Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Maling Hati


__ADS_3

Panji Tejo Laksono yang melihat Pringgalaya langsung melompat turun dari kudanya dan berjalan mendekati sang lelaki bertangan buntung itu.


"Maaf Kisanak..


Kami ingin bertanya mengenai jalan mana yang harus kami ambil jika ingin ke Kota Kadipaten Kalingga? Terus terang saja kami tidak tahu jalan", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.


Pringgalaya menatap ke arah Panji Tejo Laksono seakan menyelidik siapa pemuda tampan yang sedang berdiri di hadapannya itu. Memang saat itu Panji Tejo Laksono tidak menggunakan pakaian sutra mewah layaknya seorang bangsawan. Dia hanya menggunakan kain bahan biasa seperti rakyat jelata pada umumnya.


"Sepertinya kalian bukan penduduk sini. Dari mana asal kalian?", tanya Pringgalaya sedikit kasar. Panji Tejo Laksono yang merasakan gelagat mencurigakan itu langsung tersenyum tipis.


"Paman benar sekali..


Kami pengembara dari jauh. Dari Kadipaten Seloageng. Ingin ke Kota Kadipaten Kalingga untuk mencari sanak saudara kami yang katanya sudah hidup makmur di sekitar Pelabuhan Halong, Paman", balas Panji Tejo Laksono sembari mengangguk sopan.


Hemmmmmmm...


"Melihat sikap mu yang sopan, sepertinya kau tidak berdusta. Kalau begitu silahkan kau teruskan perjalanan mu lewat kanan. Setelah melewati hutan jati di depan, kau akan masuk ke tapal batas Kota Kadipaten Kalingga saat senja nanti", jawab Pringgalaya segera.


"Terimakasih atas bantuannya Paman. Kalau begitu saya pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan", ujar Panji Tejo Laksono dengan cepat. Usai mengangguk hormat, Panji Tejo Laksono segera melangkah ke arah kudanya. Segera sang pangeran muda dari Kadiri itu melompat kembali ke atas kuda nya lalu menggebrak hewan pelari itu menuju ke arah yang ditunjukkan oleh Pringgalaya. Para pengikut Panji Tejo Laksono mengekor di belakang sang pangeran.


Pringgalaya terus menatap ke arah rombongan Panji Tejo Laksono hingga mereka menghilang di balik tikungan jalan.


"Guru,


Sebenarnya orang dari Istana Kotaraja Kadiri itu seperti apa sih? Kita sudah hampir dua pekan di tempat ini tapi belum juga nampak batang hidungnya orang itu", tanya seorang murid Pringgalaya yang menemani sang guru.


"Aku juga tidak tahu, Sundang.


Yang aku tahu dia adalah seorang pangeran muda yang berasal dari Kotaraja Kadiri. Selama hampir dua pekan kita disini, hanya ada serombongan saudagar saja yang berasal dari Kotaraja Kadiri. Mereka sudah tua semuanya jadi tidak mungkin jika mereka adalah rombongan itu.


Lagipula Ayu Ratna juga belum mengabari kita tentang kedatangan rombongan pangeran muda itu di istana Kadipaten Kalingga jadi bisa di pastikan mereka belum sampai di tempat ini", jawab Pringgalaya sambil menatap ke arah langit.


"Hahhh... Keponakan guru yang mau di jodohkan kenapa pula kita yang repot? Harusnya kalau dia menolak perjodohan itu langsung bilang saja sama Gusti Adipati kan beres", ucap murid Pringgalaya yang bernama Sundang itu segera.


"Tak semudah itu, Sundang..


Aturan keluarga bangsawan tak semudah aturan keluarga rakyat biasa. Mereka hanya bisa menikah dengan orang yang di jodohkan dengan nya. Sulit sekali untuk bebas seperti kita.


Makanya aku lebih suka tinggal di perguruan silat yang bebas tanpa kekangan aturan seperti itu", Pringgalaya tersenyum penuh arti.


Sundang manggut-manggut saja mendengar penjelasan dari Pringgalaya. Meski dia tidak begitu paham sepenuhnya, namun sedikit banyak dia tahu bahwa keluarga bangsawan memiliki banyak aturan berbeda dengan orang kebanyakan.


Langit barat semakin memerah pertanda sebentar lagi malam akan segera tiba. Saat Pringgalaya dan Sundang serta seorang murid Padepokan Golok Buntung lainnya hendak meninggalkan tempat itu, dari arah timur seorang lelaki muda berkuda cepat kearah mereka. Pringgalaya dan kedua muridnya mengenali siapa penunggang kuda yang menarik tali kekang kudanya tepat di hadapan mereka. Penunggang kuda itu segera melompat turun dari kudanya dan menghormat pada Pringgalaya.


