
"Wangsit?
Wangsit apa itu Eyang Buyut?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
Hemmmmmmm..
"Waktu itu telah hampir tengah malam saat aku melakukan puja semedi di goa tempat aku bertapa, Tejo Laksono.
Saat aku baru saja mengheningkan cipta, tiba-tiba angin kencang berhembus mengitari tubuh ku dan sebuah suara meminta aku membuka mata.
Di hadapan ku muncul sebuah gambaran dimana ada dua bola api berkobar mengelilingi istana Daha. Mereka menyebabkan kerusakan besar di istana. Suara itu kembali berbicara kepada ku bahwa pada tahun Dwi Agni Wuk Sujanma, Kadiri akan menerima pralaya besar", ujar Dewi Anggrek Bulan sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang terkejut bukan main mendengar ucapan nya. Juga semua orang yang ada di tempat itu termasuk Dyah Kirana, Song Zhao Meng, Ki Jatmika dan para murid Padepokan Anggrek Bulan.
"Dwi Agni Wuk Sujanma? Itu berarti tahun 1032 Syaka Eyang Buyut? Enam tahun lagi dari sekarang?", kembali Panji Tejo Laksono melayangkan pertanyaan nya.
"Benar Buyut ku..
Karena itu, mulai dari sekarang kau harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di masa depan", ucap Dewi Anggrek Bulan sambil menghela nafas panjang.
"Temui lah Maharesi Yogiswara di Pertapaan Gunung Penanggungan, Tejo Laksono.
Mungkin orang tua itu punya cara untuk menterjemahkan wangsit yang aku terima. Juga mencarikan pemecahan masalah Aku dengar orang tua itu bisa berbicara dengan para Dewa di Kahyangan Suralaya jadi dia pasti bisa memahami sasmita yang ku terima dengan lebih baik", imbuh Dewi Anggrek Bulan segera.
"Aku patuh pada perintah Eyang Buyut..", balas Panji Tejo Laksono sambil menghormat pada perempuan cantik itu.
"Nah mumpung kau menginap di tempat ini, biarkan semua orang menikmati keramahtamahan tempat terpencil ini.
Emas, Perak juga kau Kuning dan Lembayung..
Sediakan makan malam untuk ku dan para tamu agung kita. Cepatlah, aku ingin menikmati waktu kebersamaan ku dengan para keturunan ku ini", Dewi Anggrek Bulan memberikan isyarat kepada keempat murid nya untuk pergi dari tempat itu.
Anggrek Perak, Anggrek Emas, Anggrek Kuning dan Anggrek Lembayung segera menghormat pada guru mereka sebelum keempatnya mundur dari kediaman utama Padepokan Anggrek Bulan ini.
Setelah keempat orang muridnya pergi, Dewi Anggrek Bulan segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika.
"Jatmika, aku tahu kau orang seperti apa. Meskipun kau bukan pengikut Panji Tejo Laksono maupun orang Panjalu, tapi aku percaya padamu bisa menyimpan rahasia. Karena itu kau boleh mendengar pembicaraan kami", ucap Dewi Anggrek Bulan atau yang memiliki nama muda Dewi Lanjar.
"Terimakasih atas kepercayaan mu, Nyi Dewi", Ki Jatmika menghormat pada perempuan cantik itu segera.
"Tejo Laksono..
Aku ingin kelak saat kau menjadi Raja Panjalu di kemudian hari, kau harus adil dan bijaksana dalam memimpin rakyat Panjalu. Pimpin rakyat sesuai dengan kebijaksanaan yang kau miliki. Jangan tidak berlaku adil hanya karena mereka memiliki derajat lebih rendah.
Setelah peristiwa pralaya menimpa Panjalu, itulah saat sang Hyang Batara Wisnu oncat dari Arcapada dan saat itulah kekuasaan Kamajaya sebagai penjaga cinta umat manusia di mulai", ujar Dewi Anggrek Bulan yang penuh dengan sasmita tentang masa depan Kerajaan Panjalu.
"Akan saya ingat semua petuah bijak dari Eyang Buyut", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Dewi Anggrek Bulan.
Setelah itu mereka berbincang-bincang ringan tentang banyak hal termasuk berapa banyak wanita cantik yang kini telah menjadi istrinya. Panji Tejo Laksono dengan wajah semburat merah berkata bahwa telah ada 4 orang istri dan dua calon lainnya yang akan menjadi pendampingnya.
Hahahahahahaha..
