
Sementara Gumbreg menggerutu karena harus berjaga jaga di rumah Ki Sambang dan Nyi Rawit bersama Tumenggung Ludaka, Panji Tejo Laksono melenting tinggi ke udara setelah menjejak tanah halaman rumah Ki Sambang. Bersama dengan Endang Patibrata, dia mendarat di salah satu dahan pohon besar yang kurang lebih berjarak sekitar 200 depa dari kediaman Ki Sambang.
Meskipun gelap malam hari itu mengurangi jarak pandang mata, namun dari atas sana Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata dapat melihat jelas apa yang terjadi di bawahnya. Cahaya bulan yang hampir mendekati purnama membuat semuanya terlihat jelas. Sebuah pemandangan yang menakutkan tersaji di depan mata mereka.
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal dan janggut lebat yang menutupi sebagian wajahnya hingga membuat wajahnya terlihat seram sedang berkacak pinggang sambil tertawa-tawa. Ikat kepala warna merah menghiasi kepalanya, juga baju hitam tanpa kancing menutupi tubuhnya yang gempal. Sebuah kalung berbandul liontin berbentuk seperti kelabang melingkar berwarna merah tersemat di leher lelaki yang berusia sekitar 4 dasawarsa ini.
Di hadapannya, para anak buahnya sedang menghadapi tantangan dari para penjaga desa yang dipimpin oleh seorang Jagabaya. Namun para penjaga desa ini bukanlah tandingan para perampok ini yang memiliki kemampuan beladiri diatas rata-rata. Dalam waktu singkat, para penjaga desa ini telah di lumpuhkan oleh para anak buah sang lelaki bertubuh gempal.
"Sudah ku bilang Ki Jagabaya..
Kalian bukan lawan yang pantas untuk Rampok Kelabang Merah. Ini akibatnya jika kalian berani melawan kami hahahaha..", ujar si lelaki bertubuh gempal itu sambil tergelak hingga perutnya yang buncit bergoyang-goyang.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Lebih baik jika kami mati daripada melihat kejahatan mu merajalela, Mandawa..
Aku akan bertarung dengan mu sampai titik darah penghabisan!!", Ki Jagabaya memutar keris di tangan kanannya sebelum berlari cepat kearah pimpinan kelompok Rampok Kelabang Merah. Mandawa si pimpinan kelompok rampok itu hanya menyeringai lebar sembari mundur setengah langkah untuk bersiap-siap.
Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!
"Cari mati kau, Jagabaya!!", geram Mandawa si pimpinan kelompok rampok ini keras.
Tusukan keris Ki Jagabaya langsung terarah ke perut Mandawa. Pria bertubuh gempal itu menggeser posisi tubuhnya ke samping kanan hingga tusukan keris Ki Jagabaya hanya menyambar udara kosong.
Mandawa langsung menyapu kaki Ki Jagabaya dengan kaki kanan nya cepat.
Dhhaaaassshhh!!!
Ki Jagabaya yang tidak siap dengan serangan cepat itu, langsung jatuh terjengkang. Melihat lawannya jatuh, Mandawa langsung melayangkan kakinya ke arah dada Ki Jagabaya. Pria paruh baya yang cukup disegani oleh masyarakat kampung Wanua Panitihan ini segera berguling ke samping untuk menghindar hingga injakan kaki kiri Mandawa pun hanya menginjak tanah di halaman rumah Lurah Wanua Panitihan ini dengan keras.
Ki Jagabaya yang lolos dari maut, segera bangkit. Dengan gerakan cepat jungkir balik di tanah dia kembali merangsek maju ke arah Mandawa sambil mengayunkan keris pusaka nya.
Brreeeeettttthhh brreeeeettttthhh!!
Mandawa mundur selangkah demi selangkah menghindari sabetan keris Ki Jagabaya yang mengincar kakinya. Pria bertubuh gempal itu pun segera menjejak tanah dengan keras lalu bersalto sekali di udara sambil melayangkan tendangan keras kearah punggung Ki Jagabaya.
Bhhhuuuuuuggggh!!
Oouuugghhhhhh!!!
Tanpa ampun, tubuh tua Ki Jagabaya langsung menyusruk tanah dengan keras kearah depan. Sambil mengerang kesakitan, lelaki yang kumisnya sudah di tumbuhi uban ini segera bangkit. Ada darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya. Sementara itu, Mandawa yang baru menjejak tanah terlihat tersenyum sinis melihat itu semua.
"Ilmu kanuragan sedalam mata kaki saja mau berlagak sok jagoan.
Phhuuuiiiiiihhhhh!!
Kau masih perlu banyak berguru jika ingin menjadi lawan ku, Songkali (nama asli Ki Jagabaya)", ucap Mandawa dengan penuh penghinaan.
"Aku tidak perlu lagi berguru jika hanya ingin mengalahkan mu, hai orang terusir!!", balas Ki Jagabaya sembari kembali menerjang maju ke arah Mandawa.
Mendengar perkataan itu, amarah Mandawa langsung memuncak. Kata-kata itu segera mengingatkannya pada kejadian 12 tahun silam kala dia diusir dari Wanua Panitihan setelah ketahuan hendak memperkosa anak Lurah Wanua Panitihan saat itu. Sejak saat itu, Mandawa berkelana mencari ilmu kesaktian agar suatu saat nanti bisa membalas dendam pada warga desa yang telah mengusirnya.
Setelah berkelana hampir sepuluh tahun dan berguru kepada beberapa pendekar, Mandawa membentuk sebuah kelompok perampok yang menamakan dirinya sebagai Rampok Kelabang Merah. Dia pun lantas melancarkan aksinya dengan menggangu ketentraman masyarakat di wilayah Pakuwon Sendung yang merupakan wilayah paling selatan dari Kadipaten Lewa. Dia sengaja tidak menghabisi nyawa para penduduk di sekitar wilayah ini karena ingin membuat mereka merasa tersiksa dengan bayang-bayang sang rampok yang terus menghantui pikiran mereka.
"Bedebah kau Songkali...!!!
Hari ini juga akan ku buat kamu menyesali omongan mu baru saja!!!", teriak Mandawa murka.
__ADS_1
Kedua tangannya segera mengepal erat. Dari sana muncul asap putih berbau tidak sedap yang menyengat hidung. Saat tusukan keris Ki Jagabaya mengarah ke dadanya, Mandawa langsung bergerak menghindar sambil menyambar ujung keris itu dengan tangan kanan nya.
Chhreepppppph!!
Mata Ki Jagabaya melebar kala melihat Mandawa langsung menggenggam keris pusaka nya dengan tangan kosong. Terlebih lagi saat Mandawa menarik kerisnya. Ki Jagabaya berusaha keras untuk mempertahankan senjata nya. Akibatnya tubuhnya tertarik ke depan. Saat itulah, Mandawa langsung menghantamkan tapak tangan kiri nya yang di lambari cahaya hijau kehitaman berasap putih yang berbau busuk ke arah perut Ki Jagabaya.
Blllaaaaaarrr!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Ki Jagabaya meraung keras saat hantaman tapak tangan kiri Mandawa si pimpinan kelompok rampok itu telak menghajar perutnya. Lelaki paruh baya itu terpelanting jauh ke belakang dan menghantam pagar rumah Ki Lurah Wanua Panitihan. Namun lelaki tua itu masih hidup meski dengan keadaan yang menyedihkan.
Tak ingin lawannya bernafas lagi, Mandawa langsung melesat cepat kearah Ki Jagabaya yang tergolek tak berdaya.
"Mati kau, Songkali!!!"
Saat Ki Jagabaya pasrah dengan ajal yang hendak menjemputnya, selarik cahaya merah menyala berhawa panas menyengat menerabas cepat kearah Mandawa. Pria bertubuh gempal itu terkejut bukan main dan langsung memapak hantaman cahaya merah menyala itu dengan tapak tangan kanan nya yang di liputi oleh cahaya hijau kehitaman.
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Tubuh Mandawa langsung mencelat jauh ke belakang dan menghantam tanah halaman rumah Lurah Wanua Panitihan ini. Lelaki bertubuh gempal itu segera bangkit sambil mengusap darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya sembari mendelik kereng pada dua sosok bayangan yang meluncur turun dari atas pohon randu besar.
"Setan alas!!!
Siapa kalian? Kenapa ikut campur urusan pribadi ku? Apa bosan hidup ha?", hardik keras Mandawa sambil mengibaskan pakaian nya yang kotor.
"Bosan hidup sih tidak, tapi bosan melihat ulah manusia sok jagoan yang ingin mengacaukan ketenteraman masyarakat disini", ucap Panji Tejo Laksono dengan tenang setelah mendarat di depan Ki Jagabaya bersama dengan Endang Patibrata.
"Oh rupanya ada yang ingin menjadi pahlawan...
Katakan pada ku, siapa kalian agar nantinya masyarakat Kadipaten Lewa tahu siapa orang yang sudah aku bunuh..", tanya Mandawa sambil menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata.
Mendengar julukan yang di sebutkan oleh Endang Patibrata, Mandawa terhenyak sebentar. Dia segera menoleh ke arah para anak buahnya yang sibuk mengumpulkan barang rampokan mereka.
"Kethek kethek....!!
Sebelum kalian bawa hasil kalian hari ini, bunuh dua orang ini lebih dulu!!".
Mendengar perintah dari pimpinan mereka, puluhan orang anak buah Rampok Kelabang Merah langsung meletakkan barang rampokan mereka. Semuanya langsung menghunus senjata mereka masing-masing dan langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata.
Mundur selangkah ke belakang untuk bersiap, Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata menyambut kedatangan mereka dengan ilmu silat yang mereka miliki. Panji Tejo Laksono menggunakan Ilmu Silat Padas Putih nya, sedangkan Endang Patibrata menggunakan Ilmu Pedang Tarian Badai Laut Selatan andalannya.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!
Dhhaaaassshhh dhhiiieeeeesssshhh!!
. Aaauuuuggggghhhhh!!!!
Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata, sepuluh orang anggota Rampok Kelabang Merah terkapar di tanah. Beberapa tewas setelah pedang Endang Patibrata menebas tubuh mereka sedangkan lawan Panji Tejo Laksono terjungkal dengan patah tulang dan gigi rontok.
Nyali Mandawa langsung ciut seketika melihat pemandangan itu. Namun sebagai pimpinan kelompok rampok ini, dia lebih mementingkan harga diri nya dan langsung menerjang maju ke Panji Tejo Laksono yang sedang di kepung puluhan orang anak buah nya dengan menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna hijau kehitaman. Ini adalah bentuk dari Ajian Tapak Ular Beracun yang di pelajari dari gurunya yang selama ini selalu menjadi ilmu andalannya.
Whhhuuuggghhhh!!
Panji Tejo Laksono yang waspada terhadap segala sesuatu di sekitar nya, langsung melenting tinggi ke udara menghindari hantaman cahaya hijau kehitaman berselimut angin berbau tidak sedap yang di lepaskan oleh Mandawa si Kelabang Merah.
Blllaaammmmmmmm!!
__ADS_1
Ledakan keras terdengar saat ilmu kanuragan milik Mandawa menghantam tubuh beberapa orang anak buah nya yang ada di belakang Panji Tejo Laksono tadi. Mereka berempat langsung terlempar ke belakang dan tewas dengan tubuh menghitam.
"Brengsek kau!!!", maki Mandawa sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang kini bersalto di udara dan mendarat menjauh dari tempat itu. Sang pangeran muda dari Kadiri itu tersenyum tipis sebelum melesat cepat kearah pimpinan kelompok Rampok Kelabang Merah dengan tangan kanan nya telah diliputi oleh cahaya merah menyala berhawa panas menyengat.
Kecepatan gerak sang pangeran muda dari Ajian Sepi Angin yang dimiliki nya membuatnya seperti menghilang dari pandangan mata dan tahu-tahu sudah muncul di hadapan Mandawa.
"Sekarang giliran ku!!", ucap Panji Tejo Laksono sambil menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Mandawa. Pria bertubuh gempal dengan wajah berewokan itu terkejut bukan main melihat kedatangan serangan cepat itu dan buru-buru memapak hantaman tangan lawan dengan tapak tangan kanan nya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!
Mandawa langsung muntah darah segar dan terpelanting ke belakang. Tubuhnya baru berhenti setelah menabrak roda kereta kuda milik Lurah Wanua Panitihan. Sembari mencoba bangkit dari tempat jatuhnya, Mandawa terus memuntahkan darah segar keluar dari mulut.
Hoooeeeeggggh!!!
Endang Patibrata yang baru saja menebas leher salah satu anak buah Rampok Kelabang Merah dan berada tak jauh dari tempat pria bertubuh gempal itu terjatuh langsung tersenyum penuh arti melihat Mandawa si pimpinan rampok itu terhuyung-huyung mencoba untuk berdiri.
"Kau benar benar salah pilih lawan", ucap Endang Patibrata sebelum kembali menerjang maju ke arah para anak buah Rampok Kelabang Merah yang tersisa hanya beberapa orang saja.
"Uhhhuuuukkk uhhhuuuukkk...
Brengsek kau!! Aku akan mengadu nyawa dengan mu!!", teriak Mandawa sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam yang tersisa. Setelah itu ia segera berlari cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil menghantamkan tapak tangan kanan ke arah kepala sang pangeran.
Whhhuuutthh!!
Mandawa sepertinya lupa bahwa lawan yang dihadapi bukanlah pendekar kacangan. Panji Tejo Laksono sedikit merunduk hingga serangan pimpinan kelompok Rampok Kelabang Merah itu hanya sejengkal menyambar udara kosong di kanan kepalanya. Dengan menjejak tanah keras, tubuh sang pangeran muda langsung melesat cepat bagaikan kilat ke arah Mandawa. Tangan kanannya yang memancarkan cahaya merah menyala seperti api langsung menghantam dada lelaki bertubuh gempal yang selama ini menjadi pengacau keamanan ini.
Blllaaammmmmmmm!!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Hanya itu yang terdengar kala Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono menghajar telak dada Mandawa. Pria bertubuh gempal itu langsung terpental jauh ke belakang hingga 5 tombak jauhnya dan menyusruk tanah dengan keras. Tubuhnya seketika gosong seperti terbakar api. Dia langsung tewas seketika.
Saat yang bersamaan, Endang Patibrata pun berhasil menyudahi perlawanan dua orang anak buah Rampok Kelabang Merah dengan tebasan pedang nya. Setelah itu, ia segera berjalan mendekati Panji Tejo Laksono yang sedang menata nafasnya usai menghabisi nyawa pimpinan kelompok Rampok Kelabang Merah ini.
Satu persatu warga Wanua Panitihan yang menyaksikan langsung pertarungan itu muncul dari balik tempat persembunyian mereka. Wajah mereka semua langsung lega kala melihat Mandawa dan para anak buahnya terbunuh oleh kehebatan Panji Tejo Laksono. Lurah Wanua Panitihan, Mpu Sangir dan Ki Jagabaya yang masih bisa berjalan meskipun harus di papah oleh salah satu anak buah nya yang masih hidup, segera mendekati Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata.
"Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan mu pendekar..
Kalau tidak ada kalian, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada tempat tinggal kami", ucap Mpu Sangir dengan penuh hormat.
"Sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk memberantas ketidakadilan di dunia ini, Kisanak..
Kebetulan saja kami sedang lewat di tempat ini jadi kami yang harus turun tangan", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Pendekar berdua tinggal dimana? Kalau tidak keberatan, kami mengundang pendekar muda berdua untuk bermalam di kediaman saya.
Kami mohon terimalah pendekar agar hutang budi ini bisa sedikit kami kurangi", ucap Mpu Sangir sedikit memaksa.
"Baiklah kalau begitu..
Tapi dua orang teman ku masih ada di kediaman Ki Sambang. Kalau tidak keberatan, aku juga ingin mereka berdua menemani kami", balas Panji Tejo Laksono sambil tersenyum.
"Oh iya tentu saja tidak..
Wugu, Kuningan.. Kalian berdua panggil dua orang pendekar muda ini ke rumah. Lekas lah, jangan sampai membuat mereka menunggu", perintah Lurah Mpu Sangir pada dua orang pelayannya.
__ADS_1
Dua orang bertubuh sedikit gemuk dan kurus itu segera bergegas menuju ke arah kediaman Ki Sambang. Begitu Demung Gumbreg mendengar undangan itu, dia langsung berdiri dari tempat duduknya yang memang dekat dengan tempat sapi betina itu berada.
"Akhirnya aku bebas dari bau kotoran sapi.."