Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Modus lainnya


__ADS_3

🌹VOTE YAA GEIS🌹


"Yakin gak mau keluar?"


Inanti menggeleng, dia memakan bubur bagiannya. "Di rumah aja, tar aku bikin bikin buat kamu."


"Bikin apa, Yank?" Tanya Alan sambil menerima suapan dari istrinya.


Keduanya sarapan sambil menonton TV, dimana Nadia sedang berjemur setelah dimandikan Alan.


"Bikin apa aja, kamu maunya apa?"


"Bikin adeknya Nadia yuk."


"Mas ih," ucap Inanti yang kesal saat suaminya mulai melenceng pada hal hal seperti itu. Kenyataanya dirinya belum bisa melayani sepenuhnya. "Aku juga belum beres."


"Bercanda, Yank. Buatin apa aja sih aku mah, nanti aku kasih tip."


"Apaan kasih tip segala," gumam Inanti. "Kalau niat langsung masukin aja ke rekening."


"Hem, sudah aku duga."


Inanti tertawa, dia kembali menyuapi suaminya. "Buburnya enakan yang suka lewat di depan rumah loh, Mas."


"Depan rumah mana?"


"Rumah kamu yang dulu. Kan kalau jam delapan suka ada tuh tukang bubur, aku suka nungguin di kamar, kan kamar aku di pinggir."


Alan diam, kunyahannya memelan mengingat dia pernah tega menempatkan istrinya yang tengah berbadan tiga untuk tidur di kamar bekas pembantu.


Inanti sadar dengan ucapannya. "Mas, kunyah itu."


"Hah? Iya," jawab Alan kembali mengunyah. "Tapu buatan aku lebih enak loh, Yank."


"Emang iya?" Tanya Inanti tidak percaya jika pria sejenis Alan bisa memasak dengan sangat enak. Apalagi bubur khas Indonesia yang cita rasanya sangat lezat.


Alan memang ahli membuat makanan seperti roti bakar, panekuk ataupun omelete. Tapi untuk makanan makanan berat khas Indonesia, Inanti meragukannya.


"Masa? Kamu bisa, Mas?"


"Ngeledek nih. Liat nanti makan siang aku bikin makanannya."

__ADS_1


Inanti tertawa. "Mau buat apa emang?"


"Kamu maunya apa? Mas Alan mah bisa kasih segalanya, Nan. Udah ganteng paripurna, bisa jadi asisten istri lagi. Idaman banget kan?"


"Dasar manusia hiperbola," gumam Inanti menyuapkan untuk dirinya sendiri. "Tapi bahannya cuma ada sayuran kayak jagung, timun, buncis sama telur deh, Mas."


"Abis dipake masak sama Mamah waktu less?"


"Iya," jawab Inanti dengan bibir yang mengerucut.


Alan menelan ludah kasar tidak tahan. Hingga akhirnya dia mencium bibir istrinya.


CUP.


"Ya ampun, Mas," ucap Inanti yang membuat kecap di ujung bibir suaminya ikut menempel pada dirinya.


"Udah ah, Yank. Aku mau bangunin si embem dulu."


"Jangan dibangunin, nanti rewel."


"Nanti aku yang ngasuh kok."


"Kan katanya kamu mau masak."


Dan benar saja, Alan membangunkan Nadia di sana sampai bayinya menangis kencang. Alan gendong, timang, diberi lelucon berkali kali, tetap saja menangis.


Hingga akhirnya, "Yank….., aku salah."


"Nah kan, kata aku juga apa," ucap Inanti menghabiskan makanannya lalu datang. Dia mengerucutkan bibirnya pada Alan yang tengil. "Siniin, makannya singa lagi tidur jangan diganggu."


"Abis gemesh banget, mau cium terus."


Dan Inanti keceplosan, "Ibunya juga ada apain ganggu anak…….," Ucapannya terputus saat tahu apa yang dikatakannya.


Saat itulah Alan menyeringai, "Cieee…., Sini atuh sun dulu sama Mas Alan, Yank."


🌹🌹🌹


Sesuai perkataannya, Alan membeli bahan makanan bersama dengan Inanti di mall. Alan yang menggendong bayi membuat para pengunjung wanita menatapnya lama, Alan adalah papa idaman.


Inanti risih mendapat tatapan itu, apalagi saat dia berjalan di samping suaminya yang tinggi.

__ADS_1


"Mau ke mana, Yank?" Tanya Alan menyeret Inanti lebih dekat dengan merangkulnya. "Jangan jauh jauh dari Mas Alan, tar belibet kalau kamu ilang."


Saat dibagian yang sepi, baru Inanti berucap, "Mereka liatin kamu terus."


"Jomblo mah gitu, suka gampang terpesona. Udah biarin aja."


"Terpesona sama kamu gitu?" Tanya Inanti jengkel.


"Sama kita lah, mereka iri sama posisi kamu. Udah sih antepin aja, orang si Ganteng Paripurna ini juga maunya sama kamu."


Alan mendudukan Nadia di kursi khusus bayi dalam trolli, dia yang mendorong dan Inanti yang memilih belanjaan.


"Beli ini gak, Mas?"


"Jangan aida lah, kamu kebanyakan makan pedes, Nan. Meski dokternya bilang gak ngaruh, tapikan kasian Nadia."


Inanti diam mendapat teguran itu


"Nanti ya, Sayang. Kalau Nadia udah gedean aku beli pabrik aida."


"Dasar," gumam Inanti mencubit perut suaminya.


Ketika memilih milih kembali, istrinya membawa ke bagian kesehatan. Di sana Inanti membeli minyak pijat.


"Buat apa, Yank?"


"Dipijet lah, masa dimakan."


"Kamu sakit? Bagian mana?"


"Enggak sakit, cuma pegel aja pinggang."


Alan teringat sesuatu saat itu juga. Haid istrinya tinggal sedikit, dan pinggangnya sakit.


"Yank, bentar ya, mau ke toilet dulu. Tunggu dulu aja di sana, duduk sambil pesen."


"Iya, Mas."


Alan meluncur ke kamar mandi untuk menghubungi Karl, meminta agar mesin pijat yang dia beli untuk istrinya diberikan saja pada ibunya.


Alan tersenyum, dia sendiri yang akan menjadi mesin pijat istrinya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2