"Songkali,


Kenapa kau berkuda seperti di kejar setan begitu? Ada masalah apa?", tanya Pringgalaya segera.


"Gawat guru gawat...


Rombongan pangeran muda dari Kadiri itu datang ke Kalingga dengan penyamaran", lapor Songkali dengan cepat.


APAAAAAAA?!


Kaget Pringgalaya dan kedua muridnya mendengar laporan Songkali. Mereka segera saling berpandangan sejenak seolah tak percaya dengan laporan itu.


"Darimana kau tahu berita itu, Songkali? Cepat jelaskan pada ku", tanya Pringgalaya dengan sedikit gugup.


"Di Weleri, terjadi peristiwa besar Guru. Mpu Walandit si Jari Sakti dari Bukit Manoreh tewas terbunuh oleh rombongan pangeran dari Kadiri yang menyamar sebagai pengembara.


Aku sudah memastikan berita itu benar adanya saat tengah hari tadi makanya aku cepat cepat kemari untuk mengabarkan kepada Guru. Mereka meninggalkan Weleri pagi ini kemungkinan besar mereka sampai di tempat ini lepas tengah hari tadi", ucap Songkali dengan cepat. Pringgalaya terkejut bukan main mendengar penuturan muridnya itu.


"Tapi tidak ada rombongan besar yang lewat di jalan ini sejak tadi pagi, Songkali. Jadi besar kemungkinan mereka belum sampai di tempat ini", sahut Sundang segera.

__ADS_1


"Siapa bilang mereka berjumlah banyak? Menurut penduduk Weleri, mereka hanya berjumlah 8 orang. Ada seorang lelaki bertubuh tambun dan dua orang wanita cantik di dalam rombongan itu", imbuh Songkali sambil menatap ke arah Pringgalaya.


HAAAAAHHHHHHHH??!!


Pringgalaya dan kedua muridnya kembali di buat terkejut mendengar penuturan Songkali.


"Guru,


Jangan jangan rombongan yang di maksud Songkali adalah rombongan yang bertanya jalan pada kita tadi? Bukankah ciri-ciri nya persis seperti yang di laporkan Songkali?", ucap Wimana, salah satu murid Padepokan Golok Buntung yang sedari tadi hanya diam saja.


"Benar juga omongan mu, Wimana...


Bangsat! Aku di tipu mentah mentah oleh pemuda itu. Dasar bedebah! Kalau sampai ketemu, tak cincang jadi perkedel dia", Pringgalaya geram sekali. Dia segera melompat ke atas kuda nya.


"Ayo kita kejar pangeran keparat itu. Mudah-mudahan mereka belum sampai di istana Kalingga".


Usai berkata demikian, Pringgalaya segera menggebrak kuda tunggangan nya melesat cepat kearah Kota Kadipaten Kalingga diikuti oleh ketiga muridnya ; Sundang, Wimana dan Songkali. Mereka menggebrak kudanya mirip dengan orang kesetanan.


Sementara itu Panji Tejo Laksono dan rombongan nya telah beristirahat di sebuah penginapan yang terletak di dekat Alun alun Kota Kadipaten Kalingga. Karena sudah hampir malam dan sangat tidak sopan jika bertamu dalam pakaian seperti itu, Tumenggung Ludaka mengusulkan agar mereka besok pagi saja masuk ke istana Kadipaten Kalingga.


Malam itu usai makan malam bersama, mereka segera kembali ke tempat peristirahatan mereka masing-masing untuk melepaskan lelah usai seharian penuh berkuda.


Cuaca malam hari itu cukup cerah. Bintang terlihat berkelap-kelip di angkasa seakan menari di gelapnya malam. Bulan mendekati purnama terlihat begitu terang menerangi seluruh jagat raya.


Panji Tejo Laksono yang belum bisa tidur terlihat menatap ke arah langit. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran melintas di kepala sang pangeran muda. Segera dia memakai pakaian penyamaran nya dan segera melompat ke atas atap bangunan penginapan. Dengan langkah seringan kapas, Panji Tejo Laksono melompat diantara atap bangunan tinggi menuju ke arah istana Kadipaten Kalingga.


Di taman sari Istana Kadipaten Kalingga, Ayu Ratna tengah melamun sembari menatap ke arah rembulan malam yang bersinar terang di langit. Putri Adipati Aghnibrata itu terlihat resah karena belum juga mendapat kabar dari Pringgalaya tentang rencana yang sudah di siapkan untuk menggagalkan rencana perjodohan nya dengan pangeran muda dari Kadiri itu.


"Mbok ya sudah to Den Ayu..


Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kalau kebanyakan pikiran, Den Ayu jadi sakit. Sukesi juga nantinya yang repot", ujar Sukesi sang abdi setia Ayu Ratna sembari duduk bersimpuh di bawah kursi kayu tempat duduknya sang majikan.


"Aku pusing, Sukesi..


Rasanya waktu perjodohan ini semakin dekat dan Paman Pringgalaya belum juga memberikan laporan kepada ku tentang pangeran Kadiri itu", jawab Ayu Ratna sembari menghela nafas berat.


Siapa tahu pangeran dari Kadiri itu orang nya ganteng, baik hati dan tidak sombong. Jangan sok benci dengan orang. Ingat ya Gusti Ayu Ratna, benci itu beda tipis dengan jatuh cinta. Kalau Gusti Ayu sampai jatuh hati pada pangeran dari Kadiri itu, padahal Gusti Ayu sudah bilang benci lantas bagaimana coba?", ucap Sukesi sambil tersenyum tipis.


Ayu Ratna tidak menjawab omongan Sukesi. Diam diam dia merenungkan omongan emban setia nya itu.


Panji Tejo Laksono melompat dari satu atap bangunan istana ke atap bangunan istana lainnya. Di sebuah atap bangunan, dia menghentikan gerakannya. Pandangan sang pangeran muda tertuju pada seorang gadis cantik yang tengah duduk di kursi kayu tengah taman sari Istana Kadipaten Kalingga.


Diam diam dia menguping percakapan antara gadis cantik yang tak lain adalah Ayu Ratna dan datangnya itu.


'Oh jadi dia yang mau di jodohkan dengan ku. Cantik sekali dia, mirip dengan Kanjeng Ibu', batin Panji Tejo Laksono.


Sebuah senyum terukir di wajah tampan Panji Tejo Laksono.


Saat Panji Tejo Laksono sedang asyik mengintip ke arah taman sari, sepasang mata yang sedari tadi mengikuti pergerakan nya menatap tajam. Dia adalah seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal dan berdandan layaknya seorang perwira tinggi. Tubuhnya yang kekar terbalut kain berwarna hitam yang di gunakan untuk mengurangi hawa dingin udara malam hari itu. Lelaki ini adalah Senopati Ranggabuana, perwira tinggi prajurit Kadipaten Kalingga. Kebetulan malam hari itu dia berjalan-jalan untuk melihat situasi di sekitar istana yang merupakan tugas wajib nya dalam mengamankan pusat pemerintahan Kadipaten Kalingga.


'Apa yang di cari maling busuk ini? Dari tadi dia sama sekali tidak bergerak lagi setelah sampai di tempat itu. Gerakan tubuhnya sangat ringan, aku saja hampir kecolongan. Pasti dia berilmu tinggi.


Hemmmmmmm..


Eh bukankah itu bangunan Keputren? Bangsat! Jangan jangan dia mau berbuat kurang ajar pada Gusti Putri. Kurang ajar..!! Ini tidak boleh dibiarkan'


Senopati Ranggabuana langsung merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sebuah pisau belati. Segera dia melemparkan pisau kecil itu ke arah sosok bayangan hitam yang berdiam di atap bangunan Keputren.


Shrrriinnnggg !


Desiran angin dingin yang mengikuti lesatan pisau belati ini langsung di rasakan oleh Panji Tejo Laksono. Dengan cepat ia menyadari bahwa ada seseorang yang sudah mengetahui tentang keberadaan nya. Pangeran muda dari Kadiri itu segera melompat turun ke arah taman sari Istana Kadipaten Kalingga.


Kemunculan nya yang tiba-tiba membuat Ayu Ratna yang tengah asyik mengobrol dengan Sukesi terkejut bukan main. Gadis cantik itu segera mencabut patrem (keris kecil) yang tersembunyi di balik pinggang nya dan bergerak cepat menuju ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja turun dari atas atap bangunan istana.

__ADS_1


"Maling busuk, kau lancang sekali kemari!"


Shreeeeettttthhh..!!


Sabetan patrem itu mengarah ke leher sang pangeran muda. Panji Tejo Laksono langsung menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindari sabetan keris kecil itu. Meski berhasil lolos, namun ujung patrem itu masih bisa menyambar kain penutup wajah nya hingga wajahnya terlihat jelas oleh Ayu Ratna.


Sontak saja hal itu membuat Ayu Ratna terpesona dengan ketampanan pemuda itu, apalagi Panji Tejo Laksono sempat memamerkan senyum mautnya.


"Aku bukan maling, Gusti Putri...", ucap Panji Tejo Laksono dengan lembut lalu dia melompat cepat kearah atas tembok Keputren lalu menghilang dari pandangan.


Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga saat kedatangan para prajurit penjaga istana ke dalam Keputren Istana Kadipaten Kalingga membuat Ayu Ratna yang masih bengong menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono langsung tersadar.


"Mohon ampun Gusti Putri..


Kami mencoba mengejar maling yang melompat masuk ke dalam Keputren ini", ujar Senopati Ranggabuana sembari menghormat pada Ayu Ratna.


"I-itu maling... hati...", Ayu Ratna menggumam lirih nyaris tak terdengar oleh telinga para prajurit.


"Maling nya ke arah sana Gusti Senopati ", sahut Sukesi sambil menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono menghilang.


"Bekel Mahendra,


Tutup semua jalan di dalam Istana. Bunyikan kentongan tanda bahaya. Cepat! ", perintah Senopati Ranggabuana pada Bekel Prajurit yang bersama nya saat itu.


"Baik Gusti Senopati", Bekel Mahendra segera menghormat pada Senopati Ranggabuana lalu bergegas keluar dari dalam Keputren. Sementara itu Senopati Ranggabuana segera bergegas mengejar ke arah lari nya sang maling.


Bunyi kentongan bertalu-talu tanda adanya bahaya seketika terdengar bersahutan. Istana Kadipaten Kalingga geger.


Adipati Aghnibrata yang tengah beristirahat langsung terbangun dari tidurnya saat bunyi kentongan terdengar. Niken Sulastri, sang permaisuri juga ikut terbangun dan segera mengikuti langkah sang suami. Penguasa Kadipaten Kalingga itu segera menyambar keris pusaka nya dan bergerak cepat menuju ke arah para prajurit yang lalu lalang di depan kamar pribadi nya.


"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?", tanya Adipati Aghnibrata pada seorang prajurit penjaga istana yang lewat di depannya.


"Mohon ampun Gusti Adipati..


Gusti Senopati Ranggabuana melihat ada seorang maling yang memasuki wilayah Keputren. Tadi sudah di geledah tapi malingnya tidak ketemu. Gusti Putri juga melihat maling nya", jawab sang prajurit penjaga istana sambil menghormat pada Adipati Aghnibrata.


"Kurang ajar!


Siapa berani sekali memasuki Keputren? Yayi Sulastri, ayo ikut aku ke Keputren", ajak Adipati Aghnibrata seraya melangkah ke arah Keputren. Sang permaisuri Niken Sulastri mengekor di belakangnya.


Ayu Ratna nampak duduk di kursi kayu taman sari sambil terus menatap ke arah menghilang nya Panji Tejo Laksono. Pesona ketampanan sang pangeran muda benar benar membuat nya seperti tersihir oleh rupa sang putra tertua Prabu Jayengrana. Senyum manis sang pangeran seperti membekas di hati sang putri Kadipaten Kalingga.


"Ayu Ratna anak ku, kau tidak apa-apa...", tanya Adipati Aghnibrata saat memasuki Keputren dan melihat Ayu Ratna yang masih duduk di taman sari Istana.


Yang di tanya tidak menjawab pertanyaan sang Adipati. Ayu Ratna masih tenggelam dalam pesona sang pangeran muda.


"Ngger Cah Ayu..


Kau tidak apa apa kan?", Niken Sulastri langsung menyentuh lengan Ayu Ratna yang membuat putri Adipati Kalingga itu tersadar dari lamunannya.


"Ah eh ada apa Kanjeng Ibu? Kenapa kalian kemari?", tanya Ayu Ratna segera.


Mendengar itu Adipati Aghnibrata dan Niken Sulastri langsung saling berpandangan sejenak. Mereka segera sadar bahwa putri mereka telah mengalami sesuatu.


"Apa kau tidak dengar apa yang di tanyakan Romo mu tadi, Ngger?", Niken Sulastri menatap ke arah wajah cantik Ayu Ratna.


"Maaf Kanjeng Ibu...


Ayu sama sekali tidak mendengar suara Kanjeng Romo tadi", jawab Ayu Ratna sembari menghormat pada Adipati Aghnibrata dan Niken Sulastri.


Hemmmmmmm...


Terdengar dengusan nafas panjang Adipati Aghnibrata sebelum bertanya tentang orang yang masuk ke dalam Keputren baru saja. Dengan jujur Ayu Ratna menjawab pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan Adipati Aghnibrata padanya.

__ADS_1


Sementara istana Kadipaten Kalingga geger, Panji Tejo Laksono yang baru akan masuk ke dalam kamar tidur nya dikagetkan dengan Gayatri yang berdiri di samping pintu kamar tidur nya.


"Darimana saja kau Denmas Panji?"


__ADS_2