Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Saling Menemani


__ADS_3

🌹VOTE DONG GAIS🌹


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Alan menggeliat. Dia segera berdiri dan hendak menyusul istri dan anaknya di kamar. 


Sebelum ke kamar, Alan minum soda dulu. Dia berolahraga kecil mempersiapkan kebugarannya untuk bermain kembali bersama istrinya.


Namun naas, saat masuk dia sudah mendapati istrinya terlelap dengan Nadia yang tertidur di tengah.


"Yah…, ada penghalang," ucap Alan melihat Nadia yang terlelap.


Dia mendekat perlahan dan memindahkan putrinya. "Ade Nadia pindah dulu ya, Papa sama Mama mau main dulu, oke?"


Alan memindahkan Nadia ke dalam babu box. Beruntung bayinya terlelap dalam, sehingga tidak terbangun.


Setelah itu, Alan riang dan segera naik ke atas ranjang menyusul istrinya.


"Nan….," Panggil Alan lalu memeluk istrinya dari belakang. "Sayangku…"


Dan tanpa diduga, Inanti melindur, dia bergumam dengan suara pelan, "Gak mau yang itu….."


Alan terkekeh melihat istrinya. "Iya, Sayang, nggak yang biasa, kita pake yang ada gergajinya. Ayo bangun."


Namun lelapnya Inanti mengalahkan, membuat Alan menyerah dan memeluk istrinya saja.


Dia menempelkan wajahnya ke punggung istrinya yang membelakangi.


Hingga saat Alan yang terlelap, Inanti bangun dan menyadari pelukan erat.


"Aduh," gumam Inanti memegang perutnya yang terasa sakit.


Dia melepaskan tangan Alan sebelum pergi ke kamar mandi. Sayangnya, bukan mulas karena mulas, Inanti sakit perut seolah ditusuk tusuk.


Membuatnya memilih ke dapur untuk membuat teh hangat madu.


"Sayang?"


Inanti mengerutkan keningnya mendengar panggilan sang suami.


"Nan?"


"Di sini, Mas."


"Kenapa di sini?" Alan mendekat.


"Lagi bikin teh madu, sakit perut aku."


"Euh….., bidadarinya Mas Alan sakit perut ya? Sini dipijat."


"Nggak mau ah," ucap Inanti memilih duduk di sofa dan meminum di sana. Dia takut Alan malah melenceng ke hal lain.


"Kamu pucet tuh."


"Pas kuda kudaan gak nyadar yah aku pucet?"


"Pokoknya tunggu di sini, aku bakal pijet." Alan mengambil minyak urut dari laci dan ikut duduk di sisi istrinya. "Sini."


"Gak mau ah, Mas."

__ADS_1


"Sini. Jangan ngeyel ya, Sayangku. Aku janji gak bakalan ngapa ngapain kok."


Inanti menatap Alan lama.


"Apa? Aku ganteng? Iya aku tau, buka dong bajunya."


"Mau apa?"


"Dipijet, Yank. Digabrugnya nanti kalau udah gak sakit."


Inanti ragu, tapi dia perlahan membuka bajunya. Masih memakai bra, Inanti membelakangi Alan.


Dan pria itu mulai memijat punggung istrinya.


"Makan apa sih?"


"Makanan kamu."


"Eh, makanan aku mustahil lah bikin gini. Orang tadi kamu tambahin aida."


"Enak, Mas. Pedes gurih gitu."


"Kayak aku ya?"


"Kamu mah pait," ucap Inanti yang mulai menikmati pijatan suaminya. Hingga dia merasa ini tidak sopan. "Mas, udah ah."


"Diem napa, Nan. Aku ikhlas, aku mau istri aku yang cantik bak bidadari sembuh. Diem dong, biar Mas Alan yang ganteng paripurna ini bisa gabrug kamu lagi."


"Gabrug terus ya, Mas, isi otak kamu."


🌹🌹🌹


"Mas?" Panggil Inanti.


Mustahil Alan keluar, ini masih jam setengah enam.


"Mas Alan?"


Inanti memeriksa setiap ruangan, tapi tidak ada. 


Dan ruang terakhir, dia masuk ke ruang kerja suaminya. Di sana juga tidak ada.


"Mas?" Kening Inanti berkerut saat melihat ada pintu lain di sana. Inanti mendekat dan mendorongnya pelan.


"Mas?"


"Udah bangun, Yank? Mau ikut olahraga?"


Inanti baru tahu, ini adalah ruang gym khusus untuk Alan. Dengan perlengkapan lengkap.


"Sejak kapan ini ruangan ada?"


"Kedap suara, Sayang, biar gak bising kalian."


"Kok kamu gak bilang ini ada di sini?"


"Kamu gak nanya."

__ADS_1


"Dasar nyebelin," gumam Inanti. "Mas kerja?"


"Iya, Sayang. Siapin emam ya, kalau nggak nanti aku malah makan kamu."


Inanti mengangguk, dia hendak keluar membuat sarapan. Namun, langkahnya terhenti melihat ada sebuah undangan wisuda, dan itu adalah besok.


"Nan, ak…..," ucapan Alan terhenti melihat istrinya melihat undangan itu.


Inanti berbalik. "Kamu besok wisuda?"


"Eum… iya."


"Kok gak bilang?"


Alan diam.


"Mas? Kok kamu gak bilang? Atau kamu mau pergi sama seseorang di luar sana?"


"Seseorang apa, Sayang. Enggak."


"Terus? Kenapa kamu gak bilang sama aku?"


Alan masih diam.


"Mas, aku butuh jawaban. Kamu mau kesana sama cewek lain? Iya?"


"Enggak, Sayang. Demi Allah enggak, aku gak gitu."


"Terus? Kenapa gak bilang? Kamu mau datang sendiri?"


"Iya… tadinya mau datang sendiri," ucap Alan seolah tidak ingin membahas ini, dia juga terlihat kebingungan.


"Oh, kamu malu, Mas? Bawa aku sama Nadia."


"Enggak, Nan. Bukan itu. Aku cuma gak mau kamu ketemu temen temen aku yang pernah buat kamu sakit hati. Tiap hari aja liat aku kamu udar tersiksa, gimana ini kamu bakal nambah orang yang buat kamu sakit hati. Aku…."


"Kata siapa?"


"Hah?" Alan planga plongo.


"Kata siapa aku tersiksa sama kamu?"


Alan diam, dia bingung sekali.


Inanti menarik napas dalam, dia berucap dengan pelan, "Mas, meski mungkin aku gak mau datang, harusnya kamu bilang dulu. Apa pun jawaban aku, harusnya kamu jujur. Supaya aku gak beranggapan yang enggak enggak sama kamu. Lagian juga mungkin jawaban aku bukan kayak yang kamu pikir."


Alan terkejut. "Kamu…. Mau temenin aku wisuda?"


"Kamu sayang sama aku?"


Alan mengangguk pasti. "Melebihi nyawa aku."


"Sama Nadia?"


"Kalian segalanya buat aku."


Inanti menarik napas, dia mendekat dan memeluk Alan perlahan. "Aku sama Nadia juga sayang sama kamu, aku sama Nadia gak akan biarin kamu sendirian besok. Kita akan dateng, Mas."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2