Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Meriam Nadia


__ADS_3

🌹VOTE YA GAIS🌹


Seperti biasa, Alan ziarah ke makam putra pertamanya. Setelah mengaji dan memanjatkan doa, dia pulang.


Dalam perjalanan, Alan melihat pedagang pinggir jalan. Dia menepi untuk bertanya.


"Jualan apa, Pak?"


"Jualan tek kelor, Tuan."


Alan mengambilnya satu dan melihat, dia tahu benar apa yang menjadi khasiat itu. "Bapak buat sendiri?"


"Iya, Tuan," jawab pria tua itu.


Melihat dari pengemasan, cara penjualan terlihat sangat apik.


"Saya bisa kalau pesan secara berkala?"


"Bisa, Tuan. Tuan butuh berapa?" Tanya Pria tua itu tampak semangat.


"Saya butuh enam bungkus setiap minggunya. Kirim ke alamat ini ya, Pak. Untuk minggu ini saya ambil sendiri."


"Silahkan, Tuan."


Alan tau kalau istrinya sangat suka makanan pedas, dan dia ingin mengimbanginya dengan minuman yang berkhasiat bagi tubuh.


Sesuai dugaannya, saat kembali dan apartemen, Alan mencium aroma menyengak dari cabe kering.


"Yank?"


"Lagi masak, Mas."


"Nadia?"


"Masih bobo, jangan diganggu."


Alan mendekat ke dapur. "Apa itu?"


"Balado cumi."


"Merah amat."


"Pake bubuk cabe yang aku buat kok, liat tuh bekasnya."


Alan memeluk istrinya dari belakang sambil menciumi leher Inanti. "Sayang…."


"Mas ih! Aku lagi masak."


"Mamah chat ke aku, suruh tanya sama kamu buat les masak. Mau?"


"Eum… Bi Idah gimana?" Inanti mematikan kompor dulu lalu berbalik menatap suaminya.


Seolah diberi kesempatan, Alan melingkarkan tangan di pinggang istrinya. "Bi Idah kan buat bersih bersih, atau apa pun yang kamu inginkan. Lagian dia dari datang dari pagi nyampe siang."

__ADS_1


"Maksudnya kan less nya juga agak siangan, nanti Bi Idah masih ada."


"Terus?"


"Ya Allah, Mas, kan kamu tau Bi Idah udah kerja lama sama kamu. Dia pinter masak, masa iya aku belajar dari orang lain lagi."


"Hak kita dong, lagian aku bayar."


Inanti menggeleng. "Namanya egois, Mas. Meski enggak bilang, Bi Idah sakit hati lah. Dia jago masak, pinter pake banget."


Alan diam. "Tapi kamu mau kan?"


Inanti mengangguk. "Paling juga kalau guru nya mau dateng, agak sorean. Biar makanannya nanti dimakan sama kamu, hasil aku."


Alan tersenyum, dia mendekat dan… CUP. Mengecup bibir istrinya.


"Mas ih, modus."


"Tiap hari?"


"Enggak lah, dua kali seminggu aja. Mulainya minggu depan, pas kamu udah wisuda."


"Mamah?"


"Kalau Mamah mau ikut boleh, soalnya kalau tiap hari kasian Mamah bulak Depok- Jakarta."


"Mamah mah hobby."


"Kalau dua kali seminggu Mamah gimana?"


Inanti mengangguk, membuat Alan mencari kesempatan mengusap pipinya yang halus.


"Sana mandi."


"Kamu udah?"


"Udah. Kerja kan?"


"Iya, gimana dong? Kamu pasti bakalan kangen sama aku, Nan. Rindu menangis termehek mehek sama aku loh."


"Lebay, mana ada aku gitu."


🌹🌹🌹


Alan merasa hidup, dia mendapatkan apa yang dia butuhkan saat ini. Pakaian sudah disiapkan istrinya, sarapan, dan juga buah hati sebagai pemandangan terbaik.


"Bangun, Sayang…..," ucap Alan menciumi putrinya. Wangi banget khas bayi. "De….., bangun yu… berjemur."


Nadia menggeliat lalu tidur lagi.


"Nan?"


"Iya?" Sahut Inanti masih di dapur.

__ADS_1


"Nadia aku jemur ya?"


"Bawa ke sini, Mas. Jemurnya di pintu kaca."


Alan melakukannya, setelah dia rapi dengan kemeja dan harum semerbak, dirinya membawa Nadia untuk dijemur dibawah sinar matahari pagi. 


Tidak lupa, Alan memakaikan penutup mata agar tidak silau. Dia malah ikut berbaring di pinggir putrinya, di atas lantai.


"Nanti baju kamu kusut lagi dong, Mas."


"Gak nahan, Nan. Pengen cium dia terus."


"Dasar," guman Inanti menatap suaminya yang tertidur di samping Nadia, sambil bibirnya menempel pada pipi putri mereka.


Alan menggenggam tangan mungil Nadia. "De…., Bangun," bisiknya.


"Sarapan dulu, Mas. Udah mau jam delapan nih, kamu nanti telat loh."


"Bos mah bebas," ucap Alan mengagungkan dirinya sendiri.


"Bebas emang, tapi harus kasih contoh yang baik buat anak buah dong, Mas."


"Pinter banget, My Darling," ucap Alan berdiri, dia mencium pipi istrinya. 


Yang mana membuat Inanti sedikit risih. "Mas ih, aku bau bawang, Mas."


"Kamu manis, kayak gula gulali gituh. Bikin aku ketagihan."


"Apasih, jangan mulai deh."


Alan terkekeh, dia hendak memakan sarapannya. Namun saat itu Nadia menangis.


"Aku aja, Mas."


"Jangan." Alan menahan tangan Inanti. "Kamu udah masak dari pagi, cape kan? Udah makan. Nadia biar aku yang gendong dulu."


Inanti kembali duduk dan menatap Alan yang mendekati putri mereka. 


Alan membuka penutup mata Nadia. "Baaaa…, anak Papa udah bangun. Sini Papa gendong. Uh…., Kangen Papa ya?"


Hingga Inanti ingat sesuatu. "Mas, sebe---"


"Aduhhhh… Princess nya Papa kok pipis?" Alan menatap wajah Nadia yang seolah menahan sesuatu, dengan air yang membasahi bajunya.


Tidak lama kemudian… Duuuuuttttttt!


Nadia kentut, dia terkejut dengan suara kentutnya sendiri hingga menangis.


"Gak papa, Sayang. Dede kaget ya? Gak papa, tadi ada meriam jatuh."


"Mas?"


"Yukkk ah mandi lagi sama Papa. Udah jangan nangis, kan meriam nya juga dede yang lempar."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Tbc


__ADS_2