
🛑🚧DILARANG BACA BAGI YANG PUASA! ADA ADEGAN BERBAHAYA ALIAS DEWASA🚧🛑
🌹VOTE DONG GAIS BIAR DAPET PAHALA🌹
Alan terus mencium Inanti, setitik kesadarannya menegur kalau itu salah. Tapi sisi lainnya enggan mengatakan.Â
"Kak, lepas. Saya mohon." Inanti menangis saat Alan membuka kemejanya.
Inanti kembali berusaha berontak, tapi tenaganya jauh lebih besar.
"Jangan, Kak!" Teriak Inanti saat Alan meremas dadanya, bersentuhan langsung dengan kulit. "Kak ja--- hmmppphhhh!"
Tangan Alan yang lainnya mengambil botol alkohol, lalu meminumnya sebelum mencium Inanti dan memaksa perempuan itu menelannya.
Inanti terbatuk batuk akibat panasnya tenggorokan oleh cairan aneh.
"Kak…. Jangan…."
"Diam," ucap Alan hanya dalam satu kata, tidak ada kata lain selain itu.Â
Alan terus meminum alkohol, menjadikan mulutnya sebagai wadah sebelum mengalihkannya pada Inanti.
Perempuan itu merasa pusing, dia tidak bisa melihat dengan jelas. Perlawanannya pun mengendur karena efek alkohol yang memabukan.
Alan menyeringai melihat perempuan di depannya mulai kehilangan kesadaran, matanya bahkan tidak bisa terbuka dengan sempurna.
Tangan Alan mulai membuka semua sisa pakaian Inanti. Di mulai dari bagian atas, Alan membuka rompi dan bra sampai semuanya terlihat.
"Jangan….."
"Diam," ucap Alan mencium kembali bibir Inanti.Â
Membiarkan perempun itu masih dalam keadaan terikat, tangan Alan meluncur ke bagian bawah dan masuk ke dalam celana dalam Inanti.
"Hmmmmppphhhhhhh!" Perempun itu menjerit dalam ciumannya, apalagi ketika tangan Alan memaksanya membuka paha.
Inanti merasa pusing, tubuhnya panas akibat efek alkohol.Â
Ketika tangan Alan melakukan gerakan memutar di bagian kewanitaannya.
Seluruh tubuhnya mendidih, ada peperangan antara pikiran dan napsunya.
"Hentikkaaaann….. akkkkkhhhhh……"
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Inanti merasakan sensasi yang belum pernah dia lakukan, tubuhnya bergetar ditambah sensasi geli yang dilakukan oleh bibir Alan.
Inanti memejamkan matanya kelelahan, efek alkohol semakin mengendalikan. Matanya terasa berat, tapi dia berusaha membukanya dan melihat Alan yang sedang membuka pakaiannya.
"Tidak…. Jangan….."
Alan tidak banyak bicara, dia melepaskan pakaian hingga telanjang dada. Alan menurunkan rel sleting celana nya.
Inanti kembali berontak, tubuhnya bergerak hendak menendang. Tapi Alan menangkap kakinya dan membuka pahanya semakin lebar.
"Jangannnn……"
Dan Alan kembali ******* bibir Inanti guna perempuan itu tidak banyak bicara.Â
"Aaaaakkkhhhhh-- hmmmppphhh!" Inanti terus menggerakan tangan yang diikat hingga lecet.
Sensasi panas menyapu dada saat batang kejantanan Alan menggesek di sana.
Hingga perlahan, Alan mengarahkannya ke sana.
"Aaaakkkhhh…." Inanti merasakan sakit.
Begitu pun dengan Alan yang merasakan ada penghalang dan sangat sempit.
Alan berusaha menekannya, hingga dia berhasil merobek dan… "Aaakhhhhh!" Jerit Inanti kesakitan.
"Kak… udah… "
Bukannya berhenti, Alan kembali mencium bibir Inanti. Dia mulai bergerak perlahan.
"Akkh… aaaakkhh… "Â
Sesuai hentakan Alan, Inanti menahan rasa sakit yang luar biasa.Â
"Kak… sakit…. Udah…." Inanti menangis.
Tapi Alan tidak menghiraukannya, dia menghentak tanpa memikirkan apa pun kecuali napsunya.
🌹🌹🌹
Inanti terdiam selama beberapa minggu terakhir. Sampai dia mendapatkan sebuah suara.
"Inanti, ditunggu Pak Irawan di bagian kemahasiswaan."
__ADS_1
"Baik," ucap Inanti segera berdiri dan keluar dari ruang kelas. Inanti banyak termenung semenjak kejadian itu. Mengingatnya saja membuat dirinya ingin menangis.
"Assalamualaikum," ucap Inanti masuk ke dalam. "Bapak manggil saya?"
"Duduk, Nan."
"Iya, Pak," ucap Inanti menatap takut Pak Irawan di depannya. Inanti tahu, nilainya semakin turun karena dia kurang fokus.
"Nan, saya lihat nilai kamu semakin turun. Kenapa?"
"Eum… maaf, Pak."
"Kamu lagi ada masalah?"
"Enggak, Pak. Cuma kurang fokus aja, maaf, Pak. Saya akan perbaiki."
"Nan, beruntungnya nilai bahasa Inggris kamu bagus. Akan ada pertukaran pelajar, kamu yang dipilih fakultas."
"Sa-- saya, Pak?"
"Ini kesempatan kamu. Untuk lebih lanjutnya, silahkan pergi ke universitas, temui bu Indah."
"Baik, Pak."
Inanti menerima sebuah dokumen, dia berpamitan dari sana dan segera bergegas pergi. Inanti sangat senang, dia tersenyum.
Sampai dia ingat, ruangan bu Indah ada di dekat gedung pasca sarjana. Di universitas yang sangat luas, kenapa dirinya harus ke sana?
Dan sialnya lagi, saat Inanti berhenti sesaat di ujung tangga karena lelah, dia melihat Alan bersama teman temannya sedang bercanda riang sambil melangkah.
Inanti bersembunyi di balik tembok, dia menahan tangisannya di sana. Mengingat Alan memberinya uang untuk tutup mulut.
Sampai Inanti pikir mereka pergi, Inanti keluar dari tempat sembunyi. Lagi lagi takdir mempertemukan mereka, Alan dan Inanti hampir bertabrakan di sana.
Inanti segera menundukan pandangan.
Yang mana membuat Alan melihat sekeliling. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Ma… mau ke kantor kerjasama, Kak."
"Saya bilang jangan muncul lagi di depan saya. Coba lah untuk tidak terlihat oleh saya."
"Ma… maaf, Kak."
__ADS_1
🌹🌹🌹
To be continue