
🌹VOTE YEE GAISSS🌹
Inanti yang baru saja mendapat kabar dari Ayaza segera menemui Alan di kamar.
"Mas…, kamu udah denger?"
Alan mengangguk, dia mendudukan dirinya dengan hati hati mengingat ada bayi mungil di pangkuannya.Â
"Kamu mau ke sana?"
"Harus deh, Yank."
"Yaudah, sini Nadia nya sama aku aja," ucap Inanti hendak mengambil alih Nadia.
Namun, Alan tidak memberikannya. "Kamu gak ikut?"
"Enggak dulu deh, Mas. Nadia lagi demam."
Alan tidak bisa meninggalkan anak istrinya sendirian.
"Mas, Mamah bilang sama aku katanya Eyang mau diantar sama kamu ke sana. Nadia sama aku aja, gak papa."
"Kita ke dokter dulu yuk, baru aku tenang ninggalin kalian."
Inanti mengangguk. Namun, saat Alan menyerahkan Nadia ke pangkuan istrinya, bayinya terbangun seketika dan menangis kencang. Dia bahkan sampai muntah.
"Ya allah, Mas!"
Alan segera memeluk putrinya lagi, dan benar saja Nadia kembali beringsut diam.
"Ssstttt…. Gak papa, Nak. Sama Papa ya? Mau sama Papa? Udah jangan nangis dong anak sayang Papa."
Bayi mungil itu kembali tengkurap di dada ayahnya. Kaki dan tangannya yang mungil tertutup tubuhnya.
Inanti membersihkan bekas muntah. "Mas, gimana dong?"
Inanti menyesali perbuatannya pernag menolak Alan yang ingin mendatangkan perawat bayi.
"Kita yang panggil dokter. Kamu hubungin Karl ya, suruh minta dokter anak ke sini."
"Iya, Mas."
Dan tidak lama setelah Inanti meminta bantuan Karl, seorang dokter datang memeriksa Nadia. Dengan takut cemas, Inanti menunggu pemeriksaan.
__ADS_1
Beruntungnya, dokter bilang itu gejala biasa jika akan ada pertumbuhan baru dari si kecil.
"Terima kasih, Dok."
"Sama sama, Bu."
Setelah diberikan obat, Nadia tidur terlelap nyenyak. Alan juga bisa menidurkannya.
"Yank…, gak papa kan aku tinggal sendiri?"
Inanti mengangguk, dia datang dan memeluk suaminya yang masih bertelanjang dada. "Maaf ya, Mas. Antara aku dan Eyang Sekar gak ninggalin kesan baik."
"Apaan sih, Nan. Enggak, jangan mikir yang aneh aneh. Kamu sensitif banget segala nyalahin diri sendiri."
CUP.
Alan memberikan kecupan di bibir istrinya. "Jaga Nadia ya, kalau ada apa apa minta bantuan Karl aja."
Inanti mengangguk. "Dimakamkan sekarang, Mas? Ini udah malem loh."
"Gak tau, Yank. Tapi aku harus pergi sekarang."
Inanti mengangguk dan membiarkan suaminya pergi ke walk in closet untuk berpakaian.
"Hallo?"
"Al, dimana kamu?! Jangan mentang mentang semua ada di bawah kendali kamu, kamu melupakan siapa keluarga kamu! Dasar anak durhaka!"
Alan diam mendengarkan kemarahan Om nya, yang tidak lain adalah Guntur.
🌹🌹🌹
Saat pagi hari, baru Eyang Sekar dimakamkan. Sesuai permintaan terakhirnya, Alan mengantarkan jenazah.
Dan saat semua orang mulai pergi, Alan berdiam di samping kuburan Eyang Sekar. Menatap datar, tapi matanya menjelaskan kesedihannya yang amat mendalam.
Guntur yang melihat itu tertawa. "Jangan sok sedih kamu. Gara gara kamu Ibu jadi sakit, kamu pecat semua keluarga kamu. Ingat itu."
Alden yang ada di sana ingin menyerang, Alan seketika menahan tangan saudaranya untuk tidak berubuat sesuatu.
Sampai Guntur pergi, baru Alan berkata, "Jangan buang tenaga."
"Abang nerima aja? Semua anggota keluarga nyalahin Abang loh, dan mereka semakin menyalahkan Mbak Inan."
__ADS_1
"Abang gak mau cari ribut lagi. Biarin mereka mau ngomong apa, asal istri dan anak Abang aman."
Alan menepuk pundak Alden sebelum pergi. Saat hendak mendekati mobil, di sana ada Riganta yang menunggu.
"Kenapa, Pah?"
"Wasiat Eyang, dia mau rumah itu buat kamu."
"Gimana dengan saudara Papah yang lain?"
"Nolak, tapi pengacaranya Ibu udah ngatur semuanya."
"Gak papa, Pah. Alan terima rumah itu, tapi Alan kembalikan untuk keluarga besar. Jadi jangan khawatir."
"Sekarang mau ke mana?" Tanya Riganta.
"Ke rumah Eyang, mau ke kamarnya, katanya ada titipan buat Alan."
Riganta mengangguk dan mengizinkan putranya ke sana.Â
Dan seperti sebelumnya, saat Alan masuk beberapa kerabat yang tidak dia pekerjakan lagi menatapnya tajam.
Apalagi Guntur, dia tidak lagi mendapat pekerjaannya kembali.
Saat Alan naik ke lantai dua, di sana dia mendapati Tante Rini sedang minum anggur.
"Al? Mau ke kamar Eyang?"
"Iya, Tan."
Alan melewatinya dan masuk ke kamar Eyang.
Dia menatap keseluruhan ruang yang menjadi saksi bisu masa kecilnya.
Dan saat Alan membelakangi pintu, Guntur masuk setelah mengunci pintu dari dalam.
Alan menengok. "Om?"
"Al, kamu gak pantes megang kendali."
BUG!
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC