Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Pelukan Pertama


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK : @REDLILY123.🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA.🌹


Judi menaiki tangga menuju kamar untuk menemui istrinya, dia ingin menjelaskan semuanya, tentang kenapa dia menyembunyikannya. Karena itu semua demi kepentingan bayi mereka, Judi merasa Vanessa akan mengerti apa yang telah dia lakukan. 


“Assalamualaikum,” ucap Judi hendak membuka pintu.


Namun sayangnya pintu itu terkunci dari dalam, hingga membuat raut wajah Judi yang sudah siap menebarkan senyuman sedikit luntur.


“Sayang?” panggilnya. “Aku pulang.”


Tidak ada jawaban dari dalam. “Assalamualaikum, Sayang? Van? Kamu di dalem kan?”


Masih tidak ada jawaban, yang mana membuat Judi mencoba mendobrak pintu itu agar terbuka. Namun sayangnya pintu itu tidak bisa terbuka begitu saja.


“Sayang? Buka pintunya, aku bisa jelasin semuanya. Sayang, aku tahu kamu marah, tapi dengerin dulu alesan aku. Sayang?”


Tetap tidak ada jawaban dari sana. Membuat Judi bergegas pergi ke perpustakaan untuk mencari kunci cadangan di laci. Sayangnya dia tidak menemukan apapun. Hal yang membuatnya panic dan segera menuruni tangga untuk meminta bantuan.


“Bi, kunci cadangan kamar saya di mana ya?”


“Kunci cadangan? Saya tidak tahu, Tuan. Saya bahkan belum tahu dimana letak kunci cadangan lantai dua.”


Judi mengusap wajahnya kasar.


Oma dengan santainya berkata, “Dibawa kali sama Vanessa ke dalam dua duanya.”

__ADS_1


“Vanessa benera ada di dalem kan Oma?”


“Ya kamu pikir aja siapa yang kunci itu pintu.”


“Dia gak mau buka pintunya, dia bahkan gak jawab Judi.”


“Oma juga bakalan lakuin hal yang sama.”


“Oma,” rengek Judi dengan perasaan campur aduk.


Saat itulah mata Oma Asih membalas tatapan Judi kemudian berkata, “Ini konsekuensinya. Terima apa yang telah kamu perbuat.”


Dan ketika hendak mengatakan sesuatu, Judi melihat Mile membawa kardus yang membuatnya heran. Itu dus mie instant dan beberapa minuman kemasan. “Kenapa kita beli makanan makanan itu?”


“Vanessa mau ngadain empat puluh harian buat ayahnya.”


“Bisa kamu bayangin kan, Nak? Vanessa itu gak akan drop kalau mendengar berita itu, dia akan menyiapkan hal hal seperti ini. Jadi jangan aneh kalau dia merajuk sama kamu, ngertiin dia, apalagi dia sedang hamil. Pesan Oma, jangan balas dengan emosi. Buat dia perlahan luluh, semuanya gak ada yang instant.”


“Judi ngerti, Oma.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Sebenarnya, alasan Vanessa tidak menjawab salam suaminya karena dia sedang sholat dhuha jadi tidak bisa bersuara.


Saat sudah selesai, Vanessa tidak mendengar lagi suara Judi. Dia tidak berniat beranjak dari sana, Vanessa meneruskan ibadahnya dengan mengaji. Terlepas dari semua itu, dia masih kesal dengan suaminya.


Dia ingin sekali mengeluarkan kata kata kasar, membantingnya dan mencakarnya. Dan untuk menghindari itu, sejenak Vanessa akan terdiam dan mencoba memadamkan hatinya.


Ketika sedang mengaji, Vanessa membuka pintu yang terhubung dengan balkon supaya mendapat udara segar.

__ADS_1


Dan saat dirinya sedang mengaji, Vanessa melihat sebuah tangga menempel di pagar balkonnya. Keningnya berkerut, tapi mencoba tidak mempedulikan dan menganggap ada sesuatu yang harus diperbaiki.


Namun saat mendengar suara orang memanjat dengan surara tidak asing, Vanessa kembali menutup kitab.


Saat itulah dia melihat Judi yang memanjat dan masuk ke balkon lewat tangga.


Tanpa berkata apa apa lagi, Vanessa mencoba menutup pintu balkon. Tapi sayangnya Judi menahannya dengan tangan hingga tangannya terjepit.


“Aw, sayang sakit.”


“Pergi, Mas. Aku gak mau liat, Mas.”


“Sayang bentar, buka dulu pintunya.”


“Sebaiknya Mas pergi sebelum aku mencakar wajah Mas atau melempari Mas dengan benda tajam,” ucap Vanessa dengan mata mulai berair.


Dan saat Judi berhasil membuka pintu, Vanessa mundur perlahan. “Pergi sana,” ucapnya dengan suara parau.


“Van aku salah, aku egois, aku mementingkan bayi kita dibandingkan perasaan kamu. Iya aku jahat, aku bodoh dan aku menyakiti istri hati istriku.”


“Pergi,” ucap Vanessa memperingati.


Dalam satu tarikan lembut, Judi memeluk Vanessa seketika.


“Dan kamu manusia biasa, kamu boleh marah. Cakar aku, caci aku, lempari aku dengan benda. Lakukan itu.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2