
🌹My igeh is : @RedLily123🌹
Selepas sholat subuh, Alan mengaji dengan Inanti yang terbaring di pangkuannya. Di sisi lainnya, Nadia juga tertidur dalam kasur bayinya.
Salah satu tangan Alan mengusap surai istrinya yang lembut.
Karena matahari belum terbit dan kebetulan ini akhir pekan, Alan mencoba menidurkan kembali Inanti. Dia mengaji di tengah ranjang sambil duduk.
Namun, kenyataannya Inanti malah membuat pola pola absurd di sarung suaminya.
Ketika Alan mengakhiri membaca al-Quran, dia mencium kening Nadia dan Inanti bergantian.
"Kok gak tidur lagi?"
"Gak ngantuk, Mas. Lagian bentar lagi matahari terbit."
Alan mengusap rambut istrinya setelah menyimpan al-Quran di nakas. "Mau jalan jalan pagi gak? Di taman belakang tuh."
"Ada tukang bubur, Mas?"
"Gak tau, kita cari aja. Mau gak?"
"Tapi Nadia nya masih tidur," ucap Inanti menatap bayinya. Keduanya hanya terhalang tubuh Alan. "Mas tidur aja lagi sini. Gak kerja kan?"
Alan ikut berbaring diantara anak dan istrinya.
Saat Inanti berkata, "Nengoknya ke sini, Mas…"
Alan berkata pada Nadia yang posisinya di dekat tembok. "Bentar ya, De. Mama nya lagi kangen sama Papa ganteng katanya."
"Halah, kamu juga mau kan," ucap Inanti masuk ke pelukan sang suami yang dibalut kaos hitam. Dia menggesekan kepalanya di sana. "Jadi bener ya, Mas?"
"Apa, Yank?" Tanya Alan tidak mendengar suara Inanti karena terendam pelukan. "Bilang apa, Yank?"
"Yang Judi sama Vanessa."
Alan menelan ludahnya kasar.
"Mas." Inanti mengadah. "Aku mau kamu jujur sama aku. Mereka nikah?"
"Aku denger gitu. Sekarang mereka di Belanda."
"Lalu paket itu?"
"Aku curiga itu bukan Vanessa, soalnya kata Karl kalau Vanessa dibatasi pergerakannya di Belanda sama suaminya."
"Kok mereka bisa ya nikah? Aku gak tau Judi suka sama Vanessa."
Alan menelan ludahnya kasar. "Dia nikah sama Vanessa buat kamu, Yank."
"Huh?"
"Dia bilang lewat Karl, kalau aku nyakitin kamu lagi, dia bakal lepas rantai rubah katanya terus rebut kamu dari aku."
__ADS_1
"Dia bilang gitu?" Tanya Inanti tidak percaya. "Kamu sama Vanessa? Pernah apa aja?"
"Apa aja gimana?"
"Kan dulu kita pisah rumah. Kamu di apartemen, aku di rumah itu. Kamu tinggal sama Vanessa?"
"Ya enggak lah, Yank. Beda."
"Bisa kepikiran sampai mau nikah?"
Alan menelan ludah kasar. "Vanessa yang ngajak, dia yang buatin cincin itu. Makannya aku curiga yang kirim bukan dia, tapi Delisa. Tulisannya aja beda."
"Pernah ciuman sama dia?"
"Enggak ya allah, Nan. Aku gak pernah apa apain dia."
"Pernah nya apa dong? Pegangan tangan? Sun pipi? Kening? Atau pelukan?"
"Pegangan tangan doang, itu juga kalau mau nyebrang."
"Udah?"
"Udah."
"Mantan kamu ada berapa?" Tanya Inanti.
"Kok jadi ke mantan sih?"
"Ya biar nanti aku gak kaget kalau ada tiba tiba cewek yang bilang kaya gini, *Eh, dulu aku sama suami kamu juga pernah liburan di sini loh.* Kayak gitu."
"Mantan ada berapa?" Tanya Inanti lagi.
"Cuma ada dua, Yank. Itu juga pas SMA."
"Pernah ngapain aja?"
"Nggak pernah apa apain, cuma ngerjain tugas bareng. Udah gitu aja."
"Yakin? Masa gak pernah, Mas? Ciuman?"
"Kamu yang pertama."
"Bobo bareng?"
"Ya kamu lah."
"Punya anak?"
"Astagfirullah, dari rahim kamu doang, Yank."
Inanti mengerucutkan bibirnya. "Jangan nakal ya, Mas."
"Enggak, Sayang. Udah sini peluk, nanti keburu Nadia bangun."
__ADS_1
🌹🌹🌹
Andria terbangun saat mendengar suara telpon. "Anjaaaii, bukan warga +62, jangan jangan bule lagi."
Andria segera mengangkatnya. "Hallo?"
"Hallo?"
Keningnya berkerut tahu siapa itu. "Vanessa? Mantan nya Alan?"
"Berisik lu, sebut itu lagi gue santet online lu."
"Lu ngapain telpon gue, bambang?"
"Delisa ambil barang barang gue dari apartemen, gue yakin dia mau berbuat sesuatu."
"Yang jahat kayak lu?"
"Cepetan anjirrrr!"
"Oke!" Andria langsung memakai jaket. Beruntung apartemennya dan Delisa itu bersebelahan.Â
Pun Andria tau kodenya, jadi dia masuk saja.
Ternyata benar, di sana ada banyak barang Vanessa yang berserakan. "Assalamualaikum, Del?"
"Apaan?"
"Anjirrr, kaget gue," ucapnya melihat Delisa yang terlihat mabuk di sana. "Lu mabuk?"
"Lu pikir? Gue turun pangkat sekarang."
Andria mendekat, dia melihat lebih banyak barang Vanessa dan juga surar surat yang dia tulis. "Lu kirim ini ke Alan?"
"Biar nikahan mereka ancur."
"Lu gila ya, Vanessa aja udah tobat."
"Dia telpon lu?"
Andria segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor tadi.Â
"Van, Delisa manfaatin barang lu. Nih lu ngomong."
Delisa yang terlentang tidur di lantai menerimanya, dia berbicara dengan malas. "Van, lu pulang sini!"
"Del, plis. Jangan gitu, jangan ganggu Alan sama Inanti lagi."
"Iya lu enak di sana udah punya laki kaya, lah gue malah turun jabatan!"
"Nanti lu nyesel main main sama Inanti, plis lu harus kapok. Liat gue di sini, gue gak sesenang yang lu pikir, laki gue masih suka sama Inanti. Plis percaya, karma itu ada."
Delisa menggeleng. "Gue bakal ancurin Inanti sama Alan, apa pun caranya biar mereka cerai sekalian. Alan jadi berubah gara gara tuh cewek, Van!"
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC