Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Melawan Hauw Tian 2


__ADS_3

Jurus pamungkas Dewa Macan Mencakar Langit yang di keluarkan oleh Hauw Tian langsung menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Jari jemari tangannya yang mengeluarkan asap hitam pekat berbau anyir darah mengarah ke dada Panji Tejo Laksono. Namun sang pangeran muda dari Kadiri itu sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.


Hauw Tian menyeringai lebar sedangkan Kong San si Pengemis Tongkat Hitam langsung cemas. Dia tahu kehebatan ilmu puncak Dewa Macan Mencakar Langit yang diberi nama Cakar Macan Dewa ini.


"Pendekar muda !!


Menghindarlah dari cakar si keparat itu!"


Teriakan keras Kong San memperingatkan Panji Tejo Laksono. Namun sang pangeran muda hanya tersenyum simpul sembari menatap tajam ke arah Hauw Tian yang melesat ke arah nya.


"Mampus kau bocah!"


Shrraaaakkkkhhhh !!


Lima larik sinar hitam Cakar Macan Dewa disertai asap tebal hitam langsung menghantam dada Panji Tejo Laksono. Sekejap kemudian Hauw Tian terkejut bukan main melihat serangannya sama sekali tidak mampu menembus kulit Panji Tejo Laksono. Jari jemari tangan kanannya seperti menghantam lempengan logam keras.


Saat Hauw Tian belum lepas dari kekagetannya, Panji Tejo Laksono langsung melayangkan tendangan keras kearah dada sang Tetua Kedua Sekte Macan Besi itu.


Dhiiieeeessshh !


Hauw Tian dengan cepat menyilangkan kedua tangan nya untuk menahan tendangan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono. Pria paruh baya itu sampai terseret mundur beberapa tombak ke belakang.


Belum juga Hauw Tian menyadari sepenuhnya bahwa dia terdesak, Panji Tejo Laksono melompat tinggi ke udara dan meluncur turun dengan cepat kearah sang Tetua Kedua Sekte Macan Besi itu sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya yang sudah berwarna merah menyala seperti api.


Whhhuuutthh !


Selarik sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah Hauw Tian. Tetua Kedua Sekte Macan Besi ini segera sadar bahwa nyawanya dalam bahaya. Segera dia berguling ke arah samping menghindari serangan mematikan dari Panji Tejo Laksono.


Blllaaammmmmmmm !!


Lobang sebesar kerbau tercipta dari ledakan dahsyat yang terdengar hantaman Ajian Tapak Dewa Api di tanah. Hauw Tian segera melompat menjauh dari tempat Panji Tejo Laksono mendarat dan menatap ke arah Panji Tejo Laksono dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


'Ilmu kungfu pendekar muda ini sangat aneh. Hantaman tenaga dalam yang di lepaskan nya mampu membuat lobang sebesar itu. Kalau itu tadi mengenai ku, aku pasti mampus.


Aku tidak boleh gegabah menghadapi nya', batin Hauw Tian.


Sedangkan Kong San yang melihat kejadian itu pun turut kaget melihat kemampuan beladiri yang dimiliki oleh pendekar muda ini. Dia pernah mendengar cerita dari seorang sahabatnya yang pernah berdagang ke Nusantara, bahwa ada banyak pendekar yang memiliki ilmu beladiri aneh di negeri yang di kunjungi nya. Kong San sedikit tak percaya mendengar cerita itu namun sekarang setelah melihat kemampuan beladiri yang dimiliki oleh Panji Tejo Laksono, Kong San pun mempercayai apa yang diceritakan oleh kawannya.


Kali ini Hauw Tian tidak menyimpan tenaga dalam nya lagi. Dia berniat untuk mengadu nyawa dengan Panji Tejo Laksono. Sebab dia tahu, jika sampai setengah setengah melawan sang pangeran muda ini, bisa jadi dia dengan mudah dapat di habisi.


Hauw Tian memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada tangan kanannya. Asap hitam pekat berbau anyir darah pun segera bercampur dengan cahaya merah redup. Ini adalah ilmu pamungkas nya yang sangat jarang dia keluarkan untuk bertarung. Dia mengeluarkan tahap lanjut dari Cakar Macan Dewa yang dinamai Cakar Macan Dewa Neraka. Angin panas berseliweran di sekeliling tangan kanan Hauw Tian.


Melihat lawan sepertinya mengeluarkan ilmu pamungkas, Panji Tejo Laksono langsung memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Tameng Waja yang melindungi tubuh nya. Sedangkan tangan kanannya masih berwarna merah menyala seperti api.


Kong San dan para anggota Partai Pengemis langsung melebarkan jarak dari mereka berdua.


Hauw Tian dengan cepat melesat ke arah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di tengah halaman kuil tua. Dengan cepat ia mengayunkan cakar tangan kanannya yang berwarna merah redup berhawa panas dan berbau anyir darah.


