
🌹VOTE DONG GAIS🌹
"Kita ke caffe mau ngapain?"
"Minta sumbangan, Yank."
Kesal dengan jawaban Alan, Inanti memukul pundak suaminya. "Dasar nyebelin ih."
"Aku tau aku gemesin kok," ucap Alan sambil cekikikan.
Dan itu dilihat oleh beberapa mahasiswa junior yang mengenal Alan sebagai pria dingin dan tidak berperasaan. Untuk pertama kalinya mereka melihat Alan tersenyum, bahkan tertawa.
Para mahasiswa itu saling berkata,
"Kak Alan ganteng banget."
"Dulu pas jutek aja ganteng, apalagi senyum kayak gitu."
"Kok dia mau ya balikan sama bini yang bikin dia malu?"
"Baik banget sih Kak Alan mau balikan sama bini yang itu."
"Wahhh, ganteng kalau ketawa. Itu bini nya pake pelet apa ya nyampe Kak Alan balikan terus sering senyum sama ketawa? Bucin banget."
"Dia gendong anak ceweknya juga. Kok mau ya?"
Dan Inanti menyadari sekaligus mendengar kalimat itu. Yang mana membuatnya membuang napas.Â
Alan menyadarinya, dia merangkul pinggang istrinya dengan tangan lain memegang pengais Nadia.
"Mau jajan bakso mercon gak?" Tanya Alan mencairkan suasana.
"Emang ada di caffe?"
"Ada lah, kamu gak pernah emang ke caffe ini, Yank?"
"Enggak," ucap Inanti duduk di kursi yang Alan tarik.
"Masa? Duhhh, kudet dong istrinya Mas Alan gak tau tempat ini. Padahal masih di lingkungan kampus loh."
"Orang jauh ih, Mas. Jalannya juga cape tau."
"Ya kan seenggaknya tau ada caffe kekinian di kampus."
"Ya akumah apa atuh, makan aja susah, apalagi ke caffe caffe beginian. Jajan di sini sama aja aku abisin uang buat makan seminggu," gumam Inanti melihat daftar menu di depan tadi.Â
Alan malah memasang wajah tengil. "Nah kan kamu belum pernah beginian, Yank. Makannya abisin uang aku, mau caffe cilok, caffe bakso, caffe pentol sampe caffe rujak pun aku turutin buat kamu. Apa aja, Yank. Apalagi kalau kamu hamil lagi, ngidam lagi terus mau elus kepala presiden pun aku bisa."
Inanti memilih tidak membahasnya, apalagi ada pelayan datang menawarkan pesanan.
"Mau pesan apa, Bu?"
"Mau bakso mercon sama ayam geprek ya, Mbak."
"Baik, Kakak mau pesan apa?"
Seketika wajah Inanti spechless, dirinya dipanggil Ibu, sementara Alan dipanggil Kakak.
__ADS_1
"Samain saja dengan istri saya."
"Baik, Kak."
Saat pelayan itu pergi, Inanti dan Alan saling bertatapan. "Nanti aku urus dia, suruh Karl."
"Urus gimana?" Inanti bingung. "Kamu mau pecat dia? Atau suruh Karl keluarin dia? Udah, Mas, jangan apa apain."
"Akutuh gak suka liat orang gak mandang kamu kayak aku."
"Nanti bucin semua dong kalau mereka sama kamu," celetuk Inanti memainkan tissue di depannya.
"Yank."
"Apasih, Mas? Aku gak papa."
"Wajah kamu kayak sedih."
"Spechless aku," gumam Inanti. "Lagian ya, Nabi Muhammad aja banyak yang benci, banyak yang lempar fitnah dan hal menyakitkan. Apalagi kita manusia biasa kan? Gak ada habisnya kalau kamu julid gitu. Lagian kan kita harus mempermudah urusan orang, nanti Allah kasih jalan yang sama. Mungkin pelayan itu lagi kerja, masa mau kamu pecat?"
Alan diam sebentar, lalu berkata seketika, "Ya Allah, bini nya siapa ini ya? De liat, De, Mama cantik banget, cantik hati sam wajah. Aduhaiii, cocok banget kan sama Papa yang paripurna?"
