Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Jimat Keong Buntet


__ADS_3

"Kau jangan jumawa dulu, Rakryan Maheswara..


Aku masih belum mengeluarkan kemampuan ku sepenuhnya", teriak Senopati Gardana yang geram setelah mendengar ejekan Maheswara. Perwira tinggi prajurit Kadipaten Seloageng itu langsung menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah Maheswara yang menyeringai lebar penuh kesombongan.


Whuuthhh whuuthhh..


Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh..!!!


Senopati Gardana yang murka setelah dihina oleh Maheswara langsung mengeluarkan seluruh kepandaian ilmu beladiri nya. Dalam beberapa jurus saja, dia berhasil membuat Maheswara menerima pukulan kerasnya dan terpelanting ke belakang. Namun suami Dewi Anggarasari ini segera bangkit lagi dari tempat jatuhnya dan berdiri tegak seolah tak terjadi apa-apa.


Meski berulang kali di jatuhkan oleh Senopati Gardana, namun kembali Rakryan Maheswara bangkit dan kembali melawan. Senopati Gardana sampai terengah-engah nafasnya. Melihat situasi ini, Demung Gumbreg yang berdiri dekat Tumenggung Ludaka segera buka suara.


"Sepertinya si Maheswara ini punya gembolan Lu".


Mendengar perkataan itu, Tumenggung Ludaka segera menoleh ke arah kawan karibnya itu. Dia tahu apa yang di maksud dengan gembolan oleh Demung Gumbreg.


"Darimana kau tahu, Mbreg?", tanya Tumenggung Ludaka sambil kembali menatap ke arah pertarungan sengit antara Senopati Gardana dan Rakryan Maheswara.


"Kau lihat saja, dia sama sekali tidak terluka meski bolak balik di jatuhkan oleh Senopati Gardana. Ini berarti dia memiliki semacam jimat kekebalan tubuh, Lu... Bisa jadi itu adalah Jimat Keong Buntet", balas Demung Gumbreg segera.


Hemmmmmmm..


"Sepertinya omongan mu benar Mbreg.. Kalau begini terus-terusan, bisa bisa Senopati Gardana di kalahkan oleh Maheswara. Kita harus berbuat sesuatu. Kau punya cara Mbreg? ", ucap Tumenggung Ludaka sembari mengusap dagunya.


Hemmmmmmm..


"Kalau orang punya gembolan seperti Jimat Keong Buntet itu biasanya di taruh pada kantong baju atau pada sabuk, Lu..


Satu-satunya cara untuk menghilangkan keampuhan jimat itu dengan melepaskan nya dari badan sang empunya. Sebaiknya kita keroyok dia, lalu lepaskan semua bajunya untuk mencari tempat jimatnya berada. Bagaimana Lu?", Demung Gumbreg menatap Tumenggung Ludaka seolah meminta persetujuan.


Mendengar jawaban kawan karibnya itu, Tumenggung Ludaka tersenyum simpul sembari mengangguk setuju. Kedua perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera melesat ke arah yang berbeda. Setelah sampai di tempat yang disepakati, keduanya segera melesat cepat kearah Rakryan Maheswara yang baru saja terjungkal setelah menerima hantaman ilmu kesaktian Senopati Gardana.


Saat Rakryan Maheswara hendak bangkit kembali dari tempat jatuhnya, tiba-tiba saja dari arah yang berbeda, tubuh tambun Demung Gumbreg menabraknya.


Bhhhuuuuuuggggh..


OOUUUGGHHHHHH !!


Rakryan Maheswara mencelat hampir satu tombak jauhnya. Meski tidak terluka, namun tubuh Rakryan Maheswara terasa bagai di tabrak oleh kerbau. Saat yang bersamaan, muncul Tumenggung Ludaka yang dengan cepat memiting leher Rakryan Maheswara hingga suami Dewi Anggarasari ini tidak bisa bergerak dari tempatnya.


"Bajingan !!


Beraninya kau mengeroyok ku!", maki Rakryan Maheswara yang nampak meronta hendak melepaskan diri. Tanpa menjawab omongan Rakryan Maheswara, Tumenggung Ludaka segera berteriak ke arah Demung Gumbreg yang baru saja berdiri.

__ADS_1


"Mbreg... Sekarang !!!"


Mendengar teriakan keras kawannya, Demung Gumbreg segera melompat menubruk ke arah Rakryan Maheswara yang masih berusaha keras untuk melepaskan diri. Tubuh tambun Demung Gumbreg segera menimpa tubuh Rakryan Maheswara yang lebih kecil hingga pergerakan Mantri Amancapraja dari Kadipaten Seloageng ini terkunci sepenuhnya. Napas Rakryan Maheswara megap-megap karena tertimpa tubuh besar Demung Gumbreg.


Senopati Gardana malah melongo melihat ulah dua pembesar istana Kotaraja Kadiri ini. Teriakan keras dari Tumenggung Ludaka langsung menyadarkan perwira tinggi prajurit Kadipaten Seloageng ini.


