Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Flashback part 1


__ADS_3

🌹VOTE🌹


FLASHBACK.


SATU TAHUN YANG LALU.


Inanti tersenyum riang saat kembali ke rumah reyot di pinggiran kota.


"Assalamualaikum, Ibu?"


"Waalaikumsalam. Ibu di belakang, Nan."


Inanti segera menyimpan tas nya, dia membuka jaket dan segera menuju dapur yang beralaskan tanah. 


Inanti menyalami Ibunya seperti biasa. "Gimana hari pertama kamu ospek?"


"Alhamdulillah lancar, Bu. Tadi keliling keliling kampus. Ibu tau gak, kampusnya gede banget, kayak satu desa gituh, Bu."


"Alhamdulillah, kamu beruntung kuliah di sana."


Lalu fokus Inanti tertuju pada adonan di depan ibunya. "Bikin bajigur sekarang, Bu?"


"Iya, katanya nanti malem ada pertandingan badminton di kampung sebelah."


"Ibu mau ke sana? Jualan di rumah aja, Bu, kaya biasa."


"Gak bisa, Nan. Orang orang pada ke sana, nanti siapa yang jajan dagangan ibu."


Inanti diam, dia tidak bisa membantu karena setiap malam dia bekerja di hotel dekat sini. Beruntung dia diterima bekerja di sana, Inanti memilih semua shift malam untuk saat ini. 


Berangkat sore, pulang dini hari.


"Nan?"


"Iya, Bu?"


"Kamu gak mau berhenti aja kerja di hotel? Kamu kan harus kuliah, fokus sama kuliah. Kerja di hotel juga kan malem terus."


"Gak papa, Bu. Itu hotel bagus, Ibu," ucap Inanti semangat. "Ini namanya rezeki nomplok, Bu. Inan bisa kerja di hotel bagus kayak gitu, bintangnya banyak. Apalagi gajinya lumayan besar."


"Nanti kamu cape."


"Ya enggak lah, Bu. Kan di sana gak tiap tamu minta makanan malam malam. Lagian banyak temennya juga Inan."


Ibunya terlihat sedih, tapi Inanti segera memeluknya erat.


"Maaf, ya. Ibu bikin kamu sengsara."


"Ngomong apa sih, Ibu. Nyebelin banget, aku tuh ya bersyukur punya Ibu, apa pun kondisi Ibu."


Ibunya tersenyum hangat.


"Ibu tau gak?"


"Kenapa?"


"Tadi ada pemateri dari kakak tingkat, Bu. Ganteng banget, namanya Kak Alan, gelarnya udah mau empat, Bu."


Sang Ibu hanya tersenyum. "Jangan, Nan," ucapnya penuh makna.


"Enggak kok, Bu. Cuma kagum doang."


"Jangan mau sama yang ganteng, sama yang kaya, sama yang bergelar kalau gak sayang sama kita. Gak papa jelek, gak papa miskin, toh semua itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi hati enggak, Nan. Cari aman ya, jangan sama yang turunan ningrat, takutnya nanti kita malah tersakiti."

__ADS_1


Inanti tersenyum dan kembali memeluk Ibunya. Sampai sebuah suara pintu terbanting terdengar. "Nuri!"


Inanti terkaget, itu ayahnya. Yang membuat Inanti segera berlari dan menghampiri ayahnya yang datang dengan keadaan mabuk. "Ayah kenapa mabuk lagi?"


"Minggir kamu, anak pembawa siaaall!" 


PLAK!


Tanpa segaja, ayahnya menampar Inanti.


"Ayah, buang ini." Inanti mencoba merebut botol minuman keras dari tangan ayahnya sebelum mencapai ibunya, karena tidak sekali ibunya dipukul oleh botol itu.


"Minggir!"


"Ayah, udah jangan minum!"


BUGH!


Ayahnya mendorong Inanti lalu dengan sengaja menamparnya.


PLAK.


"Nuri!!!"


"Iya, Mas. Iya."


"Ibu jangan ke sini, Ayah lagi mabuk."


"Sini kamu istri bodoh!"


"Ibu jangan ke sini."


"Diaaammm, Inanti!"


"Mas, udah, Mas. Jangan ke anak kita. Aku ke sana, kamu mau apa?" Ibunya yang sakit sakitan sambil batuk datang.


"Ibu, jangan ke sini, Bu!"


BUGH!


BUGH!


Seperti dugaan, ibunya mendapatkan pukulan. "Kamu ambil duit kan! Iya kan!"


"Ibuuuu!"


"Itu duit buat taruhan!"


