
🌹VOTE🌹
Suara ketukan pintu berulang membuat Madelle membuka matanya, dia datang ke arah pintu.
"Ayaza, ada apa. Mana Abigail?"
"Gak penting, Mah. Mana Papah? Ayo pergi, cepet."
"Apasih, ngomong yang jelas dulu."
"Inanti diusir sama Eyang, sekarang Abang ngamuk di sana."
Madelle menegang, dia segera membangunkan Riganta.
"Mas, Mas, bangun. Mas!"
"Hmmm? Apa?"
"Inanti diusir Ibu kamu, sekarang Alan ngamuk di sana."
Seketika mata Riganta terbuka. Tanpa banyak tanya dia mengambil jaket. Riganta bergegas menuju ke rumah Eyang Sekar ditemani Madelle dan Ayaza.
Madelle yang masih penasaran bertanya, "Aya, dimana Abigail?"
"Lacak Mbak Inan sama Alden."
Saat sampai di sana, Riganta bergegas masuk. Belum juga sampai di tengah rumah, Riganta mendengar teriakan Alan.
"Jadi ini alasan Eyang mau Nadia hajatan di sini hah?!"
Saat Riganta mendekat, dia melihat semua anggota keluarga berada di sana. Mengelilingi Alan yang berdiri menghakimi Eyang sekar yang duduk dintara putra putrinya.Â
Tidak ada yang berani menyela, mereka diam.
"Alan tanya sekali lagi, Eyang benci sama anak istri Alan?! Kenapa kalian semua benci sama anak istri Alan?! Karena kejadian setahun yang lalu? Iya?!"
Hening, sampai Benua cucu dari anak kedua Eyang berani menyela. "Mas Alan, udah."
"Yang salah di sini itu Alan, Eyang! Kalau Eyang masih punya dendam kesumat sama kejadian itu, harusnya Alan yang Eyang siksa, bukan Inanti!"
"Bang, udah." Madelle mencoba menghentikan.
"Beraninya kalian merendahkan Inanti!"
"Mas, kamu tahu sendiri kejadian itu membuat nama Praja Diwangsa semakin buruk di mata orang," ucap Benua.
"Lantas? Kalian tidak ingin nama Praja Diwangsa tercoreng? Begitu, Eyang?"
__ADS_1
"Bukan begitu, Aa," ucap Eyang Sekar sambil menangis.
"Cukup, Alan," ucap Om Guntur.
Alan terkekeh sinis. "Kalian malu karena nama itu aku bawa? Kalau begitu aku tidak akan menjadi anggota keluarga ini lagi."
"Alan!" Akhirnya Riganta bersuara.
Tapi tatapan Alan tidak berpaling dari mata Eyang Sekar yang menangis. Dengan penuh penekanan, Alan kembali berucap, "Alan tidak akan menginjakan kaki di rumah ini."
"Alan, cukup!"
Alan keluar begitu saja meninggalkan keheningan. Ketika dirinya hendak menuju mobil, Abigail dan Alden datang.Â
"Bang, kita udah lacak hapenya. Ketemu!"
🌹🌹🌹
Alan ditemani Alden menuju titik dimana Inanti berada. Hingga sampai di titik itu, Alan turun. Dia mencari ke sana ke mari, Alan benar benar khawatir.
Sampai dia melihat seorang perempuan membelakangi di warung pinggiran yang sudah tutup.
"Nan?" Alan mendekat.
Dan perasaan Alan tidak bisa sebegitu lega saat perempuan itu menoleh.
'Alhamdulillah,' gumam Alan dalam hati dan berjalan untuk memeluk istrinya.
Inanti menangis di sana. Semua benteng yang dia bangun demi tidak luluh dihadapan Alan langsung runtuh seketika.
Inanti ketakutan setengah mati, apalagi ada bayi di tangannya.
"Tidak apa, aku di sini."
Setelah tangisan Inanti agak mereda, Alan mengambil alih Nadia. Dia juga memberi isyarat pada Alden untuk membawa barang milik istrinya.
Saat di mobil, Alan memeluk Nadia dan Inanti di saat bersamaan. Dia mencoba menenangkan istrinya.
Apalagi begitu sampai di hotel, Inanti tidak banyak bicara.Â
Baru saat sampai di kamar, Inanti menyeka air matanya.
"Sini Nadia nya, belum enen."
Alan menyerahkannya, dia menatap Inanti yang membuka kerudung sebelum tidur di atas ranjang menyusui bayi mereka.
Alan menata barang barang mereka. Satu yang membuat Alan merasa heran, posisi Inanti ada di tengah. Yang pasti akan membuat mereka tidur berdempetan.
__ADS_1
Alan menarik napasnya dalam, masih ada banyak amarah yang belum dia salurkan. Alan pergi ke kamar mandi untuk menghubungi Karl.
"Tuan?"
"Karl, lakukan penghentian karyawan yang memakai marga Praja Diwangsa."
Karl sepertinya terkejut di sana.
"Itu berarti?"
"Ya, mereka semua. Kau tahu siapa yang aku maksud."
"Baik, Tuan."
Alan menarik napas dalam, dia mencuci wajahnya untuk menenangkan diri sendiri. Demi Tuhan, Alan ingin sekali meledakan rumah orang orang tidak memiliki hati.
Mereka mengusir istrinya di malam hari, dengan bayi yang sudah terlelap. Membuat Alan menahan tangisannya di sana, dia menyesal atas semua yang dia lalukan dan menimbulkan semua rasa sakit untuk Inanti.
"Mas?" Panggil Inanti dari luar.
Alan segera mengusap wajahnya. "Ya, Sayang?'
Alan keluar, dia melihat Inanti yang sudah duduk di atas ranjang. Membuatnya datang lalu memeluk istrinya.
"Mau pulang," gumam Inanti dalam pelukannya.
"Iya, besok kita pulang."
"Mau beli hape yang batrenya gak mati mati, yang awet, yang kalau ada darurat langsung ngirim sinyal darurat sama kamu," ucap Inanti dengan tangisannya.
"Iya, aku beli basoka mau? Nanti kalau ada darurat kamu bom mereka, buat jadi tanda."
"Aku serius, Mas," ucap Inanti menangis kencang.
"Iya, iya, Sayang. Tenang, ya. Besok kita pulang, beli hape baru lagi. Mau apa lagi? Mau jajan kerudung gak? Katanya gak punya warna ungu."
Alan tahu dirinya harus bisa menangni istrinya yang masih labil. Umurnya bahkan masih belasan, Alan tahu seharusnya Inanti belum menjadi seorang ibu dan istri.Â
"Jangan pergi lagi."
"Enggak, Sayang. Aku gak akan kemana mana."
Dalam hati Alan berkata, "Mereka akan menyesal membuatmu sedih, Sayang."
🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1