"Senopati Gardana, bantu aku melepaskan pakaian orang ini. Dia menggunakan Jimat Keong Buntet untuk kekebalan tubuhnya!".


Rakryan Maheswara terkejut bukan main mendengar suara Tumenggung Ludaka. Dia berusaha keras untuk melepaskan diri namun tubuh tambun Demung Gumbreg yang mirip kerbau bunting benar-benar membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali di bawah tindihan nya.


Dengan cepat, Senopati Gardana segera melepaskan pakaian Rakryan Maheswara satu persatu.


"Gardana, kau bajingan!


Kalau berani ayo kita bertarung satu lawan satu keparat! Dasar manusia rendahan, kau tidak pantas menjadi perwira tinggi prajurit Seloageng. Lepaskan aku keparat! ", aneka umpatan dan makian beruntun terdengar dari mulut Rakryan Maheswara bersamaan dengan lepasnya pakaian yang dikenakan oleh Rakryan Maheswara. Saat sabuk yang dikenakan oleh Rakryan Maheswara di lepas, Senopati Gardana melihat sebuah buntalan kain putih berbau harum yang terselip diantara jepitan sabuk yang melingkar di pinggang Rakryan Maheswara.


Melihat itu, wajah Rakryan Maheswara memucat sedangkan Senopati Gardana menyeringai lebar.


"Jadi ini rahasia kekebalan mu, Maheswara? Hehehehe..", Senopati Gardana segera melemparkan sabuk itu jauh-jauh ke belakang. Sembari tersenyum lebar, dia dengan cepat menampar pipi kiri Rakryan Maheswara dengan keras.


Plllaaaakkkkk..


Aaauuuuggggghhhhh !!!


Raungan keras terdengar dari mulut Maheswara saat telapak tangan Senopati Gardana mengenai pipi kiri nya. Dua giginya langsung tanggal bersamaan dengan darah segar yang keluar dari mulut sang suami Dewi Anggarasari. Begitu melihat kesaktian Rakryan Maheswara luntur, beberapa orang prajurit dengan cepat segera merangsek maju dan memegangi tubuh Maheswara sehingga Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka bisa berdiri setelah penangkapan terhadap Maheswara di pegang oleh para prajurit Seloageng. Seorang prajurit lainnya segera membawakan tali yang segera digunakan untuk mengikat tubuh Rakryan Maheswara.


Cepat lepaskan aku! Aku anggota keluarga Istana Kadipaten Seloageng ! Aku suami Dewi Anggarasari, brengsek! Apa kalian sudah bosan hidup ya ha??!", teriak Maheswara dengan keras.


Bersamaan dengan itu, dari arah belakang, Dewi Anggarasari muncul bersama dengan dua dayang kediamannya. Melihat suaminya sendiri dalam keadaan terikat, bibi Panji Tejo Laksono itu langsung marah.


"Hai apa yang kalian lakukan? Cepat lepaskan suamiku!", teriak Dewi Anggarasari sembari berjalan cepat kearah mereka. Melihat kedatangan istri nya, wajah Rakryan Maheswara yang babak belur langsung menyeringai lebar.


"Dinda Anggarasari, cepat tolong aku! Aku di fitnah oleh mereka, Dinda.. Tolong aku!", ucap Rakryan Maheswara dengan memelas. Saat Dewi Anggarasari hendak buka mulut, Senopati Gardana sudah lebih dulu berbicara dengan nada dingin.


"Ini adalah perintah dari Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Rakryan Maheswara dituduh sebagai dalang dari peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Kalau Gusti Dewi ingin meminta penjelasan, silahkan datang ke kediaman beliau. Kami hanya menjalankan tugas.


Prajurit, seret pengkhianat negara ini ke penjara", ucap Senopati Gardana dengan tegas.


"Sendiko dawuh Gusti Senopati", empat orang prajurit segera membawa Rakryan Maheswara kearah penjara Istana Kadipaten Seloageng. Meski Maheswara terus berteriak keras meminta agar di lepaskan, namun mereka sama sekali tidak mendengarkan omongan dari suami Dewi Anggarasari.


Demung Gumbreg yang melihat sabuk Jimat Keong Buntet milik Rakryan Maheswara tergeletak di tanah segera memungut nya. Saat Tumenggung Ludaka mendelik ke arah nya, sambil tersenyum simpul dia berkata, "Ini untuk barang bukti Lu".


Keduanya segera mengikuti langkah Senopati Gardana yang hendak melapor pada Panji Tejo Laksono.

__ADS_1


Para prajurit Seloageng yang mengepung rumah Dewi Anggarasari segera mengikuti langkah sang pimpinan meninggalkan tempat itu bersama dengan Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka. Mereka bergegas menuju ke arah ruang pribadi Adipati Seloageng untuk melaporkan hasil kerja mereka. Sedangkan Dewi Anggarasari yang tidak terima melihat suaminya dibawa ke penjara, segera bergegas menuju ke arah ruang pribadi Adipati Seloageng.


