
🌹VOTE DONG GAISSS, MAMA BEGADANG INI🌹
Inanti berpaling saat Alan hendak menciumnya. "Yank…."
"Mas, kita harus diskusi dulu, gak bisa asal tancap, nanti kalau aku hamil gimana?"
"Ya… nanti aku jadi bapaknya dong, masa jadi kakeknya."
"Ih, Mas! Minggir dulu, jangan tindih aku."
Alan menarik napas dalam, dia terpaksa menyingkir dan terbaring di samping istrinya. Dia menarik tubuh Inanti ke dalam pelukannya mengingat istrinya hampir tidak tertutup apa pun kecuali selimut.Â
Sementara dirinya masih memakai celana.
Keduanya terbaring di atas ranjang yang dialasi selimut lain, yang dipasang asal oleh Alan demi mempersingkat waktu.
"Mas.. Nadia masih kecil, masa mau bikin dede nya lagi?" Tanya Inanti dengan tangan mengusap dada bidang Alan.
"Gak papa, biar sekalian."
"Emang kamu mau punya anak berapa?"
"Delapan kalau bisa."
Inanti tersentak kaget. "Kamu aja yang hamil ah, aku mah gak kuat. Berat tau, udah gitu mual, sakit badan, kaki pada bengkak, terus maunya makan terus."
Alan diam sesaat, dia mengerti apa yang ingin di sampaikan istrinya. "Maaf, Sayang."
Dan kalimat itu membuat Inanti mengadah. "Maaf buat apa?"
"Maaf dulu aku brengsek banget sama kamu, jahatin kamu terus. Kalau aja ak--"
"Mas." Inanti memotong kalimat Alan saat melihat ada air mata di pelupuk mata suaminya. Inanti memeluk suaminya. "Rezeki, jodoh sama maut itu kan udah diatur sama Allah. Aku juga marah, aku kesel banget sama kamu, aku benci banget sama diri aku sendiri yang malah bertahan di sisi kamu. Tapi mungkin harus begini jalannya, supaya aku mendapatkan rezeki dan jodoh yang Allah siapkan, meskipun jalannya sangat sakit. Aku gak bilang kalau kamu gak salah, tapi belajar dari yang udah udah, Mas. Jangan biarin apa yang kamu perbuat, akan dituai oleh anak anak kamu. Seperti Adam."
Inanti merasakan tubuh suaminya menegang, dengan detak jantung yang semakin cepat. Dia tidak mengatasnamakan karma, tapi dia hanya ingin Alan belajar dan mencoba iklas bersamanya.
"Maafin aku, Nan."
"Aku maafin kamu, tapi mungkin aku belum bisa lupa sepenuhnya. Aku terima kamu, karena aku yakin kamu akan jadi ayah yang baik untuk Nadia."
"Aku janji bakal ada untuk kalian, aku sayang sama kalian."
Inanti kembali mengadah, menatap manik suaminya yang menawan. "Sayang sama aku?"
"Banget."
"Beneran?"
"Belah dada aku, ada nama kamu di sana."
"Dasar manusia hiperbola," gumam Inanti menurunkan pandangan lalu memeluk Alan lagi. "Kamu harus jadi ayah yang kuat buat anak anak kamu. Jangan lembek."
"Iya, Sayang. Aku ngerti. Jangan tinggalin aku ya, jangan pergi lagi. Aku bakal kasih apa pun yang kamu mau. Hati aku, harta aku, semuanya milikmu."
__ADS_1
Inanti mulai penasaran. "Kok kamu suka sama aku? Sejak kapan? Bukannya itu cuma rasa bersalah karena dulu kamu menjelma jadi kucing garong?"
Alan menggeleng, dia mencium puncak kepala istrinya. Mereka berdua bercerita di sana, dengan tangan Alan yang lain mengusap punggung telanjang istrinya. Sementara tangan Inanti tanpa sadar mengelus otot otot perut Alan yang terpahat sempurna.
"Aku suka kamu sejak kamu ajuin pertanyaan waktu seminar pas ospek."
"Hah? Kamu ngeh itu aku, Mas?" Inanti terkejut, pasalnya dia ingat kalau dirinya berhias sesuai arahan kakak tingkat hingga sulit dikenali.
"Tau, aku liat mata kamu beda dari yang lain. Kayak khas gitu, makannya udah mulai kasih tanda, tapi….."
Inanti melanjutkan, "Semua rencana Allah gak sesuai sama kamu."
"Maaf, Nan."
"Udah sih, kan maaf maaf-an nya udah. Aku juga udah kasih kiss, masa masih mau nangis?"
