
🌹VOTE🌹
Alan kembali menggendong Nadia saat bayinya terbangun. Kereta bayinya dia suruh Mang Asep untuk membawanya. Alan ikut ke mana Inanti melangkah.Â
Kini mereka ke bagian sayuran segar. "Beli jagung manis, Nan. Yang semanis kamu tapi."
"Hih," ucap Inanti kesal, kenyataannya dia mengambil apa yang diinginkan Alan.
Berdiri di belakang istrinya, Alan memilih labu untuk Inanti pasak nanti.
Alan memasukannya ke dalam troli.
"Kok pilihnya yang gini sih?"
"Emangnya harus yang kayak gimana?"
"Yang bagus lah," ucap Inanti menyimpan kembali labu itu dan memilihnya dengan cara dipukul pukul.
"Nan, kamu pukul berapa kali pun gak akan berubah itu labu jadi kereta kencana."
"Bisa gak sih kamu diem?"
"Ya enggak lah, emang saya patung," ucap Alan membuat Inanti jengkel.
Dan saat itulah, Nadia menangis ingin minum susu.
"Nan, kayaknya dia mau mimi."
Inanti bingung, tidak ada tempat yang sepi di sini.
"Nanti saya beli penutup buat mimi kamu biar gak diliat orang, sekarang tunggu aja ya di tempat anak anak. Gaada laki laki kok."
Inanti menurut, tapi sebelum Alan yang melanjutkan berbelanja, Inanti menahan tangan Alan. "Haus."
"Nanti saya minum, tunggu sebentar."
Inanti menurut, dia pergi ke play ground anak anak dan menyusui Nadia di sana. Inanti menutupinya dengan jilbab, dia tersenyum melihat Nadia yang membuka matanya. Nadia sepertinya bahagia, dia sangat betah berada di pangkuan Alan.
Inanti mendesah pelan, haruskah dirinya menerima Alan kembali dan merelakan semuanya? Inanti rasa dirinya tidak akan bisa merelakan semuanya, jujur saja dia masih benci Alan. Namun, jika pria itu benar benar berubah, Inanti akan menerimanya. Hanya saja tidak akan semudah itu, Inanti belum bisa percaya sepenuhnya pada Alan.
"Nan?"
Inanti buru buru memasukan kembali buah dadanya saat Nadia melepaskannya.
"Apasih segitunya banget, saya udah pernah liat kali, Nan."
"Gak sopan," ucap Inanti dengan suara penuh penekanan. "Di sini banyak orang."
__ADS_1
"Anak anak juga," ucap Alan duduk di samping istrinya, membuat Inanti bergeser. "Nanti dong, Nan, main maju mundurnya kalau udah di apartemen ya?"
"Gesrek kepala kamu."
"Lha, emang kamu pikir apa? Mikir jorok ya?"
Muka Inanti merah padam. "Bodo ah!"
Nadia kembali menangis.
"Tuhkan Nadia nangis, jangan tinggi tinggi kalau ngomong, Nan. Kasih dia mimi."
"Kamunya pergi, jangan liat."
"Kan saya bilang saya pernah liat lebih dari itu, ngerasain juga pernah tuh."
"Ngeres kamu."
"Ya kan bicara fakta, malu malu aja sama suami sendiri," ucap Alan yang mencubit hidung Inanti
Yang segera Inanti pukul lalu cubit sekeras mungkin.
"Nan, jangan gitu dong. Main kasarnya nanti, jangan di sini."
Inanti membelakangi Alan sambil tertawa tidak percaya. "Gak waras kamu."
🌹🌹🌹
"Makan lah, Nan. Kamu pikir saya mau ngerampok di rumah makan ini?"
Inanti mengerucutkan bibirnya kesal, dia turun dengan Nadia yang ada di pangkuannya. "Apa yang kau lakukan?"
"Mengambil kereta."
Inanti menatap mobil yang penuh dengan belanjaan. Dan ini baru satu mobil, Mang Asep harus menyewa taksi online untuk memgangkut barang lainnya.Â
Mencapai 25 juta menghabiskan semua ini.
"Tidurin di sini, Nan."
"Gak papa biar saya aja yang gendong."
"Cieee…. Nanti makannya mau saya suapin ya?"
"Apasih! Enggak ih!" Inanti menidurkan Nadia di sana seketika. "Minggir! Saya yang dorong."
"Silahkan, Nyonya."
__ADS_1
Rumah makan padang, saat Inanti hamil dia banyak ngidam makanan makanan ini.Â
"Mau makan apa, Nan?"
"Semua."
"Huh? Semua?"
"Katanya kamu kaya."
"Seisi rumah makan saya beli pun bisa, Nan. Tunggu di sini, saya mau pesan dulu," ucap Alan meninggalkan Inanti di meja sana.
Saat Alan memesan di depan, ponsel Alan yang tergetelak di atas meja terus berdering. Panggilan satu sampai ke enam Inanti biarkan, tapi yang ketujuh dia angkat.
Nama Karl tertulis di sana.
Inanti mengangkatnya, dan pria di dalam telpon langsung bicara. "Tuan, tuntutannya berhasil. Kini bibi dari Nyonya Muda sudah dalam pemeriksaan kantor polisi. Uang anda sudah kembali ke rekening, dan mobil sudah kembali ke garasi."
Inanti diam menahan keterkejutan.
"Tuan?"
Inanti menarik napasnya dalam.Â
"Nyonya Muda?" Tanya Karl yang sadar itu adalah Inanti.
"Bibi saya ada di kantor polisi?"
"Iya, Nyonya, dia akan dituntut karena memeras anda."
"Alan merencanakan ini?"
"Tuan Muda tidak ingin keluarga itu terus memeras anda dan memanfaatkan anda, Nyonya Muda. Bahkan mereka sudah berencana akan meminya rumah setelah anda pergi."
"Terima kasih."
Inanti menutup telpon, dan saat itulah Alan datang. "Cieee.. ngangkat telpon suaminya. Bilang gimana? Pasti gini ya, 'Hallo, suami ganteng saya lagi gak ada, nanti lagi ya.' Pasti gitu ya?"
"Dih! Enggak banget bilang kamu ganteng! Mual saya."
"Mual? Jangan mual dulu dong, Nan. Main kuda kudaannya kan belum."
"Ih apasih, otak kamu gesrek tau."
🌹🌹🌹
Tbc.
__ADS_1