Dewi Anggrek Bulan tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban itu. Dia mengatakan bahwa itu mungkin akan bertambah lagi di kemudian hari dan salah satu dari sekian banyak istri nya adalah titisan Dewi Kamaratih yang akan menjadi wanita yang akan melahirkan bayi laki-laki titisan Dewa Wisnu selanjutnya. Song Zhao Meng dan Dyah Kirana saling berpandangan sejenak setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Dewi Anggrek Bulan.
"Kalau boleh saya tahu, siapakah perempuan itu Eyang Buyut?", tanya Panji Tejo Laksono segera. Dia begitu penasaran dengan siapa wanita yang di maksud oleh Dewi Anggrek Bulan.
"Untuk urusan itu, kelak kau akan tahu dengan sendirinya Cicit ku.. Aku tidak boleh membocorkannya sekarang", Dewi Anggrek Bulan tersenyum penuh arti.
Malam itu suasana dingin Bukit Lanjar berubah menjadi hangat dengan kehadiran Panji Tejo Laksono dan kedua wanitanya. Dewi Anggrek Bulan sangat gembira dengan hadirnya mereka di tempat itu. Sambil menikmati makan malam yang di suguhkan kepada mereka, mereka terus berbincang hingga larut malam.
__ADS_1
Pagi hari di mulai dengan kokok ayam jantan yang bersahutan dari kandang mereka di samping kediaman utama Padepokan Anggrek Bulan. Meski cuaca masih terasa dingin karena sang mentari pagi masih juga bersembunyi di balik awan kelabu di ufuk timur juga setelah sebelum pagi hari tiba ada hujan deras yang sempat mengguyur kawasan ini, namun itu tidak menyurutkan semangat para murid Padepokan Anggrek Bulan untuk memulai hari mereka.
Beberapa orang murid sudah memetik sayuran dan beberapa pala kependem ( sebutan untuk semua makanan yang ada di dalam tanah) seperti singkong, uwi dan ketela rambat di kebun untuk di jadikan menu sarapan pagi mereka. Ada juga yang menyembelih ayam dan menumbuk padi di lesung hingga suasana pagi itu sangat ramai.
Sedangkan yang di dapur sibuk menyiapkan bumbu dapur dan ada pula yang sedang mengukur kelapa untuk membuat santan sebagai kuah pelengkap masakan. Ada pula yang sibuk merebus air sambil menunggu bahan makanan di siapkan oleh kawan mereka yang lain.
Yang tidak mendapat tugas untuk memasak, sibuk mencuci pakaian di sendang kecil yang ada tak jauh dari gerbang padepokan.
Panji Tejo Laksono yang baru saja bangun tersenyum simpul melihat kesibukan para murid Padepokan Anggrek Bulan dari jendela samping tempat nya bermalam. Dia jadi teringat saat masih berguru di Padepokan Padas Putih dulu.
Saat Panji Tejo Laksono masih asyik melihat kesibukan para murid Padepokan Anggrek Bulan, tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggangnya dari arah belakang. Meski sedikit kaget karena itu, Panji Tejo Laksono langsung tersenyum lebar ketika melihat Song Zhao Meng merebahkan kepalanya di punggung suaminya.
"Kau sudah bangun, Meng Er?", tanya Panji Tejo Laksono dengan lembut.
"Hek em... ", hanya itu saja yang terdengar dari mulut Song Zhao Meng sambil menganggukkan kepalanya.
"Sekarang cepatlah mandi. Selesai makan pagi, kita akan meneruskan perjalanan", Panji Tejo Laksono mengelus kepala sang istri dengan lembut. Song Zhao Meng tersenyum tipis menerima perlakuan mesra suaminya dan segera melepaskan pelukannya. Dia segera bergegas menuju ke arah sendang kecil bersama Dyah Kirana.
Semua mata tertuju pada dua wanita cantik ini saat mereka berbaur dengan para murid Padepokan Anggrek Bulan untuk membersihkan diri. Umumnya mereka iri hati pada Dyah Kirana dan Song Zhao Meng yang berhasil mendapatkan hati seorang lelaki calon raja Panjalu selanjutnya.
Matahari pagi malu-malu menyinari seisi jagat raya karena sebentar-sebentar bersembunyi di balik awan. Namun itu sudah cukup untuk mengusir dingin yang tersisa dari hujan tadi malam.
Usai bersantap pagi bersama dengan Dewi Anggrek Bulan, Panji Tejo Laksono berpamitan pada perempuan cantik yang sudah berumur ratusan tahun itu. Dewi Anggrek Bulan hanya menghela napas panjang sebelum berbicara.
"Hati-hatilah dalam perjalanan mu, cicit ku..
Aku tidak bisa memberi mu apa-apa selain doa kepada Sanghyang Tunggal agar Dia mempermudah perjalanan mu dan melindungi setiap langkah mu.
Oh iya jangan lupa untuk mampir ke Pertapaan Gunung Penanggungan. Maharesi Yogiswara sudah menunggu kedatangan mu, Cicit Pangeran", ujar Dewi Anggrek Bulan sambil tersenyum penuh arti.
"Kirana, kenakan itu di telinga kiri mu dan kau Wulandari, kenakan di sebelah kanan!", perintah Dewi Anggrek Bulan. Meski tidak mengerti maksud dari semua itu, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng melepaskan sebelah giwang nya dan mengganti nya dengan giwang pemberian Dewi Anggrek Bulan.
Meskipun Dewi Anggrek Bulan tidak mengatakan apa-apa tentang sepasang giwang bermata permata biru itu, namun sesungguhnya itu adalah sebuah pusaka yang bernama Giwang Nirmala Biru. Giwang ini sanggup membuat pemakainya akan sembuh dari luka yang dialami sambil mengembalikan tenaga dalam mereka.
Setelah rampung berpamitan, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke atas kuda nya di ikuti oleh Song Zhao Meng dan Dyah Kirana. Usai menatap wajah cantik Dewi Anggrek Bulan yang berdiri di depan beranda kediaman nya, mereka bertiga pun segera memacu kuda nya meninggalkan tempat itu. Ki Jatmika yang sudah menunggu di luar gerbang Padepokan Anggrek Bulan langsung mengekor di belakangnya.
"Guru, apakah kau sudah mengatakan pada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono tentang semua hal yang kau ketahui?", tanya Anggrek Perak pada Dewi Anggrek Bulan yang berdiri menatap ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang masih terlihat dari tempatnya berdiri.
Dewi Anggrek Bulan menghela nafas panjang.
"Tak semua nya harus di katakan, Perak. Sisa nya biarlah menjadi rahasia Sang Pencipta dan akan menjadi ujian buat Panji Tejo Laksono sebelum duduk di singgasana.
Aku akan bersemedi lagi. Jangan mengganggu ku jika tidak ada hal penting", setelah berkata demikian, Dewi Anggrek Bulan segera berbalik badan dan meninggalkan Anggrek Perak yang masih bengong di tempatnya berdiri. Murid utama yang juga menjadi pengajar bagi murid baru ini hanya bisa berdecak kesal dengan sikap gurunya ini.
Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya terus memacu kuda mereka kearah timur. Setelah meninggalkan wilayah Bukit Lanjar, mereka menembus jalan setapak yang membelah hutan. Begitu keluar dari dalam hutan, mereka masuk ke wilayah Wanua Kitri yang masuk dalam wilayah Pakuwon Bandar yang merupakan pemukiman paling selatan di kaki Gunung Penanggungan.
Beberapa orang penjaga gerbang wanua nampak sekilas memperhatikan mereka namun karena dandanan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya seperti para pendekar dunia persilatan, mereka tidak berani untuk menghentikannya.
Rombongan Panji Tejo Laksono terus menjalankan kuda mereka perlahan melintas Wanua Kitri. Selepas tapal batas wilayah, mereka kembali memacu kuda mereka terus ke arah timur. Setelah melewati jalan di hutan kecil yang menjadi pembatas antara Wanua Kitri, Panji Tejo Laksono menarik tali kekang kudanya saat hampir sampai di tepi hutan.
"Ada apa Kakang? Kenapa tiba-tiba kau menghentikan pergerakan kita?", tanya Dyah Kirana usai ikut menarik tali kekang kudanya di samping Panji Tejo Laksono. Song Zhao Meng dan Ki Jatmika pun ikut melakukan hal yang sama.
"Ssstttttt...
Coba pasang telinga kalian baik-baik dan dengarkan yang ada di sekitar tempat ini".
Mendengar ucapan itu, ketiga orang itu segera diam dan mencoba untuk mencari dengar. Suara denting senjata beradu di sertai suara jeritan terdengar di sisi timur tempat mereka berhenti.
__ADS_1
"Sepertinya ada suara orang sedang bertarung, Pendekar!!", ujar Ki Jatmika yang tetap memanggil Panji Tejo Laksono dengan sebutan yang sama agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Kau benar Ki Jatmika..