Dan saat itulah Nadia kembali kentut.
Pyuuuuuutttttttttttt!
 Yang mana membuat beberapa orang di sana menatap ke arah mereka. Alan yang terkejut menatap Nadia. "Dede kok gitu sih? Biasanya kan nangis? Mereka sangka Papa loh yang entut."
🌹🌹🌹
"Mas…. Kenyang….," Ucap Inanti menoleh pada Alan yang menyetir. "Pulang yukkk.."
"Pernah, pas nikahan."Â
Alan diam.
"Pajang aja yang itu, Mas."
"Akunya gak senyum, gak meluk kamu, gak cium kamu juga. Gak mau pajang foto itu ah!"
Inanti menahan tawa, "Lagian siapa suruh kamu gitu. Orang ya kalau nikahan itu dipeluk, dicium, senyum, bukannya cemberut aja, kayak dinikahin sama gembel aja. Emang aku mirip gembel ya, Mas?"
"Bukan gitu….," Ucap Alan mulai kehilangan ketengilannya. "Masa aku harus bahas lagi, Yank."
"Kenapa enggak? Kenangan kan itu."
"Mana ada, harusnya tuh enggak. Enggak gituh, kayak gini harusnya."
Perkataan Alan semakin tidak jelas dan karuan.
"Ngomong apa sih kamu, Mas?" Tanya Inanti menggoda.
Dan Alan sadar itu. "Suka? Gemeshh ya goda aku, Yank?"
"Eneg 'kan? Sebel 'kan? Itu yang aku rasain kalau kamu sembunyiin celana dalem aku tau."
Tanpa diduga, Alan malah tertawa. "Ya beda dong, Yank. Aku sembunyiin celana dalem kamu buat kebahagiaan kamu juga."
__ADS_1
"Dasar streeeess!"
"Ha ha ha ha." Alan tertawa terpingkal pingkal. "Lagian, Yank, akutuh gak tahan liat body goals kamu."
"Body goals dari mana! Orang aku pendek!"
"Ya itu dia, orang pendek itu good. Kalau dalam istilah sunda itu, orang pendek mah pulen. Enak enak gimana gitu, apalagi yang agak berisi kayak kamu."
"Kamu pikir aku gendut?"
"Iya, enen nya doang tapi."
"Mas!"
"Ha ha ha ha ha!"
Hingga akhirnya mereka sampai di studio foto yang disewa Alan untuk pemotretan, mobil berhenti. Alan senantiasa menggenggam tangan Inanti saat masuk.
"Tuan Praja Diwangsa?"
"Ya," jawab Alan dingin.
"Silahka naik ke lantai dua, Tuan. Semuanya sudah siap."
Alan kembali menggenggam tangan isrinya menuju lantai dua. Dan alangkah terkejutnya Inanti, di sana sudah disediakan berbagai macam tema.
"Tuan Praja Diwangsa, bisa kita mulai sekarang?"
"Sebentar."
"Baik, Tuan. Kalau sudah siap bisa beritahu saya," ucap sang fotographer kembali mendekor di sana.
"Yank, aku ke toilet dulu ya. Mau ikut?"
"Ih ogah."
"Aku sun dulu sini."
"Ada orang, Mas."
"Jawil aja deh dagunya, duh empuk."
Inanti berdecak kesal melihat kepergian Alan. Dia menunggu sambil duduk di sana.Â
Saat menunggu, Inanti mendengar kegaduhan di lantai bawah.
"Saya sudah pesan, siapa yang sewa tempat ini?!"
"Maaf, Mbak. Saya akan kembalikan semuanya."
"Saya gak butuh uang! Tapi komitmen!"
Dan saat Inanti mendengar orang naik tangga, dia was was.
Dan tidak lama kemudian, "Oh…. Elu yang sewa semua studio di sini?"
Ketika Inanti menengok, dia kaget. Itu adalah Delisa, yang membuatnya memeluk bayinya semakin erat.
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.