
🌹VOTEEE YEEE GHAISSS🌹
"Makasih ya, Nan," ucap Tante Rini memeluk Inanti saat Tante Rini selesai bicara dengan Alan.
Karena Tante Rini bilang ingin bicara berdua dengan Alan, maka darinya sedari tadi Inanti hanya menunggu diluar dengan Nadia.
"Sama sama, Tan."
"Sekali lagi Tante minta maaf ya. Sedalam dalamnya, dari hati Tante, Tante minta maaf ya."
Inanti mengangguk.
"Jangan khawatir, anggota keluarga yang lain sudah mengerti kok," ucap Tante Rini menatap Inanti. "Oh iya, dulu pas Nadia lahiran Tante gak kasih apa apa."
Inanti mengerutkan keningnya saat Tante Rini mengeluarkan amplop. "Ih, apaan sih, Tan."
"Jangan gitu, ini hasil kerja Tante kok. Bukan dari Guntur, terima ya."
"Makasih, Tan."
"Sama sama," ucap Tante Rini mencubit pelan pipi Nadia. "Lain kali main ya ke rumah Tante."
Inanti mengangguk, setahunya rumah Tante Rini terpisah dari Tante Poppy atau Om Guntur, jadi punya sendiri.
"Tante pulang, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah itu, Inanti masuk ke kamar untuk menjumpai Alan. "Mas?"
"Sini, Yank. Mu gendong Nadia."
"Ngomongin apa sama Tante Rini?" Tanya Inanti hati hati, dia takut menyinggung suaminya.
Namun, Alan malah tertawa melihat raut wajah istrinya. "Wajahnya biasa aja dong, kayak nanya sama setan aja."
"Yeee, emang kamu leadernya setan."
Alan menggendong Nadia dan menciumnya. "Apa yang dipegang Nadia?"
"Amplop dari Tante Rini."
"Oh iya, tadi Tante Rini kasih beberapa informasi kalau Om Guntur selama kerja di perusahaan aku sering menggelapkan dana. Pantesan aja duit aku pada ilang, Yank. Ada tuyul."
Inanti mengerutkan keningnya. "Serius, Mas. Kok Tante Rini malah lapor?"
"Gak tau."
"Mas ih!"
__ADS_1
"Ya gak tau, Sayang. Dari tadi aku dengerin aja tuh. Tante Rini ngomong ke kanan ke kiri, untung aja gak putar manis nona."
Kesal dengan suaminya, Inanti menepuknya dengan bantal.Â
"Awwwww….." seketika Alan membuat ekspresi dirinya kesakitan.
"M.. mas? Sakit?"
"Eehehe, kiss dong."
"Ih, nyebelin," ucap Inanti berdiri.
"Mau ke mana, Yank?!"
"Ambil obat kamu lah," ucapnya keluar membawa tas dari sana.
Dan saat hendak kembali masuk, ada telpon dari Madelle.
"Hallo, Assalamualaikum Mah."
"Waalaikum salam, Nan kasih Alan obat yang warna ijo nya ya. Kata dokter biar tidurnya nyenyak."
"Iya, Mah."
"Tapi jangan bilang si Abang. Dia tadi minta dokter gak pake obat tidur. Pas Mamah tanya kenapa katanya mau Quality time buat anak sama kamu."
Seketika wajah Inanti memanas. "Iya, Mah."
🌹🌹🌹
Sudah satu minggu Alan beristirahat di rumah. Satu per satu temannta datang menengok sambil melihat Nadia. Kecuali Delisa, Inanti tidak mendengar kabarnya lagi. Dia seolah hilang ditelan bumi.
Sore ini, Inanti menyiapkan bubur untuk suaminya.
Luka lebam di wajah Alan perlahan hilang, dadanya juga tidak terlalu sakit lagi. Masalah Om Guntur, Riganta sudah mengurusnya.
Mendengar tangisan Nadia, Inanti buru buru masuk dengan membawakan makan malam.
"Loh kok dibawa ke sini sih? Aku kan mau suap suapan sama kamu, Yank."
"Kalau suap suapan sama aku gak kelar kelar, Mas. Kayak kemaren."
"Tapi kan romantis."
Inanti menyimpan nampannya di nakas. "Itu Nadia kok bangun? Kamu bangunin lagi ya?"
Itulah kebiasaan Alan akhir akhir ini, selalu mengganggu bayi kecilnya yang terlalap. Kemudian jika sudah bangun dan menangis dan dirinya tidak bisa mengendalikan, maka akan diserahkan pada Inanti.
"Enggak kok, bangun sendiri."
__ADS_1
"Jangan boong."
"Tadi gerak, terus aku cium jadi bangun."
Inanti yang kesal mencubit dulu perut Alan sebelum mengambil alih bayinya.
"Sakit tau, Yank."
"Tuh kan rewel, jangan dibangunin napa, Mas."
"Lagian dari kemaren kamu gak bangunin aku."
"Gak bangunin gimana?"
Tatapan Alan turun menatap harta karunnya di bawah sana, yang mana membuat Inanti kembali mencubitnya
"Ahahhah, kangen tau, Yank."
"Nanti kalau kamu udah bener bener sembuh, Mas."
"Lamaaa….," Ucap Alan duduk di sofa setelah membuka pintu balkon hingga bisa melihat langit sore. Dengan memegang mangkuk di tangannya, Alan makan di sana.
"Mamah mau ke sini katanya, Mas."
"Mamah keseringan ke sini deh, dia gak minta yang aneh aneh kan sama kamu?"
"Tuman tau nuduh orangtua."
"Bukan gitu, Yank. Takutnya Mamah suruh kamu kasih aku obat tidur kalau malam, biar istirahat."
Inanti menelan ludahnya kasar.
Saat itulah terdengar bunyi bel, Inanti segera membukanya
"Assalamualaikum, uh… cucu cantiknya Mbah Putri, kok bangun? Papa nya ganggu lagi, Nan?"
"Waalaikum salam, iya, Mah."
"Dasar," gumam Madelle mencium pipi cucunya. "Mamah ada kabar bagus buat kamu, Nan."
"Apa, Mah?"
"Ada kompetesi masak, hadiah utamanya studi di luar negri. Bagus kan? Mamah exited banget, hadiah satu sampai tiga loh itu, dikuliahin sama yayasan yang ngadain."
"Beneran, Mah?!" Inanti terdengar antusias.
Dan kalimat itu didengar Alan dari dalam. Dia terdiam sedih, dirinya tahu lambat laun Inanti akan pergi ke luar sana mengejar mimpinya yang pernah rusak.
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC