
Mendengar teriakan keras dari Paksijandu, Nalini segera menghantamkan tapak tangan kanan nya dua kali. Dua sinar biru berhawa dingin menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono.
Whuuuggghh whuuthhh !!
Panji Tejo Laksono segera berjumpalitan mundur menghindari sinar biru berhawa dingin yang di hantamkan pada nya. Pangeran muda dari Kadiri ini menjauh hampir 4 tombak di belakang.
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr blllaaaaaarrr!!
Dua ledakan beruntun terdengar saat sinar biru yang di lepaskan oleh Nalini menghantam salah satu bagian batu pilar di tembok istana Kadipaten Seloageng. Pilar itu meledak dan hancur berkeping keping. Ini membuktikan bahwa Nalini telah mengerahkan ajian tingkat tinggi.
Namun setelah berhasil menghindari serangan Nalini, Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin melesat cepat kearah Nalini. Kecepatan Ajian Sepi Angin tingkat akhir benar benar membuat gerakan tubuhnya sulit di lihat dengan mata telanjang apalagi keremangan cahaya bulan turut menyamarkan penglihatan. Tiba-tiba saja, Panji Tejo Laksono sudah muncul di hadapan Nalini dengan tangan kanannya sudah berubah warna menjadi merah kekuningan yang menunjukkan bahwa dia sudah merapal Ajian Tapak Dewa Api.
Secepat kilat dia menghantam ke arah Nalini yang gelagapan dengan kemunculan nya yang tiba-tiba. Nalini hanya bisa bertahan dengan memapak hantaman Panji Tejo Laksono menggunakan Ajian Cecah Langit nya.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan dahsyat terdengar saat dua ajian ini beradu. Nalini meraung keras dan tubuhnya terpental jauh ke belakang, keluar dari atas tembok istana Kadipaten Seloageng. Paksijandu yang terkejut melihat kejadian cepat itu, dengan sekuat tenaga menjejak tanah dengan keras lalu meluncur turun menyambar tubuh adik seperguruan nya yang hampir menghantam tanah.
Huuuuooogggghhh..!!
Nalini muntah darah segar. Rupanya dia menderita luka dalam akibat kemampuan tenaga dalam nya yang masih jauh di bawah Panji Tejo Laksono. Melihat adik seperguruan nya terluka, Paksijandu segera sadar bahwa lawan yang mereka hadapi bukanlah lawan biasa. Segera dia melemparkan dua buah bola kuning kearah Panji Tejo Laksono yang melesat cepat kearah mereka.
Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh !!
Melihat serangan senjata rahasia ini, Panji Tejo Laksono urungkan niatnya untuk menangkap kedua penyusup itu. Dengan cepat ia merubah arah tubuhnya dan menghantamkan tapak tangan nya kearah dua bola kuning sebesar telur merpati ini.
Whuuussshh ..
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!
Dua bola kuning itu meledak dan menciptakan asap tebal berwarna kekuningan berbau wangi. Panji Tejo Laksono yang pernah mendengar tentang asap racun, dengan cepat menutup jalan napas nya dan melompat mundur beberapa tombak ke belakang.
Saat itu, Pangeran Arya Tanggung, Patih Dyah Suwanda, Raden Windusegoro dan Raden Damar Sasongko sampai di tempat itu. Mereka semuanya sempat melihat dua orang yang menjadi lawan Panji Tejo Laksono.Saat mereka hendak maju dengan maksud ingin membantu menangkap dua orang penyusup itu, tangan Panji Tejo Laksono segera menghadang.
"Jangan maju, itu asap beracun".
Mendengar perkataan itu, keempatnya segera hentikan langkah. Setelah asap kuning itu menghilang tertiup angin, mereka mencari sosok yang menjadi lawan Panji Tejo Laksono namun Nalini dan Paksijandu sudah menghilang tak berada di tempat mereka tadi.
"Brengsek!
Mereka kabur Gusti Pangeran", ujar Raden Damar Sasongko begitu melihat dua orang itu tidak ada di tempat nya.
__ADS_1
"Biarkan saja, Raden..
Sebaiknya kita kembali ke tempat tadi. Urusan keamanan biar di tangani oleh para prajurit yang berjaga", ucap Panji Tejo Laksono seraya berbalik badan dan melangkah meninggalkan tempat pertarungan itu. Pangeran Arya Tanggung, Patih Dyah Suwanda, Raden Windusegoro dan Raden Damar Sasongko segera mengikuti langkah sang pangeran menuju ke arah ruang pribadi Adipati Seloageng dimana mereka tadi berkumpul.
Sementara itu, Paksijandu yang membopong tubuh Nalini, terus melesat cepat kearah selatan ke tempat pertemuan dengan Gorawangsa. Nalini terus muntah darah, pertanda luka dalam nya cukup menciderai beberapa organ dalam tubuh nya. Sesampainya di dekat pohon beringin besar di luar tapal batas Kota Kadipaten Seloageng, Paksijandu segera berteriak keras.
"Kakang Gorawangsa, bantu aku!"
