bilang sama paman saya gak jadi di kontrakin, kok ada orang di dalamnya? Istri Bapak, kan? Tolong ya, saya sama keluarga mau tinggal di sini. Sama karena istri bapak ngontrak di sini tanpa sepengetahuan saya, maka uang kontrakannya akan naik lima kali lipat."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Tbc


__ADS_2