Jlllaaaaaaaaaarrrrr !


Asap hitam pekat segera menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono saat cakar tangan kanan Hauw Tian. Tetua Kedua Sekte Macan Besi itu tersenyum lebar. Tak satupun lawan yang dihadapi nya sanggup bertahan hidup saat menerima Cakar Macan Dewa Neraka miliknya.


Saat asap hitam mulai menghilang, mata Hauw Tian kembali melotot lebar. Tubuh lawannya terlihat seperti di tutupi oleh sinar kuning keemasan yang menyilaukan mata. Sang pangeran muda dari Kadiri ini tersenyum tipis sembari menatap ke arah Hauw Tian yang pucat pasi.


"Tu.. Tubuh Emas?


Ba-bagaimana mungkin kau punya tubuh emas? Bagaimana mungkin?", teriak Hauw Tian dengan gagap.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi sekarang saatnya aku menyerang balik!", usai berkata demikian Panji Tejo Laksono segera menghantamkan tapak tangan kanan nya pada Hauw Tian.


Whhhhuuuuggghhh !


Dengan sigap, Hauw Tian berkelit menghindari serangan Panji Tejo Laksono hingga sinar merah menyala berhawa panas yang keluar dari telapak tangan kanan Panji Tejo Laksono menghantam sebuah arca kilin suci di depan kuil tua.


Blllaaammmmmmmm !!


Arca kilin ini langsung meledak dan hancur berkeping keping. Hauw Tian yang sadar bahwa ia bukan lawan yang sepadan untuk Panji Tejo Laksono, langsung melompat ke arah atap bangunan kuil tua untuk melarikan diri.


Panji Tejo Laksono tentu saja tidak melepaskan lawan nya dengan mudah. Saat Hauw Tian baru sampai di atas atap, Panji Tejo Laksono tiba-tiba muncul di hadapan nya dan menghantam dada Hauw Tian dengan Ajian Tapak Dewa Api nya.


Blllaaammmmmmmm...


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!!


Hauw Tian menjerit keras saat tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono telak menghajar dada nya. Tetua Kedua Sekte Macan Besi itu terlempar jauh ke arah lantai kuil tua dan menghantam tanah dengan keras. Pria paruh baya ini menggeram keras sebentar sebelum akhirnya tewas dengan dada hangus seperti terbakar api. Dari mulutnya darah segar terus mengalir keluar.


Panji Tejo Laksono segera mendarat di dekat mayat Hauw Tian. Kong San segera mendekati Panji Tejo Laksono.


"Pendekar muda,


Kau sungguh hebat. Si bangsat ini adalah kaki tangan Gubernur Zhao. Kau sebaiknya berhati-hati", ujar Kong San sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Kaki tangan Gubernur Zhao?


Apa maksud mu Tetua?", Panji Tejo Laksono masih belum mengerti maksud omongan dari ketua cabang Partai Pengemis cabang Kota Chenliu ini. Kong San segera menceritakan tentang apa yang di lihat oleh para anggota nya dan hal hal apa saja yang mereka ketahui.


Hemmmmmmm...


"Orang ini menyusup ke dalam istana Gubernur Zhao, Tetua..


Aku Tejo Laksono, mengucapkan terima kasih atas bantuan yang tetua berikan", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Kong San dengan cara khas Tanah Tiongkok.


"Saudara Thee Jo tidak perlu sungkan. Aku Kong San, sudah lama tidak suka dengan sikap Hauw Tian ini. Hari ini melihat nya mati, aku sangat puas", ujar Kong San sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu, aku mohon pamit Tetua..


Kawan kawan ku di Istana Gubernur Zhao pasti mengkhawatirkan keselamatan mu", Panji Tejo Laksono menghormat kembali pada Kong San. Ketua cabang Partai Pengemis itu membalas dengan santun. Selepas berpamitan, Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah Istana Gubernur Zhao Yun yang ada di tengah Kota Chenliu.


Kong San menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono sembari berkata, " Pendekar muda ini benar benar membuka mata ku bahwa diatas langit masih ada langit".


Sesampainya Panji Tejo Laksono di Istana Gubernur Zhao, para prajurit Istana Gubernur telah bersiaga. Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung membuat mereka menghentikan langkah sang pangeran muda.


"Berhenti kau!


Siapapun di larang memasuki Istana Gubernur Zhao", hardik seorang prajurit penjaga gerbang istana dengan mengacungkan tombak nya ke arah Panji Tejo Laksono.


"Tuan prajurit,


Aku adalah anggota pengawal Tuan Putri Song Zhao Meng yang baru saja mengejar seorang perusuh. Mohon diijinkan untuk masuk", jawab Panji Tejo Laksono dengan sopan.


"Ah aku tidak percaya..


