
🌹VOTE YEEE GHAISS🌹
"Bagus gak, Mas?" Tanya Inanti saat mencoba seragam chef yang dipesankan suaminya.
Dengan warna hijau muda dan putih, Inanti terlihat sangat cantik.
"Cantik kok, pake banget."
"Makasih ya."
"Apasih yang enggak buat kamu," ucap Alan merentangkan tangannya agar istrinya datang dan duduk di pangkuannya.
Inanti melakukannya, dia duduk di pangkuan suaminya. Alan menatap dalam manik istrinya, mengusap pipinya perlahan dengan hidung mereka yang hampir beradu.
"Kenapa liatin aku kayak gitu, Mas?" Tanya Inanti mengerutkan keningnya.
"Kamu cantik."
"Kalau gak cantik kamu gak suka?"
"Kamu tuh natural, alami gitu belum terkontaminasi pemutih wajah, sejenis borax gitu."
Inanti tertawa, membuat Alan mencium aroma strawberry. Entah apa yang selalu istrinya lakukan dengan mulutnya, tapi rasanya selalu manis asam buah strawberry.
"Emang gituh?"
"Kalau anak anak kuliah lain kan pada pake pondasi tuh."
"Kan biar nggak longsor, Mas."
"Kalau kamu mah udah cantik alami."
"Mau apa sih? Muji muji gitu."
"Kasih kiss, Yank."
Inanti malu malu merangkup wajah suaminya, mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan. Setalahnya Inanti mengusap ujung bibir suaminya, masih ada bekas luka di sana. "Ini nanti ilang, Mas?"
"Kenapa, Yank? Jadi jelek ya aku?"
"Gak gitu, kalau inget sama Om Guntur bawaannya pengen nabok dia. Kesel banget."
Alan tersenyum, dia mencium dalam istrinya. "Gak papa, kita bukan Nabi atau Rasul yang bisa menahan segala emosi. Marahin aja."
"Om Guntur?"
"Bukan, aku aja. Terus nanti bikin adeknya Nadia."
Inanti memukul pundak suaminya kesal, pipinya memerah malu. "Ngomongnya di saring, liat ada Nadia di belakang."
__ADS_1
Alan menengok, dan benar saja di sana ada Nadia yang memang terlelap. "Aku pindahin ke box ya?"
Inanti mengangguk malu malu, dia membiarkan Alan menurunkannya dan memindahkan putri kecil mereka yang membuka mulut sambil terlelap.
Namun, saat di tengah perjalanan, Nadia tiba tiba menangis kencang hingga Alan tercengang. "Yah…. Yank? Gimana ini?"
"Mau mimi kali, Mas. Siniin dulu," ucap Inanti menerima bayinya, dia menyusuinya sambil mengusap keningnya guna kembali terlelap.
Sayang, mata Nadia terbuka lebar. Yang mana membuat Alan menatap istrinya cemberut. "Tadi tidur sore ya, Yank?"
"Iya," ucap Inanti ketika Nadia melepaskan bibirnya dari sedotan asi tapi dengan mata terbuka. "He he, kayaknya dia ngajak gadang deh, Mas."
"Keliatan, Yank."
Alan menarik napas dalam. "Aku aja yang jagain, kamu tidur kan besok kompetesi nya."
"Gak papa, Mas?"
"Enggak lah," ucap Alan memikir lagi untuk main kuda kudaan. "Kalau udah beres lomba baru main kuda kudaan. Asal jangan lari ya."
"Lari gimana?" Tanya Inanti dengan pipi memerah dan enggan menatap suaminya.
Hal itu membuat Alan tertawa. "Pas di hotel kamu mau kabur pas aku tancep lagi."
"Ya kali waktu itu Mamah udah telpon terus, Mah."
"Nanti jangan dorong dorong dada aku minta udahan ya."
🌹🌹🌹
Dengan menggendong Nadia, Alan masuk ke pameran makanan itu. Banyak sekali orang yang datang. "Lomba nya di mana, Yank?"
Dan sebelum Inanti menjawab, Madelle datang dari kerumunan. "Nan!"
"Mamah? Tempatnya di mana, Mah?"
"Lomba punya ruangan khusus, ayo sini."
Mengikuti langkah mamah dan istrinya, Alan memeluk Nadia supaya tidak tersenggol orang lain yang sedang berdesakan membeli berbagai makanan.
Untungnya lomba memasak memiliki jumlah penonton terbatas di ruangan privacy.
"Nan, gabung sama peserta yang lain sana."
Inanti mengangguk, tapi dia tidak lupa untuk mencium tangan suaminya. "Doain aku ya, Mas."
"Pasti, Sayang."
Dan Inanti bergabung dengan peserta lain, sedangkan Alan duduk di samping Mamah dan Papah nya.
__ADS_1
"Alden sama Ayaza kemana, Mah?"
"Lagi jajan di luar, Bang. Udah jangan berisik."
Madelle terlihat exited dengan lomba memasak. Apalagi ketika lomba dimulai dan keributan mulai terjadi.
Mata Alan tidak lepas dari sosok wanita yang dicintainya. Dia melihat dengan jelas gigihnya Inanti ingin menunjukan bakat memasaknya.
"Ini pengumuman sepuluh besarnya kapan, Mah?"
"Hari ini juga, udah diem."
Namun, Nadia tidak bisa diajak kompromi. Bayinya menangis kencag, asi yang ada dalam botol pun enggan disedot.Â
"Gak papa, Mah. Abang keluar bentar," ucap Alan tidak ingin mengganggu kesenangan Madelle.
Alan juga memberi isyarat pada Inanti untuk tetap tenang.
Sayangnya, ketika diluar pun Nadia menangis. Bayinya sepertinya enggan bergabung dengan keramaian.
"Alden!" Panggil Alan saat melihat Alden sedang jajan sosis.
"Kenapa, Bang?"
"Anterin Abang pulang ya, Nadia gak betah."
"Oke, Alden bawa mobilnya dulu."
Dalam perjalanan, Nadia mulai berhenti menangis.
"Nanti kasih tau Mamah ya kalau Abang pulang duluan. Jangan lupa juga anterin Inanti ke sini ya."
"Oke, Bang."
"Makasih, Den."
Alden mengangguk dan meninggalkan tempat itu. Sementara Alan masuk ke apartemen dan membaringkan bayinya di ranjang. "Dede gak suka keramaian ya? Yaudah di sini aja ya sama Papa."
Perlahan, Nadia memejamkan matanya seiring usapan Papa nya di punggung. Alan yang lelah ikut terlelap juga.
Satu jam.
Dua jam.Â
Alan akhirnya terbangun oleh rengekan Nadia. "Uh…. Anak Papa Sayang, mau mimi ya?"
Saat itulah Alan mendapatkan pesan dari saudaranya.
Alden : Bang, Mbak Inanti masuk 10 besar. Minggu depan dia lomba lagi. Selamat ya, Bang. Jangan lupa siap siap bikin kejutan.
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.