Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Sekretaris Boss


__ADS_3

🌹VOTE YA GAISSS….🌹


"Mas, orang lain udah mulai," ucap Inanti merasa khawatir.


"Biar kamu gak kesel lah."


"Tapi kita telat banget loh ini. Kamu bilang suka ngaret, ini kampus elite. Masa iya gitu."


"Gituhhhh," ucap  Alan dengan nada suara bercanda.


"Mas ih!"


"Ha ha ha, gak papa, Sayang. Lagian siapa yang berani macem macem sama kamu."


'Banyak,' gumam Inanti dalam hati. 'Makannya aku gak mau lagi jadi pusat perhatian.'


"Udah, Sayangku. Biarin aja, toh kita yang punya kampus."


"Sombong."


"Buat kamu apasih."


Semua orang sudah lengkap di sana, dan Inanti tidak ingin menjadi pusat perhatian. Apalagi acara ini dikawal ketat dan sangat tertib, suara langkahnya akan menjadi pusat perhatian.


"Mas…, malu."


"Gak usah, kan ada aku."


Dan saat mendekat pada penjaga sebelum memasuki gedung, Alan memberikan surat undangan pada penjaga di sana.


"Silahkan masuk, Pak."


Inanti heran saat Alan mengikutinya ke dalam. "Mas kan harus pake baju zirah?"


"Zirah segala apaan," ucap Alan tertawa. "Aku anterin kamu sampe duduk, takutnya ada yang culik."


"Biar saya yang antar, Kak," ucap salah satu mahasiswa yang ditugaskan menjadi seksi acara.


"Tidak apa, istri saya tidak bisa berjauhan dengan saya."


"Ah… baik," ucapnya mundur.


Dan itu membuat Inanti mencubit perut suaminya. "Mas ih, kamu mah gitu."


"Udah, Sayang. Segala dipikirkan aja."


Inanti menarik napas dalam saat mereka memasuki gedung. Alan berada di sampingnya mengiringnya untuk duduk. 


Dan benar saja, banyak yang menatapnya di sana. Beberap panitia yang membantu acara berlangsung itu saling berbisik melihat kedatangannya. Apalagi saat mereka melihat Nadia di pangkuannya. Dan Inanti berkata dengan menguatkan diri dalam hati. 'Tidak apa, aku datang untuk suamiku. Bukan untuk mereka. Mereka bukan siapa siapa, tidak berarti bagiku.'


Ketika Inanti duduk di depan, Alan berkata, "Kalau ada apa apa telpon saja aku, Sayang. Atau beri isyarat, aku ada di sana."


"Iya."


"Kalau ada apa apa beri isyarat juga pada Karl."

__ADS_1


"Karl?" Tanya Inanti terkejut.


"Lihat di arah jam sembilan."


Inanti melihat, Karl ada di jajaran dosen. "Apa dia dosen di sini?"


"Dia anak buahku, ha ha ha," ucap Alan kemudian pergi ke tempatnya.


🌹🌹🌹


Saat nama Alan dipanggil, Inanti tersenyum sambil memberi susu dalam botol pada Nadia. Suaminya menatapnya lama sebelum melangkah untuk penggeseran tali toga.


Saat gelar Alan disebutkan, Inanti terpesona. 


Dan semua itu berjalan terasa sangat cepat, pasalnya manik Inanti hanya fokus pada sang suami. Tidak mempedulikan yang lain yang saling berbisik.


"Berapa bulan, Neng?"


Inanti menoleh. "Baru juga tiga bulanan, Bu."


"Ya allah, lucu sekali. Istrinya Alan ya?"


"Iya, Ibu kenal?"


"Anaknya temen saya," ucap wanita yang berada di sampingnya itu. "Anak saya Delisa, tau?"


Delisa, nama wanita yang selalu menyakiti hatinya. "Iya, kenal, Bu."


"Anak saya udah tua belum mau nikah, kalah sama Nak Alan yang udah punya anak."


"Alhamdulillah, Bu."


"Yank….," Ucap Alan mendekat. "Keren kan nilai aku."


"Jangan bilang kamu nyogok, Mas."


Pasalnya, nilai Alan sangat sempurna. Bahkan terlalu sempurna.


"Ha ha ha, iyalah, sogok pake ancaman."


"Jahat kamu."


"Yang enggak lah, Sayang. Suami kamu ini yang ganteng paripurna emang pinter. Kamu aja yang gak tau."


Inanti masih sibuk memakan snack saat Alan duduk di sampingnya.


"Mau pemotretan yuk."


"Mamah sama Papah gak ke sini, Mas?"


"Ke sini."


"Hah? Mana?"


"Ini," ucap Alan menunjuk dirinya sendiri. "Ini Papa Alan, ini Mama Inanti."

__ADS_1


"Ih, aku serius."


"Mamah lagi sibuk morotin uang Papah, Papah sibuk kerja karena uangnya diporotin Mamah mulu."


"Tuman kamu sama orang tua," ucap Inanti menahan senyumnya.


"Foto bareng yu, gratis kok di depan."


Inanti mengangguk, dia membereskan tas dengan memasukan sisa snack.


Yang mana membuat Alan mengerutkan kening. "Mau diapain itu lontong?"


"Dibawa pulang lah, sayang banget ini makanan."


"Gak usah lah, Nan. Tar aku beli lagi."


"Ini juga ada, ngapain beli," ucap Inanti memasukan lontong dan air mineral juga bolu kecil ke dalam tasnya. "Lagian gak dosa, ini jatah aku kan."


"Yaudah deh, ayo. Aku yang gendong Nadia ya," ucap Alan mengambil alih bayinya yang memakai kerudung hijau muda, dia terlihat sangat cantik. "Uh… anak Papa, nanti kayak Papa ya kalau kuliah gelarnya diborong."


Dan Inanti sedikit sensitive kalau mengenai hal itu, pasalnya itu adalah impian sang Ibu.


"Kenapa, Yank?"


"Enggak."


"Ayo foto bareng yuk. Nanti biar kamu bisa mandang wajah aku yang ganteng paripurna ini."


"Iya deh, Mas. Terserah kamu," ucap Inanti malas.


Dan saat mereka menuju di bagian depan gedung untuk berfoto, di sana ada antri yang banyak.


"Ngantri, Yank. Ke studio aja yuk. Kita belum punya foto keluarga loh."


"Di sini aja yang gratis, Mas."


"Studio deket kok, di samping. Bentar aku telpon Karl dulu," ucap Alan mengeluarkan ponselnya. Dia menelpon dengan Nadia di pangkuannya.


"Tuan?"


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Alan.


"Apa anda butuh sesuatu?"


"Ya, siapkan studio foto. Aku dan Inanti akan ke sana, kami akan ke caffe sebentar."


"Baik, Tuan."


Kening Inanti berkerut saat Alan menggenggam tangannya untuk menjauh. "Sebenarnya Karl itu dosen di sini?"


"Di bagian Administrasi Publik, dia adalah wakil dekan."


"Bagaimana dia bisa menjadi sekretarismu?"


Alan menyeringai. "Aku paripurna dalam segala hal, Sayang."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2