Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Si Ular Kecil


__ADS_3

Luh Jingga mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh Song Zhao Meng. Rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak menuju ke arah markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga, mengikuti langkah Long Lian dan dua orang pengawal pribadi nya.


Markas Jasa Pengawalan Bendera Naga terletak di tepi tiga sungai yang mengapit daerah dataran yang subur di timur Kota Zhou. Tiga sungai itu yaitu Sungai Yinghe, Sungai Shahe dan Sungai Jialu lalu membentuk sebuah sungai besar Yinghe yang mengalir ke arah Laut China Timur. Sungai ini menjadi jalur perdagangan yang cukup sibuk karena para pedagang lebih suka melewati sungai daripada lewat darat yang bergunung-gunung. Selain itu, di daratan sangat rawan mengalami perampokan sedangkan di sungai sangat sedikit ada perompak sungai yang beraksi. Inilah sebabnya kota pelabuhan sungai menjadi daerah ramai dikunjungi oleh orang orang yang sekedar lewat atau juga para pedagang yang berjualan dengan memanfaatkan jalur perdagangan sungai.


Rombongan ini lantas menyeberangi Sungai Jialu yang berair dangkal dengan memanfaatkan perahu yang memang di sediakan oleh Jasa Pengawalan Bendera Naga untuk datang ke tempat mereka.


Selepas menyeberangi Sungai Jialu, rombongan Panji Tejo Laksono sampai di sebuah rumah bertembok tinggi yang mirip dengan sebuah benteng pertahanan. Bahkan gerbang masuk nya saja di jaga oleh beberapa orang anggota Jasa Pengawalan Bendera Naga yang memakai seragam berwarna merah dengan bulatan putih di punggung pakaian yang bertuliskan huruf Tiongkok yang berbunyi 'Bendera Naga'.


Melihat kedatangan Long Lian, para penjaga gerbang masuk markas besar itu segera menghormat pada Nona Besar ini dan cepat cepat membuka pintu gerbang. Rombongan Panji Tejo Laksono pun segera masuk ke dalam markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga.


Begitu sampai di sebuah bangunan besar yang terletak di tengah markas, seorang wanita paruh baya yang berdandan layaknya seorang pendekar wanita melesat cepat kearah Long Lian. Sekilas wajah nya memang secantik Long Lian meski sudah nampak keriput menghiasi wajahnya karena di makan usia. Dia adalah Jiang Hua, istri Long Wu sang pimpinan Jasa Pengawalan Bendera Naga.


"Lian Er,


Sudah pulang kau rupanya. Kemana saja kau bermain hari ini?", tanya Jiang Hua penuh perhatian pada putri semata wayangnya.


"Ibu, aku bukan anak kecil lagi jadi ibu jangan bersikap seperti itu. Malu kalau sampai di lihat orang.


Oh iya ibu, ini Tuan Muda Thee.. Yang lainnya adalah para pengikutnya. Untuk malam ini ijinkan mereka untuk bermalam di tempat kita. Chow Yun tadi mengancam mereka, makanya mereka ku bawa kemari", Long Lian menatap wajah cantik ibunya dengan tatapan mata penuh permohonan. Mendengar penuturan Long Lian, Jiang Hua langsung mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


"Kenapa mereka bisa bermasalah dengan Chow Yun si berandal kecil itu?", tanya Jiang Hua tanpa mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono.


"Kau seperti tidak mengenal watak Chow Yun, Ibu..


Tuan Muda Thee baru saja masuk ke Kota Zhou, tentu saja Chow Yun akan mencari gara-gara dengan dia. Sebagai warga Kota Zhou yang baik, tentu saja aku harus menolongnya bukan?", senyum tipis terukir di wajah cantik Long Lian.


"Ah aku tahu niat mu. Coba kalau dia jelek, pasti kau tidak akan membantu nya kan? Dasar rubah kecil..


Baiklah, untuk malam ini saja aku ijinkan mereka bermalam di tempat kita. Besok pagi setelah sarapan, mereka harus meninggalkan tempat ini. Aku tidak mau harus berurusan dengan Chow Yun si keparat itu ", ucap Jiang Hua sembari berbalik badan dan melangkah meninggalkan halaman kediaman nya.


Setelah mendapat persetujuan dari ibunya, Long Lian mengantar rombongan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan ke salah satu bangunan yang ada di dekat tembok yang mengelilingi seluruh markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga.


Sementara itu, di markas besar Jasa Pengawalan Tian Ming sedang terjadi pembicaraan antara Chow Yun dan Chow Tian Ming di ruang utama tempat itu. Sesuai dengan dugaan Long Lian, Chow Yun mengadukan perihal penghinaan terhadap dirinya. Tentu saja dengan omongan seolah dia yang ada di pihak tidak bersalah.


Hemmmmmmm


Terdengar suara hembusan nafas kesal dari Chow Tian Ming usai Chow Yun selesai bercerita.


"Dasar perempuan sial..


Selama ini aku sudah cukup bersabar dengan sikap nya yang merendahkan martabat mu, Anak ku. Si tua Long Wu harus membayar mahal untuk perbuatan rubah kecil itu", Chow Tian Ming menepak gagang kursi kayu nya dengan keras.


"Benar ayah.. Perbuatan mereka tidak bisa di maafkan begitu saja. Kalau tidak, nama Jasa Pengawalan Tian Ming akan di pandang sebelah mata oleh orang orang Kota Zhou. Ayah harus menegakkan keadilan untuk ku", Chow Yun semakin memanas-manasi suasana hati Chow Tian Ming.


"Ah So, Ah Feng..


Kumpulkan semua orang kita. Hari ini kita akan mendatangi Jasa Pengawalan Bendera Naga. Cepat laksanakan", perintah Chow Tian Ming pada dua bawahannya dengan cepat.

__ADS_1


Dua orang bertampang menyeramkan itu segera membungkuk hormat kepada Chow Tian Ming dan segera bergegas keluar dari dalam ruangan utama markas Jasa Pengawalan Tian Ming.


Matahari telah bergeser dari atas kepala. Kota Zhou yang tenang langsung heboh saat melihat ratusan orang Jasa Pengawalan Tian Ming yang memakai baju hitam bergerak menuju ke arah markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga. Beberapa prajurit Walikota Zhou, Jiang Wei yang melihat akan ada masalah besar yang mungkin terjadi langsung bergegas menuju ke arah kediaman Walikota Zhou yang terletak di tengah kota untuk melaporkan kejadian itu.


Para pelaku usaha yang ada di sepanjang jalan Jasa Pengawalan Tian Ming langsung menutup pintu lapak dan kedai mereka. Bahkan para pelacur nakal yang biasanya selalu bersikap genit pada semua orang, langsung berhamburan masuk ke dalam tempat mereka karena takut terjadi apa-apa. Rombongan Jasa Pengawalan Tian Ming terus bergerak menuju ke arah markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga sembari menebar ketakutan pada setiap warga kota Zhou yang berpapasan dengan mereka.


Long Wu yang sedang mengawasi penataan barang yang hendak mereka antarkan ke Kota Kaifeng langsung terkejut bukan main saat melihat pintu gerbang markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga tiba tiba di dobrak dari luar bersamaan dengan tubuh dua orang penjaga gerbang yang terkapar bersimbah darah.


Segera Long Wu bergerak menuju ke arah pintu gerbang markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga diikuti oleh para anggota kelompok Jasa Pengawalan Bendera Naga.


"Apa-apaan ini, Chow Tian Ming?


Apa kau ingin mencari masalah dengan Jasa Pengawalan Bendera Naga kami ha?", hardik Long Wu sembari menunjuk ke arah Chow Tian Ming yang berdiri dengan pongah di depan rombongan Jasa Pengawalan Tian Ming di belakangnya.


"Si tua Long Wu, kau ini selalu saja sombong seperti biasanya..


Hari ini aku Chow Tian Ming akan membuat perhitungan dengan Long Lian. Mana gadis tengik itu bersembunyi? Cepat suruh dia keluar ", ucap Chow Tian Ming yang terlihat sama sekali tidak merasa takut dengan Long Wu.


"Perhitungan dengan Long Lian? Apa maksud mu, Tian Ming? Aku tidak mengerti sama sekali ", balas Long Wu seraya menatap heran kearah Chow Tian Ming, pimpinan Jasa Pengawalan Tian Ming.


"Huhhhhh dasar tua bangka bodoh..


Putri tengik mu sudah menghina putra ku Chow Yun dan Jasa Pengawalan Tian Ming di rumah makan Nyonya Wang. Cepat suruh dia keluar untuk memberi penjelasan, jika tidak hari ini aku akan meratakan tempat ini ", ancam Chow Tian Ming segera. Chow Yun yang ikut hadir menyeringai lebar menatap ke arah Long Wu.


"Bangsat !


Kau berani mengancam ku di tempat ku? Apa kau pikir aku takut pada mu, Tian Ming?!", Long Wu langsung mengangkat tangan kanannya ke atas kepala dan dari atas atap bangunan markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga bermunculan puluhan orang bersenjatakan panah yang langsung diarahkan pada Jasa Pengawalan Tian Ming. Melihat itu, para anggota Jasa Pengawalan Tian Ming langsung membentuk pagar betis untuk melindungi pimpinan mereka. Suasana seketika menjadi tegang.


"Ayah, ada apa ini? Kenapa kalian hendak bertarung?", tanya Long Lian pada Long Wu sembari menatap ke sekeliling tempat itu.


"Si keparat Tian Ming bilang kalau kau menghina Chow Yun dan Jasa Pengawalan Tian Ming di rumah makan Nyonya Wang. Mereka kemari untuk menuntut penjelasan dari kita dan mengancam akan menghancurkan markas Jasa Pengawalan Bendera Naga.


Mengancam ku? Huhhh aku tidak takut dengan mereka!", jawab Long Wu sembari menatap tajam ke arah Chow Tian Ming dan Chow Yun yang berdiri di tengah pagar betis perlindungan dari para anak buahnya.


"Aku menghina Jasa Pengawalan Tian Ming? Kapan aku melakukannya? Chow Yun, kau jangan memutar balikkan kenyataan untuk mengadu domba antara Jasa Pengawalan Bendera Naga dan Jasa Pengawalan Tian Ming ya..


Cepat katakan pada semua orang yang sebenarnya terjadi", hardik Long Lian sembari mendelik tajam ke arah Chow Yun.


"Apa yang harus aku jelaskan, Adik Lian?


Kenyataan nya kau memang menghina Jasa Pengawalan Tian Ming dengan membela pemuda itu", Chow Yun menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono yang terus berdiam diri mengamati situasi.


Semua mata langsung tertuju pada sosok Panji Tejo Laksono. Penampilan nya yang berbeda dengan orang Tionghoa pada umumnya menghadirkan berbagai pertanyaan tentang jati diri sang pemuda tampan yang memakai baju biru tua itu.


"Tuan Muda Thee tidak bersalah. Kau yang sengaja mencari masalah dengan nya. Dia bahkan tidak bicara apa-apa saat kau membual tentang nama besar keluarga mu.


Chow Yun, kau sungguh ular berkepala dua", bela Long Lian dengan keras.

__ADS_1


Huhhhhh..


"Kau terus membela nya. Hari ini aku akan membuktikan kalau aku lebih hebat dari pemuda bermata lebar itu.


Ayah, aku bisa menganggap masalah penghinaan Adik Lian Er tidak pernah terjadi tapi dengan syarat bahwa pemuda itu harus bertarung melawan ku", Chow Yun menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono. Dia begitu percaya diri dengan kemampuan beladiri yang dimiliki nya.


"Si tua Long Wu,


Aku sepakat dengan Ah Yun. Apa kau keberatan dengan syarat yang diinginkan oleh anak ku?", Chow Tian Ming mengalihkan pandangannya pada Long Wu. Dia juga tidak ingin bertarung melawan Long Wu, sekedar ingin menggertak nya saja. Mendengar ucapan itu, Long Lian hendak angkat bicara namun Panji Tejo Laksono langsung bicara lebih dulu.


"Tidak perlu menunggu jawaban Tetua Long, Pak Tua..


Aku bersedia untuk bertarung melawan putra mu", jawab Panji Tejo Laksono sembari melangkah maju.


