Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Luka lama


__ADS_3

🌹VOTEEE YEEE GAISSSHHHH🌹


"Assalamualaikum, istriku."


"Waalaikum salam," ucap Inanti mendekat. Memberi salam kemudian dia mendapatkan jatah kecupan di kening.


Inanti kaget ketika Alan menariknya untuk dipeluk. "Lah kan katanya cium kening doang."


"Kangen tau."


"Kangen apanya, baru juga sehari keluar."


Dengan suara parau, Alan bertanya, "Udah beres, Nan?"


"Belum, Mas. Dikir dikit lagi," jawab Inanti malu malu.


Dalam pelukan itu Alan mendesah pelan, dia tidak kuasa menahan kerinduan lagi. "Cukup sudah aku menahannya empat minggu, Yank. Gimana kalau aku sekarat?"


"Amit amit, kamu yah kalau ngomong!"


"Awww!" Alan merasakan sakit di punggungnya yang dipukul Inanti. Dia melepaskan pelukannya. "Sakit tau, Yank."


"Ngomongnya kayak gitu."


"Sekarat rindu kamu maksudnya."


"Tau ah."


"Nadia mana?"


"Di kamer. Kamu mau mandi atau makan dulu, Mas?"


"Kamu udah makan?" Alan menengok menatap istrinya yang membereskan rak sepatu di dekat pintu.


"Belum, Mas. Nunggu kamu."


"Aciieeeeee yang nunggu aku, sayang deh sama kamu, Yank. Nanti aku kasih kiss ya, di peluk juga."


Alan melangkah ke dalam kamar, di mana di sana dia menemukan putrinya yang terlelap. "De, kok tidur sih? Eh, Assalamualaikum, Princess nya Papa."


Nadia tetap membuka mulut dan mengeluarkan suara lucu.


"Dede gemesh ih, Papa nya mandi dulu ya, nanti malam main."


"Mas!"


"Iya, Yank?" Alan menengok menatap istrinya yang masuk. "Kenapa?"


"Ada paket tadi, aku lupa. Namanya buat kamu."


"Ya kamu buka aja kali, kan kamu istri aku."


"Takut bom."


Alan tertawa seketika, yang mana membuat Nadia di sana menangis terbangun. "Ih, ketawanya jangan kencang. Liat tuh bangun, nanti begadang deh."

__ADS_1


"Gak papa ya, De. Bergadang juga sama Papa."


Alan menyimpan paket itu lebih dulu.


"Gak mau dibuka, Mas?"


"Mau mandi dulu, Yank. Kiss dong."


"Gak mau ah."


Namun, bukan Alan namanya yang mati matian mendapatkan ciuman dari istrinya. Dia meped sampai Inanti hampir kehilangan keseimbangan. 


"Mas aku lagi gendong Nadia loh."


"Makannya kiss dulu napa."


"Ish!"


CUP.


"Udah tuh."


"Maunya di bibir, Nan."


"Kamu bau rokok, sana mandi dulu."


"Abis itu kiss."


"Iya."


"Sama enen boleh?"


"Mas!"


🌹🌹🌹


Inanti menatap penasaran isi dari paket itu, karena tidak ada nama pengirim di sana.


Dia ingin membukanya, tapi alangkah baiknya jika di sisinya ada Alan dan seizin suaminya.


Sambil menyusui Nadia di gendongannya, Inanti menimang.


"Tidur lagi, Yank?"


"Enggak, gara gara kamu tau."


"Aha ha, ya gak papa ya, De. Nanti ronda sama Papa," ucap Alan mencium kening bayinya. "Tidurin aja, Yank. Kita makan, keliatan kok dari sini."


Inanti melakukannya, sia mendekat dan menghiangkan makanan untuk suaminya dalam piring. 


"Mas besok kita keluar gak?"


"Besok weekend ya?"


"Heem."

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?"


"Terserah kamu."


Alan menatap bingung, sama seperti Madelle yang selalu membuat Papah pusing dengan kata terserah. "Kamu maunya ke mana, Sayang?"


"Di rumah aja deh ya."


"Kok gitu?"


"Males keluar."


"Mau berduaan ya sama Mas Alan?"


"Enggak ih buka gitu."


Mata Inanti terus saja menatap paket yang ada di sana. Membuat Alan melihat kepenasaran istrinya. Membuatnya berkata, "Buka aja kalau penasaran."


Inanti diam sesaat meminta penjelasan.


"Iya, boleh. Sana."


"Asyik." Inanti yang penasaran sedari tadi akhirnya membukanya sambil duduk di sofa.


Dia mengerutkan kening ketika di dalam kotak itu ada kotak lagi.


"Apa isinya, Yank?" Tanya Alan yang makan malam sendirian.


"Belum dibuka lagi."


Sampa akhirnya Inanti tahu itu kotak cincin, dia membukanya. Di dalamnya ada sepasang cincin pernikahan, dengan inisial A & V. Inanti tahu apa ini, apalagi di tambah surat yang ada di luar kotak.


Yang bertuliskan :


Al, ingat kamu pernah bilang akan menungguku sampai kapan pun? Aku rasa kalimat itu tidak lagi bermakna. Maka dari itu, aku kembalikan cincin ini padamu. Masa depan kita tidak ada lagi. 


Dan masih ingin aku bertemu denganmu, untuk meminta maaf dan agar kau melihat penyesalanmu.


Setidaknya, ingatlah saat kau mengejarku, memintaku menikah denganmu. Buat itu jadi alasan agar kau mau menemuiku dan melihat penjelasanku.


Vanesa.


Inanti diam di sana, dia menegang membaca itu. Alan berniat menikahi Vanesa? Saat posisinya sedang mengandung si kembar saat itu? Apa mereka tidak waras?


Alan yang menyadari kejanggalan menghentikan makannya, dia mendekat. "Dari siapa, Yank?"


"Pacar kamu," ucap Inanti menyimpan isi paket itu di meja, dia berdiri dan menggendong Nadia masuk ke dalam kamar.


Alan yang bingung segera melihat isinya. Dia menyadari apa yang terjadi. "Nan, aku bisa jelasin."


Namun, ketika hendak masuk kamar, pintu itu terkunci.


"Nan? Buka pintunya, aku jelasin sama kamu."


Di dalam sana Inanti menangis. Luka lamanya kembali terbuka, mengingat bagaimana dirinya menangis saat mengandung menunggu kepedulian Alan yang ternyata malah melamar wanita lain.

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC


__ADS_2