Panji Tejo Laksono sedang duduk di kursi kebesarannya bersama dengan Luh Jingga, Ayu Ratna, Song Zhao Meng dan Gayatri saat Dewi Anggarasari, Senopati Gardana, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg datang menghadap. Keempatnya segera menghormat pada Panji Tejo Laksono setelah melihat isyarat tangan sang penguasa Kadipaten Seloageng ini untuk duduk.


"Bibi Anggarasari,


Ada apa kau kemari? Apa ada sesuatu yang penting untuk aku ketahui?", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Mohon ampun Nakmas Pangeran Adipati..


Aku kemari untuk meminta keadilan bagi suamiku yang juga adalah paman mu sendiri. Senopati Gardana sudah menyeret suami ku ke penjara atas tuduhan terlibat dalam upaya pembunuhan yang baru saja kau alami. Ini sangat tidak masuk akal, Nakmas Pangeran. Suamiku tidak mungkin berbuat seperti itu", ujar Dewi Anggarasari segera.


Mendengar perkataan Dewi Anggarasari, Panji Tejo Laksono tersenyum simpul. Dia segera menoleh ke arah Tumenggung Ludaka yang duduk di sebelah kiri Dewi Anggarasari.


"Paman Ludaka, sekarang katakan pada Bibi Anggarasari tentang apa yang sudah di katakan oleh penari tledek itu".


Tumenggung Ludaka segera menyembah pada Panji Tejo Laksono. Segera dia menceritakan semua yang di ucapkan oleh Rara Pujiwati di dalam penjara Istana Kadipaten Seloageng tanpa ada satupun yang terlewat. Wajah Dewi Anggarasari langsung memucat begitu mendengar uraian panjang lebar dari Tumenggung Ludaka. Perempuan bangsawan paruh baya itu langsung terduduk lemas.


"Ini tidak mungkin! Suamiku tidak mungkin berbuat seperti itu. Ini tidak mungkin!", ucap Dewi Anggarasari sambil mulai meneteskan air mata. Dia takut jika dia dan Narendraswari akan ikut menerima hukuman dari perbuatan suaminya.


"Bibi Anggarasari tenang saja..


Aku tidak akan sembarangan menjatuhkan hukuman kepada Paman Maheswara untuk perbuatannya. Akan ada tahapan demi tahapan yang harus dilakukan untuk mengetahui siapa otak utama dari kejadian ini. Aku sendiri yang akan menanyainya.


Sedangkan untuk bibi dan Narendraswari, aku menjamin keselamatan kalian karena kalian berdua tidak terlibat sama sekali dengan kejadian ini", ujar Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Dewi Anggarasari berterimakasih pada nya.


Selepas itu, Panji Tejo Laksono bersama dengan Gayatri dan Luh Jingga menuju ke arah penjara Istana Kadipaten Seloageng. Sedangkan Ayu Ratna dan Song Zhao Meng kembali ke Puri mereka untuk beristirahat. Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Senopati Gardana ikut mengiringi langkah sang penguasa baru Kadipaten Seloageng.


Begitu sampai di penjara, seorang prajurit bertubuh kekar sedikit terburu-buru keluar dari dalam tahanan hingga nyaris menabrak Panji Tejo Laksono.


"Mohon ampuni hamba, Gusti Pangeran Adipati. Hamba tidak sengaja", ujar si prajurit dengan penuh hormat.


"Tidak apa-apa. Lain kali berhati-hatilah", ujar Panji Tejo Laksono sambil mengangkat tangan kanannya. Sang prajurit segera menyembah dan bergegas meninggalkan tempat itu.


Panji Tejo Laksono dan para pengiringnya terus masuk ke dalam tahanan. Namun alangkah terkejutnya mereka semua saat melihat Maheswara sudah terbunuh dengan sebuah pedang menancap di dadanya. Sebuah kain bertuliskan beberapa huruf berwarna merah tergantung pada gagang pedang itu. Tumenggung Ludaka segera meraih tulisan itu lalu menghaturkan nya pada Panji Tejo Laksono.


Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera membuka lembaran kain putih itu. Ada sebuah tulisan berwarna merah darah disana. Ada sebuah gambar bulan sabit terbalik dengan warna merah darah di atas tulisan.


"Kahuripan akan kembali. Panjalu Jenggala akan hilang selamanya".


Hemmmmmmm..


"Jadi ada orang lain lagi dari Kelompok Bulan Sabit Darah yang memasuki istana ini", geram Panji Tejo Laksono sembari meremas kain putih itu segera.

__ADS_1


Mendengar perkataan itu, semua orang langsung saling berpandangan sejenak. Gayatri yang menyadari sesuatu dengan cepat berkata,


"Kangmas Pangeran, prajurit itu..."


__ADS_2