
Kaget semua orang mendengar ucapan Demung Gumbreg. Semua orang langsung memandang ke arah Panji Tejo Laksono yang masih duduk bersila dengan santainya di lantai pendopo agung Kadipaten Kalingga.
"Gus-Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono?
Jadi jadi dia adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, putra tertua Prabu Jayengrana?", gugup Adipati Aghnibrata mengeluarkan kata kata.
"Apa kau pikir aku bohong dengan omongan ku baru saja, Gusti Adipati?
Dia memang putra tertua Gusti Prabu Jayengrana dari permaisuri Dewi Anggarawati. Dia adalah calon putra mahkota terkuat di banding dua putra permaisuri lainnya. Kau tahu apa alasannya? Gusti Prabu Jayengrana sendiri sudah menurunkan Ajian Tameng Waja dan Pedang Naga Api pada nya, apa itu bukan bukti kalau Gusti Prabu Jayengrana akan mengangkat nya sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya?", Demung Gumbreg benar benar tidak bisa terima dengan perlakuan yang di terima oleh Panji Tejo Laksono kali ini.
Pucat seketika wajah Adipati Aghnibrata mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun itu. Para saudagar negeri asing yang sebelumnya ikut menyeret Panji Tejo Laksono ke dalam permasalahan mereka langsung berdebar kencang jantung mereka. Kalau sampai Panji Tejo Laksono kesal dengan ulah mereka, maka kesempatan mereka untuk berdagang di wilayah Kerajaan Panjalu pasti akan hilang.
Masih ada seorang lagi yang ketakutan setengah mati mendengar penuturan Demung Gumbreg. Dia adalah Senopati Ranggabuana. Sikapnya yang kasar pada Panji Tejo Laksono tadi membuat nya tak mampu berkata apa apa lagi. Suaranya seperti habis di telan tenggorokan. Jangankan suara, untuk menelan ludahnya sendiri pun rasanya sudah tidak bisa. Terbayang di benak nya tentang hukuman pancung yang sebentar lagi dia terima.
Sementara itu Ayu Ratna yang pernah menolak rencana perjodohan dengan Panji Tejo Laksono justru tersenyum bahagia. Jika sebelumnya dia menolak mati-matian untuk dijodohkan dengan pangeran muda dari Kadiri itu, kini dia malah mengharapkan agar segera di nikahkan dengan lelaki yang semalam di tuduh sebagai maling oleh para prajurit penjaga istana Kadipaten Kalingga itu.
Adipati Aghnibrata segera bergegas menuju ke hadapan Panji Tejo Laksono dan bersujud di hadapan sang pangeran muda dari Kadiri yang masih juga belum beranjak dari tempat duduknya.
"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono,
Hamba benar benar buta tidak bisa melihat bahwa Gusti Pangeran ada di tengah-tengah kami. Mohon ampun beribu ampun Gusti Pangeran atas sikap tidak sopan hamba pada Gusti Pangeran", ujar Adipati Aghnibrata sembari meletakkan dahinya di lantai pendopo agung Kadipaten Kalingga.
"Gusti Adipati Aghnibrata,
Apa yang sedang kau lakukan? Seorang penguasa Kadipaten Kalingga tidak boleh menundukkan kepalanya pada seorang pemuda. Kau hanya boleh menundukkan kepala pada Kanjeng Romo Prabu Jitendrakara dan pada Dewata saja. Berdirilah, jangan seperti ini ", jawab Panji Tejo Laksono segera. Dia merasa jengah dengan sikap penghormatan yang berlebihan.
"Hamba tidak akan berani berdiri jika Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono masih belum mengampuni hamba", Adipati Aghnibrata masih terus bersujud kepada Panji Tejo Laksono.
"Hadehh...
Baiklah baiklah, aku memaafkan kesalahan mu. Sekarang berdirilah, jangan seperti ini. Aku bukan dewa. Tidak layak mendapat penghormatan berlebihan seperti yang kau berikan", ucap Panji Tejo Laksono yang membuat Adipati Aghnibrata perlahan mengangkat kepalanya.
Melihat raut wajah tampan Panji Tejo Laksono yang tersenyum tipis, Adipati Aghnibrata menarik nafas lega. Penguasa Kadipaten Kalingga itu berdiri setelah melihat Panji Tejo Laksono beranjak dari tempat duduknya di lantai pendopo agung.
"Aku kemari karena di utus Kanjeng Ibu Permaisuri Dewi Anggarawati dan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk melihat calon istri yang akan dijodohkan dengan ku.
Tapi sepertinya kehadiran ku tidak di harapkan oleh Gusti Putri Ayu Ratna. Jadi aku mohon pamit untuk pulang ke Kadiri ", ucap Panji Tejo Laksono sembari berbalik badan. Ada senyum jahil terukir di bibir Panji Tejo Laksono.
"Tunggu dulu Gusti Pangeran..
Apa maksud Gusti Pangeran berkata demikian? Gusti Pangeran baru saja sampai, darimana Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono punya pikiran seperti itu?", buru buru Adipati Aghnibrata menahan kepergian sang pangeran muda.
"Yang pertama, Gusti Putri Ayu Ratna menyuruh seorang paman bertangan buntung untuk mencegat rombongan ku di tepi persimpangan jalan menuju ke arah Kota Kadipaten Kalingga. Andai saja aku tidak menyadari bahwa paman bertangan buntung itu ingin mencegah ku masuk ke kota Kalingga, mungkin aku sudah bertarung habis-habisan dengan nya.
Yang kedua, tadi malam aku diam diam masuk ke dalam Istana Kalingga hanya untuk melihat wajah calon istri ku tapi aku malah hampir di bunuh oleh seorang perwira dan Gusti Putri sendiri mengatai ku sebagai maling.
Apa ini bukan bukti yang kuat kalau aku tidak di harapkan untuk hadir di istana ini, Gusti Adipati?", Panji Tejo Laksono menoleh ke arah Ayu Ratna yang masih duduk di sebelah Niken Sulastri ibunya.
Mata semua orang beralih pada Ayu Ratna. Bahkan Adipati Aghnibrata pun melotot ke arah sang putri.
"I-itu semua hanya salah paham, Gus-Gusti Pangeran.
Hamba memang meminta pada Paman Pringgalaya untuk menguji kemampuan beladiri Gusti Pangeran karena hamba ingin punya suami yang bisa melindungi hamba. Itu saja.
Kalau masalah semalam, hamba benar benar tidak tahu kalau yang datang adalah Gusti Pangeran. Sungguh hamba tidak punya niat untuk mengganggu Gusti Pangeran.
__ADS_1
Hamba mohon Gusti Pangeran agar berbesar hati memaafkan kesalahan hamba", ujar Ayu Ratna sembari bersujud kearah Panji Tejo Laksono.
Hemmmmmmm...
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari mulut Panji Tejo Laksono. Putra sulung Prabu Jayengrana itu segera berbalik arah dan melangkah mendekati Ayu Ratna.
"Apa benar yang kau katakan itu, Gusti Putri? Kau tidak berbohong pada ku bukan?", ujar Panji Tejo Laksono sembari berjongkok di depan Ayu Ratna yang masih bersujud.
"Hamba tidak akan berani untuk berbohong pada Gusti Pangeran Panji", jawab Ayu Ratna dengan cepat.
"Coba katakan sekali lagi.. Tapi aku ingin melihat mata mu agar aku tahu kau sedang berbohong pada ku atau tidak", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.
Perlahan Ayu Ratna mendongak menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono. Melihat wajah cantik yang tengah ketakutan itu, Panji Tejo Laksono tak tega untuk menjahili nya lagi.
"Cantik sekali.. Memang layak menjadi calon istri ku", gumam Panji Tejo Laksono sambil tersenyum penuh arti. Meski hanya lirih tapi masih bisa terdengar di telinga Ayu Ratna.
Segera Panji Tejo Laksono berdiri dari tempat berjongkok nya.
"Ya sudahlah, karena aku memandang jasa dan kesetiaan kalian pada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, aku akan mengampuni kalian semua.
Paman Ludaka, ayo kita kembali ke penginapan", Panji Tejo Laksono berbalik badan hendak meninggalkan Ayu Ratna. Tapi belum satu langkah terjadi, tangan Ayu Ratna segera mencekal lengan Panji Tejo Laksono.
"Mohon Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono jangan pergi. Sudilah kira nya untuk beristirahat di Istana Kalingga. Ijinkan saya menebus kesalahan yang saya lakukan Gusti Pangeran", pinta Ayu Ratna dengan penuh harap.
"Aku sih mau saja beristirahat di sini tapi Adipati Aghnibrata tidak menawariku bagaimana bisa aku tinggal di sini?", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.
"Kanjeng Romo.... ", Ayu Ratna menoleh ke arah Adipati Aghnibrata dengan mata berkaca-kaca. Gadis cantik itu tak mau Panji Tejo Laksono jauh darinya. Sadar dengan sikap Ayu Ratna, Penguasa Kadipaten Kalingga itu langsung mendekati Panji Tejo Laksono.
"Gusti Pangeran, apa yang di ucapkan Ayu Ratna sama seperti apa yang hamba inginkan. Mohon Gusti Pangeran bersedia tinggal di sini", Adipati Aghnibrata membungkuk hormat.
Setelah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya menghilang dari pandangan, Adipati Aghnibrata langsung menarik nafas lega.
"Huffffffffttt.... Untung saja Ayu Ratna bisa membujuk Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono agar tidak marah...
Bisa gawat kalau sampai dia tidak senang dan lapor ke Gusti Prabu Jayengrana", Adipati Aghnibrata menghapus bulir keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Benar Gusti Adipati.. Kita selamat ya", sahut Senopati Ranggabuana yang ikut merasa lega.
"Ini semua karena kebodohan mu, Ranggabuana. Masak kau tak bisa membedakan mana Gusti Pangeran mana maling hingga kau main serang seenak jidat mu?
Pokoknya aku tidak mau tahu ya. Kau harus minta maaf secara langsung pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Jangan sampai karena ulah konyol mu, rencana perjodohan ini gagal. Sekarang urus para saudagar ini, aku mau menemui calon menantu ku dulu.
Yayi Sulastri, ayo kita ke balai tamu kehormatan", Adipati Aghnibrata segera bergegas menyusul Panji Tejo Laksono bersama dengan Niken Sulastri. Setelah mereka pergi, Senopati Ranggabuana mengomel sendiri.
"Malam hari siapa yang bisa membedakan mana Gusti Pangeran mana maling. Nasib nasib jadi bawahan. Salah benar tetap saja keliru".
Sesampainya di balai tamu kehormatan, Panji Tejo Laksono di antar oleh Ayu Ratna ke sebuah kamar yang paling megah yang sedikit terpisah dari kamar tamu kehormatan lainnya. Kebetulan kamar tidur itu hanya di batasi oleh tembok pagar dengan Keputren Istana Kalingga.
"Gusti Pangeran akan menempati kamar ini. Jika ada perlu apa saja, Gusti Pangeran tinggal memanggil saya di Keputren.
Kalau begitu, saya pamit untuk kembali ke Keputren sekaligus menyiapkan makan siang untuk Gusti Pangeran. Saya mohon undur diri", Ayu Ratna menghormat pada Panji Tejo Laksono dan segera berbalik badan hendak keluar dari bilik kamar tidur itu.
"Tunggu dulu!"
Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, Ayu Ratna segera menoleh ke arah sang pangeran muda.
__ADS_1
"Ada apa lagi Gusti Pangeran? Apa yang bisa saya bantu?", Ayu Ratna menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono. Entah kenapa setiap kali dia menatap wajah tampan sang pangeran muda dari Kadiri itu jantung nya berdegup kencang. Buru buru dia menundukkan wajahnya, tak kuat berlama lama adu pandang dengan sang pangeran tampan.
"Kau bilang tadi apa saja? Yakin kalau aku mau apa saja kau akan penuhi?", Panji Tejo Laksono kembali tersenyum jahil.
"E-eh iya Gusti Pangeran, apa saja keinginan Gusti Pangeran akan saya penuhi", gugup Ayu Ratna mengucapkan kata kata. Panji Tejo Laksono terus melangkah mendekati Ayu Ratna. Putri Adipati Aghnibrata itu secara alami mundur perlahan. Saat tubuhnya mentok di dinding kamar tidur, Ayu Ratna semakin deg-degan tidak karuan karena Panji Tejo Laksono terus mendekati nya. Putri cantik Penguasa Kadipaten Kalingga itu langsung menutup mata nya.
Perlahan hembusan nafas Panji Tejo Laksono semakin terasa menyentuh kulit leher Ayu Ratna. Ayu Ratna semakin deg-degan menunggu apa yang akan di lakukan oleh Panji Tejo Laksono selanjutnya. Waktu terasa lambat berjalan bagi Ayu Ratna saat itu.
"Wah ini to kamar ku Gusti Pangeran!"
Suara Demung Gumbreg langsung membuat Ayu Ratna membuka mata nya. Putri Adipati Aghnibrata itu langsung melorot dari kekangan Panji Tejo Laksono dan berlari keluar dari kamar tidur dengan wajah memerah menahan malu.
'Waduh sepertinya kedatangan ku tidak pas waktu nya', batin Demung Gumbreg. Perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun itu semakin ketakutan saat melihat Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah nya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Hamba benar benar tidak tahu kalau..."
Belum sempat Demung Gumbreg selesai bicara, Panji Tejo Laksono langsung menunjuk pintu kamar tidur nya sembari berteriak keras.
"Keluar Paman..!!
Kalau tidak jangan salahkan aku jika menghukum mu", ucap Panji Tejo Laksono seraya mendelik tajam ke arah Demung Gumbreg.
Mendengar perkataan itu, Demung Gumbreg segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan lari tunggang-langgang seperti seperti di kejar setan meninggalkan bilik kamar tidur Panji Tejo Laksono.
"Dasar pengacau !"
****
Di selatan tapal batas kota Kadipaten Kalingga, serombongan orang berpakaian putih biru langit mengawal sebuah kereta kuda. Mereka memacu kudanya secepat mungkin menuju ke arah istana.
Seorang lelaki muda bertubuh tegap dengan wajah lumayan tampan nampak duduk berhadapan dengan dengan seorang lelaki sepuh berjenggot putih panjang. Di sampingnya nya juga ada seorang wanita muda cantik yang sepertinya masih saudara dengan lelaki muda tadi.
"Romo,
Apa Romo yakin Gusti Adipati Aghnibrata akan menerima lamaran kita? Aku sangsi Romo", ujar sang lelaki muda berkumis tipis itu sembari menatap ke arah lelaki tua yang duduk di seberangnya.
"Aghnibrata tidak akan berani menolak, Danapati..
Dia berhutang budi pada ku. Dia pernah aku selamatkan saat di kepung perampok ketika pulang dari undangan pernikahan putra Adipati Paguhan dulu. Kau tidak perlu cemas. Sebagai ayah mu, tentu saja aku akan berusaha keras untuk mengabulkan semua keinginan mu anak ku", ujar lelaki tua itu dengan penuh keyakinan.
Mendengar jawaban itu, si pemuda langsung tersenyum lebar.
"Romo memang yang terbaik", ucap si pemuda berkumis tipis itu segera. Lelaki tua berjanggut putih itu langsung mengangguk senang mendengar pujian sang pemuda.
Mereka adalah orang-orang Padepokan Teratai Segara yang berasal dari pesisir pantai selatan Pulau Jawa tepatnya di wilayah Mataram. Lelaki tua itu adalah Resi Danarasa, pimpinan sekaligus guru besar Padepokan Teratai Segara, seorang pendekar yang cukup disegani di dunia persilatan khususnya di daerah barat Kerajaan Panjalu. Sedangkan yang muda adalah Danapati, putra sulung Resi Danarasa yang juga menjadi putra kesayangan sang resi. Satu lagi, si gadis cantik yang berumur sekitar 2 windu di sebelah Danapati adalah adiknya, Rara Santi.
Danapati yang mengaku pernah bermimpi bertemu dengan Ayu Ratna, merengek meminta Resi Danarasa untuk melamar putri Adipati Kalingga itu dijadikan sebagai istri. Kebetulan saja Resi Danarasa mengenal Adipati Aghnibrata beberapa puluh tahun yang lalu saat masih menjadi pendekar yang malang melintang di dunia persilatan.
Rombongan itu terus bergerak menuju ke arah Kota Kadipaten Kalingga.
Di tapal batas kota, Pringgalaya yang sedang kesal karena tidak menemukan rombongan pangeran dari Kadiri langsung menghadang rombongan orang-orang Padepokan Teratai Segara itu dengan berteriak lantang.
"Berhenti kalian!
__ADS_1
Mau apa ke Kota Kadipaten Kalingga?"