Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Persiapan di Kalingga


__ADS_3

"Nanti aku jelaskan, Nimas Ayu..


Sekarang kita selesaikan dulu pertemuan dengan ayahanda mu ini", bisik Luh Jingga yang membuat Ayu Ratna terdiam. Meski memendam sejuta rasa penasaran dengan kehadiran sosok perempuan cantik berkulit kuning ini, namun Ayu Ratna memilih untuk diam sementara waktu.


"Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono, aku tahu kau baru tiba dari perjalanan jauh. Istirahat lah barang semalam sebelum kau membantu para prajurit Panjalu menggempur pemberontak Rajapura.


Aku tahu kau sakti mandraguna, tapi untuk memenangkan sebuah peperangan, ketenangan jiwa dan sehatnya raga juga di perlukan untuk membawa pulang kemenangan", ujar Adipati Aghnibrata sembari tersenyum simpul.


"Kanjeng Romo Adipati benar Kangmas..


Lagipula bukan hanya kau yang butuh waktu istirahat. Kau mungkin masih mampu bertarung, tapi anak buah mu bagaimana? Mereka tidak setangguh Kangmas Pangeran Tejo Laksono, masih butuh waktu istirahat walaupun cuma sehari. Selain itu, mengumpulkan para prajurit Kadipaten Kalingga yang tersisa setidaknya butuh waktu setengah hari. Jadi untuk kali ini saja, Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono ikuti kata kata ku ya", sambung Ayu Ratna segera. Ucapan dari putri Adipati Aghnibrata ini akhirnya membuat Panji Tejo Laksono menarik nafas dalam-dalam.


"Kau benar, Dinda Ratna..


Sebaiknya aku memang mempersiapkan diri para prajurit yang akan mengikuti ku. Terimakasih sudah mengingatkan ku", Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti. Setelah itu, Adipati Aghnibrata meminta agar Panji Tejo Laksono beristirahat sebentar di balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga sebelum kedatangan Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan Demung Gumbreg. Diiringi oleh Ayu Ratna, Luh Jingga dan Song Zhao Meng, putra sulung Prabu Jayengrana itu melangkah meninggalkan Pendopo Agung Kadipaten Kalingga.


Begitu sampai di balai tamu kehormatan, Panji Tejo Laksono langsung duduk bersila di lantai serambi. Ketiga orang perempuan cantik yang mengikuti langkah nya pun ikut melakukan hal yang sama. Rasa penasaran Ayu Ratna yang besar membuat putri Adipati Aghnibrata ini langsung angkat bicara setelah mereka duduk bersama.


"Maaf Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono..


Aku sedari tadi ingin sekali tahu siapa perempuan ini? Kenapa dia terus selalu menempel pada mu?", rasa cemburu Ayu Ratna benar benar terlihat dari nada bicaranya.


"Ini adalah putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok. Namanya adalah Song Zhao Meng, kalau panggilan akrabnya adalah Meng Er.


Kau tahu Dinda Ratna, tugas ku adalah sebagai duta besar Panjalu untuk persahabatan dengan Kekaisaran Song di Negeri Tiongkok. Kaisar Song sendiri berkata kepada ku, jika ingin menjalin hubungan baik dengan Tanah Tiongkok harus lewat jalur kekerabatan. Jadi demi tugas yang diberikan oleh Ayahanda Prabu Jayengrana, aku menerima Song Zhao Meng sebagai istri ku yang menjadi bukti bahwa Panjalu berkerabat dengan Kekaisaran Song lewat pernikahan.


Aku minta kau mengerti tentang hal ini Dinda Ratna", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah Ayu Ratna dengan sejuta pertanyaan. Mendengar jawaban Panji Tejo Laksono, Ayu Ratna menghela nafas panjang. Sebagai putri dari seorang Adipati, dia sudah tahu bahwa hal ini pasti akan terjadi.


"Aku mengerti Kangmas Pangeran.. Tapi aku harus jadi permaisuri pertama mu, dan hanya ini syarat yang aku inginkan", Ayu Ratna menunggu jawaban dari sang pangeran muda dari Kadiri.


"Tentu saja, kau tetap menjadi permaisuri pertama ku. Gayatri adalah selir pertama dan Luh Jingga adalah selir kedua", Panji Tejo Laksono menarik nafas lega.


"Untuk putri Kaisar Song ini, dia akan menjadi permaisuri kedua mu Kangmas Pangeran?", tanya Ayu Ratna segera.


"Benar yang kau ucapkan, Dinda Ratna. Meng Er akan menjadi permaisuri. Tapi sebelum aku menikahi nya, akan ku berikan nama Panjalu kepada nya.

__ADS_1


Meng Er,


Untuk selanjutnya kau akan ku panggil dengan nama Dewi Wulandari agar semua orang di seluruh wilayah Panjalu mengenalmu sebagai permaisuri yang memiliki nama sesuai dengan bahasa mereka", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti pada Song Zhao Meng atau yang sekarang bernama Dewi Wulandari.


"Aku mengerti apa maksud mu, Kakak Thee..


Mulai sekarang pun aku akan memanggil mu dengan panggilan Kangmas Pangeran seperti yang Kakak Ratna ucapkan", Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari mengangguk mengerti.


"Di-dia bisa bahasa kita Kangmas Pangeran?", kaget Ayu Ratna mendengar ucapan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari yang mulai fasih berbahasa Jawa Kuno.


"Hehehehe.. Tentu saja Nimas Ayu..


Selama berbulan-bulan, Nimas Meng Er eh maksud ku Nimas Wulandari ini belajar bahasa Jawa Kuno pada Paman Purusoma dan juga aku. Jadi sekarang kita bisa saling mengerti satu sama lain karena bahasa Jawa Kuno nya", sahut Luh Jingga sembari tersenyum tipis.


"Wulandari memberikan hormat kepada permaisuri pertama Kangmas Pangeran", Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari membungkukkan badannya pada Ayu Ratna. Putri Adipati Aghnibrata ini jengah bukan main.


"Eeh tidak perlu seperti itu, Wulandari.. Jangan bersikap seperti itu, aku jadi tidak enak hati loh hehehe", kikuk sikap Ayu Ratna seketika membuat Luh Jingga dan Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari terkekeh geli. Suasana kaku di beranda balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga itupun segera cair dengan canda tawa mereka. Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat tingkah ketiga orang calon istri nya.


Menjelang tengah hari, mendung hitam berarak dari arah selatan. Angin semilir bercampur uap air terasa lebih dingin dari biasanya, berhembus perlahan menggoyangkan ranting pepohonan yang tumbuh di samping balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga. Suara cericit burung pleci dan prenjak lumut dari atas dahan dan ranting pohon sawo Manila seakan menjadi pengantar suasana sejuk di wilayah Kota Kadipaten Kalingga.


"Luh Jingga, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ada dimana? Kami mau menghadap beliau. Tadi kepala pelabuhan Halong memberi tahu kami", ujar Tumenggung Ludaka segera.


"Gusti Pangeran sedang beristirahat, Paman Ludaka.


Kalau memang penting, aku akan memanggil Gusti Pangeran untuk menemui kalian", melihat anggukan kepala dari Tumenggung Ludaka, Luh Jingga segera bergegas menuju ke arah kamar peristirahatan Panji Tejo Laksono. Begitu sampai di depan pintu kamar, Luh Jingga segera mengetuk pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono.


Thokkk thoookk thoookk...!!


"Masuk saja, pintu nya tidak di kunci..", terdengar suara Panji Tejo Laksono dari dalam kamar. Luh Jingga segera mendorong pintu kamar tidur.


Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh !!


Panji Tejo Laksono langsung bangkit dari ranjang tidur nya dan segera menghampiri Luh Jingga yang baru saja menutup pintu kamar tidur nya. Tanpa di duga, tangan Panji Tejo Laksono langsung meraih tangan kiri Luh Jingga hingga putri Resi Damarmoyo itu pun tertarik dan jatuh di pelukan hangat Panji Tejo Laksono. Tentu saja Luh Jingga kaget menerima perlakuan dari sang pangeran muda.


Belum berhenti sampai disitu, Panji Tejo Laksono segera menundukkan kepalanya dan dengan cepat mencium bibir Luh Jingga yang sedikit terbuka karena kaget.

__ADS_1


Cuuuupppppphhhh..!!


Mendapat perlakuan seperti itu, Luh Jingga pun gelagapan namun itu hanya berlangsung beberapa saat. Sekejap kemudian mata perempuan cantik berbaju merah kekuningan itu langsung setengah tertutup dan menikmati setiap pagutan bibir Panji Tejo Laksono. Siang hari bolong, terjadi ciuman panas di dalam kamar tidur Panji Tejo Laksono.