Alan menatap tidak percaya pada istrinya yang begitu baik, ikhlas dan mempercayainya untuk kedua kali. Alan bersyukur memiliki Inanti, meskipun caranya salah.
"F*ck!" umpat Alan dalam hatinya saat ingat kebodohan yang dia buat.
"Nan?"
"Ken--- hmmppphhh."
Alan kembali menciumnya dalam. Dan di sela sela ciuman, Inanti berucap, "Hah… M-- Mas…., Pake…. Akh… pengaman…"
"Nanggung, Sayang. Ini yang terakhir."
🌹🌹🌹
Sampai Alan kembali memeluknya dari belakang, Inanti was was. "Mas…"
"Enggak kok, cuma mau peluk kamu doang."
Inanti mencoba memaklumi Alan yang membutuhkan kebutuhan bathin, karena pagi tadi saja sampai siang dia habiskan dengan lima ronde. Dan itu membuat kewanitaan Inanti berubah menjadi kemerahan, agak lecet dan juga sakit.
"Masih sakit?"
"Masih," guman Inanti, apalagi dia ingat bagaimana cairan putih suaminya kembali berceceran di pahanya hingga menghabiskan tissue. "Jahat banget kamu, sakit tau."
"He he. Maaf, Yank. Orang waktu kejadian perkara nya kamu juga anggukin kepala pas aku minta lagi, mana bibir kamu seksi lagi. Gak nahan."
"Sama semua cewek kamu gitu?"
"Apaan semua cewe?" Alan meninggikan suaranya tidak suka dengan pertanyaan itu, karena Inanti lah satu satu nya wanita yang dia sentuh.
Inanti berbalik menatap suaminya. "Kamu pernah… sama cewek lain?"
"Apaan, Nan? Kok nanya nya gitu sih?"
"Aku penasaran aja, Mas."
Dan Alan menjawab dengan ketengilannya. "Enggak lah, gila kali. Nih ya, se garong garong nya suami kamu, gak pernah jajan di luar. Aku hilang perjaka waktu sama kamu. Mas Alan yang ganteng paripurna ini memiliki sisi yang baik juga, Sayang."
__ADS_1
"Serius? Tapi kamu ahli banget loh gerak gerak badan."
Alan memasang wajah bangga. "Lah, iya dong. Soalnya kamu nya agresif, mana enen nya gede, pantatnya gede, bibirnya manis, desahannya halus pula."
"Mas ih! Nyebelin kamu!"
"Ha ha ha, ya itumah naluri seorang suami pada istri tercinta nya. Kiss dong."
"Gak mau ih, nanti meleber ke mana mana."
"Kan ada tissue."
"Tuhkan mulai lagi, baru juga mandi, Mas."
"Mandi bareng yuk, mau liat kamu berendam di depan aku.
Karena kesal otak suaminya diisi hal hal gila, Inanti mencubit lengannya yang liat.
"Aduh, sakit banget ih, Nan."
"Pokoknya aku gak mau gituan lagi sebelum gak merah lagi, terus harus pake k*ndom."
"Kenapa harus pake pengaman?" Tanya Alan yang mengusap tangannya yang bekas dicubit istrinya.
"Mas! Nadia masih kecil. Dulu aja kamu sembur satu kali langsung hamil si kembar, ini gimana yang mau puluhan kali."
"Jantan banget kan aku, Yank?"
"Aku belum siap hamil diwaktu yang deketan, Mas."
Kini Alan agak serius. "Tapi… kamu mau kan hamil anak aku lagi?"
"Ya kalau Allah kasih kenapa enggak, tapi harapan aku kalau Nadia udah agak gedean, biar gak repot."
Alan sangat bahagia, pikirnya Inanti tidak ingin mengandung buah hatinya lagi. Yang mana membuat Alan memeluk istrinya. "Makasih, Sayang."
"Pake pengaman dulu ya, buat sekarang sekarang."
"Iya, aku telp sekretaris aku nih."
Alan menelpon Karl di depan Inanti.
"Hallo, Tuan?"
"Karl, beli pengaman terbaik, beli dua dus biasa dan yang lain bergerigi."
"Ba.. baik, Tuan."
Alan langsung menutup telponnya, yang membuat Inanti terkejut. "Ber… bergerigi? Mas! Otak kamu ngegeser! Medeng dikit!"
"Kalau sama kamu aku gak waras. Tapi ada kok obatnya, yaitu kiss. Sini bibirnya, kiss dulu Mas Alan biar normal lagi. Sini."
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC.