Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Para Penghadang


__ADS_3

Dyah Sawitri segera menerima uluran daging babi hutan panggang itu dan langsung memakannya. Sedari tadi siang perutnya memang tidak di isi makanan secuil pun karena sibuk menyelematkan diri dari kejaran para anak buah Mahananda yang ingin menangkap nya. Sepotong daging babi hutan panggang itu dia makan, sedangkan sepotong lagi di berikan kepada Anggana yang terkapar lemah di pembaringan.


"Wah daging panggang ini enak sekali..


Kau pintar sekali memasak nya, Nisanak. Tak kalah dengan masakan warung makan besar di Kota Kanjuruhan..", ucap Dyah Sawitri di sela makannya.


Dyah Kirana tersenyum tipis mendengar pujian Dyah Sawitri.


"Bukan aku yang memasak nya, Nini Sawitri. Itu semua Kangmas Tejo Laksono yang melakukannya. Aku hanya membantu nya saja", ucap Dyah Kirana segera.


Mendengar ucapan itu, Dyah Sawitri segera menatap ke arah Panji Tejo Laksono sebentar lalu kembali melanjutkan makannya. Anggana pun sedikit demi sedikit mengunyah daging babi hutan panggang itu. Sakit dan lapar yang menyiksanya sedikit terobati setelah memakan daging babi hutan panggang buatan Panji Tejo Laksono ini.


Selepas makan malam nya habis, Dyah Sawitri kembali melanjutkan ceritanya. Sesekali Anggana menimpali beberapa kata. Dia rupanya sudah memiliki sedikit tenaga setelah menyantap makanan yang diberikan kepada nya.


"Berikan pada kekasih mu.. Ini akan menghentikan pendarahan pada luka nya..", Song Zhao Meng mengulurkan sebutir pil hitam kecil kepada Dyah Sawitri usai perempuan itu mengakhiri ceritanya. Jiwa tabibnya yang ingin menyelamatkan nyawa orang lain, membuatnya tidak tega melihat Anggana bolak-balik meringis menahan rasa sakit saat lukanya kembali berdarah.


"Terimakasih atas bantuan mu ini, Nini Wulandari..


Aku sungguh tidak menduga kalau Nini adalah seorang tabib..", Dyah Sawitri segera menerima uluran tangan Song Zhao Meng dan segera meminumkan obat itu pada Anggana dengan bantuan air minum yang diberikan oleh Dyah Kirana.


Malam terus beranjak naik. Hingga menjelang tengah malam, mereka berlima terus mengobrol tentang banyak hal. Pengaruh obat yang di berikan oleh Song Zhao Meng membuat Anggana tertidur lelap lebih dulu. Song Zhao Meng bergantian berjaga, sementara itu Panji Tejo Laksono tenggelam dalam semedi nya hingga saat pagi menjelang tiba.


Kukkurruyuuuukkkk....!!!


Suara kokok ayam hutan jantan terdengar bersahutan beberapa kali menandakan bahwa pagi hari telah tiba. Perlahan hawa dingin kabut malam yang sempat turun di sekitar tempat itu mulai terusir saat cahaya hangat mentari pagi mulai muncul di ufuk timur. Bersamaan dengan itu, kicau burung burung mulai terdengar riuh rendah dari ranting pepohonan di hutan itu.


Dyah Sawitri terlihat menggeliat bangun dari tidurnya. Begitu sadar, dia segera menoleh ke arah Anggana yang yang tertidur pulas di samping kanan nya. Melihat nafas teratur lelaki pujaan hatinya itu, Dyah Sawitri menarik nafas lega. Setelah itu ia segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan kedua istrinya.


Song Zhao Meng pun tersenyum manis pada Dyah Sawitri sembari melipat kain hitam yang menjadi alas tidur nya bersama Dyah Kirana dan Panji Tejo Laksono. Sang pangeran sendiri tampak sedang memandikan kuda tunggangan nya di sungai kecil yang ada tak jauh dari tempat mereka bermalam. Sedangkan Dyah Kirana tampak baru saja membasuh wajah cantiknya di sungai kecil itu, berjalan mendekati mereka.


Dyah Sawitri segera membangunkan Anggana. Lelaki bertubuh kekar itu segera menggeliat bangun dari tidurnya. Wajahnya sudah lebih cerah daripada saat dia datang tadi malam. Luka nya juga sudah tidak mengeluarkan darah lagi.


"Bagaimana keadaan mu Kakang? Sudah lebih baik?", tanya Dyah Sawitri segera.


"Obat yang di berikan oleh Nini Wulandari benar-benar mujarab, Sawitri..


Luka ku sudah tidak berdarah lagi dan tubuh ku terasa lebih segar. Itu benar-benar obat yang berkhasiat", jawab Anggana sembari berusaha bangun dari tempat tidur nya. Dyah Sawitri dengan cekatan membantu sang kekasih untuk bangun.


"Terimakasih banyak atas bantuannya, Nini Wulandari. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan mu selain dengan ucapan terimakasih sebesar-besarnya", imbuh Anggana sembari membungkuk hormat kepada Song Zhao Meng.


"Sudahlah..


Sesama pengelana harus saling tolong menolong dalam perjalanan. Aku masih ada beberapa obat lagi yang bisa membantu mu pulih dengan cepat. Nanti akan ku berikan pada kalian", jawab Song Zhao Meng sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak, Nini Wulandari. Orang baik seperti Nini semoga selalu dalam lindungan Hyang Agung", balas Dyah Sawitri segera.


Panji Tejo Laksono berjalan mendekati mereka berempat sembari menuntun 2 ekor kuda yang menjadi tunggangan Dyah Kirana dan Song Zhao Meng.


"Setelah ini, apa rencana kalian berdua?", tanya Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Dyah Sawitri dan Anggana bergantian.


"Kami tidak tahu harus kemana, Pendekar Tejo..


Yang jelas kami akan meninggalkan Kerajaan Jenggala ini karena jika kami masih disini, anak buah Mahananda akan terus mengganggu kehidupan kami berdua", ujar Anggana sembari tertunduk seolah sedang putus asa.


Hemmmmmmm..


"Kalau memang demikian, sebaiknya kalian ikut kami ke Seloageng. Ada tempat yang bisa kalian jadikan sebagai rumah tinggal. Tubuh Anggana kuat, pasti mampu untuk bekerja keras.


Coba katakan pada ku, keahlian apa yang kau miliki Anggana?", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Anggana.


"Saya mahir memahat arca dan memasang bangunan, Pendekar..", jawab Anggana segera.


"Bagus..


Kalau begitu ada banyak sekali pekerjaan untuk orang seperti mu di Seloageng. Kalian gunakan kuda Dinda Wulandari, kuda ini cukup kuat untuk menahan beban dua orang sementara waktu hingga kita sampai di Tumapel", Panji Tejo Laksono mengulurkan tali kekang kuda Song Zhao Meng pada Anggana. Dyah Sawitri dan Anggana pun segera saling berpandangan sejenak. Raut kebahagiaan terpancar jelas dari wajah mereka berdua. Keduanya pun segera membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono.


"Terimakasih banyak Pendekar.."


Pagi itu selepas mempersiapkan segala keperluan, Panji Tejo Laksono dan kedua istrinya melanjutkan perjalanan. Kini dalam rombongan mereka bertambah dua orang lagi. Saat matahari sepenggal naik di langit timur, mereka sampai di Kota Pakuwon Tumapel.


Ada satu hal yang tidak mereka sadari bahwa ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-gerik mereka tanpa diketahui. Begitu Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan berangkat menuju ke arah barat, si pemilik mata ini segera bergegas meninggalkan tempat mengintipnya.


Setelah berkuda sebentar, lelaki bertubuh kekar dengan wajah sangar ini segera melompat turun dari kudanya dan berlari menuju ke arah beberapa orang yang sedang berkumpul di sebuah gubuk kayu dekat persawahan luas. Seorang lelaki muda berwajah bopeng di sekitar mata dengan kumis tebal langsung berdiri begitu melihat lelaki bertubuh kekar ini berlari menuju tempat nya berada.


"Pritanjala..


Sepertinya kau membawa kabar baik. Lekas katakan pada ku, cepatlah..", ujar lelaki berwajah bopeng itu segera.


"Hooosshhh hooosshhh..


I-itu Raden Mahananda, itu Dyah Sawitri ada di dalam kota Pakuwon Tumapel hooosshhh hooosshhh..", ujar lelaki bertubuh kekar yang di sebut dengan nama Pritanjala itu segera sambil mengatur napas nya yang ngos-ngosan karena terburu-buru. Rupanya dia adalah salah satu dari sekian banyak mata-mata yang di sebar oleh Mahananda untuk mencari keberadaan sosok Dyah Sawitri setelah lolos dari penyergapan tempo hari.


"Hehehehe bagus Pritanjala...


Perempuan itu tidak akan pernah bisa lolos dari kejaran ku semudah itu. Lantas si anak tukang cari rumput itu apa masih bersama nya?", tanya Raden Mahananda, si lelaki berwajah bopeng yang di jodohkan dengan Dyah Sawitri.


"Hooosshhh... Dia masih bersama dengan Dyah Sawitri, Raden. Anehnya luka nya seperti tidak berpengaruh terhadap tubuhnya. Wajahnya sudah terlihat bugar meskipun ada balutan di lukanya.

__ADS_1


Dan kini mereka tidak sendiri. Ada 1 lelaki muda dan 2 perempuan cantik turut bersama dengan mereka. Sepertinya mereka hendak menuju ke arah barat", lanjut Pritanjala segera.


"Barat? Hemmmmmmm...


Jangan-jangan mereka hendak menuju ke arah Seloageng agar lolos dari kejaran kita. Brengsek, ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Ayo semua, kita cegat mereka di luar kota Pakuwon Tumapel sebelum kita tidak bisa lagi memburu mereka di wilayah Kerajaan Panjalu!", mendengar ajakan Mahananda, kesepuluh orang berpakaian layaknya seorang pendekar ini segera mengangguk mengerti. Dipimpin oleh Mahananda, bersama Pritanjala yang menjadi penunjuk arah, mereka semua segera bergegas bergerak menuju ke arah barat untuk mencegat rombongan Panji Tejo Laksono.


Karena menemani Song Zhao Meng dan Dyah Kirana yang kepincut membeli beberapa kain bagus di pasar besar Kota Pakuwon Tumapel, perjalanan Panji Tejo Laksono sedikit tersendat beberapa waktu. Namun mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah barat usai sang pangeran memenuhi keinginan dua istrinya itu.


Selepas melewati tugu tapal batas Kota Pakuwon Tumapel, rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak ke arah barat. Tepat di tengah hutan kecil di barat Kota Pakuwon Tumapel, tiba-tiba saja..


Shhhrriinggg shhhrriinggg !!


Dua buah anak panah melesat cepat kearah rombongan itu dari arah samping kanan mereka. Panji Tejo Laksono yang bertelinga peka, dengan cepat menyentakkan tangan kanannya ke arah dua anak panah itu.


Whhhuuutthh..


Blllaaaaaarrr kraaakkkkkk!!!


Ledakan kecil terdengar saat hantaman tenaga dalam tingkat tinggi dari Panji Tejo Laksono beradu dengan dua anak panah yang mengincar nyawa mereka. Kedua anak panah ini langsung hancur berkeping keping.


Tentu saja serangan ini cukup mengejutkan anggota rombongan Panji Tejo Laksono hingga mereka pun menghentikan pergerakan kuda tunggangan mereka masing-masing. Dari arah depan dan belakang, muncul puluhan orang yang bersenjatakan pedang, golok dan busur panah yang segera mengepung rombongan Panji Tejo Laksono.


"Si bopeng Mahananda bajingan...", gumam Anggana sedikit keras hingga terdengar oleh telinga Panji Tejo Laksono yang berkuda di depannya. Ada suara kebencian yang mendalam terhadap Mahananda yang berdiri di antara para penghadang itu di suara Anggana.


Mahananda menyeringai lebar sembari melangkah mendekati rombongan Panji Tejo Laksono. Matanya langsung tertuju pada Dyah Sawitri yang berkuda di samping Anggana.


"Oh Sawitri..


Kenapa kau begitu keras kepala dengan pendirian mu he? Bukankah jika kau ikut aku pulang ke Keling, hidup mu tak akan terlunta-lunta seperti ini? Apa hebatnya si anak tukang cari rumput itu bila di bandingkan dengan ku?!", ucap Mahananda sembari mencebikkan bibir nya ke arah Anggana yang memegang erat tali kekang kudanya.


"Raden Mahananda..


Sudah ku bilang pada mu kalau aku tidak mau menjadi istri mu. Hati ku sudah menjadi milik Kakang Anggana. Apa kau sama sekali tidak punya harga diri hingga harus bersikap seperti ini ha? Apa tidak bisa kau mencari perempuan lain yang lebih cantik dari ku untuk menjadi istri mu?!", balas Dyah Sawitri sengit.


"Hehehehe..


Banyak perempuan cantik yang bersedia untuk menjadi istri seorang putra Akuwu yang sebentar lagi akan menggantikan posisi ayahnya, Sawitri. Tapi perasaan ku kepada mu tak ada yang bisa menggantikan. Kau harus menjadi istri ku Sawitri..!!", jawab Mahananda sembari tersenyum lebar.


Phhuuuiiiiiihhhhh...


"Dasar tidak punya harga diri..


Sekali aku bilang tidak selamanya tidak Raden Mahananda. Sebaiknya kau pulang ke Keling dan jangan ganggu hidup ku lagi", ucapan Dyah Sawitri sontak membuat Mahananda menggerutuk keras. Dia segera menoleh ke arah para anak buahnya yang masih berdiri di tempatnya sembari berkata lantang,

__ADS_1


"Tangkap Sawitri ! Tapi jangan sampai dia terluka. Kalau ada yang mencoba untuk menghalangi,


Bunuh saja!!!"


__ADS_2