Kawan kawan, geledah dia. Kalau melawan tangkap dia dan masukkan ke dalam penjara", teriak si prajurit penjaga gerbang istana dengan lantang hingga membuat beberapa prajurit yang bertugas berjaga langsung mengepung Panji Tejo Laksono.


Saat mereka hendak bergerak, terdengar suara keras dari arah belakang.

__ADS_1


"Hei apa yang sedang kalian lakukan ha? Kalian cari mati ya?"


Para prajurit penjaga gerbang istana langsung menoleh ke arah sumber suara dan Chen Su Bing, pengawal pribadi Putri Meng Er terlihat berjalan mendekati mereka.


"Tuan Chen,


Orang ini kami curigai sebagai anggota komplotan perusuh yang baru saja mengacaukan keamanan istana. Mohon Tuan Chen tidak menghalangi tugas kami", ujar si prajurit yang bicara dengan Panji Tejo Laksono tadi.


"Dasar bodoh, dia adalah orang dekat Tuan Putri Meng Er..


Kalau kalian sampai mengganggu nya, apa kalian sudah siap kehilangan nyawa ha?", bentak Chen Su Bing sembari mendelik kereng pada para prajurit penjaga gerbang istana Gubernur Zhao itu.


"HAAAAAHHHHHHHH???!!


Tapi tapi dia bukan orang Han, Tuan Chen. Bagaimana mungkin dia adalah kawan dekat Putri Song Zhao Meng?", gugup sang prajurit penjaga gerbang istana mendengar perkataan Paman Chen.


"Orang Han atau bukan, itu bukan urusan kalian..


Cepat menyingkir dari hadapan Tuan Muda Thee. Jika tidak bersiaplah untuk kehilangan kepala kalian ", ancam Chen Su Bing yang seketika membuat ciut nyali para prajurit penjaga gerbang istana. Mereka segera membuka jalan bagi Panji Tejo Laksono.


"Tuan Muda, maafkan sikap kami baru saja. Tuan Muda orang besar, mohon tidak perhitungan dengan orang kecil seperti kami", ujar si prajurit penjaga gerbang istana dengan menunduk ketakutan.


"Itu bukan masalah, kalian hanya menjalankan tugas.


Aku masuk dulu ke dalam ", usai berkata demikian Panji Tejo Laksono segera meninggalkan gerbang istana Gubernur Zhao dan menuju ke tempat peristirahatan nya setelah menghormat pada Chen Su Bing.


Malam panjang itu berakhir setelah Panji Tejo Laksono beranjak ke peraduannya dengan tubuh yang letih.


Matahari pagi mulai naik dari ufuk timur, bersamaan dengan dimulainya geliat kehidupan manusia di Kota Chenliu. Berita penyusupan beberapa orang anggota Sekte Macan Besi ke Istana Gubernur Zhao Yun seketika menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan para penduduk Kota Chenliu. Berbagai pendapat dan imbuhan mengenai kejadian itu menjadi bahan perbincangan utama di seluruh penjuru kota.


Zhao Wei membanting cawan arak nya pagi itu usai mendengar berita kegagalan Hauw Tian dan kawan-kawan nya. Bahkan hingga saat ini, Hauw Tian sendiri masih belum melapor atau terlihat di seluruh wilayah Kota Chenliu. Ini membuat Zhao Wei semakin kesal.


"Dasar tidak berguna!


Hei kau, apa tak satupun orang kita melihat keberadaan Hauw Tian? ", tanya Zhao Wei sembari menatap ke arah dua orang pengawal pribadi nya.


"Ampun Tuan,


Saat ini belum ada satupun orang yang melihat keberadaan Hauw Tian. Saya hanya khawatir Hauw Tian sudah keluar dari Kota Chenliu karena ketakutan akan menjadi buronan kita", jawab si pengawal dengan cepat.


"Itu tidak mungkin, Hauw Tian tak sebodoh yang kalian kira. Andaikata dia ketakutan pun, pasti akan memilih untuk bersembunyi di dalam kediaman keluarga Zhao ini.


Hemmmm...


Kemana si tua bangka itu sebenarnya?", ujar Zhao Wei sembari menggebrak pegangan kursi kayu nya.


Dari arah luar, seorang lelaki bertubuh kurus berlari masuk ke dalam tempat Zhao Wei duduk.


"Lapor Pangeran,


Seorang mata mata kita di markas Partai Pengemis baru saja memberikan berita bahwa Hauw Tian terbunuh di markas mereka. Pelakunya adalah salah satu orang yang katanya mengejar Hauw Tian semalam", ujar si lelaki bertubuh kurus itu segera.


APAAAAAA???!!!!


Kaget Zhao Wei mendengar laporan dari anak buah nya. Putra kedua Gubernur Zhao Yun itu segera berdiri dari tempat duduknya sembari memaki maki.


"Thee Jo keparat !

__ADS_1


Tunggu saja pembalasan dari ku!!"


__ADS_2