Sebaiknya aku melihat mereka lebih dahulu. Kalian tunggu saja disini", ujar Panji Tejo Laksono sebelum melompat tinggi ke udara dan mendarat pada batang pohon besar.
Whhuuusshhh.. !!
Dengan gerakan cepat seperti memanjat, Panji Tejo Laksono langsung bergerak menuju ke pucuk pohon besar itu. Begitu sampai di atas pucuk pohon, dia langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitar tempat nya berada.
Ki Jatmika, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana pun segera mengikat tali kekang kuda mereka masing-masing ke semak belukar yang ada di sekitar tempat itu. Mereka bertiga pun segera menyusul Panji Tejo Laksono.
Dari atas pohon, mereka berempat melihat sebuah pertarungan sengit tak berimbang yang ada sekitar 50 depa dari Tempat mereka berada.
Sepasang laki perempuan berpakaian serba kuning nampak sedang memperhatikan puluhan anak buah nya yang sedang bertarung melawan 8 orang yang sepertinya merupakan para pertapa muda. Meski kepandaian ilmu beladiri para pertapa muda ini cukup tinggi, namun karena kalah jumlah mereka mulai terdesak oleh orang orang berpakaian serba kuning ini.
Seorang pertapa muda baru saja menjatuhkan salah seorang diantara para pengeroyok nya dengan satu hantaman keras. Lawannya terjungkal sambil muntah darah segar. Melihat itu, si lelaki berpakaian kuning yang bertubuh sedikit pendek dari perempuan yang ada di sampingnya, langsung melesat cepat kearah sang pertapa muda sambil tongkat kayu berbonggol bulatan sebesar kepalan tangan orang dewasa ke arah lawannya.
Whhuuuuuuuggggh !!
Kecepatan tinggi sang lelaki bertubuh pendek itu cukup membuat si pertapa muda terkejut dan langsung berupaya melindungi dadanya dengan kedua tangan dari hantaman tongkat kayu si lelaki berbaju kuning.
Dhhaaaassshhh..
Aaauuuuggggghhhhh!!!
Si pertapa muda langsung terpelanting ke belakang dan tubuhnya menabrak sisi samping pedati pengangkut barang yang mereka kawal.
Brruuaaaakkkkkkkh!!
Hhoooeeeeggggghhh!!
Si pertapa muda ini langsung muntah darah segar usai tubuhnya menghantam samping pedati dengan keras. Sementara itu si lelaki bertubuh pendek itu menyeringai lebar menatap ke arah lawannya yang kini terkapar tak berdaya.
"Itulah akibatnya jika kalian berani melawan kehendak Sepasang Setan Kuning, penguasa hutan ini hahahaha...", si lelaki bertubuh pendek itu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh seluruh pengikutnya yang baru saja menundukkan para pertapa muda ini.
"Guru ku pasti tidak akan mengampuni kalian uhukkk uhukkk..", si pertapa muda ini batuk batuk kecil sambil merasakan sesak yang terasa sangat berat di dadanya.
"Mau mengancam ku memakai nama besar Pertapaan Gunung Penanggungan ha?
Sebelum Maharesi Yogiswara datang kemari, aku akan lebih dulu mencabut nyawa kalian pertapa tolol..!!"
Setelah berkata seperti itu, si lelaki bertubuh pendek yang memanggil dirinya sebagai Sepasang Setan Kuning itu segera melesat cepat kearah si pertapa muda yang masih terkapar tak berdaya di atas tanah. Dengan penuh nafsu membunuh, Setan Kuning Jantan itu langsung mengayunkan tongkat kayu nya ke arah kepala sang pertapa muda.
"Mampus kau..!!!"
Saat yang genting itu, sebuah ranting pohon sebesar jempol tangan melesat cepat kearah Setan Kuning Jantan. Angin kencang berhawa panas mengikuti lesatan ranting pohon ke arah tubuh lelaki pendek itu. Merasakan bahaya mengancam, Setan Kuning Jantan segera urungkan niatnya untuk menghabisi nyawa si pertapa muda lalu dengan cepat menghantamkan tongkat kayu nya ke arah ranting pohon yang mengancamnya.
Whhhuuuggghhhh..
Blllaaaaaarrr!!!!
Ranting pohon itu langsung meledak dan hancur berkeping keping setelah terkena hantaman bonggol tongkat kayu milik Si Setan Kuning Jantan. Sambil mendengus keras, Setan Kuning Jantan berteriak lantang.
"Setan alas, beraninya kau mengganggu kesenangan ku..
Tunjukkan wujud mu!!"
__ADS_1