Eheemmmm ekheemmmm..!!


Suara deheman keras di barengi pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono yang terbuka, langsung membuat kedua insan yang sedang memadu kasih itu langsung terkejut dan memisahkan diri. Rupanya Ayu Ratna datang membawa nampan berisi beberapa pakaian ganti untuk sang pangeran diikuti oleh Suksesi sang pelayan setia. Dari luar kamar tidur, mereka mendengar suara berbisik di dalam kamar tidur sang pangeran muda berikut suara erangan Luh Jingga. Ayu Ratna nampak memerah wajahnya saat membuka pintu kamar sedangkan Sukesi menunduk dalam-dalam tak berani mengangkat kepalanya.


"A-ada apa Dinda Ratna? Kog tiba tiba kau datang tanpa pemberitahuan", Panji Tejo Laksono sedikit grogi saat bicara.


"Huhhhhh Kangmas Pangeran siang bolong sudah mesum saja..


Itu di luar serambi, ada beberapa perwira tinggi prajurit Panjalu yang sedang duduk. Sepertinya mereka menunggu kedatangan mu Kangmas", ujar Ayu Ratna sembari bersungut-sungut. Mendengar ucapan itu, Luh Jingga segera teringat akan apa yang menjadi tujuan nya menemui Panji Tejo Laksono. Putri Resi Damarmoyo itu langsung menepuk jidatnya sendiri.


"Ya Jagat Dewa Batara...


Aku sampai lupa dengan permintaan dari Paman Ludaka yang ingin bertemu dengan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, silahkan temui Paman Tumenggung Ludaka dan lainnya di serambi", Luh Jingga segera mendekati Panji Tejo Laksono kemudian merapikan pakaian sang putra Ratu Anggarawati itu. Setelah rapi, Panji Tejo Laksono langsung bergegas keluar dari dalam kamar tidur untuk menemui para pengikut setianya.


"Kangmbok Luh Jingga..


Sebaiknya kita mulai mengatur waktu bersama dengan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono agar tidak terjadi hal seperti ini lagi", ucap Ayu Ratna dengan wajah memerah.


"Aku aku setuju dengan mu, Nimas Ayu.. Nanti kita bicarakan ini dengan Wulandari juga, Nimas..", jawab Luh Jingga segera.


Di serambi balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga, Panji Tejo Laksono segera memberitahukan kepada Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Rakryan Purusoma dan Tumenggung Rajegwesi mengenai situasi yang terjadi di wilayah barat Panjalu sekarang ini. Keempat orang itu terkejut bukan main saat mendengar omongan dari sang pangeran negeri Panjalu ini. Siang hari itu juga, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi di perintahkan untuk mengatur para prajurit Kadipaten Kalingga di Ksatrian, sedangkan Demung Gumbreg dan Rakryan Purusoma di tugaskan untuk menata perlengkapan perang dan bahan makanan yang akan mereka bawa saat pasukan Panji Tejo Laksono bergerak menyusul pasukan Panjalu yang telah lebih dulu bergerak menuju ke Rajapura.


Sore hari itu menjadi sore hari yang tersibuk untuk keempat perwira tinggi prajurit Panjalu yang setia menemani perjalanan Panji Tejo Laksono. Tanpa mengenal lelah, keempat orang perwira tinggi ini bahu membahu menata para prajurit Kalingga yang berjumlah 5 ribu prajurit untuk bersiap berperang melawan pihak Kadipaten Rajapura. Karena ingin bergerak cepat, seluruh pasukan prajurit Kalingga dibawah naungan perintah Panji Tejo Laksono menggunakan kuda. Diantara mereka terdapat 500 prajurit pemanah, 1000 orang prajurit bertameng dan 500 orang prajurit perlengkapan. Sisa nya merupakan prajurit bersenjatakan tombak dan pedang. Di tambah 150 prajurit pengawal setia Pangeran Panji Tejo Laksono yang baru pulang dari Tanah Tiongkok.


Begitu persiapan rampung, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan Demung Gumbreg melaporkan hasil kerja mereka masing-masing pada Panji Tejo Laksono di balai tamu kehormatan Kadipaten Kalingga.


Mendengar laporan dari keempat orang tersebut, Panji Tejo Laksono tersenyum lebar.


"Bagus sekali kerja cepat kalian Paman semuanya. Malam ini kita beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa penat. Besok pagi,


Kita berangkat ke Rajapura!!!".

__ADS_1


__ADS_2