BUGH!


"Ayah, udah!'


"Aku juga ambil buat bekal anak kita, Mas."


"Dasar wanita sialaaaann!"


🌹🌹🌹


Alan termenung, dia diam di sebuah bar sambil minum alkohol. Di belakangnya, ada klab di mana orang orang menari dengan alunan musik DJ. 


"Al, lu kenapa? Ditolak sama Vanesa?" Tanya Andria yang baru saja datang. "Martini dong, pake zaitun."


"Al, lu kenapa?"

__ADS_1


Alan masih diam, memang benar dia telah menyatakan perasaannya pada Vanesa. Perempuan itu tidak menolak, hanya saja mengatakan, "Al, aku tahu kok perasaan kamu. Sejak dulu aku tau. Tapi aku diem, soalnya aku belum siap dimiliki siapa pun. Kalau kamu tanya soal model yang lagi deket sama aku, ya kita deket aja. Selayaknya aku sama kamu gituh. Aku belum mau dimiliki, Al. Jadi, aku belum bisa balas perasaan kamu. Aku suka kamu, tapi untuk saat ini masih sebagai teman."


Dan sejam setelah mengatakan itu, Alan melihat Vanesa yang berboncengan dengan pria yang sedang dekat dengannya.


"Woy! Al! Lu beneran ditolak Vanesa?"


Alan meneguk alkohol sampai dirinya benar benar kehilangan fokus.


"Al, lu ngefek."


"Diem," ucap Alan menyimpan beberapa uang lembar lalu melangkah keluar klab.


"Al, lu mau kemana?"


Alan tidak menghiraukan, dia masuk ke mobil dan mengendarai sendiri. Dia terlihat bugar, tapi pikirannya kacau dan mabuk oleh alkohol.


Alan menuju ke hotel miliknya yang terdekat, meminta kamar suite room yakni di paling atas.


Alan merebahkan diri di kasur ketika sampai di kamar utama ruangan yang begitu megah itu.


Sampai Alan merasa butuh alkohol lagi, dia menelpon. "Berikan lebih banyak alkohol."


Kemudian Alan menutupnya. Dia menunggu sambil merebahkan lentang tubuhnya.


Saat itu Inanti masuk dengan menggunakan kartu khusus pegawai di suite room. Dia melangkah mencari sosok yang menghuni kamar ini.


Sampai Inanti mengetuk kamar utama, tidak ada yang menjawab. Membuatnya masuk ke dalam secara perlahan. 


Alangkah terkejutnya Inanti. 


"Kak Alan?" Tanya Inanti pada diri sendiri, pasalnya Alan adalah mahasiswa tingkat akhir S2 yang pernah menjadi pemateri saat dirinya ospek. Selain itu, Alan adalah mantan ketua Dewas Eksekutif Mahhasiswa yang memenangkan kejuaraan tingkat Asia.


Perlahan Inanti mendekat, dia mencoba profesional. "Tuan, minuman anda."


"Simpan di meja."


"Baik," ucap Inanti berbalik.


Dan saat itulah Alan bangun, dia melihat perempuan dengan rok pendek. Ketika perempuan itu membalikan badan, Alan menyeringai. Setitik kesadarannya masih ingat dia mahasiswa baru yang memberinya pertanyaa. Tapi sisi setan nya membisik bahwa perempuan ini sempurna untuk menuntaskan amarah.


"Apa ada lagi yang bisa saya ban--- Aaaaaakkkhhhhh!"


Inanti berteriak saat Alan menariknya dan melemparnya ke atas ranjang.


"Apa yang kau lakukan? Lepas!"


Inanti panik ketika Alan mengikat tangannya dengan dasi pria itu, kemudian mengangkat kedua tangannya yang telah terikat di atas kepala.


"Lepassss! Tolonggggg!" Teriak Inanti saat Alan menindihnya dengan tangan yang mulai membuka kancing bajunya.


"Tol---hmmmppphhhh!"


Alan lepas kendali, dia ingin menuntaskan semua perasaan kecewa dalam hatinya. Dia menahan pinggang Inanti saat mencoba membuka celana di balik rok.


"Jangan, Kak. Jang--- hmmppphhhh!"


Alan meraup bibir Inanti, menciumnya dan menggigitnya. Alan menuntun dibalas dengan ciuman. Karena tidak mendapatkannya, tangan Alan turun untuk menyentuh dada Inanti sehingga mulutnya terbuka.


"Hmmmppphhh!"


🌹🌹🌹


To Be continue..

__ADS_1


ha ha..


__ADS_2