Dari balik rimbun pepohonan yang remang-remang di kegelapan malam, sesosok bayangan berkelebat mendekati tempat mereka berdua berhenti. Bayangan yang tak lain adalah Gorawangsa terkejut bukan main melihat Nalini yang sedang luka dalam dalam gendongan Paksijandu.
"Kenapa bisa begini, Paksi?? Apa yang telah terjadi?", tanya Gorawangsa sambil membantu Paksijandu menurunkan tubuh Nalini yang lemah. Dengan bantuannya, Nalini segera di dudukkan diatas tanah.
"Kami melawan seorang pendekar sakti, Kakang. Nalini menggunakan Ajian Cecah Langit untuk menghadapi nya, namun Nalini bukan tandingan orang itu.
Lekas Kakang, tolong Nalini", ujar Paksijandu dengan penuh kecemasan melihat kondisi tubuh Nalini yang melemah.
Gorawangsa segera duduk bersila di belakang tubuh Nalini, dengan cepat ia segera menyalurkan tenaga dalam nya pada punggung adik seperguruan nya itu.
Huuuuooogggghhh..!!
Nalini kembali muntah darah kehitaman. Ini pertanda darah membeku di dalam tubuhnya sudah di keluarkan. Setelah dua kali muntah darah, wajah Nalini berangsur memerah. Meski bibirnya masih terlihat pucat, namun dia lebih kelihatan segar di bandingkan tadi.
Hemmmmmmm
"Kakang Gorawangsa harus berhati-hati jika ingin menjalankan tugas yang diberikan kepada Kakang..
Pendekar itu menguasai ilmu meringankan tubuh paling tinggi. Seperti itu adalah Ajian Sepi Angin tingkat akhir seperti yang pernah di ceritakan oleh guru kita, Begawan Randuagung", ucap Paksijandu segera.
"Uang sudah ku terima, Paksi. Apapun resikonya, harus siap ku hadapi.
Bawalah pergi Nalini, rawat luka dalam nya. Urusan ini biar aku yang menyelesaikan", ujar Gorawangsa sambil berdiri dari duduknya.
"Hati-hatilah Kakang. Kalau bisa jangan sampai berhadapan dengan pendekar itu", mendengar peringatan Paksijandu, Gorawangsa mengangguk mengerti. Murid Padepokan Gunung Bromo ini segera menjejak tanah, lalu melesat ke arah Penginapan Kembang Melati meninggalkan Nalini dan Paksijandu.
Malam terus bergerak menuju pagi. Suasana dingin terasa begitu menusuk tulang. Udara di awal musim kemarau ini terasa lebih dingin dari biasanya. Bersamaan dengan munculnya bunga bunga pada pohon randu, menjadi pertanda bahwa musim kemarau telah di mulai.
Keesokan paginya, suasana sibuk sudah terasa di dalam istana Kadipaten Seloageng. Hari ini adalah hari penobatan Panji Tejo Laksono sebagai Adipati Seloageng yang baru. Para juru masak istana sudah bekerja di dapur istana sejak awal ayam jantan berkokok. Sedangkan di sisi pendopo agung, para dayang istana sibuk menata ruang dan tempat duduk untuk semua tamu undangan yang sudah hadir sejak kemarin. Ratusan prajurit bersiaga penuh di sekeliling istana, bersiap untuk menjaga setiap kemungkinan yang akan terjadi.
Pagi itu, Panji Tejo Laksono yang baru selesai mandi langsung di dandani oleh keempat istrinya yang sudah berdandan cantik layaknya seorang wanita bangsawan. Sebuah baju sutra berwarna biru tua tanpa lengan dengan sulaman benang emas pada pinggiran nya segera di kenakan oleh Panji Tejo Laksono dengan bantuan Ayu Ratna dan Gayatri. Song Zhao Meng dan Luh Jingga membantu mereka berdua dengan menyiapkan segala sesuatunya untuk dandanan sang Adipati baru Seloageng. Meski belum mengenakan mahkota kebesaran Kadipaten Seloageng, Panji Tejo Laksono sudah terlihat gagah dan berwibawa.
Gending gamelan mengalun lembut saat Panji Tejo Laksono mulai memasuki Pendopo Agung Kadipaten Seloageng diiringi oleh Ayu Ratna, Song Zhao Meng, Gayatri dan Luh Jingga.
__ADS_1
Para tamu undangan dan punggawa istana Seloageng duduk berjajar di kursi yang di sediakan untuk mereka. Para pengalasan atau pengawal pribadi mereka duduk di belakang kursi para pembesar. Kesemuanya duduk berdasarkan jabatan mereka. Seluruh Akuwu dan Kraman atau Lurah Wanua di wilayah Kadipaten Seloageng juga turut hadir di tempat itu sebagai wujud pengakuan mereka terhadap Adipati Seloageng yang baru.
