
🌹Jangan lupa emvoooteeee yaaa biar emak semangat.🌹
🌹Ajak yang lain baca ini gih.🌹
🌹Jangan lupa follow igeh emak sih : @RedLily123🌹
“Mas….., bangun,” panggil Vanessa pada suaminya yang masih terlelap, sementara dirinya sedang menyiapkan pakaian untuk dikenakannya nanti. Judi kembali tidur setelah sholat subuh karena dia merasa pusing.
Memastikan suaminya tidak demam, Vanessa memegang kening suaminya. “Tuh kan panas,” gumamnya.
Dia segera turun ke bawah untuk mengambil air kompresan, dan juga membawa sarapan ke atas. Sebagaimana yang diajarkan ibunya dahulu, Vanessa harus mendahulukan makan meskipun sedang sakit.
Kembali ke kamar, Vanessa menyimpan makanannya di meja, dia mendekat untuk menempelkan gel pendingin tubuh yang mana membuat mata Judi terbuka.
“Udah siang, Yank?”
“Badan kamu panas, Mas, jangan ke kantor dulu ya. Aku bawa sarapannya ke sini, istirahat jangan ambil kerjaan dulu. Semalem udah beres kan?”
Judi mengangguk, dia mendudukan dirinya. Menatap dirinya sendiri dalam cermin, keningnya berkerut melihat gel menempel. “Ini buatan bayi?”
“Mana ada bayi buat itu, itu emang buat bayi, tapi efektif kok. Mamah aku dulu suka pakein itu kalau aku sakit, Mas.”
Judi hanya mengangguk angguk, dia menerima suapan dari istrinya.
“Nanti nanti mah jangan gadang kayak semalem lagi, kamu gak kuat.”
Dan saat itulah pikiran Judi mengira kalau istrinya sedang memandang sebelah mata kekuatannya. Mereka memang melakukan hubungan suami istri sampai larut malam, dan Judi merasa kalau istrinya sedang menganggapnya lemah.
__ADS_1
“Aku gak lemah kok.”
“Bukan gitu.” Vanessa segera memberi tatapan tajam, dia bergumam dalam hati, ‘Bocah suka bikin kesimpulan sendiri.’
“Makdunya, Mas…. Kalau hari ini kerja bikin uang, besoknya bagian kerja bikin anak. Jadi jangan disatuin gitu, Mas. Nanti kamu cape juga. Apalagi sebelum subuh keramas terus.”
“Hmmm…, iya.”
“Kok jadi kayak marah gitu?”
“Siapa yang marah?” gumam Judi yang membuka mulutnya menerima suapan dari istrinya. Dia memang sedikit kesal dan masih beranggapan kalau Vanessa menganggapnya lemah.
Vanessa mengerucutkan bibirnya. “Mas nya marah.”
“Enggak.”
“Iya maaf, aku salah ucapinnya.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Judi terbangun, hal yang pertama dia lihat adalah istrinya yang sedang shalat duha. Dia terlihat begitu cantik, membuat rasa pusingnya perlahan menghilang.
Tubuh Judi terdiam seolah lumpuh, tapi matanya tetap focus pada istrinya yang sedang mengaji. Suaranya merdu, ditambah burung berkicauan di luar.
Ini adalah keindahan yang luar biasa, yang tidak pernah Judi bayangkan sebelumnya. Membuat Judi semakin yakin, setiap keputusan yang diambil pasti membawa jalannya sendiri.
Setelah lima belas menit, Vanessa menyudai mengaji kitab suci al-Quran. Kemudian dia bersujud sangat lama, berdoa dengan air mata menetes.
__ADS_1
Membuat Judi yang melihatnya ikut tersakiti, Vanessa seolah membisikan rasa sakitnya kepada Tuhan. Dan itu membuat Judi merasa kalau dirinya belum benar benar memberikan apa yang membahagiakan istrinya.
Dengan kepala yang masih terasa pusing, Judi mendekat. Dia duduk di samping istrinya dan memeluknya setelah selesai bersujud.
Vanessa yang kaget hanya terdiam. “Mas?”
“Maaf ya, Sayang.”
“Maaf buat apa?” tanya Vanessa heran, apalagi Judi memeluknya erat.
“Mas?” tanya Vanessa lagi, tidak lama kemudian dia mendengar suara tangisan merintih pelan. “Mas, kamu nangis?”
Judi tetap diam, membuat Vanessa semakin yakin kalau suaminya menangis. “Mas, kamu kenapa? Kok nangis sih? Pusinh lagi? Kita ke dokter yuk.”
“Maaf, aku belum bisa bahagian kamu.”
“Hah?”
“Jangan nangis sendirian, nangisnya sama aku aja.”
Saat itulah Vanessa yang biasanya lelet menjadi paham. Dia segera melonggarkan pelukan dan merangkup pipi suaminya dengan lembut. Matanya menatap lembut brondong di depannya. “Kamu pikir aku nangis kenapa?”
Judi diam sebagai jawaban, membuat Vanessa terkikik kecil. “Nangis bukan berarti sedih, Mas. Senyum bukan berarti bahagia. Aku nangis karena aku bersyukur sama Tuhan udah merencanakan scenario indah ini untuk aku.”
🌹🌹🌹🌹
To BE Continue.
__ADS_1
Maaf pendek, lagi BadMood emak tuh.
BTW baca dong yang judulnya, “Kakakku, suamiku.”