"Tapi Tuan Muda Thee, dia..", belum sempat Long Lian menyelesaikan omongannya, Long Wu langsung mengangkat tangan kanannya sembari berkata, " Lian Er, cukup.. Biarkan saja Tuan Muda Thee ini menyelesaikan tantangan dari Chow Yun. Kita tidak boleh ikut campur urusan ini".


Meski dengan berat hati, Long Lian akhirnya membiarkan Panji Tejo Laksono maju ke halaman markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga.


Semua orang segera mundur dari halaman markas besar Jasa Pengawalan Bendera Naga untuk memberikan ruang bagi Panji Tejo Laksono dan Chow Yun bertarung.


"Tuan Muda Thee, salahkan nasib sial mu karena bertemu dengan ku!"


Setelah berkata demikian, Chow Yun langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari melayangkan serangan cepat kungfu nya. Asal tahu saja, Chow Yun adalah murid dari Coa Xi Yang, pendekar yang cukup punya nama besar di dunia persilatan Tanah Tiongkok dengan gelar Si Ular Gunung Salju yang memiliki jurus kungfu andalan yang di namakan 18 Ular Surga. Chow Yun sendiri cukup mahir menggunakan ilmu beladiri yang di ajarkan oleh gurunya hingga mendapat julukan sebagai Si Ular Kecil.


Tangan kanan Chow Yun yang berbentuk seperti kepala ular kobra langsung membuat gerakan seperti mematuk pada leher Panji Tejo Laksono.


Whuuthhh !


Panji Tejo Laksono hanya menggeser posisi tubuhnya sedikit hingga serangan lawan bisa di hindari dengan mudah. Melihat itu, Chow Yun pun langsung melancarkan serangan-serangan yang bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono. Namun sang pangeran muda dari Kadiri ini menggunakan Ilmu Silat Padas Putih nya, mampu mengimbangi permainan kungfu Chow Yun yang menyerang ke arah titik mematikan.


Whuuthhh whuuthhh... !!


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh !


Jual beli serangan antara dua kepandaian ilmu beladiri ini berlangsung sengit dan menegangkan. Long Lian yang semula mengira kalau Panji Tejo Laksono akan di kalahkan dengan mudah oleh Chow Yun, mulai tersenyum lega karena melihat Panji Tejo Laksono perlahan mulai terlihat mengungguli permainan kungfu Chow Yun. Ini terbukti dengan adanya beberapa pukulan keras dan tendangan yang menghantam tubuh putra Ketua Jasa Pengawalan Tian Ming ini.


Whuuthhh dhaaaasssshhh...


Aaauuuuggggghhhhh !!


Chow Yun melengguh keras saat tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono telak menghantam rusuk kiri nya. Putra Ketua Jasa Pengawalan Tian Ming ini terhuyung huyung mundur sambil memegangi rusuknya yang sakit seperti baru saja di hantam balok kayu besar. Dia terlihat meringis menahan rasa sakit.


Saat yang bersamaan, Song Zhao Meng yang berdiri di samping Luh Jingga mulai kesal karena merasa Panji Tejo Laksono tidak sungguh-sungguh menghadapi tantangan Chow Yun. Putri Kaisar Huizong ini segera berteriak lantang, "Kakak Thee sudah cukup main main nya. Cepat sudahi perlawanan cecunguk itu".


Mendengar ucapan itu, Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti. Segera kedua telapak tangannya bersatu di depan dada. Tiba tiba saja muncul sinar merah menyala seperti api membara terlihat bergulung gulung di tubuh Panji Tejo Laksono. Hawa panas segera menyebar ke seluruh tempat itu. Kedua telapak tangan Panji Tejo Laksono yang berwarna merah menyala akibat Ajian Tapak Dewa Api langsung di hantamkan pada Chow Yun.


Shhiiiuuuuuuttttt..!!!

__ADS_1


Chow Tian Ming yang melihat nyawa putranya dalam bahaya, langsung melesat cepat kearah Chow Yun dan berhasil menyelamatkan nyawa putra keduanya ini tepat sesaat sebelum sinar merah menyala Ajian Tapak Dewa Api menghantam tubuh Chow Yun.


Blllaaammmmmmmm !!


__ADS_2