Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Perempuan terbuang


__ADS_3

Vote sebelum membaca ya ghaiss


Ig emak is : @redlily123


Judi belum bisa menelan semuanya, dia terdiam sesaat di kamar menunggu apa yang akan diperintahkan otaknya pada perasaannya. Kali ini terasa berat, kepergian seseorang membuat trauma Judi kembali bangkit. Depresi, ketakutan dan kesepian yang melandanya selama beberapa tahun itu kini mulai dirasakannya lagi. 


Rasanya dadanya ingin pecah, pengab dan sulit bernapas. Namun, pikirannya dipaksa terjaga supaya dia bisa menemukan Vanessa.


Dan saat itulah Judi merasakannya, menyadarinya kalau perempuan yang menjadi istrinya itu adalah pemilik sesungguhnya atas dirinya. Vanessa yang layak menempati hatinya yang selama ini kosong tanpa pemilik. Hampa dan hanya ada kesedihan dengan ditutupi oleh tawa bodohnya.


“Aku mencintainya,” ucap Judi menarik napas dalam, dia menelan ludahnya kasar. “Dia harus kembali padakku.”


Dan ketika Judi hendak berdiri, dia merasakan dadanya sangat sesak.


“Judi…., buka pintunya, Nak,” ucap Tante Metry saat dia ingat apa yang terjadi ketika keponakannya itu ditinggalkan oleh ayah dan ibunya. “Nak…., ayo buka. Jangan buat Oma mu khawatir.”


Oma Asih tidak bisa naik ke lantai dua karena factor usia, dan sekarang Tante Metry yang sedang mencoba membujuknya. “Judi…., Vanessa pasti kita temukan, dia akan ditemukan dan kembali pada kita. Jangan begini, jangan membuat Oma dan Tante khawatir, ayo keluarlah dahulu.”


Judi menarik napas dalam lalu keluar, tapi tidak untuk mendengarkan Tante Metry.


“Judi kamu mau kemana?”


Tujuan Judi saat ini hanyalah Vanessa, menemukan istrinya dan memeluknya untuk kembali lagi bersmanya.


Namun, saat menuruni tangga, trauma itu mengangkat kembali depresi Judi yang sudah lama dia lupakan. Alam bawah sadarnya merekam apa yang terjadi setelah kematian kedua orangtuanya akan terjadi juga pada dirinya saat ditinggal Vanessa.


Oleh karenanya, mata Judi perlahan buram hingga.


BRUK!


“Judi!” teriak Oma Asih.

__ADS_1


Judi kehilangan kesadarannya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Vanessa terkejut saat dia mendapat siraman, apalagi saat ibu tirinya menariknya menjauh dari pintu dan mendorongnya pergi. “Pergi dari sini, kau tidak tau malu. Kau mencemarkan nama baik keluarga ini, kau membunuh bayi!”


“Lalu apa bedanya denganmu yang membuat ayah korupsi hanya untuk kesenanganmu?! Demi dirimu yang malah selingkuh! Kau membuat ayahku bangkrut! Kau penyebab semua ini, jadi minggirlah!”


Ibu tirinya tertawa, dia kembali menahan Vanessa agar tidak masuk.


“Kami melakukan kejahatan, tapi tidak dengan membunuh. Jangan dekati rumah ini lagi, aku malu.”


“Ini juga rumahku, mama meninggalkannya untukku.”


“Oh ya? Ayahmu sudah mengalihkan nama rumah ini menjadi milik kami. Jadi pergilah dari sini! Dasar pembunuh bayi!”


Vanessa diam, tubuhnya terasa sangat panas dikatai seperti itu. Dadanya naik turun seolah ingin melampiaskan kekesalannya. Disebut seperti itu membuatnya tidak suka, dia sangat marah meskipun itu faktanya.


“Sekali pembunuh tetap pembunuh. Aku memang selingkuh yang membuat ayahmu korupsi, tapi aku dan ayahmu melakukan kejahatan tanpa menghilangkah nyawa berharga orang lain. Berbeda denganmu yang mendorong seorang ibu hamil hingga jatuh. Apa kau tidak takut karma? Kau membunuh bayi tidak berdosa.”


Vanessa mengepalkan tangannya kuat. Tidak sabaran, dia mendorong ibu tirinya agar bisa masuk ke dalam.


BRUK!


Ibu tirinya jatuh di atas rumput.


“hei! Mau ke mana kau! Berhenti di sana!”


Vanessa tidak mendengarkan, dia masuk begitu saja ke dalam rumah. Dan alangkah terkejutnya dia melihat rumah itu penuh dengan tante tante arisan juga kerabat ibu tirinya yang berwajah sombong.


“Hei, mau apa kau ke sini?” tanya salah seorang pria berperut buncit.

__ADS_1


Vanessa tidak mempedulikannya, dia naik ke lantai dua menuju ke kamarnya dahulu. Saat membukanya, dia terkejut kembali saat melihat isi ruangannya jadi berbeda. Ruangan ini berantakan dan sepertinya dihuni oleh seorang anak pria pecinta Marvel.


“Dimana ijazahku?! Dimana surat surat berhargaku?! Teriak Vanessa mencari ke sekeliling, tapi tidak mendapatkan apa pun.


Sampai ibu tirinya kembali menemukannya, dia menarik paksa Vanessa dibantu oleh beberapa pria di sana, mereka melemparkan Vanessa keluar gerbang.


“pergi dari sini, pembunuh!”


“Dasar pembunuh!


“Pembunuh bayi!”


“Tidak punya perasaan!”


“Pembunuh bayi!”


Itulah teriakan orang orang yang mendorong Vanessa keluar pagar, membuat tangan Vanessa mengepal kuat.


Ibu tirinya tertawa. “Jangan khawatir, semua sertifikatmu dan surat surat itu sudah dibuang. Jadi tidak perlu datang lagi.”


Tidak ada air mata yang keluar dari mata Vanessa, dia menahannya di tenggorokan. Apalagi saat ibu tirinya bersama orang orang disekitarnya menutup pintu gerbang lalu menguncinya dengan gembok.


Kemudian terdengar kalimat, “Mungkin kita harus menugaskan satpam di sana.”


“Aku setuju, pembunuh sepertinya tidak pantas mendapatkan tempat di dunia ini.”


“Menjijikan bukan? Dia menghancurkan pernikahan orang lain dan meninggalkan ayahnya begitu saja.”


“Ya, dia benar benar berlumuran dosa dan kesalahan.”


🌹🌹🌹

__ADS_1


Tbc


__ADS_2