
🌹VOTEEE YEEE GHAISSTRONG🌹
Saat makan malam pun, Vanessa tidak banyak bicara seperti biasanya. Itu membuat Oma Asih dan Tante Metry heran. Mereka menduga ada masalah dengan suaminya.
Setelah selesai makan malam, Vanessa berdiri lebih dulu. "Terima kasih makan malamnya, Oma. Aku akan ke atas dulu."
Vanessa mengatakannya dengan wajah tidak semangat, dia pergi ke kamar lagi meninggalkan tiga orang yang heran.
Saat sudah hilang di balik pintu, Tante Metry baru bicara. "Ada masalah kah dengan Vanessa?"
Oma Asih mengangguk. "Ya, dia bermasalah. Lihatlah pakaiannya, dia belum mandi sejak pagi."
Seketika Judi dan Tante Metry menatap Oma Asih yang sedang makan.
"Kenapa?" Tanya Oma Asih. "Biasanya jika Judi akan datang dia akan bersiap siap seperti putri salju."
"Kau benar, Bu. Biasanya saat aku pulang, Vanessa sudah cantik, tapi kini dia kusam. Matanya bengkak, apa dia habis menangis?"
"Ibu pikir begitu, saat Ibu panggil tadi, dia tidak keluar keluar. Mungkin ada yang salah, Judi?"
Judi memakan suapan terakhirnya. Dia menarik napas dalam.
"Apa kamu juga tidak tau?" Tanya Tante Metry.
Oma Asih berdecak. "Kau ini bagaimana, kau suaminya, Judi. Harus tahu keadaan sang istri."
"Aku paham, Oma." Judi melepaskan serbet. "Aku akan bicara dengannya nanti."
"Mungkin dia bosan berada di rumah."
Oma mengangguk. "Tapi setiap Oma ajak keluar, dia selalu menolak."
"Apa kamu melarangnya keluar, Judi?" Tanya Tante Metry.
Judi mengangguk pelan.
"Astaga! Kenapa kamu melakukan itu! Vanessa mungkin bosan di rumah."
"Kenapa dia harus bosan? Ada Ibu di sini."
"Maksudnya, Bu. Dia tidak keluar melihat keindahan Amsterdam, berbeda dengan Ibu yang sudah lama di sini."
Judi mengakhiri minum, dia menyimpan gelasnya di meja. "Aku melarangnya keluar tanpa aku sendiri. Aku akan membawanya keluar nanti jika waktunya tiba, Oma."
"Tapi kau seperti mengurungnya."
"Aku tidak mengurungnya, tenanglah aku bukan pria macam itu." Judi berdiri. "Terima kasih makan malamnya."
Menyusul Vanessa ke kamar, Judi mendapati istrinya sedang mandi. Dia menunggu sambil menonton TV.Â
__ADS_1
Karena gerah, Judi membuka pakaiannya dan menyisakan boxer.
Saat Vanessa keluar, pikir Judi istrinya itu akan menggodanya. Namun, dia tetap datar.Â
"Jah?"
"Apa?" Tanya Vanessa sambil memakai pakaian tanpa malu terlihat oleh Judi. "Kenapa, Mas?"
"Kenapa tadi nangis? Kangen?"
"Hooh, butuh belaian."
"Kenapa sih?"
"Kan lagi haid. Baca di internet kalau lagi haid pasti mood berubah ubah."
"Nangisnya kayak enak banget, nyampe ngabisin tissue."
Vanessa berdecak. "Nikmat banget."
"Sini napa."
"Kan lagi dibaju, Mas. Takut digabrug, kan lagi merah. Takut atit."
"Dasar," gumam Judi. "Kan kalau nangis ada alesannya tuh, kenapa? Ya kali sama suami terbuka."
Judi menengok. "Astagfirullah, Ijah!"
Vanessa tertawa, dia menutupi dada yang telanjang. "Tuh kan mau."
"Ijah…."
Dan Judi tahu, Vanessa bisa menyembunyikan perasaannya dengan baik. Emosinya dia pendam sendiri.
🌹🌹🌹
"Jah… mana baju?"
Vanessa menengok, dia kembali menelan ludahnya kasar saat melihat Judi keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggang.
"Jah?"
"Huh?"
"Baju?"
"Oh, baju?"
"Iya, yang mana?"
__ADS_1
"Yang biru deh," ucap Vanessa yang sedang memilih dasi untuk dipakai suaminya.
Diam diam Vanessa melirik Judi yang sedang memakai pakaian. Judi menyadarinya. "Hei, Ijah."
"Apaan! Liat juga enggak!"
"Ih kok ngamuk, orang mau minta ganti."
"Ganti apa?" Vanessa berbalik seketika, yang mana membuatnya menelan ludah kasar. Judi hanya memakai celan dalam saja. "Apa kau sengaja telanjang?! Dasar anak kecil!"
"Aku ingin ganti pakaian," ucap Judi mengerutkan keningnya. "Tidak mau pakai kemeja."
"Lalu?"
"Kaos."
"Bukannya kamu mau ke kantor?"
"Iya, tapi ini musim panas. Aku malas."
Vanessa menarik napas dalam, dia memilihkan kaos untuk suaminya. "Seharunya boss itu menaati peraturan."
"Tidak ada pertemuan, jadi memakai kaos saja." Judi memicingkan matanya, meski pandai menutupi, Vanessa tetap memperlihatkan kekesalannya. "Jangan memanggilku anak kecil, mana ada wanita yang tergoda dengan tubuh anak kecil."
"Maka dari itu….," Ucap Vanessa mendekat dan memberikan kaos juga celana panjang pada suaminya. "Ayo wik wik."
Judi menerima pakaian, dia hanya tersenyum tidak menjawab perkataan Vanessa sampai selesai memakai pakaian pun.
"Mas ih! Ayo wik wik!"
Dan tanpa diduga, Judi merangkup pipi Vanessa kemudian mencium keningnya lama.Â
Itu membuat Vanessa malu, dia diam seketika.
"Kenapa diem? Merah tuh pipi?"
Vanessa menarik napas dalam, dia menatap manik Judi. Kenapa pria ini tidak jijik padanya yang telah berlumur kesalahan.
"Kamu gak jijik?"
"Huh?" Judi bingung saat manik Vanessa mulai berkaca kaca.
"Kamu gak jijik gitu? Sama aku? Orang baik…" Suara Vanessa tersendat oleh tangisan yang tertahan. "Aku kan…. Banyak dosa…. Banyak…. Salah…."
Judi tersenyum, dia membawa Vanessa ke dalam pelukannya. "Umar bin Khattab pernah menjadi musul rasulullah. Kenapa harus lihat seseorang dari masa lalu jika dia ingin menjadi lebih baik?"
🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1