Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Suami Impian


__ADS_3

🌹Voteee yeee ghaissstrong🌹


Oma Asih kembali mengajarkan Vanessa memasak. Kali ini Oma melakukannya dengan pelan pelan supaya Vanessa bisa paham.


"Paham kan?" 


Vanessa mengangguk.


"Ini apa?" Tanya Oma Asih.


"Kencur."


"Ini?"


"Jahe."


"Ini?"


"Kunyit."


"Kalau ini?"


Vanessa diam sebentar. "Itu jahe kan?"


"Benar."


Oma Asih bertepuk tangan, membuat Vanessa ikut bertepuk tangan layaknya anak kecil. 


"Sekarang, masaklah sambal seperti yang Oma ajarkan tadi."


"Baik, Oma."


Sambil menunggu Vanessa memasak, Oma Asih duduk di ruangan keluarga. Diam diam Oma Asih melihat lihat online shop dan memilih milih beberapa kerudung untuk diberikan kepada Vanessa.


Namun saat akan check out, Oma Asih diam sebentar. Dia tidak bisa memaksa orang menjadi apa yang dia inginkan. Dirinya hanya cukup mengarahkan ke arah yang benar. "Jika dia meminta, akan aku berikan."


Oma kini beralih melihat kalender dan melihat jika satu bulan lagi cucunya ulang tahun.


"Ijah?"


"Iya, Oma?"


"Sudah?"


"Belum, sebentar lagi."


Oma Asih berdecak. "Ke sini sebentar!"


"Nanti gosong!"


"Matiin!"

__ADS_1


Vanessa akhirnya menurut, dia datang mendekati Oma Asih dengan kesal. "Oma ini gimana sih, tadi suruh aku nyambel yang bener."


"Sini dulu, Ijah."


Vanessa duduk di samping Oma Asih. "Kenapa?"


"Judi sebulan lagi ulant tahun."


"Yang ke berapa, Oma?" Tanya Vanessa antusias. Dia berharap umurnya dan Judi tidak terlalu jauh.


"Baru juga 24 ya? Lupa, Oma. Tapi masih muda kok."


Vanessa menelan ludahnya kasar, tentu saja perbedaannya dan Judi sangat jauh.


"Kamu harus memberikan kejutan bagus untuk Judi."


"Kejutan apa, Oma?"


Oma tersenyum penuh makna. "Hamil lah."


Raut wajah Vanessa muram. Bagaimana dia bisa memiliki anak jika Judi enggan menyentuhnya. Vanessa sendiri ingin memiliki keluarga, dia ingin hamil dan melahirkan anak. Dia ingin menjadi seorang ibu. Tapi rasanya mustahil mengingat suaminya menikahinya karena wanita lain.


Namun, dalam hati terdalamnya Vanessa selalu meminta pada penciptanya untuk membuka pintu hati suaminya dan menerimanya.


"Kenapa sedih, Jah?"


"Eum… kan lagi haid, Oma."


"Yah kan masih ada waktu sebulan. Mulai besok ikut Oma ya promil ke rumah sakit."


"Halaaah, gak usah malu. Ngaku aja."


"Hah? Ngaku apa?" Tanya Vanessa terkejut jika Oma tahu yang sebenarnya.


"Ngaku kalau kamu gak bisa bahasa Inggris walau muka bule. Udah gak usah malu, nanti Oma yang ngomong."


🌹🌹🌹


Judi mengeluarkan semua foto foto Inanti yang dia simpan di dompetnya kemudian membakarnya di tong sampah. Bukan tanpa alasan Judi melakukannya, dirinya tahu harus menghilangkan bayangan Inanti dan memulai sesuatu yang baru dengan istrinya.


Dan ketika sedang membakar itu, Judi mendapatkan telpon.


"Hallo? Assalamualaikum?"


"Mas?"


"Jawab dulu salamnya, Jah."


"Oh iya, waalaikum salam."


"Kenapa?" Judi duduk di kursi kebanggaannya. "Mau apa?"

__ADS_1


"Beliin pembalut ya."


"Hah? Apa?"


"Pembalut, kan aku gak keluar. Seharian ini aku sama Oma. Beliin ya, sama pudding kalau ada. Bye."


"Pake salam dong."


"Oh iya, salam cinta."


"Ya Allah," ucap Judi tidak percaya. "Assalamualaikum, kayak gitu."


"Waalaikum salam. Aku mau dandan dulu biar kamu tambah kesemsem. Bhaaaaayyyy," ucap Vanessa menutup telpon.


Membuat Judi menggeleng tidak percaya. "Pembalut?"


Judi tidak memiliki mantan pacar. Cinta pertamanya adalah Inanti, sayang dia terlambat menemukan sosok wanita itu. Jika saja dia sedikit cepat, wanita sholehah itu bisa menjadi miliknya.


Judi segera keluar.


"Mile, kau yang menyetir."


"Baik, Tuan."


"Dan berhenti dulu di swalayan. Di mini market."


Awalnya Judi berniat akan menyuruh Mile membeli pembalut untuknya. Tapi ini hal sensitive, dan pada akhirnya Judi yang akan melakukannya sendiri.


"Sudah sampai, Tuan," ucap Mile saat sudah berada dalam mobil selama enam menit. "Apa anda perlu membeli sesuatu? Saya bisa membelikannya untuk anda?"


"Tidak perlu," ucap Judi keluar. 


Dia melangkah ke dalam mini market sepi. Beruntungnya tidak ada banyak pengunjung. Judi berdehem, "Kenapa harus malu? Ini untuk istriku," gumamnya.


Dengan membawa keranjang, Judi percaya diri menuju tempat pembalut wanita.


Kebetulan di sana ada dua wanita yang sedang memilih milih pembalut.


Melihat kedatatangan pria berjas, wanita wanita itu mengerutkan kening.


Dan Judi bersikap biasa saja, dia bahkan berkata, "Sorry, ik wil het vragen.  Welke pads zijn goed? {Maaf, aku ingin bertanya. Pembalut mana yang bagus?}"


"Sorry? {Maaf?}" Tanya salah satu.


"Mijn vrouw menstrueert, ze heeft maandverband nodig.  Welke is goed? {Istriku sedang haid, dia butuh pembalut. Yang mana yang bagus?}"


"Deze {Yang ini}"


Judi menerimanya. Dia tersenyum manis. "dank u {Terima kasih}."


Kedua wanita itu menatap kepergian Judi dengan mulut terbuka karena terpana. "Goh, ze is getrouwd.  Hij is een man van dromen. {Astaga, dia sudah menikah. Dia pria impian.}"

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC


__ADS_2