Di depan singgasana Kadipaten Seloageng, nampak keluarga besar Istana Kadipaten Seloageng duduk berjajar. Di sisi kiri diisi oleh para wanita seperti Nararya Candradewi, Dewi Anggarawati dan Dewi Anggarasari. Sedangkan di sisi kanan nampak Prabu Jayengrana, Patih Sancaka dan Maheswara duduk bersama. Di samping kanan kiri singgasana di sediakan 4 kursi yang lebih rendah. Itu adalah tempat duduk untuk keempat istri Panji Tejo Laksono. Sedangkan mahkota kebesaran Kadipaten Seloageng diletakkan di atas singgasana.
Begitu Panji Tejo Laksono sampai di depan singgasana, Prabu Jayengrana segera berdiri dari tempat duduknya. Sedangkan Maharesi Baratwaja dari Pertapaan Ranja yang diminta oleh Prabu Jayengrana untuk memberikan doa segera ikut berdiri. Tangan pertapa tua pengganti Maharesi Mpu Soma yang sudah meninggal dunia ini segera mengambil air suci dan memercikkan nya pada Panji Tejo Laksono yang berjongkok dan menyembah pada singgasana Seloageng. Mulut pertapa tua itu terus mengucapkan doa doa pujian pada Dewa Wisnu sembari terus mengelilingi Panji Tejo Laksono dan keempat istrinya.
"Oh Sanghyang Pemelihara Alam Semesta,
Padamu ku panjatkan puji dan puja,
Berkahilah Pangeran Panji Tejo Laksono,
Untuk memimpin Kadipaten Seloageng ini,
Kau Sang Pemelihara Alam Semesta yang abadi...".
Selesai memberikan doa, Maharesi Baratwaja segera menganggukkan kepalanya pada Prabu Jayengrana dan Maharaja Panjalu itu segera melangkah menuju ke arah singgasana Seloageng. Segera Prabu Jayengrana mengangkat mahkota kebesaran Kadipaten Seloageng dan berbalik arah pada Panji Tejo Laksono yang masih berjongkok menyembah.
"Panji Tejo Laksono...
Dengan ini kau ku nobatkan sebagai penguasa Kadipaten Seloageng dengan gelar Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono. Semoga di bawah kepemimpinan mu kelak, Seloageng menjadi semakin makmur", setelah berkata demikian, Prabu Jayengrana segera meletakkan mahkota Seloageng diatas kepala Panji Tejo Laksono.
Tepuk tangan terdengar riuh rendah bersahutan seakan menggema di Pendopo Agung Kadipaten Seloageng menyambut Adipati baru. Prabu Jayengrana tersenyum simpul dan kembali duduk di kursi nya. Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat jongkok nya diikuti oleh keempat istrinya. Panji Tejo Laksono segera berjalan mendekati singgasana Seloageng dan duduk di sana. Keempat orang istri nya segera ikut duduk di tempat yang disediakan. Setelah duduk, Panji Tejo Laksono segera mengangkat tangan kanannya. Suasana riuh rendah langsung sunyi seketika.
"Aku Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono berjanji akan menata dan mengatur jalannya pemerintahan di Seloageng secepatnya.
Dan aku juga berjanji akan berusaha keras untuk membuat Kadipaten Seloageng menjadi lebih makmur dari sebelumnya", ucapan Panji Tejo Laksono langsung mendapat tepuk tangan dari para pejabat Seloageng juga para Akuwu dan Kraman.
Setelah itu, Maheswara segera memberikan isyarat kepada para penabuh gamelan agar membunyikan gamelan mereka. 4 wanita cantik dengan pakaian sewarna segera muncul dari sisi samping Pendopo Agung Kadipaten Seloageng. Gending tayub yang lembut mengiringi setiap gerakan tubuh mereka yang gemulai.
Panji Tejo Laksono sedikit mengernyitkan keningnya melihat penari tayub yang sedang menari dengan gemulai di depan nya. Dia segera menoleh ke arah Gayatri yang nampaknya juga mengingat siapa penari ini. Meski dandanan nya berbeda, namun Panji Tejo Laksono masih hapal betul dengan wajah cantik Rara Pujiwati yang menghilang saat terjadi keributan di Tanah Perdikan Lodaya dulu.
'Siapa yang mengundang perempuan ini masuk ke istana ku? Apa Paman Maheswara sengaja ingin mengacaukan acara ini?', batin Panji Tejo Laksono sembari melirik ke arah Maheswara yang nampak tidak tenang.
Dari arah penabuh gamelan, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang masih duduk di singgasana Kadipaten Seloageng sembari membabatkan pedang.
Shhrreeettthhh !!!
Kejadian ini begitu cepat namun Prabu Jayengrana yang waspada, langsung menghadang laju pergerakan si bayangan itu segera hingga sabetan pedang si bayangan itu membabat perut Prabu Jayengrana yang sudah berwarna kuning keemasan.
Thhraaaangggggggg !!!
__ADS_1
Mata si bayangan yang tak lain adalah Gorawangsa melotot lebar melihat itu semua. Dari mulutnya nampak mendesis geram karena dia akhirnya melihat kehebatan ilmu kanuragan yang di ceritakan oleh guru nya.
"Jadi ini Ajian Tameng Waja?"