
🌹Vote yaa ghais kalau suka, terus ajak yang lain, mau temen atau keluarga bahkan pacar dan mantannya buat baca cerita ini.🌹
🌹Jangan lupa follow juga ige nya emak ya : @RedLily123🌹
🌹Emak sayang kalian.🌹
“Ayo masuk.”
“Lepasin ih,” ucap Vanessa yang mencoba terlepas dari Judi, apalagi saat Judi menariknya ke dalam mobil.
Memaksanya masuk kemudian memasangkan sabuk pengaman di sana, dan raut wajah tegas Judi membuat Vanessa tidak bisa berkutik. Dia ketakutan bukan main, ini pertama kalinya dia mendapati pria itu begitu marah.
Dan kenapa Judi bisa menemukannya? Kenapa tempat ini sangat sempit? Ini bahkan belum seharian penuh dia memulai hidup tanpa suaminya, tapi sudah tertangkap saja.
Jantung Vanessa berdetak kencang saat Judi memutari mobil kemudian masuk di kursi pengemudi.
Dia duduk diam, tidak menyalakan mesin maupun bicara padanya.
Vanessa tau dia salah telah meninggalkan suaminya, tapi ini juga demi kebaikannya hingga suaminya mendapatkan wanita lain yang dia cintai. Hingga pikiran Vanessa mengira Judi menyusulnya karena suaminya pikir dirinya akan mengganggu rumah tangga Alan dan Inanti.
“Aku ke sini bukan karena Alan sama Inanti kok, aku gak ganggu mereka. Aku juga ngontrak jauh dari sini. Terus aku ke sini cuma mau ke makam anak mereka, soalnya kan aku udah bisa ngaji. Jadi jangan khawatir aku bakalan ganggu Inanti lagi.”
Akhirnya Judi menoleh menatap istrinya, yang mana membuat Vanessa terdiam menegang. “Kamu pikir aku nyusul kamu karena khawatir sama itu?”
“Bukan ya?” tanya Vanessa.
Kemudian dia berfikir hal lain yang lebih membuat Judi tidak bisa berkata kata. “Oh, kamu nyusul aku buat ATM yang kamu kasih? Itu aku sengaja telenin di mesinnya, nanti nonaktif otomatis kan? Kamu tinggal bawa aja ke bank.”
Judi diam.
“Atau butuh tanda tangan aku? Aku kan bikini tanda tangan digital, tinggal temple aja.”
“Gak waras,” gumam Judi kemudian menyalakan mesin.
“Eh, kita mau kemana? Mau ngapain? Aku mau ke makam dulu,” ucap Vanessa kembali mematikan mesin mobil.
“Kita harus pergi, nanti Alan liat kamu.”
“Mana ada Alan di sini.”
“Liat,” tunjuk Judi pada mobil yang baru saja datang. “Itu Alan.”
Dan benar saja, seorang pria turun dengan membawa bunga di tangannya menuju ke pemakaman anaknya.
“Liat, itu Alan.”
__ADS_1
“Bagus dong, aku mau ngomong sama dia.”
Namun sayangnya pintu mobil tidak dapat dibuka, membuat Vanessa menatap suaminya penuh tanya.Â
“Van,” ucap Judi yang membuat Vanessa diam.
Berarti dirinya sudah sholeh? Sudah dianggap sebagai wanita cantik lagi?
“Ini bukan waktu yang tepat, kamu bisa dikubur hidup hidup sama dia,” ucap Judi kemudian menyalakan mesin mobil dan membawa Vanessa pergi dari sana.
🌹🌹🌹🌹
Mata Vanessa membulat saat mereka berhenti di sebuah motel, pikiran liarnya menjelajah.
“Ngapain ke sini?”
“Aku nginep di sini.”
“Di motel?”
“Emang kenapa?”
Judi turun, kemudian membukakan pintu untuk istrinya. Dia menarik pelan tangan istrinya kemudian menggenggamnya untuk dibawa ke dalam kamar.
Di sana baru Judi melepaskan tangan istrinya.
“Keras juga enggak, lebay banget.”
Vanessa berdecak kesal.
“Dimana kamu nginep semalam?”
“Emangnya mau apa?”
“Dimana?”
“Mau apa dulu?”
“Vanessa.”
Mendengar Judi memanggilnya dengan penuh penakanan membuat Vanessa menelan ludah kasar, itu membuatnya terpaksa memberitahukan dimana dirinya menginap.
Setelah mengatakannya, Judi malah hendak pergi.
“Mau kemana?”
__ADS_1
“Tunggu di sini.”
“Kamu mau kemana?”
“Diem di sini.”
“Tunggu.”
Dan tanpa diduga, Judi mengurungnya di dalam kamar sementara dirinya pergi entah kemana.
“Mas Judi! Mas!”
Vanessa berteriak untuk beberapa saat, tapi tidak ada gunanya.Â
Menit demi menit berlalu, hingga akhirnya pintu terbuka. Vanessa pikir itu suaminya, tapi ternyata itu Mile yang masuk.
“Mile?”
“Selamat pagi, Nyonya. Maaf mengganggu, pelayan membawakan makanan untuk anda.”
Dan saat itulah para pelayan motel masuk dan membawakan berbagai jenis makanan.
“Dimana Judi?” tanya Vanessa pada Mile.
“Ke suatu tempat.”
“Ke mana?”
Segera Mile berkata, “Jangan pergi lagi, Nyonya. Tuan bisa sakit lagi jika kehilangan anda. Tunggu Tuan di sini.”
Setelah mengatakan itu, Mile dan para pelayan keluar kemudian kembali mengunci pintu dari luar.
Vanessa menarik napas dalam, dia tidak tertarik dengan makanan. Yang dia inginkan hanya Judi agar semuanya jelas.
Dan akhirnya setelah hampir satu jam, Judi datang kembali dengan membawa koper miliknya.
“Kamu dari rumah Ami? Dari kontrakan aku?” tanya Vanessa.
Judi diam tidak menjawab, dia hanya berjalan mendekat pada istrinya setelah meletakan koper.
Terus berjalan mendekat hingga akhirnya jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja. Vanessa menelan ludahnya kasar.
Pikirnya suaminya itu akan memarahinya atau melakukan hal lainnya, tapi dia malah menariknya ke dalam pelukan, kemudian berkata, “Jangan pergi lagi, Van.”
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC