
Mendengar perkataan penuh semangat dari sang pangeran muda, para pengikut Panji Tejo Laksono dan orang-orang Kadipaten Lewa mengangguk cepat sebagai tanda mengerti.
Mereka bergerak maju ke arah kediaman Iblis Bukit Manoreh yang merupakan bekas rumah Lurah Wanua Pajaran yang dia pakai setelah membunuh orang itu.
Kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya langsung membuat para pengawal kediaman Iblis Bukit Manoreh terkejut bukan main. Semuanya dengan gugup mencabut senjata mereka masing-masing dan mengacungkan nya ke arah rombongan Panji Tejo Laksono.
"Keparat darimana ini?
Kenapa kalian kemari? Bosan hidup ya?", ancam salah seorang diantara mereka sambil menggenggam erat gagang senjata yang dipegangnya.
"Siapa kami itu tidak penting!
Lekas panggil Iblis Bukit Manoreh keluar. Dia harus menerima hukuman dari Pemerintah Kadipaten Lewa atas semua perbuatan jahatnya", ucap Senopati Sembada lantang.
"Kurang ajar!!
Rupanya orang-orang Kadipaten Lewa ingin cari mampus. Kawan-kawan, pimpinan tidak perlu repot-repot turun tangan untuk menghadapi para prajurit ini. Ayo kita bunuh mereka!!!", teriak lelaki bertubuh gempal bermata cacat sebelah kanan yang merupakan salah satu dari pengikut setia Iblis Bukit Manoreh.
Mendengar perkataan sang lelaki yang biasa disebut dengan nama Setan Mata Satu itu, seluruh pengawal pribadi kediaman Iblis Bukit Manoreh langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.
Setan Mata Satu yang bersenjata sepasang trisula menerjang maju ke Senopati Sembada sambil menusukkan senjata berujung tiga itu ke arah pimpinan prajurit Kadipaten Lewa ini.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!!
Senopati Sembada langsung berjumpalitan mundur beberapa kali menghindari sabetan trisula beruntun yang mengancam nyawa nya. Setelah berhasil lolos, dia langsung melesat cepat kearah Senopati Sembada sembari mengayunkan pedangnya ke arah pinggang lawan. Melihat itu, Setan Mata Satu mundur selangkah ke belakang lalu trisula di tangan kanannya ia gunakan untuk menangkis.
Thhhrrriiiiinnnnngggg!!
Usai berhasil menghentikan serangan Senopati Sembada, Setan Mata Satu segera memutar gagang trisula di tangan kiri dan menusukkan nya ke arah pinggang Senopati Sembada.
Brreeeeettttthhh!!
Tak ingin pinggang kena coblos trisula berujung tiga itu, Senopati Sembada segera menggunakan bilah pedang nya yang sedang di jepit trisula tangan kanan lawan sebagai tumpuan untuk melompat tinggi ke udara. Dia lolos dari tusukan ke arah pinggang nya. Menggunakan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi, Senopati Sembada segera bersalto dua kali di udara sebelum mendarat 2 tombak jauhnya di belakang Setan Mata Satu.
Sambil mendengus keras, Setan Mata Satu kembali menerjang maju ke Senopati Sembada. Pertarungan antara mereka berlangsung sengit.
Bhhhuuuuuuggggh!
Aaauuuuggggghhhhh!!
Terdengar suara lengguh kesakitan dari mulut seorang lelaki bertubuh gempal saat pentung sakti Demung Gumbreg telak menghantam kepalanya. Pria bernasib sial itu langsung kelojotan sebentar sebelum tewas dengan kepala remuk.
"Modar kowe bajingan..!!
Ayo siapa lagi yang ingin mampus? Cepat kemari??", Demung Gumbreg mengerakkan jemari tangannya sebagai isyarat kepada para pengawal pribadi yang ada di hadapannya.
Dua orang lelaki bertubuh pendek saling berpandangan sejenak sebelum keduanya berpencar ke arah yang berlawanan. Bersenjatakan golok pendek sepanjang satu setengah jengkal tangan, dua orang itu segera melesat cepat kearah Demung Gumbreg. Satu orang babatkan golok ke arah kaki, lainnya mengincar leher.
Demung Gumbreg hanya mendengus sembari menunggu kedatangan serangan mereka tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri. Dia lebih memilih untuk menghadapi si lawan yang mengincar leher daripada yang membabat kaki.
Dengan cepat ia mengayunkan pentung saktinya ke arah penyerang dari depan.
Whhhuuuggghhhh!!
__ADS_1
Thhrraaanggg!!!
Sementara si penyerang yang mengincar kaki nya menyeringai lebar karena yakin bahwa lawannya akan kehilangan sebelah kakinya dengan serangan cepat itu.
"Putus kaki mu, Kebo Tua!!!"
Shhrreeettthhh...
Mata si penyerang ke arah kaki Demung Gumbreg segera membeliak lebar tatkala senjata tajam nya tak mampu memotong daging kaki kanan Demung Gumbreg yang segede bambu betung. Belum hilang rasa kekagetannya, satu tendangan keras kaki kiri Demung Gumbreg langsung menghajar rusuk dada nya.
Dhhiiieeeeesssshhh!
Oouuugghhhhhh!!!
Kuatnya tenaga yang dilepaskan oleh Demung Gumbreg membuat si penyerang ke kaki sang perwira prajurit Panjalu itu terlempar hampir 4 tombak jauhnya dari tempat Demung Gumbreg berada. Rusuk nya sakit bukan main seperti habis di injak gajah. Sepertinya ada yang patah.
Melihat itu semua, Demung Gumbreg menyunggingkan senyuman tipis yang terlihat seperti menghina ke arah mereka.
"Kroco seperti kalian, bukan lawan yang tangguh untuk ku.."
Keributan besar di sekitar halaman rumah Iblis Bukit Manoreh memantik perhatian dari sang pemilik rumah. Bersama dengan dua murid kembar nya, dia bergegas keluar melihat keadaan. Mata lelaki tua itu segera terbelalak lebar kala melihat anak buah nya di jatuhkan satu persatu oleh Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
"Bajingaaaaaaaaaannnnnnnnn tengikkk!!
Kalian harus mati karena berani mengacak-acak kediaman ku!!", teriak Iblis Bukit Manoreh seraya memutar telapak tangan kanannya dan menghantamkan nya pada pertarungan sengit di depan rumahnya. Selarik cahaya kuning kehitaman berselimut angin berbau busuk berseliweran cepat ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
Melihat itu, Panji Tejo pun langsung melesat cepat menghadang laju serangan lelaki tua berjanggut lebat itu dengan tubuh yang sudah di liputi oleh cahaya kuning keemasan.
Blllaaammmmmmmm !!!
"Ada yang bosan hidup rupanya dengan berani menghadang Ajian Tapak Iblis Beracun milik guru", ucap Cendana, si murid kembar laki-laki Iblis Bukit Manoreh sambil tersenyum lebar.
"Sudah pasti dia akan mampus, Kakang Cendana. Ilmu kanuragan milik guru itu tak satupun pendekar yang sanggup menghadapi nya", sahut Cendani si adik kembarnya. Mendengar pujian dari kedua orang muridnya, Iblis Bukit Manoreh hanya menyeringai lebar.
Namun senyum lebar mereka bertiga pun langsung hilang seketika kala melihat Panji Tejo Laksono masih tegak berdiri tanpa terluka sedikitpun.
"Ba-bagaimana mungkin bisa? Bu-bukankah dia sudah terkena Ajian Tapak Iblis Beracun?", ujar Cendani yang terperangah melihat itu semua.
Hemmmmmmm..
"Ada yang mau pamer kemampuan beladiri rupanya..
Baik, ku ladeni kau bocah kemarin sore!!", setelah berkata demikian, Iblis Bukit Manoreh langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dengan mengayunkan cakar tangan kanannya ke arah dada sang pangeran.
Shhrrraaakkkkkhh!!!
Melihat gurunya sudah bergerak maju, Cendani dan Cendani ikut menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono. Namun satu tebasan hawa pedang setipis kain meluncur cepat ke hadapan mereka berdua hingga keduanya terpaksa melompat mundur mengurungkan niatnya untuk membantu sang guru.
"Sebaiknya kalian berdua tidak ikut campur dalam pertarungan orang lain.
Lawan kalian adalah aku", ucap Endang Patibrata sembari menatap tajam ke arah Cendana dan Cendani.
Mendengar tantangan itu, sepasang murid kembar Iblis Bukit Manoreh itu menggeram keras sesaat sebelum keduanya melesat cepat kearah Endang Patibrata dengan menyabetkan senjata mereka masing-masing ke arah putri Lurah Wanua Pulung ini.
__ADS_1
Mereka bertiga pun segera bertarung dengan sepenuh tenaga dan kepandaian ilmu beladiri yang mereka miliki.
Panji Tejo Laksono mundur selangkah mempersiapkan diri untuk bertarung saat sambaran cakar tangan Iblis Bukit Manoreh mengancam dadanya. Pertarungan jarak dekat dengan ilmu silat tangan kosong pun berlangsung sengit.
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Whhhuuutthh whhhuuutthh...
Saling hantam saling pukul dan saling tendang berpadu dengan gerakan menghindar dan berkelit berlangsung sengit antara mereka. Keduanya memang pendekar yang memiliki kemampuan beladiri tangan kosong yang mumpuni. Puluhan jurus yang terlewati membuktikan bahwa kemampuan beladiri tangan kosong mereka setara dan seimbang.
Dhhaaaassshhh !!!
Panji Tejo Laksono melompat mundur beberapa tombak ke belakang usai beradu hantaman dengan Iblis Bukit Manoreh. Lelaki tua yang tidak memakai baju dan hanya mengenakan mantel yang terbuat dari kain hitam itu pun juga melakukan hal yang sama. Dia menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Ku akui dari sekian banyak pendekar yang beradu ilmu silat tangan kosong dengan ku, kau yang paling hebat bocah tengik!!
Sudah cukup main-main nya. Waktu nya mengakhiri pertarungan ini..", ucap Iblis Bukit Manoreh sembari memutar kedua telapak tangannya ke bawah. Semburat kuning kehitaman berselimut angin berbau tidak sedap kembali tercipta di kedua telapak tangan orang tua bertubuh kekar itu.
Panji Tejo Laksono pun tidak mau kalah. Segera dia merapal mantra Ajian Tapak Dewa Api milik nya. Cahaya merah menyala seperti bara api yang berkobar menyala-nyala tercipta di telapak tangan nya. Melihat itu, Iblis Bukit Manoreh mendengus keras.
"Tapak Dewa Api!!
Rupanya kau dari Padepokan Padas Putih. Bagus, sudah lama aku mendengar nama besar padepokan mu tapi belum sempat menjajal kemampuan murid-murid nya. Kau akan menjadi orang pertama..", ucap Si Iblis Bukit Manoreh sembari melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dengan menghantamkan tapak tangan nya secara beruntun.
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh!!
Panji Tejo Laksono langsung menyambut serangan itu dengan melakukan hal yang sama. Kedua telapak tangan nya yang berwarna merah menyala seperti api langsung di hantamkan kearah cahaya kuning kehitaman Ajian Tapak Iblis Beracun milik Iblis Bukit Manoreh.
Shhiuuuuttthh shhiuuuuttthh..
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Gelombang kejut beriringan menerjang ke segala arah. Yang berilmu tinggi langsung mengerahkan tenaga dalam nya untuk bertahan. Namun yang tidak kuat, langsung terpelanting jauh ke luar halaman rumah Iblis Bukit Manoreh.
Iblis Bukit Manoreh sendiri harus tersurut mundur beberapa tombak ke arah belakang. Meskipun dia hanya mengerahkan separuh dari tenaga dalam yang dia miliki, namun itu sudah cukup untuk membuat sebuah ledakan dahsyat yang mengguncang tempat itu. Bangunan tempat tinggalnya pun berderak keras layaknya di terjang gempa bumi.
Di lain sisi, Panji Tejo Laksono juga terdorong mundur beberapa tombak ke belakang. Benturan keras tadi langsung mengingatkan nya untuk berhati-hati melawan Iblis Bukit Manoreh.
'Rupanya julukan sebagai pendekar golongan hitam nomer satu di wilayah tengah bukan isapan jempol belaka.
Aku harus berhati-hati dalam menghadapinya..', batin Panji Tejo Laksono.
Di pihak Iblis Bukit Manoreh sendiri pun jadi tahu seberapa kuat lawan yang sedang di hadapinya. Dari benturan dua ajian kanuragan tingkat tinggi mereka, dia sudah bisa meraba tingginya ilmu kanuragan yang di miliki oleh Panji Tejo Laksono.
"Bocah keparat!
Siapa kau sebenarnya? Dari wilayah timur, aku tidak pernah mendengar tentang pendekar muda yang memiliki kemampuan beladiri setinggi dirimu..", Iblis Bukit Manoreh menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
Sang pangeran muda dari Kadiri yang juga menjadi Adipati Seloageng dan Mahamantri I Sirikan di dalam jajaran kerajaan Panjalu ini hanya tersenyum simpul seraya berkata,
"Untuk apa kau tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya seorang bocah yang tidak memiliki nama besar di dunia persilatan. Tapi kalau kau ingin tahu namaku, maka aku tidak keberatan.
__ADS_1
Aku adalah Panji Tejo Laksono.."